Jumat, 27 Mei 2011

Kartu Diskon dalam Timbangan Syariat

Kartu diskon yang dikeluarkan oleh pusat-pusat perbelanjaan, agen perjalanan, perusahaan penerbangan, dan lain-lain--yang menyebabkan pemegang kartu mendapatkan diskon ketika membeli barang atau memanfaatkan jasa pihak yang menerbitkan kartu diskon itu--bisa dibagi menjadi dua kategori:
1. Kartu diskon yang didapatkan dengan cara membayar nominal tertentu sebagai syarat untuk menjadi anggota, dengan status keanggotaan yang harus diperbarui dalam kurun waktu tertentu.
2. Kartu diskon gratis. Kartu tersebut adalah hadiah untuk konsumen, dari pihak yang menerbitkan kartu, dalam rangka memotivasi konsumen untuk giat berbelanja atau memanfaatkan jasa yang dijual oleh pihak penerbit kartu. Terkadang, "kartu diskon gratis" ini diberikan kepada konsumen yang berbelanja dalam nominal tertentu.

Perihal kartu diskon yang diperoleh melalui sebuah pembayaran
Kartu diskon yang diperoleh dengan cara membayarkan sejumlah uang tertentu, hukumnya, adalah haram karena mengandung beberapa pelanggaran syariat. Di antaranya adalah sebagai berikut:
Pelanggaran pertama: Ketidakjelasan dan gharar
Konsumen menyerahkan sejumlah uang untuk mendapatkan kartu tersebut, dengan tujuan mendapatkan diskon. Besaran riil diskon ini tidak diketahui. Boleh jadi, kartu diskon tersebut tidak digunakan, atau digunakan namun nominal rupiah dari diskon tersebut boleh jadi lebih rendah atau lebih tinggi daripada uang yang dikeluarkan konsumen untuk mendapatkan kartu diskon.
نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعِ الْغَرَرِ
“Rasulullah melarang jual beli gharar.” (H.R. Muslim, no. 1513)
Jual beli "gharar" adalah 'jual beli yang mengandung ketidakjelasan'.
Pelanggaran kedua: Dalam kartu diskon jenis ini terdapat unsur untung-untungan; boleh jadi untung, boleh jadi buntung (baca: rugi)
Konsumen yang menyerahkan sejumlah uang, untuk mendapatkan kartu diskon itu, boleh jadi untung jika mendapatkan diskon, yang jika dirupiahkan ternyata lebih banyak dibandingkan uang yang pernah diserahkan. Namun, boleh jadi pula, konsumen merugi jika nilai diskon ternyata lebih kecil daripada uang yang diserahkan. Inilah hakikat judi yang diharamkan dalam syariat Islam.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالأَنْصَابُ وَالأَزْلامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُون
“Wahai orang-orang yang beriman, khamar, judi, berhala, dan penentuan pilihan dengan menggunakan anak panah adalah suatu hal yang kotor, merupakan perbuatan setan, maka jauhilah agar kalian beruntung.” (Q.S. Al-Maidah:90)
Pelanggaran ketiga: Sering kali, kartu diskon ini adalah upaya untuk menipu banyak orang, demi mengeruk harta orang lain
Alasannya, mayoritas diskon yang dijanjikan adalah bohong-bohongan. Banyak pusat perbelanjaan, pada awalnya, menaikkan harga barang yang dijual dari harga normalnya sehingga seakan-akan pihak pusat perbelanjaan itu memberikan diskon. Padahal, realitanya, harga barang yang didiskon--setelah mendapatkan diskon itu--sama dengan harga normal barang tersebut.
Pelanggaran keempat: Uang yang diserahkan konsumen untuk mendapatkan kartu diskon itu terkadang tidak memiliki kompensasi yang nyata
Terkadang, konsumen yang tidak memegang kartu diskon, ketika dia meminta diskon dari pemilik toko, bisa mendapatkan diskon yang sama atau agak sama dengan konsumen pemegang kartu diskon. Jika demikian, berarti sejumlah uang yang diserahkan untuk mendapatkan kartu diskon itu tidak memiliki kompensasi. Oleh karena itu, penerbitan kartu diskon dalam hal ini adalah termasuk upaya mengambil harta orang lain dengan cara yang tidak benar.
Majma' Fiqhi Islami yang berada di bawah naungan Rabithah Alam Islami, dalam pertemuan ke-18, telah mengeluarkan keputusan mengenai haramnya penggunaan kartu diskon semacam ini.
Di antara isi keputusan Majma' Fiqhi Islami adalah, “Setelah menyimak makalah yang disampaikan dalam tema ini dan diskusi yang berlangsung mengenai hal tersebut, Majma' Fiqhi Islami memutuskan tidak bolehnya menerbitkan kartu diskon tersebut atau membelinya, jika kartu diskon didapatkan sebagai kompensasi dari sejumlah uang tertentu atau jika keikusertaan dalam keanggotaan harus diperbaharui setiap tahunnya dengan membayar sejumlah uang tertentu. Kartu diskon semacam ini terlarang karena mengandung gharar. Konsumen--yang membeli kartu--menyerahkan sejumlah uang dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu yang akan dia dapatkan sebagai kompensasi dari uang tersebut. Oleh karena itu, dalam hal ini, kerugian pihak konsumen adalah sebuah keniscayaan, sedangkan keuntungkan yang akan didapatkannya hanyalah sebuah kemungkinan.”
Demikian pula, Lajnah Daimah Kerajaan Arab Saudi mengeluarkan fatwa berisi haramnya penggunaan kartu diskon jenis ini. Haramnya penggunaan kartu diskon semisal ini juga merupakan fatwa Syekh Ibnu Baz dan Syekh Ibnu Utsaimin.
Silahkan menyimak permasalahan ini lebih lanjut pada Fatawa Lajnah Daimah, 14:6 dan Fatawa Ibnu Baz, 19:58.
Perihal kartu diskon gratis
Adapun kartu diskon yang diberikan secara cuma-cuma, itulah kartu diskon yang diberikan kepada konsumen tanpa kompensasi materi apa pun. Hukumnya adalah boleh dipergunakan dan dimanfaatkan. Dengan diberikannya kartu diskon tersebut secara cuma-cuma, penggunaan kartu ini menjadi bagian dari transaksi sosial (baca: memberi hadiah), sedangkan gharar dan ketidakjelasan adalah suatu hal yang dimaafkan jika dijumpai dalam transaksi sosial. Jika kartu diskon jenis kedua ini tidak dimanfaatkan untuk mendapatkan diskon, konsumen tidak dirugikan sedikit pun.
Kesimpulan ini juga merupakan keputusan Majma' Fiqhi Islami. Majma' Fiqhi Islami mengatakan, ”Jika kartu diskon tersebut diberikan kepada konsumen tanpa kompensasi apa pun (alias 'gratis') maka kegiatan menerbitkan dan menerimanya adalah suatu hal yang boleh menurut syariat. Pemberian kartu diskon, dalam hal statusnya, adalah berjanji untuk memberikan sumbangan atau pun hadiah kepada pihak konsumen.”

****
Referensi penting dalam masalah ini adalah buku Bithaqah At-Takhfidh Haqiqatuha: At Tijariyyah wa Ahkamuha Asy Syar’iyyah, karya Syekh Bakr Abu Zaid dan Al-Hawafiz At-Tijariyyah At-Tawiqiyyah wa Ahkamuha fi Al-Fiqh Al-Islami, karya Dr. Khalid Al-Mushlih.
Rujukan:
http://islamqa.com/ar/ref/121759

Artikel www.PengusahaMuslim.com

Rabu, 25 Mei 2011

Puber Itu Laksana Tsunami

Rabu, 25 Mei 2011

"Akh, kamu tahu apa..? kamu itu lagi puber, dan kamu harus banyak belajar sama ayah dan ibumu," sentak ayah kepada Andri yang merungut-rungut minta dibelikan motor dan memaksa-maksa pada ibu untuk mendapatkan apa yang diinginkan.

Kadang kala ibu yang lemah (menjurus payah he.. he..) karena biasanya semua ibu sangat sayang pada anaknya sehingga emosinya yang bicara. Seorang ibu biasanya lebih memberikan apa yang diinginkan sang anak, bahkan bila rasa sayangnya tak tertahankan dan hatinya tak tega melihat anak yang menangis minta blackberry, minta handphone terbaru, sepatu sport yang warnanya dimata ayah norak namun lagi tren dikalangan remaja, maka sang ibu lah yang berjuang untuk membujuk sang ayah agar keinginan anaknya dimenangkan.


Hampir semua anak kesal kepada ayahnya yang melarang ini dan itu, yang keras kepada anak dan tidak dapat dipatahkan. Sementara ibu, begitu halus serta lemah lembut dan siap melindungi anaknya sampai titik darah penghabisan. Masa-masa puber, seringkali diwarnai oleh cercaan dan kesakit-hatian bila kita tidak tahu bagaimana menangani si puber, yang juga lagi bingung. Kalau kita bertanya baik-baik, "mengapa kamu begini nak," maka jawabnya dengan acuh tak acuh.. "gak tahuuu…" sambil cemberut dan merungut.. Sebenarnya mereka pun bingung, konflik-konflik yang timbul karena kekhawatiran orang tua yang dinilai berlebihan melawan sikap si anak yang sok tahu tak karuan, mengakibatkan kalimat-kalimat pedas, "dasar anak tak tahu diri, dasar puber, dasar sok tahu, dan yang terparah kalimat "ayah ruqyah kamu.." atau "ayah usir kamu dari rumah," begitu deras mengalir pada remaja yang sedang puber.

Jangan bilang apa-apa soal puber dan jangan sekali-kali mengatakan atau bercanda dengan nada melecehkan walau niatnya menggoda kepada remaja yang sedang puber. Mereka akan merajuk, marah, benci, kesal dan sakit hati dengan berkata "Gengsi tahu dibilang puber," atau " sok tahu banget sich, gak usah diomonginlah kalau kita lagi puber." Penolakan akan timbul dihati remaja yang sedang puber dan mereka tidak mau mengaku kalau mereka puber. Mereka itu adalah anak-anak yang ingin bersikap seperti orang dewasa dan ingin diakui, namun wajah, sikap, pikiran dan pengalamannya belum panjang, sehingga yang nampak adalah amazing alien atau makhluk aneh yang tidak kita kenali. Mereka seperti orang dewasa ditubuh anak-anak, annoying dan mereka tidak menyadari apa yang sedang terjadi pada mereka. Dan kalimat menyakitkan yang tidak dipahami oleh si anak meluncur tanpa terkendali dari ayah yang kecewa pada sikap anaknya terlebih bila dia anak pertama, lelaki pula. "Kau seperti bukan Andri yang dulu yang ayah kenal," dan ayah pun menatap sedih sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, sementara ibu menghela nafas, sambil menyusut air mata yang jatuh perlahan-lahan.

Puber atau masa pubertas adalah masa dimana anak-anak kalau perempuan mengalami haid. Ketika baru pertama kali haid, belum begitu terasa, dan sejalan dengan waktu, mereka baru merasa puber betulan setelah usia 12 atau 13 tahun walau haidnya umur 10 tahun. Namun bila haidnya lebih cepat daripada kawannya, secara pemikiran mereka belum terlalu paham apapun, maksudanya antara hormon yang keluar berupa haid, dan emosi serta akal belum seimbang sehingga belum terjadi peristiwa apa-apa yang heboh. Mengapa ada wanita yang cepat keluar haid? itu terjadi karena pola makan yang terlalu sehat, sehingga merangsang pertumbuhan hormon. Ketika haid keluar dengan lebih cepat di usia muda maka puber yang berjalan baru terasa beberapa waktu kemudian.

Bila anak lelaki pubersitas biasanya dimulai pada usia tertentu, sekitar usia 12 atau 13 mulai mengalami pembesaran suara ketika berbicara, selain itu juga mengalami mimpi basah sebagai penetas masa akil baligh, dan kebanyakan waktunya berbeda-beda tergantung seberapa besar pengaruh lingkungan, khususnya media-media dan hal-hal yang berbau pornography menyerang dirinya. Semakin banyak film-film percintaan dan hal-hal yang berbau pornography dilihat dan ditontonnya entah melalui games, televisi maupun majalah, juga persentuhan atau perkawanan dalam bentuk pacaran banyak dilihatnya, maka akan mengakibatkan sang anak lelaki mengalami mimpi basah lebih cepat daripada anak-anak yang lain.

Puber yang meledak, mengakibatkan dia nampak galak, seperti orang lain, sok tahu, ingin sendiri saja, selalu bertentangan, gelisah tidak keruan, kadang-kadang kepala panas, risau dan resah, berubah-ubah kemauan, plin-plan, bersikap masa bodoh, cuek, agak kurang ajar, over percaya diri dan lainnya.

Yang bisa menaklukkan makhluk puber ini hanyalah agama. Agama telah menerangkan hal ini, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang. Setelah akil baligh lah maka manusia akan dicatat perhitungan amalannya. Maka wajib dibekali pendidikan agama sejak dini, sehingga ketika puber menyerang anak kita, mereka sudah memilki benteng pertahanan agama yang cukup kuat, dan puber seperti tsunami yang menyerang tanpa bilang-bilang, tanpa diundang, tanpa persiapan. Bila sudah ada benteng pertahanan maka puber seperti tsunami, akan membuat dia tidak menerjang dan merobohkan pertahanan habis-habisan. Siapkan agama sejak dini, sebelum puber menyerang sebagaimana Jepang menyiapkan negerinya dengan dam, sehingga ketika tsunami menyerang mereka bisa mempertahankan diri dan ketika tsunami selesai mereka mampu memperbaiki diri.

Itulah mengapa orang tua sangat perlu menyekolahkan anak atau mendidik anak disekolah Islam dengan bekalan agama yang kuat. Kenalkan Allah, kenalkan Al Quran, kenalkan sholat sejak dini, sehingga ketika hati galau dihinggapi pubertas, maka tubuh tetap sholat, walau tentu saja kekhusyuan berkurang namun ingatlah bahwa hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang dan remaja kita walaupun gelisah tetap mendapatkan ketenangan.

Fifi.P.Jubilea
Founder and Conceptor of JISc

Dikutip dari : http://www.republika.co.id/berita/pendidikan/eduads/11/05/13/ll4gpw-puber-itu-laksanatsunami

Memahami CINTA

Cinta telah dikenal sejak manusia pertama diciptakan. Telah abadi dalam Al-quran yang suci tentang pembunuhan pertama sekali dalam sejarah manusia adalah dikarenakan masalah  cinta, adalah Qabil yang tega membunuh saudaranya Habil hanya karena berebut cinta seorang wanita. Ada juga kisah  seribu satu malam tentang “laila majnun”, yang menceritakan kisah cinta Qais dan Laila, yang berakhir dengan kematian Laila dan kegilaan Qois.
Ibnu  Taimiyah berkata : “ Mabuk asmara dapat membuat penderitanya kurang akal dan ilmu, rusak  agama dan akhlaknya, lalai akan kebaikan agama dan dunia. Dan akibat buruknya bisa berlipat ganda”.
Jatuh cinta adalah jalan yang sangat berbahaya, licin, penuh jurang serta duri. Mendatangkan perasaan gelisah gundah gulana, sehingga tak sedikit orang yang bisa aman daripadanya. Telah banyak korban yang berjatuhan hingga tak terhitung jumlahnya.
Hakikat CINTA
Sesungguhnya  banyak diantara kita yang tidak mengetahui bahwa ada cinta yang paling tinggi dan paling mulia, paling bermanfaat, paling sempurna yakni mencintai Allah Sang Maha Pencinta. Ini adalah muara dari segala cinta yang terpuji, Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata: “Cinta yang bermanfaat itu terbagi tiga, yaitu: Mahabbatullah(Cinta kepada Allah), Mahabbah Fillah (Cinta karena Allah) dan cinta kepada sesuatu yang membantu seseorang semakin taat  kepada Allah.”

Tangga Menuju CINTA Allah
Menggapai Cinta kepada Allah adalah puncak  perjalanan spritual seorang mukmin. Untuk mencapai derajat dicintai-Nya(Al-Mahbub) maka seorang mukmin haruslah mendaki tangga mencintai-Nya(Al-Muhibb):
1. Membaca Alquran, memahami dan mengamalkan kandungannya. Abdullah bin Mas’ud mengatakan “Barang siapa yang mencintai Al-quran, maka ia juga mencintai Allah dan rasulNya [HR. Thabrani]
2. Mendekatkan diri kepada Allah dengan ibadah sunnah, dalam hadis qudsi “..dan tiada henti-hentinya hambaKu mendekatkan diri kepadaKu dengan perbuatan sunnah nafilah hingga Aku mencintainya…”[HR. Bukhari]
3. Selalu zikir(ingat)  kepada Allah dalam segala hal. Rasulullah bersabda “ Sesungguhnya Allah azza wa jalla berfirman:”Aku bersama hambaKu selama ia mengingatKu dan kedua bibirnya bergerak (berzikir) kepadaKu.[HR.Ibnu Majah]
4.Lebih mencintai Allah daripada dirinya sendiri bahkan dunia dan seisinya. Rasulullah bersabda “Ada tiga perkara apabila ada dalam diri seseorang maka ia akan merasakan manisnya iman; ia menjadikan Allah dan Rasulnya lebih dicintai dari yang lain…”[HR.Bukhari-Muslim]

Renungkanlah…….
Bahwa tak ada yang lebih nikmat, lezat dan manis bagi hati dan ruh, selain kecintaan kepada Allah, pasrah kepadaNya, mentauhidkanNya, mendekatkan diri kepadaNya, dan rindu bersua denganNya. Sebagaimana diucapkan orang arif “..siapa yang cinta kepada Allah, maka segala sesuatu akan tampak menyenangkan baginya, dan barang siapa yang tidak cinta pada Allah, maka dia akan merasakan berbagai macam kerugian dunia”.
Ya Allah, ajarkanlah kepada kami tentang hakikat cinta. Pahamkanlah kepada kami arti tentang ketegaran Nabi Ibrahim, kepasrahan Nabi Ismail, ketabahan Nabi Nuh, kesabaran Nabi Yusuf dan kelembutan Nabi Muhammad. Sebab apalah artinya ibadah yang kami lakukan, jika tak dilandasi cinta. Dan apalah arti kata cinta yang kami ucapkan jika tak diiringi dengan ketaatan. Maka tanamkanlah dalam hati kami kecintaan terhadap apa yang Engkau cintai, dan jadikanlah kebencian dalam hati kami terhadap apa yang tidak Engkau cintai. Dan maaflkanlah kami terhadap sesuatu yang kami salah melakukannya. Sesungguhnya Engkau maha pengampun dan Engkaulah yang maha pengasih, maka kasihanilah kami. Semoga kita dapat merasakan manisnya iman dengan mendahulukan cinta kita kepada Allah dan RasulNya di atas segalanya.Amin.

***
 Buletin Dar el Iman volume 1/TH1/2007


Selasa, 24 Mei 2011

Cermin dan Hati

Cermin yang kotor, berdebu, dan kusam bisa dipastikan tidak akan mampu memantulkan kembali cahaya. Kita pun tidak akan bisa melihat dengan baik keadaan diri kita. Dalam keadaan cermin demikian paling tidak ada dua kemungkinannya.

Pertama, karena cermin tersebut tidak pernah dibersihkan dan disentuh sama sekali. Atau kedua, karena cermin tersebut dipalingkan dan menyamping atau membelakangi sumber cahaya. Karena kedua hal tersebut, cermin menjadi kotor bahkan hitam dan pekat.

Demikian halnya dengan hati manusia. Ibarat sebuah cermin, maka hati yang kotor, rusak, dan gelap bisa dipastikan tidak akan mampu memantulkan kembali cahayanya. Kita pun tidak bisa melihat dengan baik segala kekurangan dan kelemahan kita. Kita sama sekali tidak bisa becermin dan mengambil sesuatu darinya.

Penyebab keadaan hati kotor, hitam, dan pekat, bisa karena dua hal. Pertama, hati kita tidak pernah dibersihkan dengan tingkat kebeningan yang sempurna. Malah sering kita tempelkan dengan noda hitam maksiat dan lumpur pekat dari aneka pengkhianatan dan dosa. "Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka dan penglihatan mereka ditutup. Dan, bagi mereka siksa yang amat berat." (QS al-Baqarah [2]: 7). Rasulullah SAW mengingatkan kita dalam sabdanya, "Setiap sesuatu ada pembersihnya. Dan pembersih hati yang kotor adalah zikrullah."

Kedua, hati kita tidak diarahkan kepada sumber cahaya. Ia sering berpaling, menyerong, dan menyamping dari cahaya. Bahkan, membelakangi sumber cahaya. Keadaan hati kita lebih sering diarahkan kepada sumber-sumber yang kotor atau kecipratan banyak kotoran dan noda hitam. Jika sumber cahaya adalah Allah (QS an-Nuur [18]: 35), maka sumber kotoran adalah setan. Seperti disebut dalam sebuah maqalah, "Hati ibarat sebuah wadah. Jika tidak pernah diisi dengan zikrullah maka wadah tersebut akan penuh dengan kotoran setan."

Orang yang bersih dari dosa, hatinya bagaikan cermin yang bening, akan begitu mudah untuk berkaca diri. Orang yang suka mengerjakan dosa-dosa kecil, hatinya buram bagaikan cermin yang berdebu, jika digunakan kurang jelas hasilnya. Orang yang suka melakukan dosa besar, hatinya gelap, bagaikan cermin yang tersiram cat hitam.

Sedangkan orang yang suka mencampuradukkan perbuatan baik dengan dosa, hatinya kacau bagaikan cermin yang retak-retak, jika digunakan akan menghasilkan visual yang tidak benar.

Adapun hati yang sudah tumpul dan mati karena pekatnya dosa, seyogianya didekati dengan alat dan energi baru, yakni melalui mujahadah dan riyadhah.

Mujahadah itu adalah taubat yang serius (taubatan nashuha) dan berikrar untuk taat. Sementara riyadhah, ridha untuk istiqamah menghidupkan sunah Nabi SAW dimulai dengan qiyamul lail, tadabbur Quran, shalat berjamaah di masjid, shalat dhuha, menjaga wudhu, sedekah, dan terus berzikir kepada Allah. Dengan begitu, niscaya, hati akan kembali memantulkan cahaya, seperti cermin yang kembali bercahaya.

Artikel Oleh Ustadz Muhammad Arifin Ilham

Sumber : http://koran.republika.co.id/koran/25

Energi dan Daya Listrik

Silahkan klik tombol menu yang tersedia.

Senin, 23 Mei 2011

Waktu-Waktu Terkabulnya Do'a

Sungguh berbeda Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan makhluk-Nya. Dia Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Lihatlah manusia, ketika ada orang meminta sesuatu darinya ia merasa kesal dan berat hati. Sedangkan Allah Ta’ala mencintai hamba yang meminta kepada-Nya. Sebagaimana perkataan seorang penyair:
الله يغضب إن تركت سؤاله  وبني آدم حين يسأل يغضب
“Allah murka pada orang yang enggan meminta kepada-Nya, sedangkan manusia ketika diminta ia marah”
Ya, Allah mencintai hamba yang berdoa kepada-Nya, bahkan karena cinta-Nya Allah memberi ‘bonus’ berupa ampunan dosa kepada hamba-Nya yang berdoa. Allah Ta’ala berfirman dalam sebuah hadits qudsi:
يا ابن آدم إنك ما دعوتني ورجوتني غفرت لك على ما كان منك ولا أبالي
“Wahai manusia, selagi engkau berdoa dan berharap kepada-Ku, aku mengampuni dosamu dan tidak aku pedulikan lagi dosamu” (HR. At Tirmidzi, ia berkata: ‘Hadits hasan shahih’)

Sungguh Allah memahami keadaan manusia yang lemah dan senantiasa membutuhkan akan Rahmat-Nya. Manusia tidak pernah lepas dari keinginan, yang baik maupun yang buruk. Bahkan jika seseorang menuliskan segala keinginannya dikertas, entah berapa lembar akan terpakai.
Maka kita tidak perlu heran jika Allah Ta’ala melaknat orang yang enggan berdoa kepada-Nya. Orang yang demikian oleh Allah ‘Azza Wa Jalla disebut sebagai hamba yang sombong dan diancam dengan neraka Jahannam. Allah Ta’ala berfirman:
ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
“Berdoalah kepadaKu, Aku akan kabulkan doa kalian. Sungguh orang-orang yang menyombongkan diri karena enggan beribadah kepada-Ku, akan dimasukkan ke dalam neraka Jahannam dalam keadaan hina dina” (QS. Ghafir: 60)
Ayat ini juga menunjukkan bahwa Allah Maha Pemurah terhadap hamba-Nya, karena hamba-Nya diperintahkan berdoa secara langsung kepada Allah tanpa melalui perantara dan dijamin akan dikabulkan. Sungguh Engkau Maha Pemurah Ya Rabb…
Berdoa Di Waktu Yang Tepat
Diantara usaha yang bisa kita upayakan agar doa kita dikabulkan oleh Allah Ta’ala adalah dengan memanfaatkan waktu-waktu tertentu yang dijanjikan oleh Allah bahwa doa ketika waktu-waktu tersebut  dikabulkan. Diantara waktu-waktu tersebut adalah:
1. Ketika sahur atau sepertiga malam terakhir
Allah Ta’ala mencintai hamba-Nya yang berdoa disepertiga malam yang terakhir. Allah Ta’ala berfirman tentang ciri-ciri orang yang bertaqwa, salah satunya:
وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُون
“Ketika waktu sahur (akhir-akhir malam), mereka berdoa memohon ampunan” (QS. Adz Dzariyat: 18)
Sepertiga malam yang paling akhir adalah waktu yang penuh berkah, sebab pada saat itu Rabb kita Subhanahu Wa Ta’ala turun ke langit dunia dan mengabulkan setiap doa hamba-Nya yang berdoa ketika itu. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam:
ينزل ربنا تبارك وتعالى كل ليلة إلى السماء الدنيا ، حين يبقى ثلث الليل الآخر، يقول : من يدعوني فأستجيب له ، من يسألني فأعطيه ، من يستغفرني فأغفر له
“Rabb kita turun ke langit dunia pada sepertiga malam yang akhir pada setiap malamnya. Kemudian berfirman: ‘Orang yang berdoa kepada-Ku akan Ku kabulkan, orang yang meminta sesuatu kepada-Ku akan Kuberikan, orang yang meminta ampunan dari-Ku akan Kuampuni‘” (HR. Bukhari no.1145, Muslim no. 758)

Dari hadits ini jelas bahwa sepertiga malam yang akhir adalah waktu yang dianjurkan untuk memperbanyak berdoa. Oleh karena itu, manfaatkanlah sebaik-baiknya waktu tersebut untuk berdoa.
2. Ketika berbuka puasa
Keberkahan di waktu berbuka puasa adalah dikabulkannya doa orang yang telah berpuasa, sebagaimana sabda  Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam:
ثلاث لا ترد دعوتهم الصائم حتى يفطر والإمام العادل و المظلوم
‘”Ada tiga doa yang tidak tertolak. Doanya orang yang berpuasa ketika berbuka, doanya pemimpin yang adil dan doanya orang yang terzhalimi” (HR. Tirmidzi no.2528, Ibnu Majah no.1752, Ibnu Hibban no.2405, dishahihkan Al Albani di Shahih At Tirmidzi)
Oleh karena itu, jangan lewatkan kesempatan baik ini untuk memohon apa saja yang termasuk kebaikan dunia dan kebaikan akhirat.
3. Ketika malam lailatul qadar
Pada malam ini dianjurkan memperbanyak ibadah termasuk memperbanyak doa. Sebagaimana yang diceritakan oleh Ummul Mu’minin Aisyah Radhiallahu’anha:
قلت يا رسول الله أرأيت إن علمت أي ليلة ليلة القدر ما أقول فيها قال قولي اللهم إنك عفو كريم تحب العفو فاعف عني
“Aku bertanya kepada Rasulullah: Wahai Rasulullah, menurutmu apa yang sebaiknya aku ucapkan jika aku menemukan malam Lailatul Qadar? Beliau bersabda: Berdoalah:
اللهم إنك عفو تحب العفو فاعف عني
Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni ['Ya Allah, sesungguhnya engkau Maha Pengampun dan menyukai sifat pemaaf, maka ampunilah aku'']”(HR. Tirmidzi, 3513, Ibnu Majah, 3119, At Tirmidzi berkata: “Hasan Shahih”)
Pada hadits ini Ummul Mu’minin ‘Aisyah Radhiallahu’anha meminta diajarkan ucapan yang sebaiknya diamalkan ketika malam Lailatul Qadar. Namun ternyata Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam mengajarkan lafadz doa. Ini menunjukkan bahwa pada malam Lailatul Qadar dianjurkan memperbanyak doa, terutama dengan lafadz yang diajarkan tersebut.
4. Ketika adzan berkumandang
Selain dianjurkan untuk menjawab adzan dengan lafazh yang sama, saat adzan dikumandangkan pun termasuk waktu yang mustajab untuk berdoa.  Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
ثنتان لا تردان أو قلما تردان الدعاء عند النداء وعند البأس حين يلحم بعضهم بعضا
“Doa tidak tertolak pada dua waktu, atau minimal kecil kemungkinan tertolaknya. Yaitu ketika adzan berkumandang dan saat perang berkecamuk, ketika kedua kubu saling menyerang” (HR. Abu Daud, 2540, Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Nata-ijul Afkar, 1/369, berkata: “Hasan Shahih”)
5. Di antara adzan dan iqamah
Waktu jeda antara adzan dan iqamah adalah juga merupakan waktu yang dianjurkan untuk berdoa, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam:
الدعاء لا يرد بين الأذان والإقامة
“Doa di antara adzan dan iqamah tidak tertolak” (HR. Tirmidzi, 212, ia berkata: “Hasan Shahih”)
Dengan demikian jelaslah bahwa amalan yang dianjurkan antara adzan dan iqamah adalah berdoa, bukan shalawatan, atau membaca murattal dengan suara keras, misalnya dengan menggunakan mikrofon. Selain tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah  Shallallahu’alaihi Wasallam, amalan-amalan tersebut dapat mengganggu orang yang berdzikir atau sedang shalat sunnah.

6. Ketika sedang sujud dalam shalat
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
أقرب ما يكون العبد من ربه وهو ساجد . فأكثروا الدعا
“Seorang hamba berada paling dekat dengan Rabb-nya ialah ketika ia sedang bersujud. Maka perbanyaklah berdoa ketika itu” (HR. Muslim, no.482)
7. Ketika sebelum salam pada shalat wajib
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
قيل يا رسول الله صلى الله عليه وسلم أي الدعاء أسمع قال جوف الليل الآخر ودبر الصلوات المكتوبات
“Ada yang bertanya: Wahai Rasulullah, kapan doa kita didengar oleh Allah? Beliau bersabda: “Diakhir malam dan diakhir shalat wajib” (HR. Tirmidzi, 3499)
Ibnu Qayyim Al Jauziyyah dalam Zaadul Ma’ad (1/305) menjelaskan bahwa yang dimaksud ‘akhir shalat wajib’ adalah sebelum salam. Dan tidak terdapat riwayat bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dan para sahabat merutinkan berdoa meminta sesuatu setelah salam pada shalat wajib. Ahli fiqih masa kini, Syaikh Ibnu Utsaimin Rahimahullah berkata: “Apakah berdoa setelah shalat itu disyariatkan atau tidak? Jawabannya: tidak disyariatkan. Karena Allah Ta’ala berfirman:
فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ
“Jika engkau selesai shalat, berdzikirlah” (QS. An Nisa: 103). Allah berfirman ‘berdzikirlah’, bukan ‘berdoalah’. Maka setelah shalat bukanlah waktu untuk berdoa, melainkan sebelum salam” (Fatawa Ibnu Utsaimin, 15/216).
Namun sungguh disayangkan kebanyakan kaum muslimin merutinkan berdoa meminta sesuatu setelah salam pada shalat wajib yang sebenarnya tidak disyariatkan, kemudian justru meninggalkan waktu-waktu mustajab yang disyariatkan yaitu diantara adzan dan iqamah, ketika adzan, ketika sujud dan sebelum salam.
8. Di hari Jum’at
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,
أن رسول الله صلى الله عليه وسلم ذكر يوم الجمعة ، فقال : فيه ساعة ، لا يوافقها عبد مسلم ، وهو قائم يصلي ، يسأل الله تعالى شيئا ، إلا أعطاه إياه . وأشار بيده يقللها
“Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menyebutkan tentang hari  Jumat kemudian beliau bersabda: ‘Di dalamnya terdapat waktu. Jika seorang muslim berdoa ketika itu, pasti diberikan apa yang ia minta’. Lalu beliau mengisyaratkan dengan tangannya tentang sebentarnya waktu tersebut” (HR. Bukhari 935, Muslim 852 dari sahabat Abu Hurairah Radhiallahu’anhu)
Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Fathul Baari ketika menjelaskan hadits ini beliau menyebutkan 42 pendapat ulama tentang waktu yang dimaksud. Namun secara umum terdapat 4 pendapat yang kuat.
Pendapat pertama, yaitu waktu sejak imam naik mimbar sampai selesai shalat Jum’at, berdasarkan hadits:
هي ما بين أن يجلس الإمام إلى أن تقضى الصلاة
“Waktu tersebut adalah ketika imam naik mimbar sampai shalat Jum’at selesai” (HR. Muslim, 853 dari sahabat Abu Musa Al Asy’ari Radhiallahu’anhu).
Pendapat ini dipilih oleh Imam Muslim, An Nawawi, Al Qurthubi, Ibnul Arabi dan Al Baihaqi.
Pendapat kedua, yaitu setelah ashar sampai terbenamnya matahari. Berdasarkan hadits:
يوم الجمعة ثنتا عشرة يريد ساعة لا يوجد مسلم يسأل الله عز وجل شيئا إلا أتاه الله عز وجل فالتمسوها آخر ساعة بعد العصر
“Dalam 12 jam hari Jum’at ada satu waktu, jika seorang muslim meminta sesuatu kepada Allah Azza Wa Jalla pasti akan dikabulkan. Carilah waktu itu di waktu setelah ashar” (HR. Abu Daud, no.1048 dari sahabat Jabir bin Abdillah Radhiallahu’anhu. Dishahihkan Al Albani di Shahih Abi Daud). Pendapat ini dipilih oleh At Tirmidzi, dan Ibnu Qayyim Al Jauziyyah. Pendapat ini yang lebih masyhur dikalangan para ulama.
Pendapat ketiga, yaitu setelah ashar, namun diakhir-akhir hari Jum’at. Pendapat ini didasari oleh riwayat dari Abi Salamah. Ishaq bin Rahawaih, At Thurthusi, Ibnul Zamlakani menguatkan pendapat ini.
Pendapat keempat, yang juga dikuatkan oleh Ibnu Hajar sendiri, yaitu menggabungkan semua pendapat yang ada. Ibnu ‘Abdil Barr berkata: “Dianjurkan untuk bersungguh-sungguh dalam berdoa pada dua waktu yang disebutkan”. Dengan demikian seseorang akan lebih memperbanyak doanya di hari Jum’at tidak pada beberapa waktu tertentu saja. Pendapat ini dipilih oleh Imam Ahmad bin Hambal, Ibnu ‘Abdil Barr.
9. Ketika turun hujan
Hujan adalah nikmat Allah Ta’ala. Oleh karena itu tidak boleh mencelanya. Sebagian orang merasa jengkel dengan turunnya hujan, padahal yang menurunkan hujan tidak lain adalah Allah Ta’ala. Oleh karena itu, daripada tenggelam dalam rasa jengkel lebih baik memanfaatkan waktu hujan untuk berdoa memohon apa yang diinginkan kepada Allah Ta’ala:
ثنتان ما تردان : الدعاء عند النداء ، و تحت المطر
“Doa tidak tertolak pada 2 waktu, yaitu ketika adzan berkumandang dan ketika hujan turun” (HR Al Hakim, 2534, dishahihkan Al Albani di Shahih Al Jami’, 3078)
10. Hari Rabu antara Dzuhur dan Ashar
Sunnah ini belum diketahui oleh kebanyakan kaum muslimin, yaitu dikabulkannya doa diantara shalat Zhuhur dan Ashar dihari Rabu. Ini diceritakan oleh Jabir bin Abdillah Radhiallahu’anhu:
أن النبي صلى الله عليه وسلم دعا في مسجد الفتح ثلاثا يوم الاثنين، ويوم الثلاثاء، ويوم الأربعاء، فاستُجيب له يوم الأربعاء بين الصلاتين فعُرِفَ البِشْرُ في وجهه
قال جابر: فلم ينزل بي أمر مهمٌّ غليظ إِلاّ توخَّيْتُ تلك الساعة فأدعو فيها فأعرف الإجابة
“Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam berdoa di Masjid Al Fath 3 kali, yaitu hari Senin, Selasa dan Rabu. Pada hari Rabu lah doanya dikabulkan, yaitu diantara dua shalat. Ini diketahui dari kegembiraan di wajah beliau. Berkata Jabir : ‘Tidaklah suatu perkara penting yang berat pada saya kecuali saya memilih waktu ini untuk berdoa,dan saya mendapati dikabulkannya doa saya‘”
Dalam riwayat lain:
فاستجيب له يوم الأربعاء بين الصلاتين الظهر والعصر
“Pada hari Rabu lah doanya dikabulkan, yaitu di antara shalat Zhuhur dan Ashar” (HR. Ahmad, no. 14603, Al Haitsami dalam Majma Az Zawaid, 4/15, berkata: “Semua perawinya tsiqah”, juga dishahihkan Al Albani di Shahih At Targhib, 1185)
11. Ketika Hari Arafah
Hari Arafah adalah hari ketika para jama’ah haji melakukan wukuf di Arafah, yaitu tanggal 9 Dzulhijjah. Pada hari tersebut dianjurkan memperbanyak doa, baik bagi jama’ah haji maupun bagi seluruh kaum muslimin yang tidak sedang menunaikan ibadah haji. Sebab Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
خير الدعاء دعاء يوم عرفة
“Doa yang terbaik adalah doa ketika hari Arafah” (HR. At Tirmidzi, 3585. Di shahihkan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi)
12. Ketika Perang Berkecamuk
Salah satu keutamaan pergi ke medan perang dalam rangka berjihad di jalan Allah adalah doa dari orang yang berperang di jalan Allah ketika perang sedang berkecamuk, diijabah oleh Allah Ta’ala. Dalilnya adalah hadits yang sudah disebutkan di atas:
ثنتان لا تردان أو قلما تردان الدعاء عند النداء وعند البأس حين يلحم بعضهم بعضا
“Doa tidak tertolak pada dua waktu, atau minimal kecil kemungkinan tertolaknya. Yaitu ketika adzan berkumandang dan saat perang berkecamuk, ketika kedua kubu saling menyerang” (HR. Abu Daud, 2540, Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Nata-ijul Afkar, 1/369, berkata: “Hasan Shahih”)
13. Ketika Meminum Air Zam-zam
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
ماء زمزم لما شرب له
“Khasiat Air Zam-zam itu sesuai niat peminumnya” (HR. Ibnu Majah, 2/1018. Dishahihkan Al Albani dalam Shahih Ibni Majah, 2502)
Demikian uraian mengenai waktu-waktu yang paling dianjurkan untuk berdoa. Mudah-mudahan Allah Ta’ala mengabulkan doa-doa kita dan menerima amal ibadah kita.
Amiin Ya Mujiibas Sa’iliin.

***
Penulis: Yulian Purnama
Artikel www.muslim.or.id

Wujud Zat

Silahkan klik tombol menu yang tersedia.

Arsip Blog