Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL PENDIDIKAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL PENDIDIKAN. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 Juni 2015

PRA-KONSEPSI DALAM PENDIDIKAN ISLAM

PRA-KONSEPSI DALAM PENDIDIKAN ISLAM
Drs. Mas’ud Abdul Kadir, M.Pd.I ( Dosen  IAIH NW LOTIM )

Berbicara masalah pendidikan, biasanya yang terlintas di benak kita hanyalah pendidikan post-natal saja, yaitu pendidikan yang dilakukan semenjak kelahiran seorang bayi sampai ia meninggal dunia yang lebih dikenal dengan pendidikan seumur hidup (long life education).
Konsepsi tentang pendidikan seumur hidup bahkan telah diajarkan oleh Rasulullah sejak permulaan Islam yang berarti jauh mendahului konsep pandidikan Barat tentang long life education seperti yang diterapkan pada abad dua puluh ini. Dalam salah satu hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh Ibn Abdil Bar disebutkan bahwa menuntut ilmu mulai dari ayunan sampai ke liang lahat.
Pendidikan Islam berlangsung dari sejak anak lahir sampai meninggal dunia. Adapun pengertian pendidikan adalah ”Semua usaha dari generasi tua untuk mengadakan transmission (memindahkan) pengetahuannya, pangalamannya, kacakapan dan ketrampi-lannya kepada generasi muda, sebagai usaha untuk menyiapkan mereka agar dapat memenuhi fungsi hidup jasmaniah maupun rohaniah, sekaligus kehidupan sosialnya”. Pendidikan merupakan suatu aktivitas yang dapat berlangsung bilamana terjadi interaksi antara pendidik dengan si terdidik atau dengan kata lain harus ada stimulus dari pihak pendidik, dan sebaliknya harus ada respons dari si terdidik. Jadi aktivitas tersebut ada komunikasi dua arah.
Para pakar pendidikan berpendapat, bahwa pendidikan pada dasarnya tidak hanya dilakukan pada saat anak yang telah lahir tetapi pendahuluan pendidikan sudah dapat dimulai semenjak anak masih dalam kandungan (rahim) dan bahkan jauh sebelum itu,  bermula semenjak sebelum terbentuknya embrio janin di dalam rahim, sudah dapat dilakukan persiapan dalam pendidikan. Itulah sebabnya para pakar edukatif membagi periode pendidikan menjadi tiga tahap, yaitu tahap atau periode pendidikan pra-konsepsi, pre-natal, dan post-natal.
       Pendidikan pra-konsepsi dan pre-natal atau pendidikan sebelum terbentuknya janin serta pendidikan sebelum bayi lahir  pada dasarnya merupkan bagian yang tak terpisahkan dari pendidikan dalam keluarga, karena kedua proses pendidikan tersebut dilaksanaakan dalam lingkungan keluarga. Sedangkan pendidikan post-natal atau pendidikan setelah anak lahir dapat dilakukan dalam bentuk pendidikan informal dalam keluarga, formal di dalam sekolah dan sekitarnya, maupun non formal secara luas di msyarakat.

    Pendidikan Pra Konsepsi Dalam Islam

       Pendidikan pra-konsepsi merupakan usaha persiapan pendidikan yang dilakukan sebelum terjadinya pembuahan atau sebelum terbentuknya janin dalam rahim seorang ibu. Hal ini menjadi pro kontra dikalangan pakar pendidikan. Bagi yang tidak setuju dengan adanya pendidikan pra-konsepsi mengemukakan alasan bahwa pendidikan semacam itu tidak mungkin dapat dilakukan mengingat obyek pendidikan berupa anak didik belum muncul, bahkan belum ada. Padahal pendidikan itu berlangsung bilamana terjadi interaksi antara pendidik dengan si terdidik. Sedangkan bagi yang setuju dengan adanya pendidikan pra-konsepsi mengemukakan, bahwa pendidikan secara langsung memang tidak mungkin dapat dilakukan, tetapi kita biasa melakukan persiapan pendidikan yaitu dengan melakukan uasaha-usaha agar terbentuk keluarga yang sejahtera lahir batin dan mempunyai keturunan yang sehat lahiriah, rohaniah maupun social.

Mengenai pendidikan pra-konsepsi, Islam mengajarkan beberapa prinsip yang dimulai sejak seseorang mencari calon pasangan hidupnya sampai masa pernikahan dan diteruskan dengan usaha-usaha dalam membina keluarga untuk mencapai keluarga sakinah mawaddah warahmah. Untuk itu Islam telah mengajarkan tahapan-tahapan yang harus dilalui dalam rangka persiapan pendidikan, di mulai dari pedidikan pra-konsepsi yaitu;

Pertama disaat seseorang mencari pasangan hidupnya, Islam mengajarkan agar  mengutamakan faktor “Agama” yang berarti memilih pasangan hidup hendaknya yang seagama, seiman  agar kehidupan berumah tangga bisa tenang dan bahagia. Dalam (Qs.al- Baqarah [2]: 221) diajarkan “Dan janganlah kamu menikah dengan wanita-wanita musyrik sampai mereka beriman. Sesungguhnya budak perempuan yang mukmin lebih baik daripada perempuan musyrik walaupun dia sangat mempesona kamu. Dan janganlah kamu menikahkan anak perempuanmu dengan pria musyrik sampai mereka beriman. Sesungguhnya budak laki-laki mukmin lebih baik daripada laki-laki musyrik, walaupun mereka amat menggiurkanmu. Mereka mengajak ke neraka sedang Allah mengajak ke surga dan pengampunan dengan izin-Nya”.

Sunnah Rasul mengatakan bahwa “wanita itu dinikahi karena empat hal, yaitu karena harta, kecantikan, keturunan dan karena agamanya. Maka yang diutamakan adalah iman, akhlak atau agamanya agar berbahagia” (Hr. Muttafaq ‘alaihi). Dalam mencari calon pasangan hidup, faktor agama menjadi pertimbangan pertama, disusul kemudian yang lain, yaitu harta, keturunan maupun kecantikan.
 
Kedua, apabila kemudian telah memperoleh calon suami atau isteri yang seiman, seagama, dilanjutkan kejenjang perkawinan, sesuai dengan hukum Islam, dan Undang-undang Perkawinan No.1/1974. Sah menurut syari’at Islam dan sah menurut hukum negara.        Dengan adanya perkawinan tersebut maka akan mempunyai dampak positif dalam kehidupan rumah tangga dan juga bagi keturunannya, sehingga akan terwujud tujuan perkawinan sesuai dengan ajaran Islam seperti yang terdapat dalam (Qs. ar-Rum [30]: 21) yang artinya “Dan diantara salah satu tanda kekuasan-Nya bahwa Allah telah menjadikan isteri dari jenismu, agar kamu dapat hidup dengan tenteram dan Allah jadikan cinta kasih diantara kamu”.

Ketiga, setelah hidup berumah tangga terlaksana maka dalam mencari nafkah haruslah dengan cara yang baik dan halal. Karena apa yang dikomsumsi oleh suami isteri akan menjadi bahan terbentuknya ovum dan sperma sebagai emberio bermula terbentuknya janin atau anak. Dalam (Qs. al-Maidah [5]: 88) dinyatakan ”dan makanlah dari apa yang telah diberikan Allah kepadamu sebagai rezki yang halal dan baik”. Ini dimaksudkan agar anak yang lahir kelak menjadi anak atau keturunan yang baik fisik maupun mentalnya. Pengaruh makanan terhadap kehidupan manusia, Rasulullah menjelaskan antara lain,  ”setiap daging yang tumbuh dari makan yang haram maka nerakalah yang lebih pantas baginya”(Hr. Imam Turmuzi). ”Sesungguhnya Allah mengharamkan surga bagi seseorang yang tumbuh dari makan yang haram” (Hr. Abu Nu’aim).

Keempat, hal yang tidak kalah pentingnya dalam persiapan pendidikan pra-konsepsi adalah tidak lupa membaca doa-doa bilamana sepasang suami isteri akan melakukan hubungan badan, seperti yang diajarkan oleh Rasulullah saw  dari riwayat ibn Abbas r.a bahwa “apabila seseorang diantara kamu ingin mendekati isterinya hendaklah berdoa dengan nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari gangguan syetan dan jauhkanlah syetan dari apa yang Engkau rizkikan kepada kami”. Maka apabila dianugrahkan kepada keduanya seorang anak niscaya tidak akan diganggu syetan selama-lamanya. Dari hadits  tersebut, dapat dipetik pendidikan Islam yang sangat penting yaitu bahwa dalam melakukan perbuatan apapun haruslah dimulai dengan menyebut nama Allah dan diiringi dengan bacaan do’a-do’a, termasuk pada saat suami isteri akan melakukan dukhul sebagai salah satu proses pembuahan dan terbentuknya janin yang akan menjadi bagian dari keluarga.

Kesimpulannya bahwa persiapan dalam proses pendidikan menurut Islam dapat dilakukan  sejak masa sebelum janin terbentuk; dalam mencari pasangan hidup harus diutamakan orang yang seagama, baru harta, kecantikan, atau bangsawan. Setelah mendapatkan jodoh yang diinginkan, dilanjutkan dengan melakukan perkawinan yang sah menurut syari’at agama Islam dan juga sah menurut Undang-Undang yang berlaku di indonesia. Dalam kehidupan berumah tangga, hendaklah mencari rizki yang halal agar diri dan keturunannya menjadi sehat jasmani, rohani, dan sosial. Dan akhirnya, bilamana suami isteri akan melakukan tugasnya [jima’] hendaknya tidak lupa membaca Basmalah disertai dengan doa-doa.  []               
                                                         
Sumber Bacaan

•    Al Quran dan Terjemahannya, Departemen Agama RI;
•    Bulugul Maram Min Adillatil Ahkam, Al Hafidz Ibn Hajar;
•    Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam, Athiyah al Abrasyi;
•    Azas-azas Pendidikan Islam, Hasan Langgulung;
•    Al Jamius Shagir, Imam Jalaluddin As-Suyuti;
•    Prinsip-prinsip Dasar Konsepsi Pendidikan Islam, Syahminan Zaini.



TEOLOGI KEMATIAN
Drs. H.M.Muslihat Diahmad, MM ( Dosen  IAIH NW LOTIM )


    Segala puji bagi Allah SWT. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Baginda junjungan alam Nabi Besar Muhammad saw, segenap keluarga dan sahabatnya serta siapa saja yang menyerukan dakwahnya hingga hari kiamat dan hari pembalasan.
    Al-Qur’an mengisahkan proses kejadian manusia dari tidak ada menjadi ada, dari segumpal darah menjadi daging, dari sperma dan ovum, dari air mani dan telur yang memancar menjadi makhluk hidup, dijadikan dengan sebaik-baik kejadian, “fi ahsani taqwim”, kemudian oleh Allah dijatuhkan ke tempat yang paling rendah yaitu “asfala safilin” ; dan ketika ruh menyatu dengan jasad dalam kehidupan di bumi, dan akhirnya setelah itu ruh dipisahkan dari jasadnya semula.
    Proses kejadian fisik manusia berawal dari tanah, dan akan kembali menjadi tanah. Setelah ruh meninggalkan jasad maka peran dan tugasnya sudah usai. Sebab masa beramal sudah habis dan masa penerimaan balasan dimulai.
    “Faidza sawwaituhu wa nafakhtu fihi min ruhi faqa’u lahu sajidin”,
    “Setelah Aku bentuk dengan sempurna, lalu Aku tiupkan ke dalamnya ruh ciptaan-Ku kepada makhluk manusia ini, hendaklah kamu sekalian memberi hormat.”
    Tidak satupun makhluk termasuk manusia yang mampu bertahan hidup di muka bumi, betapapun kekuatan dan kekuasaannya. Sebab kematian merupakan sebuah niscaya bagi seluruh makhluk yang bernyawa atau tidak bernyawa. Ini adalah kenyataan yang tidak terbantahkan oleh siapapun, bahkan oleh orang-orang yang tidak beriman sekalipun.
    Kisah umat terdahulu membuktikan pastinya kematian. Fir’aun yang kuat dan memiliki kekuasaan besar hingga mengaku sebagai Tuhan, akhirnya tunduk pada kematian, dan tidak mampu berbuat apa-apa saat ajal menjemputnya. Namrudz yang pongah akhirnya tergilas oleh roda kematian, tanpa dapat mengundurkan meski hanya sesaat. Abu Jahal yang sombong dan merasa serba bisa, akhirnya mengakhiri kesombongannya, saat kematian menemuinya dalam perang Badar. Dan masih banyak orang-orang kuat dan perkasa, yang sekarang hanya menjadi  kisah dalam lembaran-lembaran sejarah, karena kematian telah menghentikan peran mereka dalam kehidupan.
    Nabi Sulaiman as yang diberi kekuasaan luar biasa, hingga mampu menguasai manusia dan jin serta mengerti bahasa hewan, tidak dapat menolak kematian yang menghampirinya. Nabi Ibrahim kekasih Allah, “khalilullah” pun pasrah saat kematian menjemputnya. Bahkan Nabi kita Muhammad saw kecintaan kasih Allah, “habibullah”, dan sangat disegani oleh para malaikat pun tunduk dengan sunnatullah ini. Dan masih banyak manusia-manusia shalih yang mempunyai jasa bagi dunia telah meninggalkan dunia fana, meski keharuman nama mereka masih tercium wangi hingga kini.
    Kenyataan yang kita lihat dalam kehidupan sehari-hari juga mempertegas adanya kematian. Kemarin kita masih bercengkerama dengan si fulan, tetapi hari ini kita telah berpisah dengannya. Hari ini telah tersiar berita bahwa si fulan telah tiada, padahal dua jam yang lalu masih asyik mengobrol. Si fulan telah meninggal dunia, padahal usianya baru 17 tahun. Belum sempat menghirup udara, sudah diambil Tuhan. Si fulan umurnya sudah lanjut, seratus sembilan tahun tapi masih segar. Dan masih banyak lagi kisah-kisah kematian yang menghiasi kehidupan di muka bumi.
    Kematian merupakan sunnatullah untuk menjaga kelestarian alam ini, sebab tanpa kematian dunia akan tampak suram dan mengerikan. Coba bayangkan, andai tidak ada kematian – orang yang terluka akan selalu mengerang kesakitan. Orang yang sakit parah dan tidak ada harapan sembuh akan bergelimang dalam kepedihan. Tanpa kematian, dunia yang ada akan sesak oleh umat manusia yang terus terlahir dan tidak mengalami kematian.
    “Kullu nafsin dzaiqatu al-mauti wa nablukum bi al-syarri wa al-khairi fitnatan wa ilaina turja’un”;
    “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan.”
    “Ainama takunu yudrikkumu al-mautu walau kuntum fi burujin musyayyadah wain tushibhum hasanatun yaqulu hazdihi min ‘indillahi wain tushibhum sayyiatun yaqulu hadzihi min ‘indika, qul kullun min ‘indillahi famali haulai alqaumi la yakuduna yafqahuna haditsa” ;
    “Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan mereka mengatakan ‘ini adalah dari sisi Allah’, dan kalau mereka ditimpa bencana mereka mengatakan: “Ini datangnya dari sisi kamu (Muhammad)”.     Katakanlah “semuanya datang dari sisi Allah”. Maka mengapa orang-orang itu (munafiq) hampir-hampir     tidak memahami pembicaraan sedikitpun.”
    Kematian pasti menghampiri manusia, siapapun orangnya, di manapun dia berada, bagaimanapun keadaannya, dan sedang melakukan apapun dia. Kematian adalah keniscayaan, tempat dan waktu kedatangannya tidak dapat diperkirakan. Ia menghampiri secara tiba-tiba. Tidak dapat diundur atau dimajukan. Dan setelahnya ada kehidupan abadi untuk menerima balasan.
    “Inna Allaha ‘indahu ‘ilmu as-saa’ati wa nunazzilu al-ghaitsa wa ya’lamu maa fi al-arhaami wa ma tadrii nafsun maza taksibu ghadan wamaa tadrii nafsun bi ayyi ardhin tamutu, inna Allaha ‘aliimun khabiirun”.
    “Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat, dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui dengan pasti apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.

    Mengapa Takut Mati
    Islam, menganggap takut pada kematian menyalahi fitrah manusia dan hanya mendatangkan kesengsaraan. Tiada faedah sedikitpun dari ketakutan seperti ini. Ia tidak dapat mempercepat atau memperlambat ajal. Juga tidak dapat merubah realitas kehidupan sedikitpun. Ketakutan ini hanya membuang-buang potensi, memubazirkan tenaga, menghambat prestasi, dan mengeruhkan kehidupan.
    Bahkan Abu Bakar ash-Shiddiq berkata, “cintai kematian, maka kamu diberi kehidupan”. Takut kepada kematian tidak akan memberi manfaat kepada manusia, kecuali kerugian dan kesengsaraan, meliputi, yang pertama, kegagalan dan kehinaan. Umat yang takut mati adalah umat yang rela hidup dalam kehinaan dan menjadi mangsa umat-umat lainnya.Ketika Nabi Musa as menyerukan kaumnya agar memasuki Palestina, mereka enggan memasukinya, karena saat itu Palestina dikuasai oleh orang-orang kuat. Mereka takut melakukan perlawanan dan takut mengambil resiko. Akhirnya mereka berada dalam kehinaan.
    “Ya qaumi udkhulu al-ardla al-muqaddasata allati kataba Allahu lakum wala tartaddu ‘ala adbarikum fatanqalibu khasirin”[21], “Qalu ya Musa inna fiha qauman jabbarina wainna lan nadkhulaha hatta yakhruju minha fain yakhruju minha fainna dakhilun”[22].
    “Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari ke belakang karena takut pada musuh, maka kamu menjadi orang-orang yang merugi. Mereka berkata, ‘hai Musa, sesungguhnya dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka keluar. Jika mereka keluar, pasti kami akan memasukinya”.
    Kedua, orang yang takut mati selalu berada dalam kegelisahan. Bagaimana seorang penakut, atau pengecut bisa tidur, sementara kematian selalu mengintai di setiap saat dan di semua tempat. Bagaimana ia dapat makan dengan nikmat, sementara kematian datang setiap waktu. Bagaimana ia mendapatkan ketenangan, sementara bahaya dapat datang dengan tiba-tiba.
    Dulu ada seorang raja yang kegemukan dan ingin mengurangi berat badannya. Maka ia mengundang seluruh tabib di negaranya untuk memberikan resep diet yang paling cocok dan ampuh. Seluruh tenaga medis telah memberikan advisnya, tetapi ternyata tidak ada yang berhasil.
    Tinggal seorang tabib yang belum mencoba dietnya. Ia memeriksa kondisi fisik sang raja dengan serius, kemudian berkata, “Wahai paduka, menurut pengamatan dan penelitian hamba, usia paduka tinggal tiga puluh hari lagi. Bila paduka tidak percaya, maka penjarakan hamba. Kalau ternyata setelah tiga puluh hari paduka masih hidup, maka bunuhlah hamba”.
    Mendengar pernyataan tabib yang meyakinkan, sang raja menjadi gelisah, tidur tidak nyenyak dan makanpun tidak enak. Lama kelamaan berat badan sang raja turun drastis, hingga ia kelihatan kurus. Pada hari kedua puluh delapan si tabib dikeluarkan dari penjara dan dibawa menghadap raja. Sang raja bertanya, “wahai tabib, apa yang harus aku lakukan, sementara usiaku tinggal dua hari lagi”.
    Tabib tersebut menjawab, “wahai paduka, tiada yang mengetahui ajal seseorang. Demikian pula hamba. Tetapi tidak ada diet yang ampuh untuk menurunkan berat badan kecuali dengan cara ini. Maka maafkan hamba.”
    Ketiga, ketakutan menyebabkan kegelisahan. Kegelisahan menyebabkan ketegangan syaraf. Ketegangan mempengaruhi pencernaan, dan mengubah sari makanan menjadi zat berbahaya bagi tubuh. Karena itu, orang yang ketakutan sering terkena penyakit infeksi lambung, denyut jantung tidak beraturan, pening, susah tidur, lumpuh, dan lain sebagainya. Dan ini semua malah mempercepat kematian seseorang.
    Orang yang selalu tawakkal, berpikir positif, dan selalu menjaga kejernihan dan kesucian hatinya, insya Allah pikirannya akan tenang, aliran darahnya lancar, dan jantungnya berdetak normal. Sementara orang yang suka berfikir negatif, pendendam, iri hati, gampang emosi, jantungnya sering berdebar-debar, maka perasaannya jadi gelisah, metabolis tubuhnya menjadi tidak teratur. Kondisi ini merupakan lahan subur bagi berkembangnya berbagai jenis penyakit.

    Mengingat Mati
    Seorang ulama pernah berkata, “selain Allah, sesuatu yang paling sering dilupakan manusia adalah kematian”. Padahal kematian menjadi sebuah fenomena nyata yang selalu disaksikan manusia dalam kehidupan sehari-harinya. Kematian keluarga, tetangga, atau orang-orang yang tidak kita kenal yang dapat diketahui dari berita kematian di berbagai media, selalu terjadi setiap saat.
    Begitulah kenyataannya, pengalaman manusia ketika ditinggal mati oleh sanak kerabatnya, jarang sekali membuat kita sadar bahwa kita juga akan seperti yang meninggal itu. Ketika kita turut mengusung keranda, jarang sekali kita merasa bahwa pada suatu saat kitalah yang akan diusung pula.
    Banyak kita yang tidak sadar bahwa detak jantung yang berlalu, denyut nadi yang bergetar, serta detik-detik waktu yang terlewat, sesungguhnya merupakan langkah-langkah pasti yang akan semakin mendekatkan kita pada titik takdir kematian. Karena tidak disadari, maka kematian datangnya tampak selalu terasa mendadak.
    “Qul inna al-mauta alladzi tafirruna minhu fainnahu mulaqikum tsumma turadduna ila ‘alimi alghaibi wa asysyahadati fayunabbiukum bima kuntum ta’lamun”.
    “Katakanlah, sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada Allah, yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu perbuat.”
    Dan ketika kematian itu datang, maka berakhirlah segala kenikmatan yang telah dan tengah dirasakan manusia. Orang bijak mengatakan, “sesungguhnya Allah hanya member satu nikmat saja kepada manusia, yakni nikmat nafas. Begitu nafas itu berhenti, maka berhenti pula berbagai kenikmatan yang ada”.
    “Barakallahu lii wa lakum fil Qur’anil ‘azhim, wa nafa’ani waiyyakum min zikri al-hakim, aqulu qauli haza waastagfiru Allah al-‘azhim.”  []
    Pustaka
Abu Faqih, Khazin, Manajemen Kematian Bagi Mereka yang Merindukan Kematian Mulia, (Bandung,     Syamil Cipta Mulia, 2003).
Al Qur’an al Karim wa Tarjamatu Ma’anihi ila al Lughati al Indonesiati, al Qur’an dan Terjemahnya, (Khadim al Haramain asy Syarifain Fahd ibn ‘Abd al ‘Aziz al Sa’ud, 1418 H).
 

 

REFLEKSI ZAKAT PROFESI
Drs. H.M.Muslihat Diahmad, MM ( Dosen  IAIH NW LOTIM )

Sekarang kita berhadapan dengan bentangan cukup unik yang melilit sebagian besar umat Islam nusantara. Sebut saja sebagai contoh salah satu kabupaten Lombok Timur. Populasi penduduk kabupaten Gumi Patuh Karya terdapat lebih dari dua puluh lima persen yang tergolong miskin. Borgol kemiskinan yang setara dengan pra sejahtera ini patut mendapat perhatian semua kalangan, baik pemerintah maupun swasta. Betapa tidak, sebanyak 1.080.237 jiwa yang terdata, diantaranya terdapat 270.610 jiwa, hampir semuanya miskin (Bagian Humas Setda Lombok Timur, 2010: 6).

Dalam kondisi serba lemah, tidak berdaya, terpacu dengan upah minimum yang sangat rendah. Dengan penduduk lebih dari satu juta jiwa. Pendapatan asli daerah tidak mencapai angka sepuluh persen dari anggaran pendapatan dan belanja daerahnya. Pendapatan rata-rata sangat kecil antara lima sampai lima belas ribu rupiah sehari. Sementara tingkat pendidikan dan kesehatan serta indeks sumber daya manusia sangat rendah. Semuanya disebabkan oleh kemiskinan yang begitu parah (Supara, 2005: 2).

Akhir-akhir ini, ada secercah sinar walaupun kecil. Zakat profesi ramai dibicarakan dan diperdebatkan bahkan didemo habis-habisan. Sehingga sinar yang tadinya redup menjadi cemerlang, karena aksinya besar. Jendela pamer Lombok Timur mulai dilirik. Zakat profesi sebagai pemicunya.

Zakat profesi, tepatnya disebut zakat pendapatan. Dalam fiqih abad pertengahan belum mengenal zakat pendapatan. Sehingga perihal yang satu ini menakar banyak pendapat. Ada yang mengatakan bahwa pendapatan profesi itu wajib dizakatkan, ada yang mengatakan sunat, bahkan ada yang mengatakan tidak wajib. Bagi yang berpendapat bahwa zakat profesi itu wajib, maka seorang yang hasil profesinya melebihi kebutuhan hidup selama satu tahun dan mencapai batas nisab, maka ia wajib mengeluarkan zakat (Yaqub, 2001: 226).

Ada dua pendekatan dasar hukum terkait permasalahan ini, yaitu pertama dari tektual normatif yang tercantum dalam Al-Qur’an, dan kedua jalur kontektual berupa hasil ijtihad para ulama yang kompeten di bidangnya. Yang pertama berpegang kepada zhahir dan keumuman ayat (Qs.al-Baqarah [2] : 267) yang artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, infakkanlah (zakatkanlah) sebagian dari hasil usahamu atau pendapatanmu yang baik-baik.”

        Jika hasil usaha itu setara dengan profesi dan halal dilakukan, ia termasuk usaha yang baik. Yang kedua, dengan mengkiaskan kepada harta perniagaan dimana masing-masing kegiatan itu merupakan hasil usaha yang baik. Zakat profesi merupakan zakat yang diwajibkan atas harta yang diperoleh dari pekerjaan atau jasa yang wajib dikeluarkan zakatnya seperti harta-harta yang lain, dengan asumsi keberadaan-nya sudah lama, tetap, berkesinambungan, dan kepemilikan yang sempurna, maka jasa profesi dianggap sebagai pekerjaan (Inayah, 2003 : 120).

Jika dianalogkan zakat profesi dengan zakat emas dan perak, dari segi nisab dan hukumnya, maka nilai nominal dua setengah persen untuk zakatnya mengikuti pemahaman nas yang mewajibkan uang yang dua setengah persen atau seperempat puluh dari pendapatan. Hal ini sebagai realisasi dari pendapat para sahabat seperti Ibnu Mas’ud, Mu’awiyah Bin Abu Sufyan, Umar Bin Abdul Aziz yang pada masanya dalam menentukan upah yang diberikan kepada pegawainya.

Diriwayatkan dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan, bahwasanya dia telah mengambil zakat dari hasil upah pegawai, dan tak satupun sahabat yang menentangnya. Demikian yang dikemukakan oleh Yusuf Qhardhawi dalam Inayah    (2003: 121). Melihat begitu penting dan layak harta yang diperoleh dari pekerjaan atau profesi, maka profesi itu merupakan barang lain yang wajib dizakati, sebab profesi akan menjadi penghasilan yang produktif, sebagai sumber pemasukan dan pendapatan, dengan menjadi harta yang dapat berkembang bagi pemiliknya.

Yang muncul kepermukaan, serta menjadi fenomena refleksi saat ini adalah, bagaimana bila pendapatan atau gaji yang diterima itu secara priodik seperti penghasilan atau gaji bulanan. Apakah dibolehkan berzakat dua belas kali dalam setahun, padahal haulnya berdurasi satu tahun?. Kondisi seperti itu, nisabnya dapat dibagi sesuai penerimaan. Bila penerimaan itu bulanan, maka nisabnya menjadi dua belas bagian dan dihitung setiap penerimaan satu bagian. Serta tidak ada larangan dalam Islam untuk menyegerakan zakat. Dan kalau dibayarkan sekali setahun akan terasa berat. Solusinya adalah semata-mata untuk meringankan, bukan memberatkan. Karena bisa dibayar sebulan sekali.

Pertanyaan yang kedua muncul. Berbarengan dengan dua belas kali berzakat dalam kurun waktu satu tahun. Bagaimana yang menanggung hutang, sampai gaji yang di terima menjadi minus? Fenomena ini santer dan kasat mata. Akan tetapi ini tidak menghalangi akan wajibnya zakat dengan kendala hutang, “wala yamna’u al-dainu al-zakaata”. Begitu penegasan ulama al-Syfi’iyah.

Penghasilan atau pendapatan berupa gaji sebagai salah satu hasil usaha seseorang pada era on-line ini bisa dihitung dalam bentuk yang sangat likuid sekali. Kekayaan yang dimiliki tidak dipegang secara langsung bahkan bisa dipakai jauh sebelum kekayaannya diperoleh (Idrus,1997: 165). Misalnya seseorang dapat mengambil kredit dengan menjadikan gajinya sebagai pembayaran cicilan kreditnya. Dengan demikian seakan-akan seseorang tidak pernah memiliki kekayaan sama sekali. Apalagi barang-barang yang bisa dibeli dengan kredit bank jumlahnya jauh melampui batas pendapatan yang wajib dizakatkan. Dengan gaji satu juta rupiah orang mengambil kredit untuk membuat rumah, membeli mobil, alat-alat rumah dan sebagainya sehingga dengan bermacam-macam pembelian lewat kredit, ia tidak lagi memiliki pendapatan untuk dibayarkan zakatnya. Dan dengan cara mengambil kredit seperti ini, nantinya menjadi alasan ia tidak akan membayar zakat. Padahal kekayaan pegawai atau guru melebihi kekayaan petani tradisional yang wajib mengeluarkan zakat (Idris, 2003: 165).

Dalam fiqih kalasik sebagian ulama menyatakan bahwa bebas dari hutang sebagai syarat adanya kewajiban membayar zakat, karena hutang bisa menyebabkan tidak sampainya nisab harta untuk mengeluarkan zakat. Namun Imam Syafi’i berpendapat bahwa tetap mewajibkan pengeluaran zakatnya meskipun pemilik kekayaan tersebut menanggung hutang yang dapat mengurangi nisab harta untuk dikeluarkan zakatnya. Demikian al-Jaziri (1986) yang dinukil oleh Idris (2003: 166).

Pertanyaan ketiga, pernahkah masing-masing kita berhitung tentang gaji bersih yang kita terima. Secara jujur,pegawai negeri, termasuk guru, dalam pangkat setara dengan golongan dua dengan gaji bersih Rp. 1.950.000,- sebulan sudah dipandang wajib mengeluarkan zakat. Karena setara dengan 84 gram emas dengan nisab setahun.

Terhadap penomena ini telah disinyalir oleh Ibnu Qoyyim al-Jauziyah dalam paparannya tentang kecenderungan masyarakat yang tidak mau mengeluarkan zakat dengan alasan tertentu. Ada fiksi hukum (hiya al-syar’iyyah) yang berkecen-drungan menekankan lebih pada formalitas hukum ketimbang pada jiwa atau sema-ngatnya. Fiksi hukum yang sangat tercela itu sebagai akibat terpisahnya nilai akhlak dari nilai hukum.  Dengan nilai hukum orang dapat melarikan diri dari kewajiban hukum. Misalnya, bagaimana cara yang dapat ditempuh agar orang terhindar dari kewajiban zakat dengan cara yang dibuat-buatnya sendiri dengan alasan haul dan nisab yang tidak sampai mencukupi untuk melaksanakan kewajibannya sebagai mustahiq zakat (Basyir, 1989: 118).

Gerakan Zakat

        Gerakan zakat adalah gerakan kemanusiaan yang bersifat memberi penghargaan, mewujudkan pengharapan, menciptakan keadilan, membina perdamaian serta meningkatkan harkat dan martabat manusia baik yang kaya maupun yang miskin. Nabi pernah memerangi orang yang tidak mau berzakat. Peperangan ini bukanlah untuk memaksa orang membayar zakat tetapi lebih tertuju pada mempertahankan doktrin zakat dan ajaran yang berusaha mengikis kekikiran, keserakahan, dan ketidak adilan (Idris,1997:78). Memaknai fenomena ini, seyogyanya kita sadar akan kewajiban kita untuk mengeluarkan zakat, beramal shadaqah maupun infaq. []


            Pustaka

Basyir, Ahmad Azhar, 1989. “Study Islam Klasik: Suatu Analitis Kritis”, dalam
            Abdullah, Taufik dan M. Rusli Karim, Metodologi Penelitian Agama: Sebuah
            Pengantar, Tiara Wacana, Yogyakarta.
Hasyri, TGH. L. Anas, 2003. “Seputar Fenomena Zakat Profesi Sebagai Bahan
            Refleksi Pegawai, Karyawan dan Guru Negeri”, Makalah disampaikan pada
            Mukerda NW Lotim di Ponpes Sa’adatul Ikhwan NW Rensing, 16 Desember
            2004 (4 Zulkaedah 1425).
Idris, Safwan, 1997. Gerakan Zakat dalam Pemberdayaan Ekonomi Umat:
            Pendekatan Transformatif, Cita Putra Bangsa, Jakarta.
Inayah, Gazi, 2003. Teori Komperhensif Tentang Zakat dan Pajak, Terj. Zainuddin
            Adnan  dan Nailul Falah, Tiara Wacana Yogyakarta.
Rabbah, Riyanto, 2005. Refleksi Dua Tahun Sang Pendobrak: Kekuasaan Untuk
            Rakyat. Yayasan Pembangunan Selaparang, Mataram.
Supara, M. Donny, 2005. “Zakat Profesi di Lombok Timur Menuju Gerakan
            Nasional Sadar Zakat”, Makalah disampaikan pada seminar Refleksi 2 Tahun
            Kepemimpinan Bupati Lotim, 30 Agustus 2005 di Gedung Wanita Selong.
Thaha, Idris (ed.), 2003. Berderma Untuk Semua, Wacana dan Praktek Filantrofi     
            Islam. Teraju, Jakarta.
Bagian Humas dan Protokol Setda Lotim, 2010. Penanggulangan Kemiskinan
             Di Kabupaten Lombok Timur.

Kamis, 14 Mei 2015

Ini Dia Tugas Operator Sekolah Pada Tahun Ajaran Baru 2015/2016

Operator sekolah merupakan bagian penting dalam sistem pendataan pendidikan yang saat ini terintegrasi dalam Data Pokok Pendidikan ( Dapodik). Jadi, tidak bisa dipandang sebelah mata akan tugas dan tanggung jawab sebagai seorang operator sekolah. 
Kemudian, sebagai seorang operator sekolah harus mengetahui tugas pokok dan fungsinya, sehingga amanah dan tanggung jawab  yang dibeban kepadanya dapat dilaksanakan dengan baik
Ada beberapa hal yang wajib diketahui dan dipahami oleh seorang operator sekolah menjelang tahun ajaran baru 2015/2016.
Informasi ini kami rangkum dari salah satu staf pendataan Kemdikbud melalui akun sosial media, yaitu mengenai tugas dan  persiapan bagi seorang Operator Sekolah  dalam menyambut datangnya tahun ajaran baru 2015/2015.
Tugas Operator Sekolah


Saran bagi Operator Sekolah:
  1. Informasikan kepada kepala sekolah dan panitia PPDB masing-masing sekolah, supaya calon peserta didik agar melengkapi berkas pendaftaran dengan melampirkan salinan atau fotocopy berkas individu PD  yang jelas. Berkas yang dikumpulkan berupa  Ijazah, surat kenal lahir, akta kelahiran,  ataupun Kartu Keluarga dan surat permandian supaya ketika melakukan pengelolaan data  Peserta Didik baru dengan Aplikasi dapodik dan Verval PD,maka operator sekolah tidak begitu mengalami kesulitan dalam input data.
  2. Pastikan bahwa Peserta Didik yang telah lulus memiliki Nomor Induk Siswa Nasional yang valid dengan maksud tidak menyulitkan operator di jenjang berikutnya.
  3. Bersihkan segera perangkat komputer(PC/Laptop) operator sekolah, baik dari virus komputer maupun cache memory, Temporary files, serta Spammers, Trojan dan lainnya.
  4. Siapkan Surat tugas operator sekolah yang terbaru sebagai syarat untuk updating surat penugasan OPS.
  5. Jika operator sekolah bertugas sebagai pengganti operator lama, maka lakukan Registrasi baru agar data operator di PDSP tetap terbarukan
  6. Bisa membentuk kelompok kerja operator ditingkat kecamatan supaya bisa saling membantu dan berbagi informasi terkait pekerjaan langsung atau berkaitan dengan  Dapodik dan Verval

Demikian himbaun bagi operator sekolah mengenai tugas operator sekolah pada Tahun Ajaran Baru 2015/2016 mendatang. Alangkah baiknya jika kegiatan ini dimotori serta di koordinasikan oleh Dinas Pendidikan dan UPTD serta fasilitator tiap daerah supaya tercipta kondisi kerja yang kondusif. Semoga bermanfaat.

Jumat, 17 April 2015

OPERATOR SEKOLAH SEBAGAI FASILITATOR PENDATAAN DAN SUMBER INFORMASI PENDIDIKAN DI TINGKAT SEKOLAH

Peran utama Operator Sekolah adalah sebagai petugas khusus dari suatu sekolah untuk mengentry / menginput / memasukkan data-data sampai dengan mengirimkan data-data (sinkronisasi) yang terkait dengan sekolah baik secara offline maupun online baik di aplikasi Dapodik maupun di Padamu Negeri.

Namun, seiring dengan semakin banyak dan kompleksnya tugas-tugas operator sekolah saat ini, sehingga perannya pun semakin besar. Operator Sekolah saat ini bukan hanya menjadi petugas profesional data namun juga sebagai referensi sumber informasi di suatu sekolah. Karena seringkali informasi apapun yang terkait dengan pendidikan dipastikan Rekan-rekan Operator Sekolah akan tahu duluan via internet tentunya.

Seperti halnya saya, ketika dulu saya belum mendapatkan tugas sebagai Operator Sekolah, online itu sangat jarang dilakukan apalagi tempat tugas saya memang tidak tersedia akses internet. Namun semenjak mendapatkan tugas tambahan sebagai Operator Sekolah ini, maka frekuensi online pun semakin meningkat. Dan tentu saja, semakin banyak informasi-informasi yang akurat terkait manajemen pendataan pendidikan ataupun informasi pendidikan lain yang dapat diketahui baik melalui forum-forum pendataan di media sosial, situs resmi stake holder pendidikan, hingga info-info dari blog-blog Rekan Guru ataupun Operator Sekolah lainnya.

Akhirnya di sekolah pun, seringkali Rekan-rekan Guru lainnya hingga Kepala Sekolah tanya “Ada info terbaru apa sekarang?”, bukan semata terkait dengan data-data PTK dan PD, tunjangan bagi guru, jadwal pencairan BOS, Juknis / POS Ujian Sekolah (US) ataupun Ujian Nasional (UN), namun juga pertanyaan-pertanyaan lain yang terkait perangkat belajar-mengajar, kurikulum, kebijakan-kebijakan pendidikan di Indonesia, dan pertanyaan-pertanyaan lain seputar pendidikan seringkali ditanyakan Rekan-rekan Guru lainnya di sekolah.


Oleh karena itu, patutlah bangga kiranya bagi seluruh Rekan-rekan yang bertugas sebagai Operator Sekolah ini, karena bukan hanya sebagai fasilitator data, akan tetapi juga sebagai fasilitator informasi pendidikan di sekolah masing-masing. Sehingga secara tidak langsung pengalaman dan juga wawasan dari Rekan-rekan Operator Sekolah yang terkait bukan hanya seputar manajemen pendataan pendidikan, namun juga hal-hal apapun yang terkait dengan pendidikan Indonesia hingga dunia akan semakin meningkat pesat dari waktu ke waktunya, dan semoga saja pendapatannya pun semakin besar.

Senin, 13 April 2015

5 CARA PRAKTIS MENINGKATKAN IQ

Kecerdasan Intelektual (IQ) adalah ukuran kemampuan intelektual, analisis, logika, dan rasio seseorang. IQ merupakan kecerdasan otak untuk menerima, menyimpan, dan mengolah informasi menjadi fakta. Memang IQ tinggi tidaklah dapat menjamin berhasilnya seseorang dalam bisnis dan hal lainnya, akan tetapi tentu dengan memiliki IQ yang tinggi maka akan dapat membantu seseorang dalam mengatur dan memecahkan suatu persoalan dengan lebih baik dan rapih.

Berikut ini cara meningkatkan IQ, Sebagai berikut :

 1. Melakukan Sarapan Pagi.

Hal pertama yang perlu Kamu lakukan adalah sarapan pagi, karena orang yang melakukan sarapan telah dibuktikan melalui penelitian, bahwa sangat bermanfaat untuk meningkatkan daya konsentrasi seseorang, kemudian juga dapat mengatasi berbagai problem dengan lebih baik, memiliki mood yang bagus, serta peningkatan daya ingat.


Sarapan dapat dikatakan menjadi “kesempatan emas” untuk secara baik memenuhi akan kecukupan glukosa kembali setelah sebelumnya Kamu tidur malam sekitar 8 jam. Glukosa ini bermanfaat sebagai  sumber energi untuk tubuh. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh para ahli, bahwa orang yang melakukan sarapan maka akan mendapatkan manfaat yang sangat besar, yaitu dapat meningkatkan glukosa darah.

Dengan melakukan sarapan ini maka sangat berguna untuk memperbaiki mood, meningkatkan memori dan tingkat konsentrasi serta suasana hati akan menjadi lebih baik.

2. Menjauhi makanan yang mengandung kadar gula tinggi

Makanan seperti pasta, roti putih, keripik kentang dan yang semacamnya jika dikonsumsi terlalu banyak maka mengakibatkan hal yang negatif seperti timbulnya rasa yang mudah lelah dan juga rasa malas yang berlebihan atau tubuh sering merasa lesu. Hal itu karena adanya efek dari makanan yang mengandung kadar gula tinggi sehingga membuat otak menjadi sulit untuk “diajak” berpikir dengan baik dan jernih.

3. Jogging.
 

Dengan rajin melakukan jogging makan akan sangat bermanfaat untuk meningkatkan mood, menguatkan memori, mempertajam otak untuk berpikir, dan tentunya menyehatkan jantung. Dengan manfaat-manfaat tersebut maka juga dapat memacu kecerdasan IQ.


4. Belajarlah Membaca Cepat.

Jika memang Kamu kesulitan dalam melakukan hal pada poin ke-7 ini, maka ketahuilah bahwa dengan membaca cepat maka sangat bermanfaat agar kita juga bisa memahami dengan cepat, sehingga hal ini akan membuat otak menjadi benar-benar terlatih, yang membuat kemampuan IQ menjadi meningkat.  Untuk itu sangat disarankan agar kita dapat berlatih membaca dengan cepat.


5. Beristirahat Secara Berkala.

Ini sebenarnya memiliki manfaat yang lumayan besar, karena dengan membiasakan diri beristirahat sejenak, seperti setengah jam sekali, Kamu hanya perlu mengistirahatkan otak dan tubuh sekitar 3 menit saja, maka hal ini sangat baik untuk me-refresh otak atau pikiran menjadi segar kembali, dan hal-hal yang Kamu ingat atau pelajari sebelumnya akan dapat lebih kuat untuk diingat.

BERIKUT TIPS MENGHADAPI SISWA NAKAL

Sebagai insan yang berada di sebuah lembaga pendidikan, apalagi Sekolah Menegah Kejuruan yang notabene siswanya adalah laki-laki menghadapi siswa nakal adalah hal yang biasa. Mulai dari siswa yang sering terlambat atau bolos sekolah, tidak mengerjakan tugas/ PR, ribut di kelas, jajan saat jam pelajaran, tidak sholat, dan masih banyak contoh kenakalan lain yang kerap dilakukan siswa. Hal-hal tersebut memang benar-benar menguji kesabaran kita. Dibutuhkan kesabaran dan keuletan tingkat tinggi.
 
Sebenarnya apakah benar ada anak diberi label “nakal”? Penulis sendiri tidak setuju bila ada siswa yang dilabeli “nakal”. Apalagi tidak sedikit guru yang memberi label “nakal” apabila ia merasa tidak sanggup mengendalikan siswanya. Di sisilain ukuran “nakal” tiap guru berbeda-beda. Sebagian guru akan menganggap siswanya “nakal” bila siswanya tidak mengerjakan PR, guru lain berpendapat siswa yang sering bolos/ tidak masuk sekolah adalah siswa yang “nakal”, sebagian lainnya menganggap siswa yang ribut saat pembelajaran adalah siswa yang “nakal”.

Menurut saya tidak ada yang namanya siswa “nakal”, yang ada adalah

Siswa yang krisis identitas. Perubahan biologis dan sosiologis pada diri remaja memungkinkan terjadinya dua bentuk integrasi. Pertama, terbentuknya perasaan akan konsistensi dalam kehidupannya. Kedua, tercapainya identitas peran. Kenakalan siswa terjadi karena siswa gagal mencapai masa integrasi kedua.

Siswa yang memiliki kontrol diri yang lemah. Siswa yang tidak bisa mempelajari dan membedakan tingkah laku yang dapat diterima dengan yang tidak dapat diterima akan terseret pada perilaku “nakal”. Begitupun bagi mereka yang telah mengetahui perbedaan dua tingkah laku tersebut, namun tidak bisa mengembangkan kontrol diri untuk bertingkah laku sesuai dengan pengetahuannya.

Siswa yang kurang kasih sayang orang tua. Orang tua yang terlalu sibuk dengan pekerjaan menyebabkan kurang perhatian kepada anaknya. Tidak mengenalkan dan mengajarkan norma-norma agama kepada anaknya. Akibatnya dia akan sering bolos atau terlambat sekolah. Saat di sekolah ia akan berulah macam-macam untuk mendapat perhatian dari orang lain, termasuk kepada gurunya.

Siswa yang kedua orang tuanya tidak harmois atau bahkan bercerai. Suasana di rumah yang tidak nyaman akan menyebabkan anak tidak fokus saat pelajaran. Kedua orang tua yang seharusnya melidungi dan memberi contoh yang baik justru menjadi akar permasalahan anaknya.

Siswa yang menjadi “korban” dari saudara atau teman sepermainannya. Tipe anak seperti ini akan melakukan hal yang sama pada anak lainnya karena ia adalah ‘korban’ dan berusaha untuk membalas dendam.

Siswa yang mendapat tekanan dari orang tua. Tekanan ini bisa berupa tuntutan orang tua yang terlalu tinggi akan prstasi anaknya di sekolah atau peraturan di rumah yang terlalu ketat/ mengekang. Akibatnya bisa bermacam, siswa bisa pendiam tapi juga bisa “nakal” karena merasa ingin bebas.

Siswa yang mengalami kekerasan dalam lingkungan keluarga. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya masalah ekonomi. Siswa yang mengalami kekerasan di rumah, maka saat di sekolah ia akan menunjukkan sikap memberontak kepada gurunya atau bahkan melakukan kekersaan seperti apa yang ia alami.

Siswa yang salah bergaul. Lingkungan memang sangat memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan sikap siswa. Pergaulan yang kurang tepat atau menyimpang salah bisa menyebabkan perilaku yang menyimpang.

Itulah beberapa sebab mengapa siswa berperilaku “nakal” saat di sekolah. Saat kita tahu latar belakang masalah perikau murid kita, tentunya kita akan merasa iba dan kasihan. Oleh karena itu mari kita sebagai pendidik mulai untuk menghentikan label negatif kepada siswa.

Beberapa tips di bawah ini bisa kita coba untuk mengatasi perilaku siswa yang “nakal”, adalah:

Berdo’a untuk anak terebut. Ucapkan namanya setiap kita berdo’a. Berharaplah apa yang kita minta akan dikabulkan Allah dan saat kita menghadapinya Allah mengkaruniakan kesabaran pada diri kita. Yakinlah dia akan berubah, karena keyakinan itu adalah doa. Dia pasti berubah, entah itu besok, lusa, atau kapanpun.

Carilah info yang lengkap tentang siswa yang dianggap “nakal”. Tujuannya adalah agar kita lebih paham tentang latar belakanngya. Harapanya kita akan lebih bisa bersabar dan pengertian dalam menangani perilakunya.

Hentikan ucapan atau label “nakal” pada siswa tersebut. Kita tahu ucapan adalah do’a. jika kita mengucapakan kata nakal, secara tidak langsung kita berdo’a agar dia menjadi nakal. Katakanlah yang baik-baik untuknya, walau bagaimana pun perilaku dan perkataannya.

Panggilah dia ke runag BK atau masjid. Ajaklah dia berbicara empat mata dan dari hati ke hati. Tanyakanlah kepada siswa tersebut tentang harapannya, permasalahannya, atau sebab dia berbuat “nakal”. Dengan hal ini kita jadi lebih tahu tentang dirinya dan permasalahan yang sedang ia hadapi. Pada akhirnya, berilah ia solusi, motivasi dan arahan.

Latilah dia dengan rasa tanggung jawab. Hal ini bisa dilakukan dengan kita memberikan dia kepercayaan. Contoh: menjadi muadzin, mengumpulkan kas kelas, membantu kita merekap buku tabungan, atau dengan melibatkan dia dalam kegiatan OSIS dan ROIS (meskipun dia bukan penggurus OSIS dan ROIS). Hal ini akan membuat dia merasa dibutuhkan dan diperhatikan. Tujuan akhirnya adalah agar dia tahu mana hak dan kewajibannya/ tanggung jawabnya sebagai siswa.

Apabila siswa tersebut berbuat “nakal”. Maka, tergurlah dengan pelan-pelan dan jangan dibentak atau dimarahi. Karena siswa tipe seperti ini tidak akan berubah bila dimarahi. Mereka butuh didekati, diperhatikan, dan diajak berdiskusi, serta berilah mereka motivasi agar bisa berubah menjadi lebih baik. Katakan pada mereka “saya yakin kamu bisa lebih baik lagi dari kamu yang sekarang”. “saya akan merasa bangga bila kamu bisa lebih baik dari kamu yang sekarang”.
 
Apabila siswa tersebut berbuat “nakal”. janganlah diberikan hukuman fisik, seperti push up, set up, atau jalan jongkok. karena, hal ini justru akan menimbulkan rasa dendam dan jiwa melawan/ membangkang pada siswa. Tapi berikanlah dia hukuman seperti sholat dhuaha atau membaca Al-Qur'an.

Buatlah perjanjian bila siswa tersebut berbuat “nakal”. Rekamlah dengan HP dan suruhlah dia mengucapkan janji agar tidak mengulangi perbuatannya. Bila dia mengulangi lagi, panggillah siswa tersebut dan putarlah rekamannya.

Berilah dia pilihan. Berbuat baik konsekuensinya baik atau berbuat “buruk” konsekuensinya buruk.

Bila siswa tersebut berbuat baik. Maka, pujilah dia. Pujian kita akan mebuat dia merasa bahwa usahanya dihargai dan diperhatikan oleh orang lain.

Itulah sedikit tips dari penulis. Semoga dapat memberikan manfaat. Prinsipnya adalah tidak ada siswa yang “nakal”. Yang ada adalah siswa kurang perhatian dan salah bergaul. Percayalah mereka bisa berubah. Perubahan itu akan bisa terjadi bila dimulai dengan strategi dengan menggunakan pendekatan hati. Bisa melalui tangan kita, atau mungkin tangan orang lain. Semoga bermanfaat dan selamat mencoba.

Rabu, 08 April 2015

Dosa-dosa Guru tanpa Disadari

Infosekolah.Net - Karir sebagai guru merupakan karir yang sangat Istimewa setelah karir sebagai pembisnis dan seorang dokter. Guru selalu dipandang mempunyai derajat sosial yang tinggi di masyarakat dan derajat ketaqwaan di mata Sang Pencipta. Tapi sayang, masih banyak guru (ya termasuk saya) melakukan dosa-dosa dalam menjalankan profesi sebagai guru.

Ilustrasi: Guru
Sumber: Pribadi Inan Kito
Dosa apa saja yang sering dilakukan oleh guru tanpa sadar atau gak mau sadar? Inan Kito akan mencoba menulis beberapa dosa-dosa yang sering dilakukan oleh Guru (guru yang kami maksud termasuk dosen juga ya).

1. Guru masuk kelas tanpa persiapan
Tidak dapat dipungkiri banyak sekali guru di Indonesia yang mengajar belum memiliki kelayakan untuk menjadi guru, yang kami maksud dengan kelayakan menjadi guru yaitu guru yang memahami materi, memahami metode mengajar dan memahami psikologi siswa.

Jika guru belum menguasai hal-hal tersebut, guru masuk kelas tanpa persiapan, itu akan menjadi dosa sang guru. Mengapa demikian, bagaimana guru bisa mengajar dengan baik kalau guru tidak tahu materi, tujuan materi, cara menyampaikan materi dan cara mengevaluasi materinya. Sedangkan menerima Proses pembelajaran yang baik adalah hak seorang siswa.

2. Memberikan Pekerjaan Rumah (PR) tanpa diperiksa
Banyak sekali guru yang memberikan PR kepada siswa yang banyak dan dalam waktu yang sangat singkat. Alhasil siswa mengerjakan mati-matian hingga begadang lupa makan, kurang tidur dan hilangnya waktu main.

Waktu PR-nya dikumpulkan kepada sang guru, PR tidak diperiksa guru. Anehnya lagi Guru memberikan nilai dengan cara menebak-nebak. Nilai sesuai dengan apa yang teringat oleh sang guru saja. Misalnya, Si A wajahnya cantik, kulit putih rajin menjawab dikasih nilai 100 dan Si B, Wajahnya pas-pasan, kulit sawo matang, pendiam dikasih nilai 75 dan si C, rambut kering, kulit hitam, suka tidur di kelas dikasih nilai 60.

3.  Guru yang mengajar cuma untuk mencari kesejateraan ekonomi
Banyak sekali guru (ada beberapa rekan saya juga), pas ditanya mengapa mau jadi guru. Jawabannya "jadi guru enak kerjaannya ringan, cuma ngomong doang dan gajinya gede".

Guru yang seperti ini tentu menjadikan profesi guru sebagai pendosa, karena menganggap profesi seorang guru cuma sekedar pekerjaan untuk mencari uang belakang. Ingat bekerja apapun ada tanggung jawab ke lembaga (bagi swasta maupun negeri) dan tanggung jawab kepada sang pencipta.

4. Guru les atau private yang memberikan jawaban PR tanpa dijelaskan
Di kota-kota besar siswa yang mengikuti bimbingan belajar (les) atau private sudah menjadi kebutuhan dan gaya hidup. Menjadi guru les/private sesuatu yang cukup menjanjikan (bagimana tidak gaji seorang guru private bisa sampai Rp. 150.000 / Jam ). Tapi banyak guru-guru private yang membantu mengerjakan PR siswa dari sekolah tanpa menjelaskan (ini namanya calo pengerjaan PR bukan guru.

5. Guru datang terlambat dan pulang lebih cepat dari jam kerja
Guru itu diguguh dan ditiru ( Bahasa Sunda ), kalau sampai guru sering datang terlambat (apalagi terlambat masuk kelas) ini berdampak negatif bagi siswa. Siswa akan mengingat bahwa datang terlambat menjadi wajar. Jadi guru sudah mewarisi budaya yang sangat jelek.

6. Guru yang tidak mau belajar
Guru yang baik adalah guru yang mau belajar lagi, dia memegang prinsip belajar seumur hidup. Biasanya ada beberapa guru yang tidak menerima jika di evaluasi oleh siswa, guru menganggap dialah sumber utama kebenaran yang ada di kelas. Padahal siswa-siswa sekarang sudah banyak mendapatkan info terbaru baik itu dari buku, koran dan internet.

Demikianlah dosa-dosa para guru yang sering tidak disadari. semoga tulisan ini bermanfaat. Aamiin

Minggu, 05 April 2015

SURAT TERBUKA UNTUK PRESIDEN RI JOKO WIDODO DARI SEORANG GURU

Kepada Yth,
Presiden Republik Indonesia
Bapak Joko Widodo
Salam hormat kami, semoga bapak Presiden senantiasa dalam keadaan sehat dan tetap memiliki semangat untuk memperbaiki bangsa ini menjadi lebih baik lagi. Saya juga mendoakan kepada bapak Presiden dan keluarga semoga diberi ketabahan dalam menghadapi berbagai kritikan pedas dari dari berbagai kalangan yang menginginkan negeri ini menjadi lebih baik, negeri yang mampu mensejahterakan rakyatnya bukan pejabatnya, negeri yang lebih memulaikan para pendidiknya  (guru) dibandingkan memuliakan para kaum kapitalis dan sekuler yang telah menggerogoti kekayaan bangsa ini.
Pak Presiden yang terhormat, saya adalah seorang guru sekolah dasar di Kabupaten Bogor, letak yang tidak jauh dari ibu kota Jakarta, kabupaten yang pernah menjadi pemberitaan setiap hari karena presidennya tinggal di salah satu daerah tersebut yaitu Cikeas. Tapi mungkin itu tidak penting bagi Pak Presiden, juga surat ini mungkin juga tidak penting bagi bapak Presiden.
Surat Terbuka Untuk Jokowi
Pak, Presiden saya pun tidak yakin surat ini akan sampai ke tangan engkau dan bisa dibaca, tapi paling tidak surat ini dibaca oleh rekan-rekan kami yang sama-sama berprofesi sebagai guru. Surat terbuka ini sengaja saya tulis, bukan karena ikut-ikutan karena banyaknya para praktisi, akademisi, pengamat dan orang-orang terkenal lain menulis surat terbuka.
Dari bahasa surat ini mungkin Pak Presiden, akan langsung menilai, ah, apaan sih gak penting bangat surat ini. Yak, betul Pak Presiden saya bukanlah sosok intelektual layaknya engkau yang pernah mengenyam pendidikan di Universitas terbaik di Indonesaia yaitu UGM, saya juga bukanlah guru yang punya prestasi sangat jauh dengan engkau yang pernah dinobatkan sebagai salah satu Wali Kota terbaik di dunia.
Pak Presiden yang saya hormati, sungguh  saya sebagai guru senantiasa di ajarkan untuk menghormati siapapun apalagi menghormati engkau sebagai presiden. Namun saya hanya guru biasa yang tidak layak mendapatkan penghormatan dari siapaun apalagi dari seorang Presiden. Saya pun tidak layak untuk di puji-puji dan di banggakan layaknya engkau di puji dan dibanggakan oleh para pendukung setiamu. Sayapun tidak bisa berbahasa yang santun sesantun bahasanya orang-orang solo seperti engkau dan para pendukungmu.
Pak Presiden yang saya banggakan, saya adalah guru yang setiap hari senantiasa menanamkan nilai-nilai kesantunan pada anak didik kami. Kami mendidik mereka agar berkata santun dan bersikap ramah. Karena itulah makna dari pendidikan kita, saya yakin engkau dan pak menteri pendidikan Anies Baswedan lebih memahami dari saya.
Pak Presiden sungguh hati saya tersayat dan merasa teriris-iris dengan ucapakan seorang gubenur yang menjadi sahabat baik engkau. Bukankah kah beliau adalah seorang pemimpin, bukankah dia adalah seorang intelektual yang pendidikannya lebih tinggi dari pada kami, bukankah beliau juga memiliki anak-anak yang masih sekolah atau kuliah. Begitu bangganya dan seolah tidak bersalah beliau mengeluarkan kata yang tidak layak, kata-kata yang harusnya ada di kebun binatang dan juga tempat-tempat yang menjijikan.
Pak Presiden, saya yakin engaku juga pernah sekolah, engkau pernah merasakan dan melihat bagaimana guru-guru engkau begitu luar biasa memperjuangkan agar anak-anak bangsa ini menjadi generasi berakhlak. Begitupun dengan saya pak presiden dan lebih dari 3 juta guru di Indonesia setiap hari menggelorakan semangat kepada anak-anak didiknya agar mereka menjadi pribadi yang berakhlak juga berilmu.
Sambil menitikan air mata saya terus menulis surat ini……………..
Pak Presiden yang terhormat saat menulis surat ini sayapun teringat pesan-pesan yang begitu menenangkan hati dari guru-guru saya, dari para ustadz dan dari guru-guru saya yang pernah berjuang mendidik saya.
Pak Presiden Jujur saya merasa tersontak dan kaget ketika membaca pemberitaan di media online tentang pemblokiran media-media Islam yang dianggap oleh  lembaga dan kementerian di bawah pimpinan engkau di vonis sebagai media yang meresahkan umat dan membawa faham-faham ISIS. Mohon maaf sekali Pak Presiden, bolehkah saya bertanya, apakah engkau beragama Islam, apakah engkau pernah membaca setiap hari situs-situs tersebut, apakah engkau pernah bersilaturahim dengan para pimpinan media tersebut?. Saya yakin Pak Presiden, engkau sebagai umat muslim tidak ingin umat Islam terus tersudutkan dengan pemberitaan yang mendeskriditkan dan menjelek-jelekan Islam. Saya yakin dari hatimu masih tersimpan rasa bangga terhadap ke-Islaman engkau dan saya yakin hati engkau Pak Presiden masih terbuka akan hidayah Allah SWT.
Pak Presiden yang saya hormati, setiap hari saya sebagai guru mengajarkan bagaimana menjaga etika dan berkomunikasi kepada murid-murid saya. Saya mengajarkan bagaimana jika ada sahabatmu yang bersalah, sebaiknya jangan engkau benci, tapi nasihatilah dan datangilah dia kemudian engkau beritahu kesalahannya serta mintalah memperbaikinya.
Pak Presiden, saya yakin guru engkau sekolah dulu juga mengajarkan yang sama, saat engkau membaca tulisan ini engkau mungkin akan langsung teringat pesan guru-guru engkau. Saya pun merasa yakin para lembaga dan kementerian yang engkau pimpin adalah orang-orangnya memiliki tingakat intelektual dan kesantunan yang luar biasa. Semoga saja engkau dan para menterimu masih ingat pesan-pesan mulia dari gurumu bagaimana seharusnya kita berkomunikasi dan beretika saat kita mengganggap orang lain salah.
Pak Presiden, sungguh saya bangga atas ketegasan engkau dan para menteri engkau dalam menindak kepada hal-hal yang akan merusak moral bangsa ini. Saya akan lebih bangga lagi jika engkau mampu memblokir seluruh konten porno di internet, memblokir situs-situs porno di Indonesia, menutup cafe-cafe dan tempat dugem serta kemaksiatan lain yang lebih berbahaya dari situs Islam yang telah engkau blokir.
Pak Presiden, Mari ambil bagian bersama kami untuk menyelematkan generasi akhlak bangsa Ini. Tahukah engkau Pak Presiden, satu tahun ini saya sudah stop menonton TV, tahukah engkau kenapa itu saya lakukan?. Karena saya merasa tidak ada lagi tontonan di TV yang bisa menenangkah hati kami, tak ada cerita inspirasi yang bisa saya bagikan kepada murid-murid saya, sungguh TV telah menjadi racun yang sangat dahsyat bagi generasi bangsa ini. Pak Presiden, menonton TV hanya membuat kami merasa makin resah dan gelisah dengan pemberitaan yang sama sekali tidak mendidik, tentu tak perlu kami urut satu persatu berita apa itu, karena ada lembaga KPI yang setiap hari mengawasinya.
Pak Presiden yang saya hormati, situs-situs Islam sesungguhnya menjadi pelipur lara bagi saya, menjadi penyejuk ditengah kegersangan hati kami, menjadi tempat kami belajar bagaimana menjadi pendidik sekaligus orang tua yang baik. Situs Islam telah memberi pencerahan kepada kami, bagaimana sesungguhnya berjihad dan beribadah di dalam Islam yang sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunah. Bungkah itu yang engkau ingingkan, ada media Islam yang mencerahkan umat.
Pak Presiden, tapi saya tak mau terlalu kecewa dan tidak mau berlalut lama-lama dalam kondisi seperti ini, karena saya yakin semua ini sudah menjadi takdir Allah. Sayapun merasa yakin bahwa Allah sudah memiliki hukuman bagi para pemimpin yang Dzolim terhadap rakyatnya.
Pak Presiden, saya sarankan engkau untuk bergabung di Facebook disana banyak sekali Group dan Komunitas Guru, ada ribuan keluhan yang setiap hari para guru tulis disana. Tentang berbagai hal, tentang ke kecewaan terhadap pemimpin, tentang status mereka yang tidak jelas, tentang gaji yang tak kunjung turun, tentap moral anak bangsa, tentang bejatnya para pemimpin negeri dan lain sebagainya.
Pak Presiden, tentu kami menyadari bahwa menjadi guru sudah menjadi pilihan kami, kami siap untuk hidup sederhana dengan tidak berlimpah uang dan harta. Mengabdi menjadi guru merupakan pilihan kami, karena kami meyakini harus ada yang mengambil peran ini, bukankah sesungguhnya gurulah penentu utama kemajuan bangsa ini.
Tapi pak Presiden kami juga merasakan begitu pahitnya kebijakan-kebijakan engkau yang telah engkau putuskan. Tentu engkau sangat tahu berapa tebalnya kantong kami, tentu engkau tahu kami harus berjuang dalam kesederhamnaan, tentu engkau tahu kami hanya bisa mengajarkan kepada anak-anak agar terbiasa makan dengan 4 sehat 5 sempurna. sementara kami makan dengan secukupnya dan itu kami syukuri.
Pak Presiden setiap hari kami harus membeli bensin, membayar listrik bulanan, membeli kebutuhan setiap hari dan membiayai anak-anak kami sekolah. Mohon maaf Pak Presiden rasanya hidup kami dulu tidak sepayah ini, kenapa setelah engkau pimpin rasanya hidup semakin susah.
Maafkan jika saya, kami para guru harus mengeluh seperti ini, karena saya yakin Pak Presiden tidak sudi atau mana mau bergabung bersama kami di facebook bersama jutaan guru dari berbagai ratusan group. Pak Presiden, bagaimana kami akan mengajar dengan tenang dan mengasyikan, jika pikiran kami harus terfokus, besok makan apa, anak istri di rumah sudah makan belum, kira-kira cari sampingan apa.
Pak Presiden, mohon maaf jika pada bagian ini engkau memukan jati diri kami yang sesungguhnya, yah inilah kami seorang guru yang juga manusia biasa, membutuhkan makanan terjangkau, listrik murah dan bensin yang hemat.
Pak Presiden yang saya hormati, mohon maaf jika kami harus mengatakan ini. Kami harus mendukung murid-murid kami yang dulu pernah kami didik di SD, pernah belajar bersama kami, pernah kami ajarkan etika bagaimana mengkritik dan bagaimana bersikap santun terhadap pimpinan.
Sungguh saya bangga mereka telah mengingatkan engkau dengan berbagai cara, mereka menulis kritikan lewat media, mereka berbicara di forum-forum resmi, dan sungguh saya bangga sekaligus kaget mereka yang masih jadi mahasiswa saja mampu mengeluarkan Raport merah untuk pak Presiden. Padahal kami saja yang guru tidak berani melakukannya.
Diakhir tulisan ini sungguh sangat terpaksa jika kami harus mendukung murid-murid kami yang dulu pernah kami didik di SD, harus menurunkan engkau pada bulan Mei nanti. Pak Presiden, sungguh hal ini tidak pernah kami ajarkan, ini menjadi suara hati mereka, karena mereka juga mungkin punya ayah dan ibu yang juga seorang guru yang telah mengalami perang batin yang sama dengan kami.
Pak Presiden saya ingin mengatakan sejujurnya surat ini saya tulis sendiri kurang lebih selama 3 Jam tapa pengaruh siapapun. saat menulis surat ini saya juga masih berada di kantor sekolah dan inilah pertama kalinya dalam hidup saya, saya menulis surat terbuka dan langsung di tunjukan kepada pemimpin tertinggi negeri ini.
Oia Pak Presiden hampir saya lupa, sungguh dulu engkau adalah orang yang saya banggakan, sehingga menggerakan hati saya untuk membeli buku biografi engkau, betapa terinspirasinya saya saat membaca kehebatkan engkau dalam buku biografi tersebut, karena engkau digambarkan mirip seperti seorang khalifah yang dalam kesuyian diam-diam membawa beras dalam mobil kemudian saat gelap malam engkau berikan kepada orang yang membutuhkan, apa yang engkau lakukan tanpa di ekspos media. Tapi kini entahlah…..engkau tentu tahu dari bahasa surat saya.
Jika suatu saat Pak Presiden ingin bertemu langsung dengan saya, silahkan lihat kontak saya pada pertama kali surat ini di posting di blog saya.
Sebagai seorang guru yang sering mengajarkan nilai-nilai akhlak, maka sayapun ingin mengucapkan mohon maaf yang sebesarnya-besarnya jika surat yang saya tulis ini menyinggung perasaan Pak Presiden, sungguh tidak ada niat lain selain saya ingin agar generasi bangsa ini yang setiap hari kami didik menjadi generasi terbaik.Amin…
Bogor, 04 April 2015
Dari Seorang Guru Sekolah Dasar  (SD) yang pernah memiliki rasa bangga dan terinspirasi  karena kehebatan yang diceritakan dalam buku Biografi Jokowi.

Arsip Blog