Tampilkan postingan dengan label Materi Pembelajaran SMP. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Materi Pembelajaran SMP. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Mei 2013

Preposisi dan Partikel


Preposisi dan Partikel


Contoh:
1.        Kakek Amien Rais, Wiryo Soedarmo, adalah salah seorang pendiri Muhammadiyah di Gombong, Jawa Tengah.
2.          Sampai suatu saat, mereka berdua naik haji ke Mekkah.
3.     Nama-nama mereka diambil dari Al Quran dan dikaitkan dengan kenangan dan peristiwa yang menyertai kelahirannya.

Kata depan, di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya, kecuali jika berupa gabungan kata yang sudah dianggap padu benar, seperti kepada dan daripada.
Misalnya:
1.      Saya pergi ke beberapa daerah untuk mencarinya, tetapi belum berhasil.
2.      Ketika truk Belanda sudah bergerak ke timur, gerilyawan yang bersembunyi di bawah kaki bukit lari ke arah barat.
3.      Semoga perekonomian kita pada masa yang akan datang lebih cerah daripada keadaan pada tahun-tahun yang lalu.
4.      Para pramuka sedang berkerumun di sekitar api unggun.

Selain kata depan, pada beberapa bacaan yang kita baca ada yang menggunakan partikel pun dalam sebuah kalimat.
Penggunaan partikel pun dipisahkan dari kata yang mendahuluinya karena partikel pun sudah hampir seperti kata lepas.
Misalnya:
1.      la sudah sering ke desa ini, tetapi sekali pun ia belum pernah singgah ke rumah saya.
2.      Jika saya pergi, dia pun ingin pergi.
3.      Dengan devaluasi pun ekonomi Indonesia belum tertolong.
4.      Tidak satu pun negara anggota OPEC yang setuju jika harga minyak dinaikkan terlalu tinggi.

Namun, kelompok kata berikut, yang sudah dianggap padu benar, ditulis serangkai. Jumlah kata seperti itu terbatas, hanya ada dua belas kata, yaitu : adapun, ataupun, bagaimanapun,
biarpun, kalaupun, kendatipun, maupun, meskipun, sekalipun (yang berarti walaupun), sungguhpun, dan walaupun.

Misalnya:
1.      Meskipun ia sering ke Jakarta, satu kali pun ia belum pernah ke Taman Mini Indonesia Indah.
2.      Bagaimanapun sulitnya, saya harus menempuh ujian sekali lagi.
3.      Walaupun tidak mempunyai uang, ia tetap gembira.
4.      Biarpun banyak rintangan, ia berhasil menggondol gelar kesarjanaan.

Partikel per yang berarti 'mulai', 'demi', dan 'tiap' ditulis terpisah dari bagian-bagian kalimat yang mendampinginya.
Misalnya:
1.      Harga kain itu Rp 10.000,00 per meter.
2.      Saya diangkat menjadi pegawai negeri per Oktober 1974.
3.      Semua orang yang diduga mengetahui peristiwa itu dipanggil satu per satu.
4.      Setelah dinyatakan bersalah, Ali ditahan oleh yang berwajib.
5.      strinya terpaksa menghemat belanja harian menjadi Rp 2.000,00 per hari.

Sinonim, Antonim, Homonim, Hiponim, dan Polisemi


Sinonim, Antonim, Homonim, Hiponim, dan Polisemi


Kata Bersinonim, Berantonim, Berhomonim, Berhomograf, Berhomofon, Berhiponim, dan Berpolisemi

a. Kata yang Bersinonim
Suatu kata yang mempunyai makna yang sama dan dapat saling menggantikan disebut dengan sinonim.
Contoh: benar = betul

Contoh dalam kalimat:
- Jawaban Anda benar.
- Jawaban Anda betul.
Kadang ada juga kata-kata yang awalnya bermakna sama, tetapi kemudian menjadi berbeda makna karena pengaruh makna konotasi yang terkandung dalam kata itu. Contoh: kata buruh, pegawai, karyawan. Kata-kata jenis ini termasuk kata bersinonim yang bernuansa.

b. Kata yang Berantonim
Antonim maksudnya adalah kata yang berbeda atau berlawanan maknanya. Jenis-jenis kata antonim ini dapat dibedakan menjadi berikut ini.
1) Antonim kembar, yaitu antonim yang melibatkan pertentangan antara dua kata.
Contoh: hidup >< mati

2) Antonim majemuk, yaitu antonim yang melibatkan pertentangan antara banyak kata.
Contoh: - Sepatu itu tidak merah.
Oleh karenanya, kalimat itu mencakup pengertian bahwa sepatu itu putih, sepatu itu cokelat, dan sebagainya.

3) Antonim gradual, yaitu pertentangan dua kata dengan melibatkan beberapa tingkatan.
Contoh: - Rumah itu sederhana.
Contoh kalimat di atas bisa bermakna: tidak mewah dan sangat sederhana.

4) Antonim hierarkis, yaitu pertentangan antara kata-kata yang maknanya berada dalam posisi bertingkat.
Contoh: Januari-Februari-Maret, April, dan sebagainya.

5) Antonim relasional, yaitu pertentangan antara dua buah kata yang kehadirannya saling berhubungan.
Contoh: suami-istri


c. Kata Berhomonim
Kata- kata yang bentuk dan cara pelafalannya sama, tetapi memiliki makna yang berbeda disebut dengan kata berhomonim.
Contoh: - kata genting

Contoh dalam kalimat:
- Karena terjadi kerusuhan, Kota Ambon dalam keadaan genting. (gawat)
- Ayah sedang memperbaiki genting yang bocor. (atap)

d. Kata yang Berhomograf
Kata-kata yang tulisannya sama tetapi pelafalan dan maknanya berbeda sering dikatakan sebagai kata yang berhomograf.
Contoh: kata apel

Contoh dalam kalimat:
- Adik suka makan buah apel.
- Karyawan itu wajib mengikuti apel pagi.

e. Kata yang Berhomofon
Kata-kata yang cara pelafalannya sama tetapi penulisan dan maknanya berbeda sering disebut dengan homofon.
Contoh: kata bang

Contoh dalam kalimat:
- Bang Yogi naik sepeda motor.
- Ayah pergi ke bank untuk menyetor tabungan.

f. Kata yang Berhiponim
Kata-kata yang mempunyai hubungan antara makna spesifik dan makna generik.
Contoh:
- ayam, kucing, kelinci, kuda merupakan hiponim dari hewan
- melati, mawar, anggrek, kenanga merupakan hiponim dari bunga

g. Kata yang Berpolisemi
Dalam bahasa Indonesia, sering dijumpai kata-kata yang menanggung beban makna yang begitu banyak. Inilah yang disebut polisemi. 

Misalnya: kata kepala.
Dari kata kepala ini dapat dijabarkan menjadi berikut ini.
1) Bagian atas suatu benda, contoh: kepala surat.
2) Sebagai kiasan atau ungkapan, contoh: kepala batu.
3) Berarti pemimpin, contoh: kepala negara.


Ciri-ciri Bahasa Indonesia Baku


Bagi siswa yang sedang browsing mencari materi mata pelajaran Bahasa Indonesia tentang ciri Bahasa Indonesia baku dapat anda simak sedikit ulasan berikut ini.

Ciri Bahasa Indonesia Baku

Bahasa baku adalah bahasa yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang berlaku. Pedoman yang digunakan adalah Kamus Besar Bahasa Indonesia, Ejaan Yang Disempurnakan (EYD), Pedoman Pembentukan Istilah, dan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Bahasa yang tidak mengikuti kaidah-kaidah bahasa Indonesia disebut bahasa tidak baku.

Fungsi bahasa baku ialah sebagai pemersatu, pemberi kekhasan, pembawa kewibawaan, dan kerangka acuan. 

Ciri-ciri ragam bahasa baku yaitu, sebagai berikut.
1.      Digunakan dalam situasi formal, wacana teknis, dan forum-forum resmi seperti seminar atau rapat.
2.      Memiliki kemantapan dinamis artinya kaidah dan aturannya tetap dan    tidak dapat berubah.
3. Bersifat kecendekiaan, artinya wujud dalam kalimat, paragraf, dan satuan bahasa yang lain mengungkapkan penalaran yang teratur.
4.   Memiliki keseragaman kaidah, artinya kebakuan bahasa bukan penyamaan ragam bahasa, melainkan kesamaan kaidah.
5.      Dari segi pelafalan, tidak memperlihatkan unsur kedaerahan atau asing.



Apabila ada kurang dan lebihnya, mohon tinggalkan komentar Anda.

Arsip Blog