Jumat, 09 Agustus 2013

RPP BAHAN PLPG

Oke ...langsung saja...
Bagi rekan-rekan yang telah masuk namanya dalam daftar peserta PLPG 2013, ini saya kasi hadiah Lebaran tiga buah contoh RPP + SILABUSNYA PLPG 2013 hasil racikan saya sendiri. Download DI SINI

Minggu, 04 Agustus 2013

GA dari Hayano Handmade dan Mommy Kawai

Kamu suka vintage thing kayak gambar di bawah ini?

Klik gambar

Nah, jangan lewatkan GA yang satu ini.
Hayano lagi-lagi ngadain GA dengan menggandeng Mommy Kawai di bulan Agustus ini.
Mau tahu? Yuk intip segera di sini.


Cara Mengubah Data Verval 2


Untuk mengubah data PTK, terlebih dahulu kita harus membatalkan Pemeriksaan Berkas Verval NUPTK Level 2.
- Login di Akun Sekolah
- Masuk di Verifikasi dan Validasi
- Daftar Status Pemeriksaan Berkas
- Di pojok kanan nama ptk ada tanda panah,
- Pilih Batal Pemeriksaan


Setelah Data PTK di batalkan. Kita bisa masuk di login ptk dan mengedit data yang salah itu kembali. Setelah semua data selesai di edit. Masuk kembali di akun sekolah dan lakukan Verifikasi Level 2 Pendidik & Tenaga Kependidikan dengan melakukan pengecekan berkas.
Semoga bermanfaat...

Sabtu, 03 Agustus 2013

Pikirku....


(Sebelum kecewa setelah membaca tulisan ini sampai selesai, mendingan tidak usah dibaca. Ini hanya curhatan seorang pengangguran kok.)

Usiaku 21 tahun, di mata orang sekampungku usia segitu sudah termasuk uzur. Ya, kawanku di masa SD saja kini anaknya menjadi muridku di TK tempatku mengajar. Bisa dibayangin nggak? Selain itu, ada pula yang sudah sibuk menjadi buruh pabrik yang hidup dipenuhi dengan shift kerja yang tak menentu. Uangnya banyak pasti?

Aku hidup di dalam kerumunan warga, jadi kalau ada warga sekitar yang seringkali membanding-bandingkan, kalau kamu ini kan gini, kalau kamu gitu kan gini. Wajar kah? Kemudian apa yang ku rasakan? Biasa saja, terlebih aku masih menuntut ilmu. Pikirku dulu.

‘Masih bertahankah aku dengan prinsip itu?’

5 jari tanganku tersisa untuk menghitung datangnya lebaran tahun ini. Ada perasaan yang berbeda. Ramadan kali ini banyak sekali jejalan-jejalan masalah financial yang menghampiri keluargaku. Termasuk di dalamnya adalah pembayaran kuliahku. Aku tahu ibu tak pernah bermaksud untuk menyalahkanku atas biaya kuliahku, tapi rasa-rasanya aku begitu tersiksa dengan perasaanku sendiri. Keadaan inilah yang merobohkan prinsipku.

‘Andaikan aku tidak kuliah dan bekerja seperti mereka, ibu pasti bahagia. Ibu pasti bisa merasakan ramadan dengan hikmat. Tak ada pikiran ini dan itu. Tak harus berhutang sana-sini demi membayar uang kuliahku. Mau ini bisa, mau beli itu bisa. Bla bla bla...’

Selalu pikiran itu yang muncul. Memang, rejeki itu sudah ada yang mengatur. Seperti kala itu, HP datang, paketan buku datang, paket minuman isotonik dan uang 150.000, kaos, dan teh, roti dan beberapa hadiah lainnya yang aku dapatkan dari ikutan kuis di radio maupun sosial media lainnya. Siapa yang nyangka? Tapi bukan manusia namanya kalau semua itu sudah cukup bagiku.

‘Itu tak membuat ibu bahagia,’ pikirku.

Terlebih lagi, kini adik keponakanku sudah bekerja di pabrik dan ibu bercerita kalau dia mendapatkan gaji Rp 900.000, bisa beli baju baru, ini dan itu. Aku tahu maksud ibu hanya bercerita saja, tapi sebagai pengangguran merasa ada yang mendesak hatiku, ‘Kenapa aku harus kuliah? Kenapa dulu nggak kerja juga. Kan kalau ramadan seperti ini aku bisa beliin ibu baju, bapak juga.’ Selalu seperti itu. Toh, semenjak SMA aku tak pernah mengenal baju baru di hari lebaran, so what? Harusnya aku tidak meradang. Harusnya...

Apa sih yang bisa aku lakukan? Menjadi penulis lepas pun aku belum jenak. Terlebih biaya untuk modem saja sampai saat ini aku suka mengakali dengan paket ala kelelawar, kalau nemu yang murah beli kartu perdana yang kadaluarsa seharga seribu untuk 100MB.

‘Ah, aku banyak alasan.’ pikirku lagi.

Ditambah lagi, ramadan kali ini aku merasa menambah beban ibu. Apa? Munjung mertua. Ya, ngantar bingkisan ke mertua. Memang, secara lazimnya itu tanggungjawab orangtuaku, tapi lagi-lagi aku terlalu berperasaan. Pekewuh sama ibu. Belum beruang saja sudah ngrepotin mlulu.

‘Kapan aku beruang?’, pikirku lagi.

Ah, kemarin ada yang kirim inbox, mbak tulisannya sudah dimuat. Silahkan cek rekening. Rp 100.000. Horeee!!! lumayan. Allah memang tak pernah tidur. Cukup nggak cukup uang itu ku berikan pada ibu. Paling tidak bisa buat ganti uang ibu yang dipakai membeli bingkisan ke mertua.

‘Alhamdulillah... agak lega’, pikirku lagi.

Kemarin lusa, ada tetangga juga yang main ke rumah. Aku dengar ibu bincang-bincang. “Wah Mbak Umi ya lebaran beneran ya, tabungannya banyak, anaknya pada gajian, suaminya pulang.” kata ibu.

Aku di dalam kamar hanya menahan desakan dalam hati.

‘Maaf bu...’, pikirku lagi.

Memang, lebaran itu tidak harus identik dengan baju baru, jajanan mewah yang tersaji di atas meja, opor ayam, apalagi rendang. Tapi inilah lebaran yang ada pada masyarakat. Aku dan keluargaku hidup di tengah-tengahnya, mau tidak mau secara umum mengikuti arus di dalamnya. Tapi tak terlampau jauh masuk di dalam garis orbitnya.

Ramadan, kemudian lebaran. Biarkanlah ku artikan kebahagiaan ibu pada masa ini dengan uang. Aku paham betul bahagia itu tidak selalu identik dengan uang, tapi ini keinginanku.

‘Maafkan adik membeli bahagia ibu dengan uang. Tapi ini caraku’, pikirku lagi.

‘Ah, ini curhatan apa ya?’, pikirku lagi.

“Ibu, maafkan adik kalau ramadan ini adik belum bisa membahagiakan ibu dengan cara adik. Biarkan mereka menikmati bahagianya sekarang. Ibu boleh iri. Sangat boleh. Ingatlah bu, suatu hari ibu juga akan merasakan itu. Disaat adik sudah menggapai mimpi adik, atau jika Allah mengijinkan adik jadi PNS. Suatu hari buk. Pasti, suatu hari. Bahagia ibu pun tidak hanya di bulan ramadan, tapi di bulan-bulan lainnya bu, 11 bulan yang lainnya. Adik janji bu.”

“Ya Allah.....pertemukan kami di ramadan tahun depan, agar hamba bisa melihat bahagia ibu di masa seperti masa ini. Ijinkan Ya Allah...”


Kamis, 01 Agustus 2013

[Foto] Bunga Liar


Keinginan untuk memiliki kamera yang kece abis sudah dari dulu ada. Alasannya mungkin dulu buat gaya-gayaan. Mana bisa coba aku beli? Pikirku dulu. Dan kenyataan sampai sekarang juga seperti itu. Hahaha. Tapi bukan aku namanya kalau menyerah begitu saja. Rejeki datang. Ya, kalaupun kamera kece nggak bisa jatuh ke tanganku, paling tidak hatiku berbunga-bunga banget pas ada kiriman HP Samsung Galaxy S3 Mini dari Sensodyne. He, Alhamdulillah, dapat gretongan.
Nah, rasanya nggak ada alasan lagi buat nggak motret. Dengan kamera si Andro (panggilan buat HP gretongan tuh), aku mulai belajar jepret-jepret. Seperti hari ini, ketika aku ikut ke hutan bersama bapak. Ini hasilnya J

Sudah mau kering tapi malah indah

ini versi bunga di atas pas masih muda

Daun bunga ini baunya khas banget, sengur

Ku temukan di sela-sela pohon kacang hijau

Ini kalau ditiup pada terbang bunganya

ini bukan bunga kangkung lho, tapi ketela rambat

Nggak tahu deh ini bunga apa, hidupnya meluk pohon ketela

Struktur bunganya lengkap banget
Untuk dapetin foto bunga liar ini nggak mudah lho, aku sampai blusukan dan berkali-kali dengar ibu berteriak, “Adik ngapaiiinnn?”

Pendaftaran CPNS 2013


Tahun 2013 ini, pemerintah melakukan rekrutmen CPNS melalui 5 jalur. Yakni jalur pelamar umum, honorer kategori 2, formasi khusus untuk dokter, seleksi untuk tenaga ahli tertentu yang tidak ada di lingkungan PNS, dan seleksi calon siswa ikatan dinas. Untuk pelamar umum dan tenaga honorer kategori 2 (TH2), dilakukan seleksi melalui tes kompetensi dasar (TKD) dan tes kompetensi bidang (TKB). Pelaksanaan tes untuk TH2, dengan sistem lembar jawaban komputer (LJK), sedangkan bagi pelamar umum dengan sistem kombinasi, LJK dan computer assited test (CAT).
Materi resmi ujian seleksi cpns 2013, akan berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang mulai diberlakukan sejak tahun 2012 (masa peralihan).
Materi Resmi Soal Ujian Seleksi CPNS 2013, adalah:
1) Tes Kompetensi Dasar (TKD) yang terdiri dari:
a) Tes Wawasan Kebangsaan (TWK);
b) Tes Intelegensi Umum (TIU);
c) Tes Karakteristik Pribadi (TKP).
2) Tes Kompetensi Bidang (TKB) untuk formasi tertentu.
Adapun sistem penilaian menggunakan sistem PASSING GRADE.
================
Bagi Anda yang berminat mendapatkan kisi-kisi soal resmi cpns 2013, silahkan kunjungi


Kelengkengku = SPPku


Waktu itu aku masih berkostum putih abu-abu, kelas XI. Layaknya anak-anak yang lain aku pun suka sekali berkumpul bersama teman di kantin. Jajan, ngobrol, saling menggoda, sampai membahas ekstrakurikuler yang kita minati. Semua terasa asyik jika dilakukan bersama teman.
Seperti saat itu, istirahat pertama aku dan teman yang lainnya berjalan menuju kantin Pak Jas. Setiba di sana sudah ada Desi dan kawan-kawan.
“Eh, Ka, mau?” Desi menyapaku saat aku tiba di depan pintu kantin.
“Wuih...enak ini. Minta yaa?” jawabku menyambut tawaran Desi lalu mencari tempat duduk yang kosong.
Ku rasakan buah pemberian Desi yang besarnya hampir menyerupai bola pingpong itu. Mak..nyess... manisnya. Aku teringat pohon kelengkengku yang ada di rumah. Kelengkengku pasti juga sudah siap dipanen dan siap ku santap. Kelengkengku apa kabarnya? Sudah 3 hari aku tidak pernah menyiraminya. Kegiatan di OSIS membuatku sering pulang larut sore. Rasanya aku ingin bergegas pulang ke rumah saat itu juga. Memastikan kalau buah kelengkengku juga sudah siap ku  panen.
Sesampainya di sekitar rumah, aku tak langsung pulang. Ku pilih untuk mampir ke toko bapak yang letaknya di depan gang masuk rumahku. Aku buka pagar toko, dan menuju ke samping toko.
“Kelengkengku di mana??” pekikku.
Aku tak mendapatinya. Ku berlari ke rumah meninggalkan pintu pagar toko tetap terbuka. Ketika tiba di rumah, ku cari ibu. “Ibuuu.....!!”
“Dalem...” ku dengar suara ibu parau. Ku temukan ibu sedang tidur di kamarnya. Ibu sakit, kepalanya masih kumat seperti kemarin. Ku urungkan niatku untuk menanyakan keberadaan pohon kelengkengku. Setelah memastikan ibu baik-baik saja, aku masuk kamar dan berganti pakaian. Pikiranku masih menebak-nebak keberadaan pohon kelengkengku. Apa dijual ibu?
“Dik, mpun maem (sudah makan)?” ibu menghampiriku sambil membawakan makan siang untukku.
Tak ada jawaban dari mulutku. Rasa kesal terpupuk dalam hatiku. Hanya saja tertahan karena keadaan ibu. Ku terima piring dari ibu dan ku lahap makan siangku dengan cepat. Besok-besok saja aku menanyakan pohonku itu. Bagaimanapun juga, tak tega rasanya melihat kondisi ibu.
“Dik, uang SPPnya sudah dibayarin semua?”
“Sudah Bu.”
“Maaf ya, ibu belum bisa ngasih uang SPP buat adik. Karena ibu juga lagi tidak punya uang. Toko bapak juga sedang sepi.”
“Maksud ibu apa? Kan tadi pagi ibu sudah ngasih uang ke adik.” potongku.
Ibu diam seketika.
“Sebenarnya itu uang adik.”
“Uang adik?”
”Itu uang penjualan pohon kelengkeng adik yang di toko bapak.”
Makjleb! Jangan-jangan kelengkeng yang aku makan tadi itu kelengkengku. Apa benar pohon kelengkengku yang sudah siap panen itu dibeli oleh ayah Desi? Bisa saja. 

Ketika aku menyiram pohon kelengkeng
            pingpong di toko bapak
Semua seakan terbuka layaknya lembaran buku-buku usang. Ku urutkan semua kejadian yang ada. Ibu kepalanya kumat pasti karena tidak punya uang (penyakit semua orang deh kalau yang satu ini), dan kemarin ayah Desi kebetulan lihat pohonku dan tergiur untuk membelinya. Ah, semua orang juga pasti akan tergiur kalau melihat pohonku itu. Dan uang hasil penjualan itu diberikan kepadaku untuk membayar uang SPP yang menunggak selama 3 bulan. Ya, ternyata benar.
Ku lihat raut wajah ibu berubah. Yang tampak hanya rasa bersalah. Aku juga tidak bisa berbuat apa-apa. Pohon yang selama 2 tahun itu aku rawat dan ku nanti buahnya justru dijual oleh ibu. Sebenarnya kalau masalah buah aku sudah merasakan, tapi sayang banget. Setiap siang dan sore aku selalu menyiraminya, memberikan pupuk kandang seminggu sekali, hingga akhirnya buah kelengkeng yang aku tanam di pot itu bisa berbuah banyak.
Ya mau bagaimana lagi, saat itu yang ku pikirkan adalah kenapa dan kenapa? Aku ya hanya diam. Tapi kalau pohonku tidak dijual aku juga tidak bisa bayar uang SPP. Aku hanya belajar menerima, tapi masih ada rasa tidak rela. Seperti tak ada pembalasan dari kerja kerasku selama ini.
Oh~ kelengkengku, apa kabar kamu sekarang? Pasti sudah sangat besar dan saat ini kamu sedang berbuah. Terimakasih sudah mebelajarkanku akan arti kerja keras dan keikhlasan.

***

Sebenarnya bapakku adalah pedagang tanaman holtikultura. Toko yang ku ceritakan itu ya toko bapak yang penuh tanaman itu. Berbagai macam tanaman ada. Mulai dari mangga, alpukat, belimbing, durian, jambu, sukun, nangka, dan ada juga tanaman penghijauan seperti jati dan trembesi. Akulah yang mendapat tugas menyiraminya di setiap pagi dan sore. Karena pekerjaanku itulah aku mendapat hadiah satu bibit pohon kelengkeng itu.
Kalau ada yang bilang, apakah kelengkeng itu bisa berbuah beneran seperti kelengkengku padahal daerahku itu termasuk dataran rendah, jawabannya bisa. Sejak mendengar kabar dari bapak kalau ada kelengkeng khusus dataran rendah (termasuk milikku) itulah aku mau merawat pohon kelengkengku itu. Selama ini anggapan orang pada umumnya daerah yang bisa ditanami hanya di daerah kawasan Bandungan, Semarang (untuk daerahku). Nyatanya pohonku bisa berbuah meskipun di tanam di media pot. Dan sekarang sudah banyak di daerah Demak, Jawa Tengah (daerahku) warga yang menanam kelengkeng. Ada yang di tanam di ladang, ada pula yang sepertiku dulu, di pot.

Selayang Pandang Pohon Kelengkeng
Kelengkeng termasuk dalam deretan buah yang mahal. Hampir sejajar dengan durian. Kelengkeng atau sering disebut juga dengan lengkeng ini memiliki berbagai varian, diantaranya adalah kelengkeng ping pong, diamond, itoh, kristal, gading, aroma durian, puang rai. Selain jenis yang aku sebutkan dengar-dengar juga ada jenis lain. Namun secara garis besar masing-masing jenis kelengkeng memiliki keunikan tersendiri mulai dari rasa buah, besar kecil bijinya, tebal tipis kulit buah sampai pada bentuk daunnya.
Yang terpenting yang harus diketahui oleh masnyarakat luas adalah kini kelengkeng bisa ditanam di mana saja, tidak harus daerah bercuaca dingin. Karena kini telah banyak inovasi-inovasi yang dilakukan para petani kelengkeng sehingga kelengkeng pun bisa ditanam dengan media pot dengan perawatan yang mudah.
Berkaitan dengan harga bibitnya, di tempat bapakku (bukan promo nih ya, hanya info~ hihihi) untuk bibit kelengkeng dengan tinggi 50-70 cm dihargai sebesar Rp 25.000. Dan catatan penting bagi yang akan membeli bibitnya, pastikan kalau mau membeli bibit apapun terutama kelengkeng pastikan kalau itu adalah hasil stek karena bibit yang hasil stek akan lebih cepat berbuah dibandingkan dengan bibit dari hasil pertumbuhan bijinya. Selain itu, pertumbuhannya akan berbeda dengan yang biji. Karena secara umum dengan tinggi 50-70 cm itu, cukup dengan menunggu selama 1,5-2 tahun dengan perawatan yang memadai, kelengkeng akan mulai berbuah. Bagaimana apakah kamu tertarik untuk membeli? Buruan, karena selain untuk tanaman peneduh, tanaman hias,  buah kelengkeng juga nikmat untuk menggoyang lidah para peminatnya.


Arsip Blog