Tampilkan postingan dengan label bu guru bercerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bu guru bercerita. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 Mei 2015

Tes Calistung untuk Kelas 3 SD

Perlukah tes calistung untuk kelas 3 SD? Bagi saya perlu. Tujuannya untuk apa?

Sebentar lagi anak-anak saya, kelas 3 SD, akan segera naik ke kelas 4 SD. Oleh karena itu, saya melakukan tes calistung untuk mereka. Hal itu karena saya ingin mengetahui tingkat kemampuan anak-anak dalam hal calistung (membaca, menulis, dan berhitung) sebelum nantinya mereka mendapatkan materi pelajaran yang lebih kompleks.

Ngomong-ngomong soal calistung, di luar sana akan selalu terjadi perbincangan yang hot. Salah satunya adalah persoalan mulai kapan harusnya anak-anak dikenalkan dengan calistung. Ada tokoh yang mengungkapkan anak-anak usia PAUD itu tidak boleh dikenalkan dengan calistung, tapi ada pula yang mengatakan sebaliknya. Ah, saya tidak terlalu ambil pusing. Karena kenyataan di lapangan masih banyak lho anak-anak kelas 6 SD yang belum bisa membaca.

Di beberapa daerah yang baru tersentuh PAUD dan TK, tentu beda ya dengan yang sudah kenyang dengan pendidikan di PAUD dan TK. Paling tidak anak saat masuk SD akan sedikit tahu tentang calistung. Nah, di sekolah saya paling hanya 30% anak yang kenal dengan calistung saat mulai masuk kelas 1 SD. Tak heran kalau guru di tempat saya mau tidak mau dan tentu harus dengan keikhlasan hati mengajarkan mereka dari nol. Salut deh untuk guru kelas 1 SD.

Salah satu anak melaksanakan tes calistung
Untuk di kelas saya sendiri, awal tahun ajaran lalu, saat saya melakukan tes calistung ada 14 dari 31 anak yang belum bisa membaca lancar lho. Hampir setengahnya kan? Masalah besar bagi saya. Ini sudah kelas 3 SD lho, bagaimana nanti kalau sudah naik kelas dan masih belum bisa membaca lancar? Tepuk jidat.

Dengan sedikit paksaan dan ancaman kalau tidak bisa membaca tidak akan naik kelas 4 SD, saya pun membuat jadwal les membaca setiap kali pulang sekolah selama setengah jam. Tak dipungut biaya. Biayanya cukup dibayar dengan rasa bahagia melihat anak-anak bisa membaca lancar saja sudah lebih dari cukup. Per harinya ada 3 sampai 4 anak. Satu per satu saya latih membaca. Mulai dari teknik mendengarkan, menulis, sampai membaca kata yang agak rumit, misalnya penggunaan ng, ny, dll. Alhamdulillah, selama satu semester les tersebut berjalan ada peningkatan lho. Kini, tinggal satu anak saja yang masih kurang lancar membaca.

Kali ini, untuk kenaikan kelas ke kelas 4 SD saya melakukan kembali tes calistung untuk kelas 3 SD. Diantaranya, tes membaca; saya lakukan dnegan cara memilih teks dan meminta siswa membacanya dengan baik dan tepat. Tentunya dengan memperhatikan tanda baca yang ada. Tes menulis, saat menulis saya ingatkan anak-anak untuk memperhatikan penggunaan huruf kapital dan tanda baca. Tes berhitung, saya tekankan pada penjumlahan, pembagian, pengurangan, dan pembagian.

Rencananya, hasil tes calistung tersebut akan saya masukkan ke dalam raport lengkap dengan narasi kekurangan dan kelebihan anak dalam hal tes calistung. Tentu dengan tujuan agar orang tua tahu bagaimana kemampuan anak selama ini. Terkhusus lagi, saya tidak saya gagal menjadi guru mereka. Karena itu artinya saya goblok mendidik anak!

Mari, kita berjuang, Anak-anak!

Rabu, 20 Mei 2015

Nasib Guru Tidak Tetap (GTT)

(Kamu Tak Sendirian Kok)

Assalamualaikum.

Pernahkah merasa bahwa hidup Anda begitu menyedihkan? Merasa tak pernah beruntung dibandingkan orang lain? Merasa kalau Anda-lah yang selalu bermasalah? Muncul pertanyaan yang selalu memenuhi relung pikiran Anda, “Kok gini ya? Kenapa harus saya? Si itu beruntung banget bisa gini-gitu-gono.”

Saya pernah mengalaminya. Hal itu karena status saya sebagai Guru Tidak Tetap di sekolah negeri tempat saya mengajar saat ini. Jujur, tak ada maksud untuk mengeluh karena status saya tersebut. Hanya saja, selama hampir 1 tahun menjadi guru SD dengan gaji sejak Januari 2015 lalu hanya Rp 300.000/bulan merasa sangat kurang. Rasa itu semakin muncul ketika mendapati kenyataan status saya di SD tersebut belum tercatat di pusat. Sudah capek-capek ngajar, bayaran tak seberapa, eh ini status kepegawaian masih dipertanyakan.

Semakin terpuruk ketika kenyataan Allah mengatakan saya tidak lolos tes CPNS tahun lalu. Perasaan tak beruntung semakin menjadi. Kerja hanya kerja. Berusaha untuk menikmati, bersenang-senang dengan anak-anak, mengingat tujuan menjadi guru, mengingat perjuangan menemukan cita-cita ini akan tetapi masih ada sesuatu yang mengganjal. Kelihatan jelas kalau saya tidak ikhlas dan setengah-setengah menjalankan profesi saya ini.

Sering saya mengeluh kepada-Nya, beginikah nasib guru tidak tetap? Hingga bertemulah saya dengan teman-teman kuliah saya. Kenyataan hidup yang saya sesalkan selama ini ternyata hanyalah secuil kisah yang harusnya saya syukuri.

Tepatnya, awal Mei lalu saat saya datang ke pernikahan teman kuliah. Tentu di sana menjadi ajang pamer “cerita masa kini”. Guru tidak tetap menjadi topik utama dong ya dalam pembicaraan kami. Secara kami lulusan dari Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), meskipun ada juga sih teman yang nglanjutin kuliah S2, kerja di bank atau perusahaan swasta.

Narsis bareng teman-teman kuliah
Pembicaraan itu dimulai oleh teman saya, sebut saja Anik namanya.

"Cha, kamu sudah dapat kelas?" tanya Anik pada saya.

"Sudah, Nik. Lah kamu gimana?"

"Aku kan guru tambahan, Cha. Aku cuma ngajar di kelas 6 untuk pelajaran PKn dan IPS." tambah Anik.

"Loh?? Masak sih? Tapi enak dong kamu bisa nyambi kerja di luar."

"Iihhh...kata siapa? Lha KS (kepala sekolah) minta aku berangkat tiap hari."

"Terus kalau kamu nggak ngajar, kamu ngapain dong?" tanya saya penasaran.

"Ya kalau pagi aku buat teh, Cha. Aku aja pengen nggak berangkat terus bantu ibuku jualan di pasar. Daripada aku nggak ada kerjaan di sekolah. Oya, kamu sudah dimasukin laporan bulanan belum? (laporan ke tingkat UPTD-kecamatan) Aku kok belum ya? Belum dimasukin ke pusat juga. Kalau gitu gimana sih?" cerita panjang lebar dari Anik.

Beda lagi dengan cerita teman saya, Lia.

"Eh aku juga belum dimasukin laporan bulan lho." serobot Lia.

"Kok bisa sih? Kalian nggak minta ke KS kalian? Tunggu dulu, jangan-jangan SK (surat keputusan) mengajar pun kalian belum punya?"

Apa jawaban mereka?

Belum punya.

Oh tidaak! Apa yang saya lakukan selama ini? Mengeluh dan mengeluh. Terlalu mendongak ke atas.

Bukankah betapa beruntungnya saya dibandingkan mereka. Saya sudah punya SK Mengajar, dimasukkan dalam laporan bulan, dan sekarang sudah dimasukkan ke data pusat. Nah, mereka?

Memang benar, saat mata hati kita sudah ditutup dengan rasa tak pernah bersyukur, tak pernah puas, maka kebahagiaan yang seharusnya besar jadi tak kita rasakan.

Dibandingkan mereka, saya lebih beruntung. Selain menjadi guru tidak tetap, saya masih bisa mendapat penghasilan dari nguli-jadi guru privat, bisa dapat pemasukan pula llewat job review di blog, ditambah lagi gaji suami. Kalau ngomongin materi memang tidak akan ada habisnya.

Banyak sedikit materi yang dimiliki setiap orang akan terasa cukup atau tidak cukup tergantung dari diri masing-masing ya. Ada tuh tetangga, yang kerja hanya suaminya saja, gajinya juga tak seberapa, tapi anak-anaknya tumbuh menjadi anak yang sehat dan gendut banget tubuhnya, istrinya juga tidak pernah mengeluhkan kalau keadaan ekonomi keluarganya.

Bersyukur...bersyukur...dan bersyukur. Jangan sampai ditinggalkan!

Masak iya sih, cita-cita mulia menjadi guru harus dikesampingkan hanya karena status guru tidak tetap-dengan embel-embel gaji yang tak seberapa? Kalau bisa jangan mau kalah-lah dengan yang lain!

Tinggalkan kata-kata, "Ah...hanya guru tidak tetap kok!"

Minggu, 17 Mei 2015

Satpam untuk Anak-Anak

Assalamualaikum.

Menjadi guru itu harus serba bisa dan serba siap. Bukan hanya berperan untuk mencerdaskan anak di dalam kelas saja. Justru peran di luar kelas sungguh lebih menantang. Salah satunya guru itu juga bisa jadi satpam untuk anak-anak. Nah kok bisa?

Bertemu, berkumpul, dan berinteraksi dengan anak-anak itu selalu terjadi berbagai kejutan yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya. Saya memiliki berbagai cerita yang menuntut saya sebagai guru sekaligus menjadi satpam untuk anak-anak.

Seperti suatu hari saat saya baru turun dari motor, tiba-tiba ada anak yang menghampiri saya.

“Bu, ada orang gila. Aku takuuuut.” teriak Indah sambil bersembunyi di belakang saya.

“Mana-mana?” saya penasaran. Masak iya sih ada orang gila masuk sekolah ini. Ternyata memang ada. Serem juga orang gilanya. Saya tentu takut kalau orang gilanya ngamuk.

“Bu, orang gilanya mau ke sini....” teriak anak lain yang mengikuti Indah bersembunyi di belakang saya.

Nah lho, saya sendiri sebenarnya juga takut. Tanpa ba-bi-bu lagi saya mengajak anak-anak untuk masuk kelas.

“Ayo lari, kita masuk kelas!” teriak saya mengajak anak-anak. Sekolah masih sepi, hanya ada guru kelas 1 yang sudah antisipasi memasukkan muridnya ke dalam kelas pula.

Akhirnya orang gila itu pergi setelah diusir penjaga sekolah. Huh...lega. Hihihi.

*pliisss jangan ditiru ya. Saya guru kok malah takut sendiri. Tak apalah yang penting saya sudah menyelamatkan anak-anak. Namanya juga anak-anak, katanya takut malah pada nonton di balik kaca jendela*

Itu cerita saya sebagai satpam untuk anak-anak dalam mengusir eh bukan ngumpet dari orang gila. Hihihi. Berbeda lagi dengan cerita yang terjadi hari Jumat kemarin.

Seperti biasa, setiap hari Jumat, semua siswa di sekolah saya mengikuti Jumat sehat. Semua berseragam olah raga dan mengikuti senam di lapangan, termasuk guru-gurunya. Berhubung Senin besok akan dilaksanakan Ujian Nasional bagi siswa SD, semua warga sekolah setelah senam diperintahkan untuk melaksanakan Jumat bersih juga.

Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok. Ada yang membersihkan bagian selatan, utara, dan di depan gerbang sekolah. Karena semua sampah sudah terkumpul, sampah pun dibakar. Nah, dari kegiatan tersebut lagi-lagi saya dituntut menjadi satpam untuk anak-anak.

“Ayo, kalau terlalu dekat dengan api nanti bau kalian nggak enak lho!” teriak saya.

Apakah anak-anak kemudian langsung meng-iyakan perintah saya, sebagian malah penasaran. Seperti murid saya R... (saya ceritakan di SINI dan di SINI).

“Buee....bue...aku tak lompati api ya?”

“Apa???” saya meminta R mengulang ucapannya.

“Aku mau lompat di atas api. Boleh ya, Bue?”

“Loh, itu kan berbahaya. Nanti kalau bajumu kena api terus terbakar gimana?” sergah saya.

“Halaaaaaah.” Dia tak jadi mendekat ke api dan memilih mencari kegiatan lain. 

Sejak permintaan R yang aneh-aneh itu, saya jadiwas-was. Jiwa satpam saya muncul. Kemana R pergi, saya awasi. Takut kalau dia aneh-aneh. Anak-anak lain? Masih bisa dipantau dari jauh kalau R ini kan memang anak saya yang spesial.

Dan ternyata benar. Sebentar saja saya tinggal membuah sampah, dia sudah menghilang. Eh setelah saya cari-cari, ternyata dia bersembunyi di dalam kelontong (bahan untuk membuat sumur). Melihat saya mendekat, dia berkata, "Sini Bue, adem, Bue. Aku capek kok, Bue."

"Yaa...yaa...sudah duduk saja di sana." saya sambil manggut-manggut.

R...R... dia emang spesial dibandingkan teman-temannya. Lagi-lagi, saya hanya bisa berkata, "Selama kamu senang dan nyaman lakukanlah, Nak."

Minggu, 10 Mei 2015

Dia Memanggil Saya Bue

Assalamualaikum.

Dia? Dia siapa? Dia adalah Anak Baru yang Spesial. Di balik keterbatasannya, dia sama seperti anak-anak yang lainnya. Memiliki keunikan tersendiri. Beda dari temannya. Yah, meskipun sampai hari ini saya belum menemukan keunikannya dalam hal kognitif. Ah, tak apalah yang penting saya sudah menemukan keunikan lainnya dalam diri anak tersebut.. Tak harus melulu yang berhubungan dengan kognitif. Kecerdasan kan bermacam-macam.

Dia si anak baru tak mau kalah dengan teman-temannya.
Coba tebak anak baru itu yang mana?
Salah satu keunikannya adalah dia memanggil saya bue. Ya, bue. Panggilan lain untuk seorang ibu. Kalau anak-anak yang lain memanggil saya dengan panggilan bu Ika, bu guru, nah kalau dia memanggil saya dengan panggilan bue. Unik. Itulah kesan saya sejak pertama kali menerima dia di kelas saya.

"Bue, mau pipis ya?"

"Bue....bue...itu ditulis ya?"

"Bue...bue...pulangnya masih lama to?"

Saya biarkan dia memanggil saya bue. Yang terpenrting dia nyaman dulu di kelas saya. Merasa diterima di kelas saya. Karena tak mudah sebagai anak baru bisa cepat beradaptasi dengan sekitar. Toh apa salahnya kalau dia memanggil saya bue? Bukankah ibu, mama, mae, bunda, mamak, emak, bue artinya sama?

Rabu, 29 April 2015

Faza Hilang

Assalamualaikum.

Saat istirahat pertama usai, seperti biasa anak-anak langsung berbaris di depan kelas. Barisan yang paling rapi dan tertib akan mendapat giliran masuk pertama. Aktivitas ini ternyata bisa jadi ajang bersaing untuk tiap kelompok. Seru!

Setelah semua masuk, ini giliran saya beraksi.

“Tepuk 2 kali....(prok..prok...)” anak-anak masih heboh.

“Tepuk ikan......” teriak saya mengkondisikan anak-anak.

“Berenang (prok...prok...prok...), cari makan (prok..prok...prok...), dimakan (prok..prok...prok..), sudah kenyang (prok..prok...prok...), diam!” sahut anak-anak.

Anak mulai diam. Mata saya menyisir semua tempat duduk. Eits! Ada yang kosong satu.

“Ada yang tahu Faza dimana?” anak-anak menggeleng. Saya mulai panik. Tasnya ada tapi anaknya tidak ada.

Saya meminta anak-anak untuk melanjutkan tugasnya yang belum selesai karena terpotong waktu istirahat. Saya mencari Faza ke kantin, sekitar sekolah dan satu tempat lagi, kamar mandi. Nihil. Saya tanyakan ke penjaga sekolah. Tak ada yang tahu. Baiklah, saya putuskan untuk kembali ke kelas. Anak-anak menunggu saya.

Selama mengajar, otomatis saya tidak fokus. Masih mengira-ngira hilangnya ke mana si Faza. Eh, tepat setengah jam setelah aya kembali masuk ke kelas, pintu kelas saya diketuk oleh seorang ibu yang saya kenal. Ibu Faza. Bersama Faza pula.

Ternyata, Faza pulang. Dia ganti celana karena celananya kotor terkena beraknya yang tak sengaja kelepasan keluar. Oh tidak. Anak-anak. Anehnya, Faza menangis sesenggukan. Setelah saya tanya, ternyata dia takut diejek teman-temannya. Padahal teman-temannya tidak tahu kalau Faza tadi BAB di celana.

Saya bujuk dia. 10 menit baru berhasil mengajaknya kembali ke kelas. Tak lama dia pun kembali berbaur lagi dengan temannya. Saya pun lega. Faza yang hilang sudah kembali. Dasar, anak-anak. Unik.

Salam,
Bu Guru

Dia Anak Baru yang Spesial

Assalamualaikum.

Dia adalah anak baru di kelas saya, kelas 3 SD. Pindahan dari ibu kota. Awal masuk, pakde-nya sudah mewanti-wanti saya kalau anak ini spesial. Spesial? Dia cilat atau cadel, pemalu, di usianya yang sama seperti anak kelas 3 umumnya, dia masih sangat kurang dalam hal calistung, membaca, menulis dan berhitung. Sangat terlambat.

Kesulitan membacanya bisa jadi karena keadaannya yang cilat atau cadel. Kesulitan menulisnya terletak dari hurufnya yang belum sempurna, antara d dan b dia masih sulit membedakan, menulis huruf d masih sering seperti c dan l yang berdampingan, berhitung ya untuk kelas 3 harusnya sudah bisa penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. Tapi dia belum mampu.

Ah, sudahlah. Dia adalah anugerah bagi saya di siang bolong. Yang penting dia tidak mengganggu teman lainnya. Mau berbaur dengan teman sebayanya itu sudah sangat cukup. Apakah melelahkan? Mulai lelah padahal baru 3 hari. Akan tetapi jangan terlanjur lelah. Ini tanggung  jawab saya agar bisa menaklukan dia, si anak baru yang spesial.

Salam,
Bu guru.

Arsip Blog