Tampilkan postingan dengan label Skripsi Stories. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Skripsi Stories. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Mei 2014

Jangan Belajar, Membaca-lah

Skripsi saya tinggal selangkah lagi. ACC dari dosen pembimbing 1 telah berhasil saya kantongi, tinggal ACC dari dosen pembimbing 2. Semoga lekas dapat jalan yang terbaik. Meskipun sampai sekarang skripsi saya masih acakadul. Hiks.

Kali ini saya tidak akan menceritakan bagaimana skripsi saya, melainkan cerita sosok dosen pembimbing 1 saya. Sejak awal bertemu dengan beliau, ada sesuatu yang berbeda. Beliau itu unik. Ehm, uniknya itu ceplas-ceplos tapi kok ya pas terus, gemar menciutkan nyali mahasiswa, dan suka mengobrak-ngabrik hati mahasiswa. Hahaha.

Bagaimanakah cara beliau mengobrak-abrik hati saya?

“Kamu itu kenapa kalau ketemu saya kelihatan takut.” kata beliau kepada saya seminggu yang lalu.
“Gimana nggak takut pak, setiap kali ke sini selalu diusir.”
“Lha kamu pantas diusir ndak?” tanya beliau sambil drengesan. Hahaha.
Saya hanya diam dan menyodorkan berkas bimbingan saya.

Pernah juga,
“Kamu itu ngapain bimbingan? Sana pulang saja.” Setelah itu berkas bimbingan saya malah diminta dan dikoreksi. Yes!

Atau,
“Kamu itu kan hobinya menunda-nunda, makanya nggak ikut wisuda April.” Aduh, kata-kata ini yang sempat membuat saya hampir nangis dleweran di depan beliau. Tapi saya masih kuat dan dari kalimat itu sampai sekarang setiap kali saya bimbingan beliau selalu bertanya, “Kamu kapan ke hutan lagi? Jarang lho ada anak kuliahan yang mau terjun ke sawah bantu orangtuanya apalagi keluar masuk hutan kayak kamu. Segera selesaikan skripsimu, ndang masuk hutan lagi. Hahahaha.” Terimakasih ya Allah.

Masih banyak lagi cerita unik yang saya dapatkan dari beliau. Tapi perbincangan saya dengan beliau tempo hari, membuat saya kembali berpikir dan menyesali kenapa kebiasaan membaca saya masih kurang optimal.

“Jadi perempuan itu harus cermat. Dibaca dan dibaca lagi skripsi kamu. Kalau nggak cermat nanti tidak ada laki-laki yang naksir kamu. Pokoknya itu nanti dibaca lagi sebelum kamu print ulang dan mendaftar sidang. Ingat, baca saja, tidak usah dipelajari.”

“Kok gitu pak?”

“Kamu tahu kan saya begitu nglothok dengan cerita Ramayana dan Mahabarata? Itu karena apa? Saya sudah membaca bukunya lebih dari 10 kali. Saya tidak pernah mempelajarinya. Saya hanya membaca.”

“Membaca itu tidak sama dengan belajar ya, Pak?”

“Ya, tidak! Belajar. Coba saya bilang, jangan lupa kamu pelajari tentang A, pasti mindset kamu langsung ah ini paksaan. Beda kalau saya bilang coba kamu baca tentang A. Mindset kamu akan berbeda.”

“Ehm....”

“Tesis saya itu 1000 halaman, kalau saya pelajari bisa-bisa saya botak. Tapi apa yang saya lakukan? Saya hanya membaca, membaca, dan membacanya sampai nglothok.”

“Baik, Pak. Sayaakan membaca lagi.”

“Biasakan dalam dirimu sehari itu harus membaca. Kalau sudah terbiasa pasti nanti akan ada yang kurang kalau sehari saja kamu tidak membaca.”

“Hehehehe...” saya manggut-manggut.

Sabtu, 19 April 2014

Seminggu Tak nge-Blog

Hampir satu minggu saya tidak menuis di blog. Alhamdulillah, masih diberikan kesibukan untuk mengurus skripsi saya yang tinggal satu langkah lagi ACC dosbing utama. Tapi revisinya kali ini sangat padat merayap. Alhamdulillah. Ada juga cerita lain, dosbing kedua saya mau menikah, jadi cuti dua minggu. Beliau berjanji awal Mei akan membimbing saya lagi. Dobsing utama ACC beliau akan ACC pula. Aamiin.

Tak hanya dosbing kedua saya yang menikah, adik saya juga menikah, Tanggal 17 April kemarin. Adik keponakan, samping rumah saya. Tak mungkin juga kalau saya egois dan kekeh mau menyelesaikan skripsi saya sedangkan di rumah juga ramai sekali karena banyak tetangga dan tamu yang datang. Akhirnya saya jadi seksi riwa-riwi ngurus ini dan itu beberapa hari belakangan.

Baiklah, semua hampir selesai. Hari ini adik juga langsung sepasaran jadi besok bisa istirahat, tidur seharian.


Happy Wedding, Dik J

Rabu, 25 Desember 2013

Aku Wisuda April 2014

Saat itu, 27 Nopember 2013

Sumber gambar di sini

“IPK kamu berapa?” tanya dewan penguji kepadaku. “Ada 3,7?” lanjutnya.
“Ada, Pak!” jawabku tegas.
“Kerjakan skripsimu dengan sungguh-sungguh, April nanti kamu bisa ikut wisuda.” 

Pujian demi pujian diutarakan oleh dewan penguji seminar proposal skripsiku. Terimakasih ya Allah... Siapa yang tak bahagia? Ingin rasanya aku segera lari, lari dari ruangan tersebut dan pulang ke rumah untuk bertemu dengan ibu.

“Terimakasih doamu, Bu.”

Bagaikan lampu hijau yang benderang, di saat teman-teman menuntut wisuda di bulan April dan justru mereka diminta mundur oleh pihak kampus, tapi aku justru ditawari? Aku tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Wisuda di bulan April 2014 menjadi resolusi 2014 pertama yang ingin aku wujudkan. Desiran darah beraroma semangat wisuda begitu mendidih dalam tubuhku.

Belajar dari pengalam menyusun proposal skripsi kemarin, ada beberapa hal yang jadi ancang-ancangku untuk segera merealisasikan resolusiku tersebut. Diantaranya adalah sebagai berikut:
  1. Sholat fardhu nggak boleh bolong-bolong, rajin mengaji, sholat malam jangan absen terus.
  2. Manajemen waktu harus lebih top markotop.
  3. Tak boleh malu bertanya dan meminta bantuan kepada kakak kelas atau mereka yang telah berpengalaman menyusun skripsi.
  4. Tak boleh bermalas-malasan ngapelin dosen pembimbing.
  5. Tak boleh takut, ewuh (nggak enakan) untuk menghubungi dosen pembimbing.
  6. Banyak berkunjung ke perpustakaan untuk membaca buku dan jurnal.
  7. Lebih banyak berdiskusi dengan teman berkaitan dengan tetek bengek skripsi.
  8. Selalu mengawali apapun dengan bismillah, dan diakhiri
  9. Alhamdulillah...

Sebenarnya banyak sekali perdebatan di antara pihaki nternal kampus apabila nantinya aku (teman-teman se-angkatan) bisa wisuda di bulan April 2014. Aku ini mahasiswa PGSD (jalur keguruan), misalnya April nanti aku sudah bisa wisuda itu artinya kuliahku hanya 3,5 tahun. Padahal selama ini belum ada mahasiswa keguruan yang lulus dengan jenjang kuliah hanya 3,5 tahun. Hal itulah yang menjadi suatu masalah.

Aku percaya, jika Allah telah berkehendak apapun bisa saja terjadi. Meminjam petuah dari guru SMA ku, “Nikmati masa kuliahmu dan wisudalah di waktu yang tepat.” Ya, sebelum aku tahu kehendak Allah atas wisudaku, aku pun akan berusaha melakukan yang terbaik. Aku akan menikmati proses ini sebagai jalan hidupku sebelum aku benar-benar siap untuk membayar hutang negara ini untuk mencerdaskan anak bangsa.

Wisuda April 2014? Semoga! Aamiin.




NB: 346 kata termasuk judul postingan.

Sabtu, 16 November 2013

Malu Bertanya Sesat Kemudian

Masih masalah tentang skripsi. Aku sempat mengutuk diriku sendiri begitu bodoh, kenapa dari kemarin terlalu gengsi untuk bertanya kepada mereka yang sudah selesai? Ah, aku ini teralu takut kalau dibilang nggak paham, ketinggalan jaman, padahal juga seperti itu.

Mereka yang dulu kuanggap saingan tapi sangat baik denganku, ah.. aku malu. Harusnya aku tidak bermuka dua. Baik tapi sebenarnya aku benci mereka. Aku benci karena mereka lebih unggul. Bodohnya aku. Iya, aku tahu aku memang bodoh. Terlalu mengkerdilkan diri dan menganggap akulah yang paling unggul.

Semenjak hari itu, ketika aku tahu mereka begitu baik bahkan baiknya bisa menghilangkan rasa benciku itu, aku berjanji akan bertanya ketika aku tidak paham dan menyelesaikan kompetisi ini. Sesungguhnya aku lelah memiliki tujuan kompetisi. Aku ingin berkawan dengan mereka. Ya, kita berkawan, terimakasih.


Kamis, 14 November 2013

[Masih] SKRIPSI

ACC dari dosbing 2 telah di tangan. Tapi rasanya hati ini semakin gusar. Waktu untuk penelitian tinggal 2 minggu. Itu pun aku harus ngoyo ngalur ngidul cari teman sejawat karena temanku sendiri semua nantinya akan KKN.

Tadi, setelah ketemu dengan teman yang sudah penelitian, astagfirullah....semua persiapanku jadi nggak ada gunanya. Banyak hal yang terlewatkan. Ini itu belum. Sampai-sampai aku berpikir apakah aku mundur saja dan ambil untuk semester berikutnya saja agar semua matang? Ah, aku begitu bingung.

Temanku, "Jangan buk, eman-eman."

Ya Allah, akan Engkau bawa ke mana nasibku ini nanti. Kalaupun memang saat ini aku harus tetap maju, sehatkan hamba, kuatkan hamba, dan permudah link untuk ke sana.

Ya Allah, Ika tahu Engkau tak pernah menutup mata bagi hambaMu yang telah berusaha. Dan Ika tahu saat ini masih kurang usahanya.

Bismillah, aka kuteruskan ini semua. Nantinya bagaimana? Ku tahu itu rencanaMu.

Kamis, 12 September 2013

Bimbingan 1



Antara yakin dan tidak yakin kalau proposal skripsi ini akan selesai pada waktunya. Karena apa? Menurut keterangan dosen, September akhir harus sudah siap ujian proposal sedangkan SK bimbingan baru keluar 26 Agustus 2013. Saat ini saya baru mulai bimbingan. Bisakah kalau bimbingan hanya satu bulan?

Dengan bekal niat dan bismillah, akhirnya saya menemui dosen pembimbing saya. Maunya dua-duannya bisa langsung bertemu, tapi ternyata? He, bukan mahasiswa kalau nggak ngesot-ngesot dulu di kampus ya?
***
Pulang dari PPL, sekitar pukul 12.30 WIB saya menuju kampus. Tak langsung masuk, saya mampir di rental sebentar untuk mencetak daftar pustaka dan cover proposal skripsi saya. Kemudian memarkir motor dan masuk masjid. Bukan untuk sholat karena kebetulan saya sedang berhalangan, melainkan istirahat di serambi masjid sejenak untuk makan siang. Memang saya terbiasa membawa bekal makanan sendiri dari rumah, masakan ibuk tercinta.

Amel, saya bertemu dengan teman satu kelas dan kini jadi teman satu sekolah ketika PPL. Di sana, kami ngobrol sana-sini, bertemu dengan teman satu jurusan, dan keluhannya sama, “capek dan kapan bimbingan skripsi”. Entahlah, saya hanya diam. Saya rasa lebih banyak diam akan lebih baik dibandingkan berkeluh kesah di depan teman-teman. Toh tidak akan menyelesaikan masalah pula.

Pukul 14.00 WIB, saya menuju ruang dosen. Ramai sekali. Banyak kakak tingkat yang pada ngesot di depan ruang dosen. Apalagi kalau bukan untuk bimbingan. Saya yang notabene adik kelas ya lontang-lantung sendirian. Mengecek dosen pembimbing saya, “eh, ada tas dan jaketnya, tapi beliau tidak ada.” Mondar-mandirlah saya dan bertemu dengan Mas Ipud, kakak tingkat yang berbeda jurusan sekaligus teman seperjuangan ketika dulu masih jadi penyiar radio kampus. Caileh, lama tak bertemu dia tambah bening, dan suaranya itu lho, mateng banget. Ya, secara sekarang dia tambah aktif di salah satu radio swasta di Kudus.

“Lho, kamu PPL sama buat proposal? Mau wisuda bareng aku?”

Mas Ipud sok lebay, “Aku hanya mencoba Mas.”
“Ok, tahu deh aku. Yang penting kamu fokus PPL dulu, yang ini no dua kan?”
“Maunya ya jalan semua lah. Mas, baru satu bulan temanku pada ngeluh capek, emang seperti itu ya, Mas Ipud dulu gimana?” tanya saya.
“Ya, kan kalau nggak enjoy memang seperti itu Cha. Hawanya pengen cepet selesai. Tapi kamu nggak kan?”
Saya hanya nyengir.
“Aku yakin, ini passion-mu.”
“Aamiin, doakan Mas.”
Mas Ipud menghilang di tengah kerumunan deretan kakak tingkat yang berjejer di setiap sudut ruangan gedung Orange. Saya memilih duduk di kursi dekat pintu dan mengeluarkan modul untuk tugas kuliah yang harus direview akhir September ini.

Setengah jam berlalu, Saya bertemu Chamelia. Anak 7C. Kenal dia baru-baru ini, itu juga lewat facebook. Keseringan sharing lewat chat membuat kami mulai akrab di dunia yang sebenarnya. Ternyata tujuan kami sama. Bertemu dengan dosen pembimbing utama. “Oh, Pak Murtono, kami menggu Anda”.

Ngobrol sana-sini, cerita tentang masing-masing SD tempat kami PPL menjadi topik utama. Nimbrunglah Anis, teman sekelas Chamelia. Semakin seru.

“Ini Pak Mur mana to?” Chamelia mulai gusar ketika melihat jam tangannya sudah menunjukkan pukul 16.00 WIB.
“Mbak, misalnya nanti Pak Mur nggak ada terus gimana?” Chamel bertama pada saya.
“He, nanti punyaku tak taruh di meja Bu Mila aja.” Bu Mila adalah dosen pembimbing kedua saya. Tadi beliau ada, tapi hanya lewat dan menear senyum pada kami dan langsung pergi.

Sebelumnya, ada kejadian yang membuat saya kelelahan dan berhasil membuat lutut ini mau copot. Apa coba? Lagi-lagi, bacalah buku panduan skripsi dengan teliti dari awal sampai akhir, apa-apa saja yang harus dibawa ketika bimbingan? Ini hal penting! Hal bodoh yang saya lakukan:
1.    Saya tak tahu kalau harus membawa lembar berita acara bimbingan, saya kira berita acara tersebut ditulis pada buku panduan. Soalnya di buku panduang memang ada lembarannya. Fiuh~
2.    Format penulisan itu harus sesuai (sama plek), baik itu font sampai mengenai spasinya. Hanya tulisan nama saja di halaman cover bisa jadi masalah, nah saya? Nggak mau penampilan pertama saya sangat mengecewakan, saya segera mengeditnya, tapi apa coba? Salah sampai dua kali dan harus bola-balik ke rental.
3.    Di stopmap harus ditulis nama dan keterangan lengkap, jangan lupa no HP, saya sudah tapi tak ada judul saya. Saya kira karena di cover proposal sudah ada jadi nggak perlu lagi. Tapi yang lain ada. Hiks, benahin lagi. Balik ke rental lagi.

Cerita di hari bimbingan 1 ini diakiri dengan ketidakhadiran dosen pembimbing. Saya berinisiatif SMS Bu Mila kalau saya menaruh bimbingan saya di meja Bu Mila. Dengan bahagianya saya dapatkan balasan SMS dari beliau, “Iya mbak...”


Catatan penting: banyak komunikasi dengan teman, kalau bisa malah sama kakak tingkat!

Arsip Blog