Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 Mei 2015

Kenyamanan Naik BRT Trans Semarang

Assalamualaikum.

Sudah pernah naik BRT Trans Semarang? Salah satu bus andalan kota Semarang ini memang perlu diacungi jempol. Loh kenapa? Pasalnya, hari ini saat saya pergi ke Semarang, saya merasakan kenyamanan naik BRT Trans Semarang. Kira-kira setahun lalu belum kayak gini deh.

Pagi tadi, saya pergi ke Semarang dengan tujuan ke BKIM Semarang tepatnya daerah simpang lima. Karena sedang hamil, saya memilih untuk naik bus saja daripada naik motor. Apalagi banyak sekali titik perbaikan jalan yang mengakibatkan macet dimana-mana. Berangkat lah saya dari rumah sekitar pukul 06.30 WIB.

Di pertigaan dekat rumah, saya menunggu bus jurusan Purwodadi-Semarang. Eh, malah dapat bus Juwangi-Semarang. Naik ah daripada kesiangan. Dengan biaya Rp 6.000, akhirnya saya sampai di terminal Penggaron, perjalanan jadi 1,5 jam gara-gara macet.

Turunlah saya di dalam terminal Penggaron. Kemudian menuju ke halte BRT Trans Semarang dan membeli tiket jauh dekat seharga Rp 3.500 untuk umum dan Rp 2.000 untuk pelajar. Masuklah saya ke dalam bus. Hanya ada 5 penumpang, termasuk saya. Tak menunggu lama, BRT Trans Semarang pun berangkat. Wuusss...wuusss....wusss....
Karcis BRT Semarang
Kiri-saat pulang dan kanan-saat berangkat
Kenyamanan pun dimulai. Saat sampai di halte pertama, penumpang pun pada masuk. Ada beberapa penumpang laki-laki dan juga perempuan. Mbak kondektur pun beraksi. “Monggo Pak, Mas, laki-laki di kursi depan. Mbak, Ibu monggo di belakang.”

Ini nih yang beda. Terakhir kali naik BRT Trans Semarang penumpangnya masih campur jadi satu. Laki-laki dan perempuan duduk berdampingan, bebas. Kali ini dipisah, saya senang sekali *jingklak-jingklak*. Karena apa? Karena kalau saya tidur kan tidak malu kalau dilihatin. Hihihi. Oh, jangan-jangan adanya peraturan baru ini karena pernah ramai kasus pelecehan di bus Trans Jakarta itu!

Eits, tunggu dulu! Pemisahan tempat duduk antara laki-laki dan perempuan tidak selamanya berlaku lho. Salah satunya ya kalau ada penumpang anak-anak atau balita laki-laki, tak mungkinlah kalau dipisahkan dengan ibunya, sebaliknya. Satu lagi kejadian yang saya temui tadi. Ada seorang anak perempuan yang merengek, “Duduk sini, Ayah! Ayaaah...”

Mbak kondektur pun dengan sigap langsung meng-iyakan permintaan anak tersebut, “Monggo, Pak. Tidak papa duduk samping keluarganya.”

Berbeda lagi saat perjalanan pulang. Ada seorang ibu muda menggendong bayinya. Tepat di samping ibu muda itu duduk seorang laki-laki yang saya duga suaminya.

Jadi, pemisahan penumpang di dalam BRT Trans Semarang bisa disesuaikan dengan sikon. Tidak kaku. Dengan adanya peraturan tersebut, saya rasa tingkat kenyamanan yang dirasakan penumpang lain juga akan semakin meningkat.

Bagaimana tidak? Harga tiket yang murah-tetap meskipun BBM naik, tepat waktu, dan pemisahan penumpang sudah diperhatikan. Namun, alangkah lebih baiknya lagi kebersihan di dalam bus juga semakin ditingkatkan lagi. Biar makin top markotop!

Ah, wisatawan yng datang ke Semarang perlu nyobain BRT Trans Semarang nih! Yuk, ke Semarang! Jangan lewatkan kenyamanan BRT Trans Semarang saat Anda ingin menjelajahi kota atlas ini.

Senin, 08 Desember 2014

Judes Rezeki Kabur

Semakin banyak orang yang kita temui, maka semakin banyak pula berbagai karakter seseorang yang kita tahu. Kemarin, saat mengantar undangan ke rumah teman, kebetulan karena itu kali kedua kunjungan saya dan dengan rute yang berbeda alhasil saya takut nyasar, bertanyalah saya pada orang.

Tepat di depan suatu salon.
Sumber di SINI

"Mbak ndherek tangklet (ikut tanya). Gang ini apakah yang menuju SD tiiiittttt itu ya, Mbak?" tanya saya pada orang yang duduk agak jauh dari temannya yang sedang dilayani pemilik salon-saya kira- Belum sempat menjawab, pemilik salon tersebut yang langsung nerocos bagaikan mercon yang ujungnya tidak memberikan jawaban. Saya pun pamit.
Hmmm... Mungkin ogah ditanya-tanya. Pikir saya.

"Matursuwun... nggih. Monggo."

Adik saya yang nangkring di atas motor langsung ngedumel, persis dengan perkiraan saya, "Tanya kok malah dijudesin. Tahu gitu nggak usah tanya sini."

"Sudahlah. Ayo lanjut saja, lurus tidak usah masuk gang itu. SMS Mbak Eka aja suruh nunggu di gang." Perintah saya sambil menyalakan mesin motor.

Setelah bertemu dan sampai di rumah teman, saya nyeletuk, "Tadi kan bingung gang sebelah mana, nah tanya orang yang di sana tuh, eh malah dimarahin, judes."

"Loh, tanya alamat sini? Kamu tanya di mana?"

"Itu tuh yang salon dekat tiiittt...."

"Ohhh...ya ya. Emang gitu orangnya. Aku dulu juga pernah kena judesnya. Padahal aku mau tanya ada gas nggak di situ. Eh malah dislantap, kabur deh nggak mau ke situ lagi sampai sekarang."

***

Belajar dari pengalaman. Kesan kita terhadap orang bagi saya penting. Apalagi kita hidup bermasyarakat. Tak ingin rasanya dikenal sebagai sosok yang jelek. Namun bukan berarti kita jadi manusia bertopeng. Ya, sewajarnyalah. 

Apa yang kita berikan akan kembali lagi pada kita. Kita judes kepada orang ya nanti juga ada yang gantian judes kepada kita. Bukan mendoakan. Bukankah karma itu tak perlu menunggu sampai alam kubur. Idiiihh...jadi serem. Lagian buat apa sih ya judes, takut ah kalau rezekinya kabur.

Arsip Blog