Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 Februari 2015

Kangen Mandi di Kali

Minggu-minggu ini, sekolah sering libur. Terutama untuk anak-anak. Ada beberapa lomba dan event besar di desa letak sekolah saya berada. Mumpung libur, saya tidak melewatkan kesempatan ini pastinya.

Saya dan suami memutuskan untuk menginap di tempat mertua (saya). Jujur, saya penasaran dengan event besar di desa asal suami sekaligus tempat saya mengajar. Selama ini hanya mendengar cerita dari orang, terlebih suami yang sering meng-iming-iming keseruan acara tersebut.

Eh, eh, bukan acaranya yang seru tapi kejadian yang saya alami bersama suami-lah yang seru. Bagaimana tidak? Pukul 04.00 tidak tahu setan apa yang lewat tiba-tiba suami batuk tak ada henti-hentinya. Semua penghuni rumah pada bangun karena kejadian tersebut.

Satu jam, setelah saya kerok punggung, leher, dan dadanya, alhamdulillah suami bisa kembali tidur pulas. Saya juga ikutan tertidur. 10 menit kemudian bangun, sholat subuh.

Selesai sholat subuh, saya ikut ke dapur membantu mertua yang sedang memasak. Biar dikira mantu yang pengertian. Hehehe. Tak lama suami bangun.

“Mi, mandi di kali, yuk?” ucap suami sambil berlalu hendak wudhu. Saya hanya mengangkat alis sambil mengaduk susu coklat untuk suami.

“Umi ikut ke kali tapi nggak ikut mandi ya? Abi saja.”

“Oke.naik motor atau jalan kaki?”

“Jauh?”
***

Suami sudah mengeluarkan motor dan memanaskan mesinnya. Saya nunggu di kursi teras sambil memegang sabun mandi dan sampo. Saya penasaran, kali yang diceritakan suami selama ini itu seperti apa.

Kami pun berangkat. Jarak kali dan rumah mertua kira-kira 250 meter. Sepanjang perjalanan masih banyak pohon jati dan jalannya pun masih menggunakan batu kuning. Jadi, kalau hujan pasti becek dan banyak airnya. Jangan ditanya ya bagaimana udaranya, masih sejuk banget lho. Jarang-jarang saya mendapatkan udara yang seperti ini. Sayangnya tempatnya sepi, serem.

Setelah melewati jembatan tua, tampaklah sungai selebar 3 meter di depan mata. Saya yakin sekali mata suami saya pasti sangat berbinar-binar melihat pemandangan ini *lebay. Motor segera di parkir dan suami tak langsung terjun ke kali justru memandangi hamparan sawah di samping kali tersebut.

Suami sambil menenteng celana ganti memandang hamparan sawah nan hijau

"Belum ada dua bulan, rasanya sudah pangkling."

Hahaha, Suami mulai lebay. Kangennya tak ketulungan. Maklum kalau di rumah tidak bisa lihat yang seperti ini.

Setelah puas memandangi sawah, suami pun tak sabar ingin segera terjun ke kali.

Suami tak sabar ingin terjun ke kali

"Yakin?" suami bertanya apakah saya tidak ingin ikut mencicipi air kali yang tampak tidak bening (habis hujan) ini. Saya hanya geleng-geleng.

"Abi renang ke sini ya?" pinta saya yang menunggu suami di atas jembatan beton.

Suami siap-siap terjun ke kali

Suami makin girang setelah merasakan air kali yang segar.
Di belakang suami sana ada juga ho rombongan anak-anak yang sedang mandi.

"Sini, Bi. Sini, Bi."

"Haiiiii...."

Duh, senengnya yang renang sana-sini.

Pukul 07.00 tepat, suami mentas dari kali. Wajahnya tampak seperti anak-anak yang mendapatkan permen setelah merengek minta permen pada ibunya.

"Seger bener. Enak ya, Bi?"

"Bukan enak. tapi kangen mandi di kali. Sejak kecil kalau badan abi mulai tidak enak, misalnya pilek, batuk-batuk, pasti mandi di sini. Dan alhamdulillah sembuh. Bukan suatu kepercayaan sih, tapi kalau sudah slulup di kali itu rasanya plooong." saya hanya diam mendengarkannya.

Kami pun pulang. Di jalan, tiba-tiba abi bersin. Apakah itu tanda mak plong? Subuh tadi saat batuk, riak dalam tenggorokan suami tak bisa keluar, apakah ini keluar lewat ingus bersin suami? Ah, sudahlah.

Saat saya menuliskan postingan ini, batuk suami sudah sembuh karena semalam minum obat batuk. Semua kembali pada Allah. Terpenting, suami sumringah karena bisa membalas rasa kangennya, yaitu mandi di kali.

Rabu, 12 Februari 2014

Iri

Pernahkah kamu merasa iri? Iri dengan sesuatu yang tak jelas. Iri pada sesuatu yang tak seharusnya kamu timpa dengan rasa iri.

Tahu nggak bentuk iri itu seperti apa? Iri itu seperti ribuan cacing kremi yang berdesak-desakkan (ala aku). Menurut kamu?

Apa yang kamu rasakan? Rasanya ‘iri’ itu begitu menyakitkan ya? Sangat. Terlebih saat tak mampu mengendalikannya. Kekuatan Allah Yang Maha Dahsyat yang sering terucap dalam lisan “Astagfirullah...” saja masih memporak-porandakan semuanya.

Kemudian apa yang harus dilakukan? Mencari ujung atas nama iri? Sering kucari tapi sulit ku kenali yang mana ujungnya? Ah, letaknya hanya di sini. Ya, di sini. Di dalam dadaku, dadamu juga.

Tak bisakah kammu menyentuhnya? Aku belum mampu. Imanku, ya imanku yang terlalu lemah. Jika kamu bisa menyentuhnya, imanmu tularkan padaku ya?

Selasa, 04 Februari 2014

Gonta-Ganti Template Blog

Misal, ada yang sebelumnya penah berkunjung ke blog ini dan sekarang berkunjung lagi pasti merasakan ada perubahan pada template blogku. Jangan heran! Sudah lebih dari sepuluh kali template blogku ini berubah. Parahnya lagi berubahnya bisa jadi dalam hitungan jam saja. Maaf, aku masih ababil. Bukan anak buah bang Billy ya?


Pernah ada seorang teman blogger yang care sama aku tiba-tiba nge-chat di facebook ku, “Templatenya ganti lagi ya neng?”, “Iya mbak.” jawabku. “Jangan sering gonta-ganti template ya, Mbah Google nggak suka lho.”

Kira-kira begitulah perbincangan singkat kami tentang templateku yang sering gonti-ganti. Sebenarnya mau juga punya template yang tetap, tapi apa daya, jiwa ababilku sering kali naik pangkat tiap kali lihat template blog teman yang kece abis. Kalau mereka bisa kenapa aku nggk, semboyan itu yang seringkali aku agung-agungkan, tapi rasanya kok justru jatuh ke sifat iri ya? Hadeh.

Kemudahan mendapatkan template gratis menjadi tokoh utama yang menggodaku sering gonta-ganti template. Tapi, makin ke sini aku makin paham sebetulnya template itu tak harus yang keren, kece, cetar membahana ala Syahrini. Template yang simpel dan nyaman di mata juga bisa jadi perhitungan yang kedua. Terus yang pertama apa? Konten. Ya, konten blog itu lebih penting.

Template keren tapi tidak dibarengi dengan konten blog yang cetar membahana membabi buta juga sama saja bohong. Terus kalau ngomongin tentang konten yang baik, menurutku bisa diawali dengan konsistennya pemilik blog memposting artikel yang bermanfaat bagi pembaca. Lha aku? Mosting tulisan aja masih dang-tek alias suka-suka gue. Hihi. Sekali posting tulisan isinya curhat mulu. Tak apalah ya, karena aku pernah membaca kalimat seperti ini, “Menulislah dari apa yang kamu suka.” Aku suka curhat, semoga saja curhat yang berkualitas dan bermanfaat ya? Dari konsisten menulis yang notabene idenya dari curhatan semoga bisa jadi ‘sesuatu’ di kemudian hari. Jangan pernah berhenti menulis ya? Happy blogging kawan!

Senin, 03 Februari 2014

Untuk Para Penikmat Es Teh

Ada yang kemarin siang (1 Februari 2014) menonton Redaksi Siang Trans 7? Beberapa berita aktual, tajam, dan terpercaya disajikan di sana. Satu berita yang nyantol di hati, tagline-nya aku lupa, pokoknya tentang gelas dan sedotan bekas yang digunakan oleh penjual minuman asongan di Jakarta. Penjual asongan itu seringkali ditemukan di tempat keramaian atau pas ada event besar.

Begini ceritanya, gelas minuman yang sudah dipakai alias bekas dicuci alakadarnya (dapat dari pemulung) kemudian digunakan lagi sebagai kemasan minuman seperti es teh yang laris manis dibeli oleh masyarakat. Tak hanya gelasnya lho, sedotannya juga. Parah banget kan?

Kemasannya seperti ini nih,
tapi kalau yang di gambar itu nggak termasuk dalam kasus ini ya?

Belum hilang rasa heran dalam hati, aku jadi ingat kejadian yang hampir sama dengan apa yang aku lihat di berita tersebut. Pernah, aku menemukan sedotan kotor di dalam rak sendok. Tidak hanya satu, lebih dari 5 sedotan. Di dalam sedotan itu ada tanah yang mengering. Saat itu aku memilih untuk meminta sedotan lain yang masih terbungkus plastik pada penjual bakso langgananku. Ini tempat bakso langgananku, nggak harus di Jakarta ya? Waspada....

Dari kejadian yang aku alami tersebut ditambah lagi berita di Redaksi Siang itu seperti berkesinambungan. Aku kira (mungkin) sedotan itu terkena debu jalanan yang masuk ke warung. Bukan bermaksud untuk suudzon, tapi sedotannya nggak satu saja lho? Masak iya sih sedotan seperti itu digunakan lagi dengan embel-embel keuntungan lebih? Padahal harga sedotan satu pack (isinya lebih dari 100 sedotan) hanya Rp 1.000. Tapi inilah kenyatannya.

Kembali ke berita, tidak hanya gelas yang telah dicuci alakadarnya, ternyata proses pembuatan es teh itu sendiri juga perlu kita waspadai. Dari berita tersebut ditampilkan gambar orang-orang yang membuat es teh berada tepat di sisi Kali Ciliwung yang tampak kotor. Tempat penampungan es batunya pun hanya terbuat dari sterofoam bekas yang dirangkai hingga berbentuk bangun kubus (banyak kotorannya) dan larutan air tehnya juga diprediksi dari campuran teh bekas atau kedaluwarsa.

Bisa dibayangkanlah ya di dalam minuman kemasan itu banyak bakterinya? Terus apa yang bisa kita lakukan? Nah, buat kamu yang sering membeli minuman kemasan seperti itu yuk mulai dikurangi. Tapi itu kan seger banget? Yah, kan masih ada penjual minuman yang lebih terpercaya kualitasnya. Beli minuman dengan kemasan yang tersegel. Tempatnya jauh? Ya sudah bawa minuman sendiri aja dari rumah. Jangan banyak alasan deh kalau mau sehat. Nanti kalau sakit baru nyesel! (Waduh, malah marah-marah)

Membawa minuman dari rumah memang menjadi pilihan yang cerdas, selain menghemat pengeluaran, kebersihan air yang masuk di dalam tubuh kita juga cukup terjamin. Peduli dengan kesehatan diri sendiri kan penting. Tak hanya peduli dengan diri sendiri, kita juga bisa peduli terhadap kesehatan orang lain. Bagaimana caranya? Kita bisa memutus rantai penggunaan gelas dan sedotan bekas itu dengan cara tidak membuang sampah sembarangan, dan:

Gelas, kita bisa membakar alas gelas, atau meremas-remas gelas.
Sedotan, menyobek sedotan, melipat-lipatnya atau menggunting sedotan.

Bagaimana? Mudah bukan? Yuk, kita peduli diri sendiri dan juga lingkungan sekitar. Selamat mencoba dan selalu berbagi.

Sabtu, 01 Februari 2014

Honor dan Guru Privat


Jangan dibayangkan besarnya honorku ya? Aku kan hanya guru les privat “Si Senyum Tipis”, jadi tak mungkin kalau mengungkuli PNS. Sebulan, alhamdulillah uang Rp 150.000 siap masuk kantong. Dalam takaranku itu sudah lumayan besar jika dibandingkan dengan teman seprofesiku. Setiap satu minggu ada dua kali pertemuan, yaitu hari Selasa dan Kamis. Pertemuan itu dimulai pukul 16.00-17.30 WIB di rumah “Si Senyum Tipis”.

Berbeda, temanku ada yang satu minggu tiga kali pertemuan dan honornya hanya Rp 125.000. Aku wajib bersyukur nih ya? Enaknya lagi, ibunya selalu menghidangkan kudapan lezat untukku. Ada pisang goreng, biskuit, kue, buah, snack yang setiap kali pertemuan berbeda-beda. Minumnya juga sering berubah-ubah lho, kadang kopi, teh, es sirup, bubur, wedhang jahe, dll. Dari kudapan yang ada, yang paling favorit adalah keripik pisang dan kopi hangat. Enaknya...

Awal mula aku bisa menjadi guru les privat “Si Senyum Tipis” dari chattingku bersama bapaknya. Bapaknya itu adalah guru SMA ku dan dulunya juga guru les bahasa inggrisku. Jadi, seperti bergilir, kini anaknya yang megang aku. Hihi...

Sudah hampir dua tahun aku menjadi guru les privat “Si Senyum Tipis”, alhamdulillah tak ada hambatan yang berarti. Biasanya pas musim hujan begini nih agak repot karena perjalanan ke rumah murid es ku ini memakan waktu 15 menit dengan sepeda motorku. Tapi karena iming-iming kudapan dari ibunya aku selalu tambah semangat. Kalaupun di jalan kedinginan nanti sampai sana akan dihangatkan dengan kudapan lezat sang ibu. He, modus banget ya?

Kembali ke bagian honor, minggu depan insyaAllah aku akan terima honorku. Wah, rasanya tak sabar deh. Kalau biasanya aku akan membelanjakan uang itu untuk keperluan dapur ibu, kali ini ibu memintaku untuk menggunakan uang itu untuk membeli radio. Kata ibu biar uang kerjaku itu juga berbentuk benda. Ada kenangannya. Terlebih lagi ibu juga kasihan padaku karena radio kesayanganku sudah rusak sejak awal kuliah dulu.

Tekadku, aku akan tetap membeli radio, tapi radio yang biasa aja, sepertinya ada yang harganya Rp 50.000-an. Sisanya kan bisa buat bantu ibu juga. Ah, bahagia itu sebenanya sangat sederhana ya? Melihat ibu tersenyum saja rasanya sudah bahagia.

Selamat gajian! 

Kamis, 30 Januari 2014

20.000 Aku Menangis

Waktu menuliskan cerita ini radio di hapeku sedang memutar lagu “Selimut Hati”. Suara laki-laki gondrong yang kerap dipanggil Once itu sungguh khas di telingaku.

“Selimuti hatiku...”
“Selimuti hatiku...”

Begitulah ending lagu tersebut.

Selimut hati. Otakku mulai mengencer, mencari arti dua kata tersebut. Selimut dalam KBBI berarti pelindung tubuh, sedangkan hati adalah organ tubuh yang berwarna kemerah-merahan di bagian kanan atas rongga perut. Jadi, secara harafiah selimut hati adalah pelindung organ tubuh. Haha.. ya paling tidak seperti itulah.

Menurut kamu selimut hati itu apa? Bagaimana kalau aku mengartikan sebagai salah satu “penghambat” dalam diri. Selimut itu menutupi, apabila langkah kita ada yang menutupi pasti langkah kita pun akan terbatas. Layaknya ketika musim hujan, aku hanya nyaman ketika berada di balik selimut. Tak ingin lepas dan hanya ingin bermalas-malasan di atas tempat tidurku.

Aku pastikan lagi, ini selimut hati bagiku.

3 minggu ini, aku merasakan ada ketidak-beresan dalam diriku. Ada oenghambat. Bodohnya aku tak tahu apa penyebabnya dan bagaimana cara mengendalikannya. Naluri ibu, seringkali mencium ketidak beresan pada diriku.

“Cah ayu, akhir-akhir ini kok jarang sekali megang skripsi?” tanya ibu sambil mengelus punggungku, malam kemarin.

Akunya malah nyengir. “Ngumpulin semangtnya susah buk.” jawabku sekenanya.

Ya, setiap kali hendak menghidupkan notebook rasanya begitu berat. Sampai ada teman blogger yang berujar, “Jangan sampai terlena dan down.” nasihat beliau.


Yah, beliau sudah pernah melewati masa itu. Tahu persis apa yang aku rasakan. Dan kedua kata tersebut saat ini aku rasakan dan rasanya begitu menguasai hatiku.

Kembali ke cerita tentang ibu. Setelah mendengar jawabanku, ibu malah mencari dompetnya.

“Ini buat beli pulsa, tapi harus semangat lagi ya?” kata ibu terdengar renyah di telingaku.

“Lho sejak kapan ibu harus memberi jatah beli pulsaku?”cegahku. Belum selesai cegahku, bapak ikutan membuka dompetnya.

“Bapak ya kasih Rp 10.000 wis.”

“Waduh, apa-apaan ini kok malah menakutkan.” kataku nggak nyambung banget, aku pun sadar.

“Loh, kok menakutkan to?” ibu heran.

Aku tak menjawab dan masuk kamar. Tak ku sadari ibu menyusulku.

“Ini diterima saja.” Ibu memberikan dua lembar uang sepuluh ribuan.

“Ibu ngerti semangatmu nggak bisa dibeli dengan uang Rp 20.000, tapi bue pengen kamu semangat lagi.”

“Halah...ibu.” elakku, namun aku mengharu.

“Sudahlah, ini (memberikan uang sepuluh ribu) uang bayaran jahitan tadi, dari ibu. Yang ini (memberikan lagi uang sepuluh ribu) dari bapak, batine dodol (keuntungan menjual) pisang. Diterima ya? Maaf, bapak ibu baru bisa membeli semangatmu dengan uang Rp 20.000.” ibu undur diri.

Aku mematung di tempat. Menangis.

Rabu, 08 Januari 2014

Si Senyum Tipis


Rindu ingin segera bertemu dengan dia begitu menggebu. Senyumnya yang tipis, itulah yang selalu ku rindukan darinya. Berangkatlah aku, tepat pukul 15.30 WIB. Ku kendarai motorku dengan kecepatan 50 km/jam. Tak lama, 10 menit kemudian aku sudah sampai di teras rumahnya. Ku parkirkan motorku, ku tengok ruang kerja ayahnya. Ada seorang perempuan, tapi tak ada ayahnya.

“Permisi...”
Kulihat ayah dan ibunya ada di ruang tamu. Ku dipersilahkan duduk dan tak lama ku lihat si empu senyum tipis muncul dari balik tirai.
Aku rindu.

“Halo, apa kabar Mas Nicho?”

Dia adalah Nicho. Murid les ku semenjak 1 tahun lalu (Kelas 5 SD). Semenjak bulan September lalu aku tak bertemu dengannya karena kesibukanku PPL dan KKN.

“Mbak Ika kangen deh sama Mas Nicho, tapi Mbak Ika juga tahu Mas Nicho nggak mungkin kangen sama Mbak Ika. Iya kan?” godaku padanya dan dia hanya tersenyum, masih tipis.

Sebelum les dimulai, aku bercerita sebentar untuk mencairkan suasana sore itu. Terlebih lagi dia tak seperti murid les ku yang lainnya, dia spesial. Bahkan saking spesialnya dia tak mau les selain les denganku. Pernah, ketika ayahnya memintanya untuk les juga (selain denganku) di salah satu bimbel terkenal berinisial P, dia hanya berangkat 3 bulan dan akhirnya tak mau berangkat lagi. Aneh, padahal uang pembayaran di bimbel tersebut sudah dibayar selama 1 tahun.

"Wis pokoke sama Mbak Ika saja." kata ayahnya suatu hari.

Nicho itu anak yang cerdas, hanya saja perlu perhatian khusus. Dia tak banyak bicara, bahkan menurutku sangat kurang. Selain itu, dia juga sangat tertutup. Ayah ibunya yang sering cerita kepadaku, bahkan memintaku untuk mengajarinya untuk lebih berani berbicara ataupun mengutarakan pendapatnya baik di dalam keluarga maupun di sekolah.

Pernah suatu hari ketika perayaan hari natal tahun 2012, Nicho mau ikut acara drama di gereja sebagai gembala. Walah, ibunya senang sekali. Ya, itu kali pertama Nicho mau terjun ke masyarakat. Alhamdulillah, aku ikut senang.

Ada yang buatku sedih di awal pertemuan kami kemarin.
“Mbak, kemarin ditinggal sama Mbak Ika nilainya Mas Nicho turun. Tidak mau belajar dia maunya belajar sama Mbak Ika.” terang ibunya.

Ya Allah...

Banyak pertanyaan yang muncul dalam hatiku, masak iya dia segitu mencintaiku? Masak iya dia begitu tergantung padaku? Bagaimana nantinya kalau dia sudah SMP? Apakah aku akan terus-terus-an jadi guru privat dia?

Nicho..Nicho...
Kamu itu tetaplah anak yang unik.
Paling tidak aku akan berusaha yang terbaik agar kamu bisa jadi anak yang cerdas!


Nicho yang mengenakan baju garis-garis lho ya?


Jumat, 13 Desember 2013

Sarapan Pagi


Biasanya kalau  di rumah pukul 05.30 aku sudah sarapan. Kuliahku kan masuk pukul 07.00 WIB, jadi dari rumah satu jam sebelumnya kan? Sementara selama di posko KKN? Hidup bersama dengan orang banyak, tentu berbagai karakter aku temukan, dan membuatku harus lebih ekstra menyesuaikan diri. Ah, ini tinggal satu minggu jadi aku harus bertahan. Pasti kuat.

Jujur saja, aku memang sering pulang ke rumah karena jarak rumah dengan posko hanya memakan waktu 20 menit-an. Tapi giliran kalau menginap di posko aku sering kelaparan, alamaaakk... Makanku tak banyak, tapi nyemilnya itu lho. Seperti syok terapi saja. Kalau teman-teman pulang dari KKN pada gendut, lama-lama aku bisa kurus kering (berlebihan!).

Berhubung aku juga ada riwayat sakit tipus, mau tidak mau aku harus siap sedia dan nggak mau menyesuaikan dengan kebiasaan mereka. Pukul 08.00 baru sarapan, aku nggak kuat. Yah, apa sih yang bisa aku lakukan kalau bukan sedia mie instan? Ya, setelah sholat subuh berjamaah, mandi, dan mencucui, aku seringkali membuat mie goreng atau mie kuah untuk mengganjal perut sembari menanti teman-teman bangun. Seperti pagi ini, aku menyantap mie goreng dengan kerupuk sisa semalam.

Selasa, 10 Desember 2013

Kondangan itu Modus Reuni

Uus Wedding

“Jodoh, rezeki, dan kematian yang tahu hanya Allah.”

Teman SMA yang dulunya tomboy, bahkan paling cerewet apabila mengenakan rok, kemarin akhirnya menikah juga. Yeay! Lebih tepatnya adalah mendahului kami yang feminim.

Uswatul Khasanah namanya. Di sela-sela kesibukan teman-teman SMA, hari itu (8 Desember 2013) ternyata aku bertemu dengan beberapa teman. Berbagai ekspresi dan komentar bermunculan ketika kami bertemu setelah 3 tahun lamanya berpisah.

“Kamu sekarang tambah gendut ya?”
“Wah, bu guru semakin cantik aja.”
“Hey, sekarang kamu tinggian ya?”
“Alay kamu masih kayak jaman SMA deh.”
“Kamu masih rempong ya kayak dulu?”

Aku hanya ingat tawa mereka. Rasanya begitu rindu. Kita bersama-sama sejak kelas XI-XII. Tak pernah bisa kompak namun di akhir-akhir (setelah UAN) solidaritas kita begitu erat.

Obrolan kami tak berhenti di rumah Uus saja. Setelah berfoto ria kami hendak ke puskesmas rawat inap untuk menjenguk mamanya Eka yang sedang sakit. Sampai di sana setelah ngobrol sana-sini dengan mamanya Eka, kami malah melanjutkan kerinduan kami di ruang tunggu. Reuni beneran euy!

Senin, 09 Desember 2013

Kecelakaan itu Nikmat

Siapa yang menyangka setelah kemarin jatuh korban 4 orang, kini datang giliranku? Astagfirullah...

Pulang dari tempatku KKN, aku terjatuh dari sepeda motor. Malamnya memang hujan, hal itu membuat jalanan sangat licin. Aku merasa laju sepeda motorku hanya kisaran kecepatan 30-40 km/jam. Mungkin karena kerataan jalan yang berbeda dan aku menarik rem depan akhirnya ban sepeda motorku yang depan (kebetulan juga sudah mulai halus) tergelincir dan  braaakkk!!!

Terlalu cepat kejadiannya, yang aku sadari sepeda motorku tetap meluncur ke depan sedangkan aku terpanting ke samping, duduk dan kemudin bersujud dan mulutku menyebut nama Allah. Masih dalam keadaan sujud ku dengar ada suara orang berteriak dan mendekatiku.

"Ada orang jatuh!"
""Ngantuk ya Mbak?"
"Nggak papa mbak?"
"Jatuh ya Mbak?"

Alhamdulillah banyak orang yang berhambur menolongku. Yang aku pikirkan, apakah aku masih bisa berdiri? Kalau nggak bisa gimana? Ya Allah... Ku coba duduk dan meluruskan kakiku. Ku lihat celanaku robek dibagian lutut. Ah, lututku....

Ini adalah kali pertamanya aku kecelakaan selama 6 tahun aku naik motor. Ada seorang laki-laki yang ku kira daritadi memperhatikanku. "Kenapa kakinya mbak?"

Aku tak menyahut, ku angkat celanaku sebatas lutut. Alhamdulillah....ada darah di sana. Lututku hanya tercium aspal. Dengan dibantu warga yang ada di sekitar kejadian aku pun melanjutkan perjalanan dan mampir di bengkel untuk memperbaiki pijakan kaki sebelah kiri yang sempat bengkok.

Inilah nikmat Allah. Kalau tidak kecelakaan pastinya aku tidak bisa istirahat. Ya ya, selalu ambil sisi positifnya saja ya :)

Selasa, 03 September 2013

Ibuku ‘Menipu’ di Puskesmas



Siapa yang tak kenal lagu berikut ini?

Kasih ibu
Kepada beta
Tak terhingga sepanjang masa
Hanya memberi
Tak harap kembali
Bagai sang surya
Menyinari dunia

Ah, saya hanya ingin pamer betapa cintanya ibuk kepada saya. Sudah seminggu ini saya memang sedang tidak fit. Alhamdulillah, ini adalah bentuk cinta Allah. Semua jadi berantakan, jadwal PPL, mengerjakan silabus dan RPP, proposal skripsi (kapan bimbingan woy?). Ah~ woles saja deh kalau kata keponakanku.

Eh, malah ngelantur kemana-mana ya?
Dari sakitnya saya ini lagi-lagi ingin mengucapkan Alhamdulillah, meskipun tidak dilahirkan dari keluarga yang serba ada, tapi memiliki Ibu macam ibuk Hartini, saya sungguh sangat bahagia lahir batin.

Ibu saya, rela menipu di Puskesmas. Menipu? Aduh, kesannya negatif banget ya? Ya, negatif kalau buat pihak Puskesmas, tapi bagi saya? Mampu melelehkan perasaan saya.

Cerita bermula Senin kemarin, karena saya harus tetap berangkat PPL, saya pun tidak bisa ikut ke Puskesmas. Ibu saya mencari obat gratisan di Puskesmas. Benar saja, meskipun sudah ke bu bidan, membuat obat tradisional, beli obat di apotek dan di warung tapi tetap saja batuk yang saya derita tak sembuh juga. Bisa jadi karena saya kurang istirahat. Ibuk mana yang tak khawatir anak semata wayangnya ini sakit? Ibuk yang lainnya pasti juga seperti itu.

Di Puskesmas, ibuklah yang mengaku sebagai si sakit. Ditanya sama pak mantri, “Keluhannya apa Bu?” ibuk saya menjawab, “Batuk ngekel (berdahak) Pak. Kalau malam sampai nggak bisa tidur Pak.”

“Mriki kulo tensi rumiyin, (setelahnya) wah normal Bu, 120.” Ibuk saya katanya hanya senyum, tapi saya yakin nih ibuk pasti di dalam hatinya ketawa terbahak-bahak dan bilang, “Lha iya, wong aku waras e (Lha iya, lha saya sehat) Pak.”

Sukseslah ibuk menipu pak mantri Puskesmas. Dibawanya pulang obat tersebut, dan batuk saya kini mulai membaik. Ah~tak melihat salah apa betul yang dilakukan oleh ibuk. Saya tahu, ibuk rela berkorban bagi saya, anaknya.


Adik sayang Ibuk.

Minggu, 18 Agustus 2013

Mukena Parasit



Urusan sholat semua lillahi ta’ala. Mau khusuk atau tidak hanya diri dan Allah yang tahu. Sah atau tidaknya suatu sholat terserah Allah yang menilai. Manusia sendiri berhak kah? Menurutku tidak.
Bagaimana kalau pas sholat tiba-tiba gangguan datang? Tiba-tiba maak wuukk! Mukena yang kita kenakan melebat ke atas karena terkena terpaan kipas angin yang nempel tepat di atas tempat kita sholat.
Kira-kira begini deh posisiku. Mak wuuk!

Kejadian itu aku alami kemarin, 17 Agustus 2013 ketika sholat dzuhur di mushola selebar kamarku yang ada di Gramedia Pandanaran Semarang. Masyaallah, agak malu juga karena di sana ada beberapa orang yang sedang istirahat setelah sholat. Tapi peduli amat, ku turunkan mukena ku yang melebat. Ku teruskan lagi sholatku karena sudah rakaat terakhir.
Yang aku ingat saat itu adalah aku tidak sengaja dan gerakan yang aku lakukan juga hanya sekali (katanya kalau 3 x kan udah batal ya?) *mohon koreksinya.
Sebenarnya yang salah siapa ya? Yang nyalain kipas atau memang mukenaku yang terlalu tipis. Ya, mukena pemberian Paijo itu memang terbuat dari parasit. Selain ekonomis dan ringan, untuk keperluan selama keluar rumah mukena parasit ini cukup ringkas. Ah, lain kali kalau mau sholat di tempat yang sama ataupun tempat lain yang ada kipas anginnya milih yang agak jauh dari kipas anginnya ah. Ok.
Masih di tempat yang sama, selesai sholat aku pun berbenah. Memperbaiki kerudungku dan memakai kaos kaki. Ku lihat ada dua anak berseragam SMA yang hendak sholat di sampingku. Diambilnya mukena yang disediakan pihak Gramedia. Sama jenisnya dengan milikku. Aku pun melanjutkan kegiatanku yang sempat terhenti karena membenahi letak kacamataku. Tapi sebelum beranjak dari tempat dudukku, ada pemandangan yang menarik perhatianku. Salah satu anak SMA yang memakai mukena sama jenisnya  denganku mengambil ancang-ancang untuk sholat di bawah kipas angin. Cling! Apa yang ku lihat menjadi trik yang bisa ku aplikasikan nanti kalau sholat lagi di mushola ini. Apa sih yang aku lihat? Aku rasa ini anak nggak sengaja. Tapi, OK juga. Beginilah penampakannya kira-kira.

Trik sholat dengan mukena parasit
agar tidak terbang terkena kipas angin

Dijamin nggak akan terbang-terbang deh itu mukena. Sholat pun nggak akan terganggu. Yang pasti, kalau nggak sengaja semoga Allah mengampuniku. Aamiin. Punya pengalaman juga sepertiku? Sudah sholatkah kamu?

Sabtu, 17 Agustus 2013

Resep Suskes Seorang ABK



“Alhamdulillah.”
Ya, kata hamdallah-lah yang pertama kali ingin aku ucapkan. Karena apa? He, bab 1 proposal skripsiku sudah 95 % (padahal temanku sudah ada yang sudah kelar, semangat Cha!!). Apa hubungannya coba? Kemarin sebenarnya aku janji pada diriku sendiri kalau bab 1 belum kelar, aku nggak akan nge-blog dulu.
Oya, berhubung masih dalam suasana lebaran, aku mau ngucapin “Selamat Hari Raya Idul Fitri 1434 H, Mohon Maaf Lahir dan Batin”. Maafin ya salahku selama berkeliaran di dunia blog ini?
Kembali ke judul.
Membaca sekilas judul postingan ini apa yang paling membuat kamu tertarik untuk mengklik link-nya? Semoga karena kata SUKSES. Sukses, bagiku dulu sampai sekarang sukses itu masih ada kaitanya dengan materi. Meskipun lambat laun agak tergerus dengan kesadaran atas nama pikiran ‘dewasa’. Sukses bagiku kini cukup dengan arti tidur nyenyak. Mengenai materi? Itu bonus dari Allah. He, pinjam kata teman-teman blogger yang sudah urun saran di postingan Pikirku...
Kemudian siapa ABK? Anak Buah Kapal? Sukses baginya?
Berawal dari SMS lebaran dari nomor asing yang masuk di HPku tepat di hari lebaran. SMS itu bunyinya seperti ini, “Mohon Maaf Lahir Batin yo lek”. Mendapat SMS itu aku tidak langsung membalasnya, hanya bergumam, ini nomor siapa ya? Kalau manggil aku “lek” pasti teman jaman SMA. Akhirnya karena aku ini kepo, SMS balasan pun saya kirim, singkat, “Siapa?”.
Kekepoanku hilang begitu saja dengan adanya kegiatan yang super padat di hari lebaran kemarin (sok ngartis, he). Tak peduli kabar nomor asing itu lagi. Hingga, 14 Agustus 2013, ada SMS dari nomor asing lagi yang masuk.
“Prasetyo”
Aku membaca SMS sambil mengernyitkan dahi. Si Cumi’? Ah iya ini, masak nomornya baru lagi? Nomor yang kemarin itu nomornya Cumi’? Balas nggak ya? Tapi kan nomor Indonesia, kemarin katanya dia di Vietnam? Ntar kalau aku balas pulsaku kesedot banyak aku bangkrut dong? He, pelitnya kumat. Akhirnya aku pun membalas SMS dari Cumi’. Ini nih, penamakannya.

5 menit tidak ada balasan, aku pun memutuskan untuk tidur karena baru pulang dari Semarang. Eh, tiba-tiba ada yang bergetar. Nama “Prasetyo” nongol di layar HPku.
“Cumi’ ngapain telepon?” tanyaku heran pada diri sendiri sambil melihat ke layar Hpku. Ibuk yang ada di sampingku menyahut, “Udah angkat saja.”
“Assalamualaikum..”
Dari sana terdengar suara renyah Cumi’. Ah, ini anak kapan terakhir telepon aku?
“Kamu di mana ini?” tanyaku pada Cumi’.
“Singapura, Ka” jawabnya.
“Kemarin pas di facebook katamu di Vietnam?”
“Iya, terus ke Malaysia sekarang udah di Singapura.”
“Ciaaahhh...kayak lintang ngaleh kamu. Eh, kok pake nomor indosoot?” kepoku kumat.
“Iya, kan masih kecantol sinyal dari Indonesia.”
“Ohh....” aku manggut-mangguut.
Ya, Cumi’ itu adalah ABK Kontainer. 3 tahun lalu kami akrab sebagai teman sekelas. Tapi nasib kami berbeda, dia cowok ganteng, sedangkan aku upik abu. Ciah, nggak ada hubungannya sama sekali dah!
Nama lengkapnya, Prasetyo Darmo Sesomo. Sering dipanggil Pras, Tyo, dan hanya aku dan sampai sekarang yang masih manggil dia Cumi’. Saat ini dia magang sebagai ABK di kapal milik perusahaan asing. Desember nanti dia akan kembali ke darat untuk kuliah 1 tahun (PIP Semarang) dan setelah lulus dia akan kembali ke kapal tersebut karena sudah dikontrak.
Cumi’ punya adik 4 (woow banget bagiku). Dia anak sulung, adiknya nomor dua perempuan sekarang ambil radiologi di Poltekkes Semarang semester 3, adiknya nomor 3 sampai 5, laki semua. Kelas 6 SD dan dua yang terakhir TK kecil dan TK besar. Kalau bicara tentang saudaranya aku ingat kalimat dia kemarin, “Bapakku sregep banget kok, Ka.” Dan aku hanya tertawa. Dasar Cumi’!
Gelak tawa, ya selama kegiatan bertelepon bersama Cumi’ ada aja yang dibicarakan. Dari tadi ngomongin Cumi, aku kasih lihat penampakan dia deh.

Foto ini aku comot dari facebook Cumi'
“Ka, tahu nggak kapalku panjangnya seberapa?” tiba-tiba dia membuka bahasan baru.
“Berapa memangnya?”
“Melebihi kapal Titanic deh pokoknya.” Ciah, sombong.
“Masak siiihh?” gayaku sok tahu padahal juga lihat Titanic dari televisi. Nggak paham ukuran aslinya. He.
“Tahu ukuran lapangan bola?”
“Ho-oh? Trus?” Belagak sok tahu lagi padahal aku nggak paham ukuran lapangan bola. Astaghfirullah, maklum waktu SMA nyontek pas ujian teori olahraga.
“3 kalinya. Kapalku panjangnya 300 meter Ka, tingginya tahu?”
“Berapa??”
“Pohon kelapa aja lewaaat, Ka.”
“Ah masak sih? Kapan-kapan kamu foto dong sama kapalmu itu biar aku tahu. Kamu mesti kayak semut kalau foto sama tu kapal.”
Di antara tawa kami, terselip sebuah cerita. Semua berawal dari kalimat yang kulontarkan. “Wah, kamu enak ya Mi’ keliling dunia. Bisa lihat sana-sini. Aku malah ngejogrok di rumah mulu.”
Kemudian dari seberang sana dia menjawab, “Uangnya juga banyak?”
“Pasti tooo!” jawabku seperti mencibirnya.
“Ah, kamu tuh sama ma orang lain.” jawab Cumi’ agak merendah suaranya.
“Maksudnya???” kepoku.
“Aku bisa seperti ini juga ada rekosone (susahnya), Ka. Bukannya aku sok menggurui. Tapi kamu tahu kan dulu aku pernah cerita pas aku cari perusahan semacam perusahaan kapal yang aku tempatin sekarang ini di Jakarta?”
“Heem...”
“Percaya atau nggak terserah kamu, dulu aku di Jakarta cari perusahaan nggak semudah yang orang bayangin. Pernah dicuekin, nggak dianggep sama sekali pokoknya, dilihat aja nggak. Naik turun metromini kemana-mana, Ka. Sampai-sampai aku kan dikasih jatah uang sama bapak itu Rp 200.000 buat dua minggu, eh ternyata belum dua minggu uang itu udah mau abis. Tahu sendiri, Ka hidup di Jakarta kayak gimana? (sayangnya aku belum pernah hidup di Jakarta Mi’-batinku) Pas itu waktu bulan puasa, aku ngirit (berhemat). Aku cari perusahaan jalan kaki dari tempat tinggalku sementara sampai karet alas pantopelku habis. Puasa dah pokoknya tak tahan-tahan Ka. Demi masa depanku pokoknya. Memang hidup jadi seorang pelayar kalau di jalan lurus akan mudah dapet materi, Ka, tapi kalau nggak tahan godaan, jangan ditanya. Godaan bagi orang pelayaran sepertiku ini juga sangat berat.”
“Iya Mi’. Yang kuat ya?”
Masih mendengarkan Cumi’ bercerita di seberang sana, pelupuk mataku menghangat. Cumi’ yang dulu manja kemana? Sekarang digantikan Cumi’ yang sungguh matang.
“Ka, di kapal ini ada 24 ABK.”
“Apa? Kapal sebesar itu hanya 24 orang yang ngisi?” kepoku kumat lagi.
“Ya, dari 24 orang, 2 diantaranya aku dan temanku yang orang Timur. Hampir semua yang lainnya adalah orang Barat.”
“Berarti kemarin kamu puasa sendiri dong Mi’. Ya Allah Mi’, bagaimana rasanya?” aku iba.
“Ya, aku nggak sendiri kan ada temanku juga yang dari Indonesia. Rasanya biasa aja Ka. Tapi yang perlu kamu tahu, paling enak itu kerja dengan orang kita sendiri.” terang Cumi’ buatku penasaran.
“Kenapa emangnya? Kan enak punya kenalan orang luar.”
“Ah kamu sih nggak tahu. Bagi mereka kita itu teroris Ka. Bekerja dengan orang kulit putih pasti akan ada diskriminasi meskipun itu sangat kecil.”
Mendengar cerita Cumi’ aku menghela napas panjang. Benarkah? Begitukah rasanya? Ya, selama ini aku selalu melihat nikmatnya saja, nikmat yang dialami Cumi’ tapi tak pernah melihat dari sisi lawannya. Apakah kamu juga termasuk orang yang sepertiku? Mari segera diubah.
“Kamu tetap harus bertahan ya Mi’.”
“Pasti Ka, jalanku masih panjang. Kamu juga ya? Kuliah yang bener. Skripsi segera dikelarin. Kalau kamu mau kerja keras pasti ada jalannya. Jangan malas mulu!”
“Ih...Cumi’ bijaksana kali. Cumi’ memang sudah berubah.” ejekku.
“Masak sih? Mungkin keadaan Ka yang telah berhasil mengubahku. Tapi ingat betul Ka, kalau kamu mau sukses, ada kuncinya.”
Kudengar Cumi’ megucapkan kunci sukses ala dirinya dengan menggebu.
1.    Kerja keras, mungkin ini dari perjuangan dia ngalor-ngidul cari perusahaan dengan keadaan puasa dan keuangan yang menipis.
2.    Sholat wajib jangan pernah telat, ditambah sholat sunnah. Meskipun di rantau, disangka teroris, didiskriminasi Cumi’ masih ingat Allah.
3.    Berdoa kemudian bersabar. Ya, bersabar setelah berikhtiar.
4.    Sodakoh (Beramal)
Sodakoh, aku jadi ingat kata-kata Cumi’, “Anggap sodakoh kita baik itu banyak atau sedikit yang penting ikhlas sebagai tabungan kita di hari besok Ka.” Ada lagi, pertanyaan usilku muncul, “Mi’ kalau di kapal gitu kamu sholatnya bagaimana?”
Dengan takzim Cumi’ menjawab, “Lillahi ta’ala Ka. Kuniatkan menghadap kiblat, tapi kadang aku juga pakai peta (kompas mungkin maksudnya).”
Ah, aku. Yang dari kemarin rasanya ogah betul untuk mengerjakan skripsi seakan-akan mendapat suntikan semangat dari kawan SMA ku ini. Terimakasih. Allah itu selalu menghadirkan kabar bahagia tanpa disangka datangnya dari mana dan kapan tepatnya. Terimakasih juga Cumi’ sudah menyempatkan waktu untuk telepon aku. Baru sadar kalau kemarin waktu telepon selama 49 menit. Dan telepon kami berhenti sejenak ketika telepon di kabin kamarnya berdering.
“Sebentar Ka.”
Belum menjawab “ya”, si Cumi’ sudah merespon si penelepon kamarnya.
“Siap Sir. Yes!” ku dengar Cumi’ menjawab dengan kata yang sama berulang-ulang.
“Halo Ka.”
“Ya, Mi’.”
“Setengah 5 (waktu Singapura) aku kerja lagi. Udah dulu ya.”
Ku tutup telepon dari Cumi’ dengan kobaran semangat hidup yang berbeda. Terimakasih Cumi’. Terimakasih Allah telah mengirimkan cerita Cumi’. Haruskah aku bermalas-malasan lagi? TIDAK. Rasa-rasanya cerita temanku itu sungguh melucuti rasa malasku. Memang, dulu dia tak pernah bermimpi akan menjadi seorang ABK, karena dia bermimpi menjadi seorang polisi. Tapi dia kini telah bersahabat dengan keadaan dan inginmnegubah dunianya. Kenapa aku tidak? Kamu?
Keinginan baru dalam hatiku muncul, skripsi jalan, nge-blog pun harus tetap jalan. Kalau skripsi mendapat 85 % perhatianku, paling tidak blog ku ini dapat 15 % doong! Jangan berhenti menulis dan menginspirasi sesama. Semangat!

Sabtu, 03 Agustus 2013

Pikirku....


(Sebelum kecewa setelah membaca tulisan ini sampai selesai, mendingan tidak usah dibaca. Ini hanya curhatan seorang pengangguran kok.)

Usiaku 21 tahun, di mata orang sekampungku usia segitu sudah termasuk uzur. Ya, kawanku di masa SD saja kini anaknya menjadi muridku di TK tempatku mengajar. Bisa dibayangin nggak? Selain itu, ada pula yang sudah sibuk menjadi buruh pabrik yang hidup dipenuhi dengan shift kerja yang tak menentu. Uangnya banyak pasti?

Aku hidup di dalam kerumunan warga, jadi kalau ada warga sekitar yang seringkali membanding-bandingkan, kalau kamu ini kan gini, kalau kamu gitu kan gini. Wajar kah? Kemudian apa yang ku rasakan? Biasa saja, terlebih aku masih menuntut ilmu. Pikirku dulu.

‘Masih bertahankah aku dengan prinsip itu?’

5 jari tanganku tersisa untuk menghitung datangnya lebaran tahun ini. Ada perasaan yang berbeda. Ramadan kali ini banyak sekali jejalan-jejalan masalah financial yang menghampiri keluargaku. Termasuk di dalamnya adalah pembayaran kuliahku. Aku tahu ibu tak pernah bermaksud untuk menyalahkanku atas biaya kuliahku, tapi rasa-rasanya aku begitu tersiksa dengan perasaanku sendiri. Keadaan inilah yang merobohkan prinsipku.

‘Andaikan aku tidak kuliah dan bekerja seperti mereka, ibu pasti bahagia. Ibu pasti bisa merasakan ramadan dengan hikmat. Tak ada pikiran ini dan itu. Tak harus berhutang sana-sini demi membayar uang kuliahku. Mau ini bisa, mau beli itu bisa. Bla bla bla...’

Selalu pikiran itu yang muncul. Memang, rejeki itu sudah ada yang mengatur. Seperti kala itu, HP datang, paketan buku datang, paket minuman isotonik dan uang 150.000, kaos, dan teh, roti dan beberapa hadiah lainnya yang aku dapatkan dari ikutan kuis di radio maupun sosial media lainnya. Siapa yang nyangka? Tapi bukan manusia namanya kalau semua itu sudah cukup bagiku.

‘Itu tak membuat ibu bahagia,’ pikirku.

Terlebih lagi, kini adik keponakanku sudah bekerja di pabrik dan ibu bercerita kalau dia mendapatkan gaji Rp 900.000, bisa beli baju baru, ini dan itu. Aku tahu maksud ibu hanya bercerita saja, tapi sebagai pengangguran merasa ada yang mendesak hatiku, ‘Kenapa aku harus kuliah? Kenapa dulu nggak kerja juga. Kan kalau ramadan seperti ini aku bisa beliin ibu baju, bapak juga.’ Selalu seperti itu. Toh, semenjak SMA aku tak pernah mengenal baju baru di hari lebaran, so what? Harusnya aku tidak meradang. Harusnya...

Apa sih yang bisa aku lakukan? Menjadi penulis lepas pun aku belum jenak. Terlebih biaya untuk modem saja sampai saat ini aku suka mengakali dengan paket ala kelelawar, kalau nemu yang murah beli kartu perdana yang kadaluarsa seharga seribu untuk 100MB.

‘Ah, aku banyak alasan.’ pikirku lagi.

Ditambah lagi, ramadan kali ini aku merasa menambah beban ibu. Apa? Munjung mertua. Ya, ngantar bingkisan ke mertua. Memang, secara lazimnya itu tanggungjawab orangtuaku, tapi lagi-lagi aku terlalu berperasaan. Pekewuh sama ibu. Belum beruang saja sudah ngrepotin mlulu.

‘Kapan aku beruang?’, pikirku lagi.

Ah, kemarin ada yang kirim inbox, mbak tulisannya sudah dimuat. Silahkan cek rekening. Rp 100.000. Horeee!!! lumayan. Allah memang tak pernah tidur. Cukup nggak cukup uang itu ku berikan pada ibu. Paling tidak bisa buat ganti uang ibu yang dipakai membeli bingkisan ke mertua.

‘Alhamdulillah... agak lega’, pikirku lagi.

Kemarin lusa, ada tetangga juga yang main ke rumah. Aku dengar ibu bincang-bincang. “Wah Mbak Umi ya lebaran beneran ya, tabungannya banyak, anaknya pada gajian, suaminya pulang.” kata ibu.

Aku di dalam kamar hanya menahan desakan dalam hati.

‘Maaf bu...’, pikirku lagi.

Memang, lebaran itu tidak harus identik dengan baju baru, jajanan mewah yang tersaji di atas meja, opor ayam, apalagi rendang. Tapi inilah lebaran yang ada pada masyarakat. Aku dan keluargaku hidup di tengah-tengahnya, mau tidak mau secara umum mengikuti arus di dalamnya. Tapi tak terlampau jauh masuk di dalam garis orbitnya.

Ramadan, kemudian lebaran. Biarkanlah ku artikan kebahagiaan ibu pada masa ini dengan uang. Aku paham betul bahagia itu tidak selalu identik dengan uang, tapi ini keinginanku.

‘Maafkan adik membeli bahagia ibu dengan uang. Tapi ini caraku’, pikirku lagi.

‘Ah, ini curhatan apa ya?’, pikirku lagi.

“Ibu, maafkan adik kalau ramadan ini adik belum bisa membahagiakan ibu dengan cara adik. Biarkan mereka menikmati bahagianya sekarang. Ibu boleh iri. Sangat boleh. Ingatlah bu, suatu hari ibu juga akan merasakan itu. Disaat adik sudah menggapai mimpi adik, atau jika Allah mengijinkan adik jadi PNS. Suatu hari buk. Pasti, suatu hari. Bahagia ibu pun tidak hanya di bulan ramadan, tapi di bulan-bulan lainnya bu, 11 bulan yang lainnya. Adik janji bu.”

“Ya Allah.....pertemukan kami di ramadan tahun depan, agar hamba bisa melihat bahagia ibu di masa seperti masa ini. Ijinkan Ya Allah...”


Selasa, 30 Juli 2013

Belajar Setia dari Induk Ayam


Anda pasti tahu, bahwa manusia adalah sebaik-baiknya makhluk Allah. Manusia diciptakan lengkap dengan akal dan nafsu. Sedangkan makhluk lain? Tak sesempurna manusia. Tapi adakalanya pelajaran penting  justru datang dari makhluk lain meskipun mereka tak berakal ataupun bernafsu.
induk ayam menjaga anaknya yang sudah mati
Saya ambil foto ini di depan rumah pada Selasa, 16 Juli 2013 pukul 15:18 WIB. Begitu cintanya sang induk sampai-sampai menunggu anaknya yang sudah mati karena terlindas sepeda si mbah (nggak sengaja). Ini adalah hewan, betapa dahsyat Allah menciptakan segala sesuatu di dunia ini untuk mengingatkan kita.
Bagaimana untuk manusia sendiri? Setiakah wahai induk-induk manusia, ibu dari anak-anak manusia?
Setia, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berartikan patuh, taat, dan berpegang teguh. Setia ibu lebih dari segalanya, melebihi artian pada sebuah kamus. Setia untuk memilih hamil, mengandung, melahirkan, sampai menemani untuk mengurus cucunya nanti. Namun apakah semuanya?

Irfan dan ibu
Apakah kenal Irfan peserta Hafidz Indonesia? Saya hanya mengetahuinya sekilas. Dia adalah salah satu kontestan Hafidz Indonesia tapi saya kurang paham kontestan pada minggu yang ke berapa. Yang saya tahu, dia adalah hafidz yang tak beribu. Tidak meninggal, melainkan sejak kecil dia ditinggalkan ibunya dan kini dibesarkan di sebuah pondok pesantren. Tapi tak tahu juga sekarang bagaimana keadaannya.
Ini penampilan Irfan ketika di Dahsyat

 
Kelu rasanya, ketika semua kontestan ditemani dan dibanggakan oleh banyak keluarganya, Irfan tak begitu. Bahkan ia tak mengenal siapa ibunya. Ya Allah, kuatkah saya jika berada di posisi Irfan?
Ini adalah kali pertama saya menangis lebay ketika menonton Hafidz Indonesia saat detik-detik eliminasi. Betapa tidak, bocah semacam Irfan ini mampu berdiri setegak itu tanpa belaian ibunya. Mampukah saya? Astagfirullah... Apakah Anda juga akan sekuat Irfan? Melihat ibu sakit saja rasanya ingin menangis memohon sama Allah semoga sakitnya ibu segera diangkat, kalaupun bisa saya bersedia menggantikan posisi ibu. Irfan, walaupun tidak menjadi juara Hafidz Indonesia, saya rasa Irfan sudah banyak menginspirasi banyak orang.
Banyak sekali dukungan dari pemirsa Hafidz Indonesia untuk Irfan, baik di Twitter maupun di Facebook. Hal itu menunjukkan bahwa Irfan memang anak yang hebat.
Dukungan untuk Irfan di twitter

Rena dan ibu
Beda cerita dengan yang satu ini. Rena Aulia Saputri, dia adalah keponakan saya. Rena memang tak semalang Irfan, tapi semenjak dia mulai belajar berjalan dia ditinggal ibunya untuk mengadu nasib di negeri orang. Dibesarkanlah dia oleh tangan orang banyak, termasuk keluarga saya.
Kini usianya hampir 4 tahun, dan apa yang terjadi ketika ibunya pulang? Dia begitu asing pada ibunya. Tak mau disentuh, tak mau bermain bersama, apalagi tidur bersama. Yang dia mau hanya uangnya. Wajarkah ini? Apakah semua anak korban ibu yang jadi TKI seperti Rena?
Rena awal masuk TK Kecil
Ada sebongkah rasa rindu di mata Rena. Tapi rasa dendam dalam dirinya lebih membara. Rasa di mana dia mulai bisa menghakimi ibunya karena selama ini meninggalkannya. Terlebih neneknya selama ini memiliki gaya mengasuh yang sedikit kasar. Ya, rasa dendamnya hingga kini masih jelas meskipun ibunya sudah dua bulan di rumah.
Rena, semoga dengan bertambahnya usiamu nanti kamu bisa berubah. Kasihan ibumu. Senaif-naifnya, se-childish-nya ibumu, dia tetap perempuan yang melahirkanmu.
Usut punya usut ternyata anak tetangga dulunya juga punya konflik yang sama dengan sang buah hati. Karena ditinggal selama bertahun-tahun, ketika ibunya pulang sikapnya sama persis seperti Rena. Tapi kini sudah kembali layaknya hubungan anak dan ibu. Semoga itu juga akan berlaku untuk Rena. Aamiin.
Saya selaku perempuan, bakal jadi ibu juga, tidak banyak yang bisa saya katakan. Yang saya tahu dari ibu saya selama mengasuh saya  21 tahun ini bahwa menjadi ibu tak mudah. Dan yang menjadi catatan penting ibu untuk saya adalah “jadilah perempuan yang tidak boros”, hem...ya saya memang boros. Ini pasti berkaitan dengan finansial. Ah~ perempuan selalu berurusan dengan duit.
Dan di akhir postingan ini saya berdoaa untuk Irfan, semoga segera bertemu dengan ibunya. Untuk Rena? Peluklah ibumu dik... Untuk semua perempuan di dunia, mari belajar setia!

Arsip Blog