Tampilkan postingan dengan label resign. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label resign. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 Desember 2014

Setelah Resign

Setelah saya memberikan surat pengunduran diri (seperti saya ceritakan di Bismillah, Saya Resign!), rasanya itu seperti keluar dari penjara. I’m free! Plooong banget. Tak ada beban.

Seandainya saya belum resign, siang tadi saya masih sibuk sendiri di kamar menyiapkan baju dan materi untuk ngajar. Setelah capek menyiapkan tetek bengek pasti langsung tidur 10 menit, bangun, mandi, sholat kemudian berangkat kerja sampai matahari menghilang dari peraduannya. Sesampainya di rumah saya langsung mandi, sholat, makan, dan tidur. Tak sempat ngobrol dengan bapak atau ibu karena ngantuk seharian nguli.

Selama ini seperti itu terus sampai-sampai saya merasa ada sesuatu yang hilang dari hidup saya. Terutama ada rasa bersalah pada ibu, dulu, saya masih sering ngobrol menghabiskan hari bersama ibu, setelah saya bekerja? Boro-boro deh.

Kata orang, “Wah, enak ya kerja di sana, di sini.”
Lupakan!

Siang tadi sepulang dari sekolah, sesuatu yang saya rindukan selama ini telah kembali. Saya bisa mengantar ibu belanja, beli lauk makan siang, bantu masak meskipun seragam ngajar masih nempel di badan. Tapi saya bahagia. Terlebih lagi bisa main bersama keponakan.

Semoga langkah saya ini memang benar. Melepaskan pekerjaan yang terlalu banyak menyita waktu saya. Tak ingin rasanya saya melewatkan masa-masa bersama orang-orang terkasih. Uang bisa dicari akan tetapi kebahagiaan sangat berharga bagi saya.

I love my family  

Jumat, 05 Desember 2014

Bismillah, Saya Resign!

Saya memposting tulisan ini sesaat setelah saya selesai membuat surat pengunduran diri yang selama ini saya idam-idamkan. Ya, akhirnya saya berani mengambil langkah ini. Yang awalnya saya piya piye, akhirnya saya pun berontak. Tak kuat.

Belum ada enam bulan saya bekerja, tapi rasanya saya tak sanggup kalau harus menghabiskan masa kontrak kerja selama satu tahun di tempat kerja part time yang satu ini. Tempat kerja saya yang satu ini adalah salah satu bimbel terkenal berwarna biru tua. Sebenarnya pekerjaan ini jiwa saya, tapi orang di baliknya yang membuat saya tidak kuat kalau lama-lama bekerja di sana.

Berkali-kali saya menguatkan diri, “Ayolah, di manapun kamu bekerja kamu pasti akan menemukan orang yang sama.” Maaf, tapi saya melambaikan tangan. Sudah tak bisa lagi dikompromi.

Pernah, awal melamar di tempat tersebut saya mendapat nasihat dari guru saya, “Jangan sampai kamu diperalat mereka.” Dan ternyata, ya! Eits, ini tak berlaku di tempat lain dengan nama bimbel yang sama ya. Soalnya teman saya di tempat lain oke-oke saja adem ayem sejahtera.

Berbagai kasus yang saya alami, mulai dari keberadaan modul yang baru muncul pas tengah semester, pergantian jadwal yang dadakan-dan saya harus mau, front office yang sering miskomunikasi dan ujung-ujungnya saya harus nunggu nggak jelas, ijin sakit yang sulitnya mint ampun, sampai-sampai cuti nikah pun ditiadakan.

Dam!

Inilah hidup. Disaat orang lain memimpikan pekerjaan saya, nah saya? Muak! Benar-benar pilihan. Wang sinawang pula. Tak selamanya bisa kerja di tempat ini dan itu akan membuat orang bahagia. Tak selamanya kerja di tempat bergengsi bisa dobel WOW bahagianya. Tapi setidaknya malam ini saya sangat bahagia karena saya berani mengambil langkah untuk resign dari pekerjaan saya yang satu ini. Kuncinya satu, rezeki akan datang bagi mereka yang mau berusaha.

Arsip Blog