Tampilkan postingan dengan label Cerita Sekolah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Sekolah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 Mei 2015

Tes Calistung untuk Kelas 3 SD

Perlukah tes calistung untuk kelas 3 SD? Bagi saya perlu. Tujuannya untuk apa?

Sebentar lagi anak-anak saya, kelas 3 SD, akan segera naik ke kelas 4 SD. Oleh karena itu, saya melakukan tes calistung untuk mereka. Hal itu karena saya ingin mengetahui tingkat kemampuan anak-anak dalam hal calistung (membaca, menulis, dan berhitung) sebelum nantinya mereka mendapatkan materi pelajaran yang lebih kompleks.

Ngomong-ngomong soal calistung, di luar sana akan selalu terjadi perbincangan yang hot. Salah satunya adalah persoalan mulai kapan harusnya anak-anak dikenalkan dengan calistung. Ada tokoh yang mengungkapkan anak-anak usia PAUD itu tidak boleh dikenalkan dengan calistung, tapi ada pula yang mengatakan sebaliknya. Ah, saya tidak terlalu ambil pusing. Karena kenyataan di lapangan masih banyak lho anak-anak kelas 6 SD yang belum bisa membaca.

Di beberapa daerah yang baru tersentuh PAUD dan TK, tentu beda ya dengan yang sudah kenyang dengan pendidikan di PAUD dan TK. Paling tidak anak saat masuk SD akan sedikit tahu tentang calistung. Nah, di sekolah saya paling hanya 30% anak yang kenal dengan calistung saat mulai masuk kelas 1 SD. Tak heran kalau guru di tempat saya mau tidak mau dan tentu harus dengan keikhlasan hati mengajarkan mereka dari nol. Salut deh untuk guru kelas 1 SD.

Salah satu anak melaksanakan tes calistung
Untuk di kelas saya sendiri, awal tahun ajaran lalu, saat saya melakukan tes calistung ada 14 dari 31 anak yang belum bisa membaca lancar lho. Hampir setengahnya kan? Masalah besar bagi saya. Ini sudah kelas 3 SD lho, bagaimana nanti kalau sudah naik kelas dan masih belum bisa membaca lancar? Tepuk jidat.

Dengan sedikit paksaan dan ancaman kalau tidak bisa membaca tidak akan naik kelas 4 SD, saya pun membuat jadwal les membaca setiap kali pulang sekolah selama setengah jam. Tak dipungut biaya. Biayanya cukup dibayar dengan rasa bahagia melihat anak-anak bisa membaca lancar saja sudah lebih dari cukup. Per harinya ada 3 sampai 4 anak. Satu per satu saya latih membaca. Mulai dari teknik mendengarkan, menulis, sampai membaca kata yang agak rumit, misalnya penggunaan ng, ny, dll. Alhamdulillah, selama satu semester les tersebut berjalan ada peningkatan lho. Kini, tinggal satu anak saja yang masih kurang lancar membaca.

Kali ini, untuk kenaikan kelas ke kelas 4 SD saya melakukan kembali tes calistung untuk kelas 3 SD. Diantaranya, tes membaca; saya lakukan dnegan cara memilih teks dan meminta siswa membacanya dengan baik dan tepat. Tentunya dengan memperhatikan tanda baca yang ada. Tes menulis, saat menulis saya ingatkan anak-anak untuk memperhatikan penggunaan huruf kapital dan tanda baca. Tes berhitung, saya tekankan pada penjumlahan, pembagian, pengurangan, dan pembagian.

Rencananya, hasil tes calistung tersebut akan saya masukkan ke dalam raport lengkap dengan narasi kekurangan dan kelebihan anak dalam hal tes calistung. Tentu dengan tujuan agar orang tua tahu bagaimana kemampuan anak selama ini. Terkhusus lagi, saya tidak saya gagal menjadi guru mereka. Karena itu artinya saya goblok mendidik anak!

Mari, kita berjuang, Anak-anak!

Rabu, 20 Mei 2015

Nasib Guru Tidak Tetap (GTT)

(Kamu Tak Sendirian Kok)

Assalamualaikum.

Pernahkah merasa bahwa hidup Anda begitu menyedihkan? Merasa tak pernah beruntung dibandingkan orang lain? Merasa kalau Anda-lah yang selalu bermasalah? Muncul pertanyaan yang selalu memenuhi relung pikiran Anda, “Kok gini ya? Kenapa harus saya? Si itu beruntung banget bisa gini-gitu-gono.”

Saya pernah mengalaminya. Hal itu karena status saya sebagai Guru Tidak Tetap di sekolah negeri tempat saya mengajar saat ini. Jujur, tak ada maksud untuk mengeluh karena status saya tersebut. Hanya saja, selama hampir 1 tahun menjadi guru SD dengan gaji sejak Januari 2015 lalu hanya Rp 300.000/bulan merasa sangat kurang. Rasa itu semakin muncul ketika mendapati kenyataan status saya di SD tersebut belum tercatat di pusat. Sudah capek-capek ngajar, bayaran tak seberapa, eh ini status kepegawaian masih dipertanyakan.

Semakin terpuruk ketika kenyataan Allah mengatakan saya tidak lolos tes CPNS tahun lalu. Perasaan tak beruntung semakin menjadi. Kerja hanya kerja. Berusaha untuk menikmati, bersenang-senang dengan anak-anak, mengingat tujuan menjadi guru, mengingat perjuangan menemukan cita-cita ini akan tetapi masih ada sesuatu yang mengganjal. Kelihatan jelas kalau saya tidak ikhlas dan setengah-setengah menjalankan profesi saya ini.

Sering saya mengeluh kepada-Nya, beginikah nasib guru tidak tetap? Hingga bertemulah saya dengan teman-teman kuliah saya. Kenyataan hidup yang saya sesalkan selama ini ternyata hanyalah secuil kisah yang harusnya saya syukuri.

Tepatnya, awal Mei lalu saat saya datang ke pernikahan teman kuliah. Tentu di sana menjadi ajang pamer “cerita masa kini”. Guru tidak tetap menjadi topik utama dong ya dalam pembicaraan kami. Secara kami lulusan dari Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), meskipun ada juga sih teman yang nglanjutin kuliah S2, kerja di bank atau perusahaan swasta.

Narsis bareng teman-teman kuliah
Pembicaraan itu dimulai oleh teman saya, sebut saja Anik namanya.

"Cha, kamu sudah dapat kelas?" tanya Anik pada saya.

"Sudah, Nik. Lah kamu gimana?"

"Aku kan guru tambahan, Cha. Aku cuma ngajar di kelas 6 untuk pelajaran PKn dan IPS." tambah Anik.

"Loh?? Masak sih? Tapi enak dong kamu bisa nyambi kerja di luar."

"Iihhh...kata siapa? Lha KS (kepala sekolah) minta aku berangkat tiap hari."

"Terus kalau kamu nggak ngajar, kamu ngapain dong?" tanya saya penasaran.

"Ya kalau pagi aku buat teh, Cha. Aku aja pengen nggak berangkat terus bantu ibuku jualan di pasar. Daripada aku nggak ada kerjaan di sekolah. Oya, kamu sudah dimasukin laporan bulanan belum? (laporan ke tingkat UPTD-kecamatan) Aku kok belum ya? Belum dimasukin ke pusat juga. Kalau gitu gimana sih?" cerita panjang lebar dari Anik.

Beda lagi dengan cerita teman saya, Lia.

"Eh aku juga belum dimasukin laporan bulan lho." serobot Lia.

"Kok bisa sih? Kalian nggak minta ke KS kalian? Tunggu dulu, jangan-jangan SK (surat keputusan) mengajar pun kalian belum punya?"

Apa jawaban mereka?

Belum punya.

Oh tidaak! Apa yang saya lakukan selama ini? Mengeluh dan mengeluh. Terlalu mendongak ke atas.

Bukankah betapa beruntungnya saya dibandingkan mereka. Saya sudah punya SK Mengajar, dimasukkan dalam laporan bulan, dan sekarang sudah dimasukkan ke data pusat. Nah, mereka?

Memang benar, saat mata hati kita sudah ditutup dengan rasa tak pernah bersyukur, tak pernah puas, maka kebahagiaan yang seharusnya besar jadi tak kita rasakan.

Dibandingkan mereka, saya lebih beruntung. Selain menjadi guru tidak tetap, saya masih bisa mendapat penghasilan dari nguli-jadi guru privat, bisa dapat pemasukan pula llewat job review di blog, ditambah lagi gaji suami. Kalau ngomongin materi memang tidak akan ada habisnya.

Banyak sedikit materi yang dimiliki setiap orang akan terasa cukup atau tidak cukup tergantung dari diri masing-masing ya. Ada tuh tetangga, yang kerja hanya suaminya saja, gajinya juga tak seberapa, tapi anak-anaknya tumbuh menjadi anak yang sehat dan gendut banget tubuhnya, istrinya juga tidak pernah mengeluhkan kalau keadaan ekonomi keluarganya.

Bersyukur...bersyukur...dan bersyukur. Jangan sampai ditinggalkan!

Masak iya sih, cita-cita mulia menjadi guru harus dikesampingkan hanya karena status guru tidak tetap-dengan embel-embel gaji yang tak seberapa? Kalau bisa jangan mau kalah-lah dengan yang lain!

Tinggalkan kata-kata, "Ah...hanya guru tidak tetap kok!"

Minggu, 17 Mei 2015

Satpam untuk Anak-Anak

Assalamualaikum.

Menjadi guru itu harus serba bisa dan serba siap. Bukan hanya berperan untuk mencerdaskan anak di dalam kelas saja. Justru peran di luar kelas sungguh lebih menantang. Salah satunya guru itu juga bisa jadi satpam untuk anak-anak. Nah kok bisa?

Bertemu, berkumpul, dan berinteraksi dengan anak-anak itu selalu terjadi berbagai kejutan yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya. Saya memiliki berbagai cerita yang menuntut saya sebagai guru sekaligus menjadi satpam untuk anak-anak.

Seperti suatu hari saat saya baru turun dari motor, tiba-tiba ada anak yang menghampiri saya.

“Bu, ada orang gila. Aku takuuuut.” teriak Indah sambil bersembunyi di belakang saya.

“Mana-mana?” saya penasaran. Masak iya sih ada orang gila masuk sekolah ini. Ternyata memang ada. Serem juga orang gilanya. Saya tentu takut kalau orang gilanya ngamuk.

“Bu, orang gilanya mau ke sini....” teriak anak lain yang mengikuti Indah bersembunyi di belakang saya.

Nah lho, saya sendiri sebenarnya juga takut. Tanpa ba-bi-bu lagi saya mengajak anak-anak untuk masuk kelas.

“Ayo lari, kita masuk kelas!” teriak saya mengajak anak-anak. Sekolah masih sepi, hanya ada guru kelas 1 yang sudah antisipasi memasukkan muridnya ke dalam kelas pula.

Akhirnya orang gila itu pergi setelah diusir penjaga sekolah. Huh...lega. Hihihi.

*pliisss jangan ditiru ya. Saya guru kok malah takut sendiri. Tak apalah yang penting saya sudah menyelamatkan anak-anak. Namanya juga anak-anak, katanya takut malah pada nonton di balik kaca jendela*

Itu cerita saya sebagai satpam untuk anak-anak dalam mengusir eh bukan ngumpet dari orang gila. Hihihi. Berbeda lagi dengan cerita yang terjadi hari Jumat kemarin.

Seperti biasa, setiap hari Jumat, semua siswa di sekolah saya mengikuti Jumat sehat. Semua berseragam olah raga dan mengikuti senam di lapangan, termasuk guru-gurunya. Berhubung Senin besok akan dilaksanakan Ujian Nasional bagi siswa SD, semua warga sekolah setelah senam diperintahkan untuk melaksanakan Jumat bersih juga.

Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok. Ada yang membersihkan bagian selatan, utara, dan di depan gerbang sekolah. Karena semua sampah sudah terkumpul, sampah pun dibakar. Nah, dari kegiatan tersebut lagi-lagi saya dituntut menjadi satpam untuk anak-anak.

“Ayo, kalau terlalu dekat dengan api nanti bau kalian nggak enak lho!” teriak saya.

Apakah anak-anak kemudian langsung meng-iyakan perintah saya, sebagian malah penasaran. Seperti murid saya R... (saya ceritakan di SINI dan di SINI).

“Buee....bue...aku tak lompati api ya?”

“Apa???” saya meminta R mengulang ucapannya.

“Aku mau lompat di atas api. Boleh ya, Bue?”

“Loh, itu kan berbahaya. Nanti kalau bajumu kena api terus terbakar gimana?” sergah saya.

“Halaaaaaah.” Dia tak jadi mendekat ke api dan memilih mencari kegiatan lain. 

Sejak permintaan R yang aneh-aneh itu, saya jadiwas-was. Jiwa satpam saya muncul. Kemana R pergi, saya awasi. Takut kalau dia aneh-aneh. Anak-anak lain? Masih bisa dipantau dari jauh kalau R ini kan memang anak saya yang spesial.

Dan ternyata benar. Sebentar saja saya tinggal membuah sampah, dia sudah menghilang. Eh setelah saya cari-cari, ternyata dia bersembunyi di dalam kelontong (bahan untuk membuat sumur). Melihat saya mendekat, dia berkata, "Sini Bue, adem, Bue. Aku capek kok, Bue."

"Yaa...yaa...sudah duduk saja di sana." saya sambil manggut-manggut.

R...R... dia emang spesial dibandingkan teman-temannya. Lagi-lagi, saya hanya bisa berkata, "Selama kamu senang dan nyaman lakukanlah, Nak."

Sabtu, 16 Mei 2015

Nrimo Ing Pandhum

Assalamualaikum.

Setiap hari kita berkomunikasi dengan orang lain. Berkutat dengan segala apa yang ada di sekitar kita. Banyak kejadian yang terjadi. Semua tak terduga. Kita tak dapat mereka-reka. Ah, yang penting jangan pernah lupa kalau apa yang kita lakukan harus dilandasi semata karena Allah.
***
Sabar, nrimo ing pandhum (menerima apa yang sudah digariskan), rasanya itu memang sulit. Pengalaman lah yang nantinya akan mengajari kita arti sebenarnya dari nrimo ing pandhum. Butuh waktu dan proses. Apakah lama? Tergantung dari diri kita masing-masing.

Ada kalanya, si A, begitu cepat mengambil hikmah dari apa yang dia alami dan kemudian belajar bangkit dari hal tersebut. Namun ada pula si B, yang begitu naif hingga tak tahu apa yang sebenarnya terjadi bahkan bisa sampai jatuh di lubang yang sama. Bodohkan si B? Tidak. Prosesnya saja yang agak lola-loading lama.
Sumber di SINI
Nrimo ing pandhum, salah satu contoh kisahnya, Anda sudah bekerja begitu sangat keras dan maksimal menyelesaikan tugas, sedangkan ada seorang teman Anda (satu tim) yang hanya bekerja ala kadarnya. Eh tahu-tahu endingnya justru dia yang memperoleh materi yang lebih dibandingkan Anda. Apakah Anda merasa kesal?

Pernah mengalami kejadian serupa?

Perasaan kesal pasti akan muncul. Merasa tak adil. Pertanyaan, "Kok gini?" pasti akan muncul dalam benak kita.

Sadarkah Anda?

"Jika memang kerja keras saya tak dihargai dengan materi yang setimpal. Saya yakin kurangnya itu akan diganti oleh Allah dengan yang lainnya. Saya akan diberi keluarga yang bahagia, sehat, cinta kasih yang melimpah, dll."

Ah, seandainya perasaan nrimo ing pandhum itu muncul di setiap hati seseorang. Dunia ini akan begitu damai. Hihihi. Akan ada sebuah pengakuan yang begitu arif seperti di atas.

Nrimo ing pandhum bukan berarti yo wis lah, tak ada usaha. Nrimo ing pandhum itu lebih menyerahkan semua kepada Allah dan meyakini kalau Allah memiliki cerita lain untuk kita. Dunia ini akan indah jika setiap manusia paham betul arti dari Nrimo ing pandhum.

Kamis, 14 Mei 2015

Telepon Berdering di Pagi Hari

Assalamualaikum.

Nada dering asli dari HP saya berbunyi. Siapa sih pagi-pagi gini telepon? Saya paling males mengangkat telepon saat hendak berangkat ke sekolah. Menengok layar HP. Nama yang muncul dan berkedip-kedip itu...

"Ortu R....."

Nama orang tua murid saya yang baru (saya ceritakan di sini). Ada apa? Batin saya.

"Assalamualaikum..." sapa saya.

"Wallaikumsalam. Maaf Bu, pagi-pagi saya telepon. Ini saya orang tua R.... Boleh minta tolong ya Bu, saya tolong dipinjami buku paket Matematika, Bu. Nanti saya fotokopi. Untuk belajar R... di rumah."

"Oh ya, nanti saya berikan ke R...." jawab saya.

"Bu, R... kalau di sekolah seperti apa ya, Bu? Bisa mengikuti tidak?"

"Jujur ya, Pak. Sebenarnya di sekolah R... tidak bisa mengikuti pelajaran seperti yang lainnya. Untuk menulis pun sering tidak mau. Jadi, saya ya tidak bisa memaksakan kalau dia harus bisa mengikuti pelajaran seperti teman-temannya. Sementara ini biarlah seperti ini dulu. Mohon bantuannya kalau di rumah Bapak pantau. Di sekolah biasanya say aberi tugas sendiri yang beda dengan teman-temannya. Dan usahakan setiap hari R... tetap masuk agar bisa bersosialisasi dengan teman-temannya."

Telepon akhirnya baru ditutup setelah pembicaraan hampir 10 menit. Menyita waktu saya memang. Akan tetapi, ada rasa senang juga kalau ada orang tua murid yang perhatian kepada anaknya seperti ini. Sungguh jarang orang tua murid di tempat saya yang perhatian pada perkembangan anak di sekolah.

Lagi-lagi saya hanya ingin mengatakan kalau kesuksesan anak tidak hanya terletak pada peran seorang guru saja, akan tetapi peran orang tua dan lingkungan juga. Jadi, marilah kita saling memperhatikan anak-anak. Agar kelak, tak ada kata penyesalan.

Minggu, 10 Mei 2015

Dia Memanggil Saya Bue

Assalamualaikum.

Dia? Dia siapa? Dia adalah Anak Baru yang Spesial. Di balik keterbatasannya, dia sama seperti anak-anak yang lainnya. Memiliki keunikan tersendiri. Beda dari temannya. Yah, meskipun sampai hari ini saya belum menemukan keunikannya dalam hal kognitif. Ah, tak apalah yang penting saya sudah menemukan keunikan lainnya dalam diri anak tersebut.. Tak harus melulu yang berhubungan dengan kognitif. Kecerdasan kan bermacam-macam.

Dia si anak baru tak mau kalah dengan teman-temannya.
Coba tebak anak baru itu yang mana?
Salah satu keunikannya adalah dia memanggil saya bue. Ya, bue. Panggilan lain untuk seorang ibu. Kalau anak-anak yang lain memanggil saya dengan panggilan bu Ika, bu guru, nah kalau dia memanggil saya dengan panggilan bue. Unik. Itulah kesan saya sejak pertama kali menerima dia di kelas saya.

"Bue, mau pipis ya?"

"Bue....bue...itu ditulis ya?"

"Bue...bue...pulangnya masih lama to?"

Saya biarkan dia memanggil saya bue. Yang terpenrting dia nyaman dulu di kelas saya. Merasa diterima di kelas saya. Karena tak mudah sebagai anak baru bisa cepat beradaptasi dengan sekitar. Toh apa salahnya kalau dia memanggil saya bue? Bukankah ibu, mama, mae, bunda, mamak, emak, bue artinya sama?

Rabu, 29 April 2015

Faza Hilang

Assalamualaikum.

Saat istirahat pertama usai, seperti biasa anak-anak langsung berbaris di depan kelas. Barisan yang paling rapi dan tertib akan mendapat giliran masuk pertama. Aktivitas ini ternyata bisa jadi ajang bersaing untuk tiap kelompok. Seru!

Setelah semua masuk, ini giliran saya beraksi.

“Tepuk 2 kali....(prok..prok...)” anak-anak masih heboh.

“Tepuk ikan......” teriak saya mengkondisikan anak-anak.

“Berenang (prok...prok...prok...), cari makan (prok..prok...prok...), dimakan (prok..prok...prok..), sudah kenyang (prok..prok...prok...), diam!” sahut anak-anak.

Anak mulai diam. Mata saya menyisir semua tempat duduk. Eits! Ada yang kosong satu.

“Ada yang tahu Faza dimana?” anak-anak menggeleng. Saya mulai panik. Tasnya ada tapi anaknya tidak ada.

Saya meminta anak-anak untuk melanjutkan tugasnya yang belum selesai karena terpotong waktu istirahat. Saya mencari Faza ke kantin, sekitar sekolah dan satu tempat lagi, kamar mandi. Nihil. Saya tanyakan ke penjaga sekolah. Tak ada yang tahu. Baiklah, saya putuskan untuk kembali ke kelas. Anak-anak menunggu saya.

Selama mengajar, otomatis saya tidak fokus. Masih mengira-ngira hilangnya ke mana si Faza. Eh, tepat setengah jam setelah aya kembali masuk ke kelas, pintu kelas saya diketuk oleh seorang ibu yang saya kenal. Ibu Faza. Bersama Faza pula.

Ternyata, Faza pulang. Dia ganti celana karena celananya kotor terkena beraknya yang tak sengaja kelepasan keluar. Oh tidak. Anak-anak. Anehnya, Faza menangis sesenggukan. Setelah saya tanya, ternyata dia takut diejek teman-temannya. Padahal teman-temannya tidak tahu kalau Faza tadi BAB di celana.

Saya bujuk dia. 10 menit baru berhasil mengajaknya kembali ke kelas. Tak lama dia pun kembali berbaur lagi dengan temannya. Saya pun lega. Faza yang hilang sudah kembali. Dasar, anak-anak. Unik.

Salam,
Bu Guru

Dia Anak Baru yang Spesial

Assalamualaikum.

Dia adalah anak baru di kelas saya, kelas 3 SD. Pindahan dari ibu kota. Awal masuk, pakde-nya sudah mewanti-wanti saya kalau anak ini spesial. Spesial? Dia cilat atau cadel, pemalu, di usianya yang sama seperti anak kelas 3 umumnya, dia masih sangat kurang dalam hal calistung, membaca, menulis dan berhitung. Sangat terlambat.

Kesulitan membacanya bisa jadi karena keadaannya yang cilat atau cadel. Kesulitan menulisnya terletak dari hurufnya yang belum sempurna, antara d dan b dia masih sulit membedakan, menulis huruf d masih sering seperti c dan l yang berdampingan, berhitung ya untuk kelas 3 harusnya sudah bisa penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. Tapi dia belum mampu.

Ah, sudahlah. Dia adalah anugerah bagi saya di siang bolong. Yang penting dia tidak mengganggu teman lainnya. Mau berbaur dengan teman sebayanya itu sudah sangat cukup. Apakah melelahkan? Mulai lelah padahal baru 3 hari. Akan tetapi jangan terlanjur lelah. Ini tanggung  jawab saya agar bisa menaklukan dia, si anak baru yang spesial.

Salam,
Bu guru.

Selasa, 23 Desember 2014

Ah, Bu Guru ZONK

"Ah, Bu guru Zonk!”
Begitulah teriak Fatta, siswa saya yang terkenal kritis di kelas.
Saya terperanjat. Diam seketika kemudian tertawa lepas yang diikuti suara tawa semua anak di kelas.
Ah, Bu guru Zonk

Kejadian tersebut terjadi saat pelajaran Bahasa Jawa tentang tokoh Werkudara. Di saat saya bercerita tentang tokoh wayang tersebut, tiba-tiba Fatta melemparkan pertanyaan.

“Bu, kalau yang di Mahabharata itu..itu yang Drupadi istrinya siapa, Bu?”
Jleb! Karena saya tidak hobi nonton Mahabharata alhasil tak tahu lah jawabannya. Apalagi saya termasuk lemah kalau harus berkutat dengan materi sejarah.

“Bu guru tidak tahu Ta, nanti Bu Ika cari dulu ya?” dan jawaban dia?
“Ah, Bu guru Zonk!”

Hahahaha. Kalau ingat kejadian hari itu saya hanya cengengesan.

Tak ada sakit hati. Yang ada adalah rasa malu. Saya seorang guru, panutan mereka, yang dianggap mereka serba bisa, pertanyaan segampang itu saya tidak bisa.

Ah, Bu guru ZONK!

Karena Fatta, kini saya sering menonton acara Mahabharata. Kali-kali kalau ada anak yang tanya lagi jadinya tidak mengecewakan mereka lagi. Akan tetapi, kejadian tersebut memberikan pelajaran penting untuk saya. Lebih baik saya mengatakan tidak tahu dan kemudian mencarikan jawabannya di lain waktu dibandingkan saya harus mengarang jawaban dan ternyata jawaban itu tidak tepat. Pembodohan masal namanya. Dan parahnya ini semua akan diingat mereka sampai nanti dewasa.

Manusia. Ingin rasanya tidak ada lagi kata-kata, “Ah, Bu guru Zonk!” Jalan satu-satunya adalah saya juga harus selalu belajar. Update selalu. Jangan sampai saya hanya meminta anak-anak untuk rajin belajar sedangkan saya hanya berleha-leha. Kapan anak-anak jadi penerus bangsa yang berkualitas? 

Good bye Bu Guru Zonk!

Sabtu, 15 November 2014

(Jangan) Melewatkan Kesempatan

“Ah guru baru, GTT, bisa apa sih?”
“Nanti kalau saya tidak bisa bagaimana? Nanti kalau ini bagaimana?”
“Anak-anak bagaimana?”

***

Banyak alasan tidak akan maju. Sudahlah dicoba dulu. Bagaimana nanti urusan belakang. Itulah yang saya ucapkan pada diri saya sendiri setelah semua terjadi. Dan hanya penyesalan yang ada.

***

Yang guru pasti pada tahu ya kalau akhir-akhir ini banyak kegiatan lomba yang diadakan untuk memperingati HUT PGRI (beda tempat beda cerita juga sih ya). Nah, di tempat saya ada lomba voli tingkat kecamatan. Diharuskan masing-masing gugus mengeluarkan atlet guru Pa dan guru Pi.

Bagian bapak guru yang latihan voli
Alhasil, beberapa guru di sekolah saya pun mengikuti latihan voli yang nantinya akan dipilih tim inti, masing-masing 6 orang baik untuk Pa dan Pi. Jujur, selama latihan saya sedikit ogah-ogahan meskipun kata teman-teman saya ini bisa main voli dibandingkan yang lainnya. Entahlah, saya berat banget meninggalkan anak-anak. Ditambah lagi cuaca yang sangat tidak bersahabat. Apalagi setelah pulang sekolah saya harus nguli lagi. Lama tidak olah raga jadi rasanya tubuh cepat capek. Banyak alasan!

Setelah seminggu latihan, pas hari Kamis, ada latihan lagi. Sayang seribu sayang, bersamaan dengan puasa sunah (seharusnya nggak jadi alasan ya, hiks) saya pun tidak berangkat latihan. Dan apa yang terjadi? Hari itu dibentuklah tim inti.

“Wah, Bu...Bu... kenapa tidak berangkat? Harusnya kan kamu ikut tim inti. Coba tadi kamu bernagkat, Bu.”

Lesu.

Menyesal? Iya! Tapi apa guna? Kemarin sih malas-malasan. Ogah-ogahan. Padahal ini adalah pembuktian, kesempatan untuk menunjukkan siapa saya ini. Bukankah memang guru itu tugasnya tidak hanya mengajar di dalam kelas ya? Haduh! Catat!

Pernahkah Anda mengalami hal yang sama, melewatkan kesempatan yang berharga??

Kamis, 06 November 2014

Guru: Digugu lan Ditiru

Benar saja ungkapan ini, gurunya kencing berdiri, murid kencing berlari. Duh..duh...duh...Gurunya tidak pakai sepatu, muridnya juga. Gurunya membuang sampah sembarangan siswanya apalagi. Hehehe...

Anak-anak zaman sekarang itu cerdas, bahkan kelewat cerdas. Sangat kritis. Meninggalkan apa faktor penyebabnya, sebagai guru saya harus bisa mensiasatinya dong ya. Jangan sampai gelagapan di depan anak-anak.

Guru itu pekerjaan yang paling mulia tur banyak yang memburu (saat ini). Terhitung, fakultas KIP tak pernah sepi apalagi kekurangan mahasiswa. Mungkin, diantara mereka ada yang memandang jadi guru itu enak, pulang cepat, gajinya sekarung. Hahaha. Jadinya pada ‘terpaksa’ masuk FKIP. Semoga saja hanya sebagian ya, yang lainnya niat banget jadi guru.

Seandainya saja mereka tahu. Guru itu...

Kata teman, tak hanya siswa yang belajar, guru juga seperti itu. Pun saya merasa seperti itu. Semenjak jadi guru banyak hal yang berubah dalam diri saya. Paling menonjol adalah dalam hal bersikap.

Berbahasa, kini saya lebih terbiasa berbicara dengan menggunakan bahasa krama alus kalau terpaksa nggak tahu bahasa krama suatu kata saya menggunakan bahasa Indonesia. Hehehe. Ketahuan ya nilai bahasa Jawa saya dulu berapa.

Pernah, ketika saya marah kepada salah satu siswa menggunakan bahasa ngoko dengan menyebut kata “kowe” rasanya kok ya tidak pantas. Sakitnya lagi saat ada anak-anak yang berbicara dengan saya, “Bu, kowe....” sedih banget. Tapi kan saya mengajari mereka seperti itu. Memberi contoh mereka demikian. Semenjak kejadian tersebut saya lebih berhati-hati, menjaga lisan dan mengingat siapa saya, GURU.

Kuku, semenjak saya TK, selalu diajarkan oleh guru saya untuk menjaga kebersihan. Salah satunya kebersihan kuku. Setiap hari Senin pasti ada periksa kuku. Guru saya membawa senjata berupa penggaris jadi kalau ada anak yang kukunya belum dipotongi pasti kena ‘senggol’ penggaris bu guru. Karena terbiasa, sampai sekarang pun saya tak pernah memanjangkan kuku saya. Jijik kalau melihat kuku yang hitam-hitam.

Ilmu kuku tersebut saya tularkan kepada anak-anak. Tapi tanpa senjata penggaris lho ya. Nah, namanya juga manusia, kadang saya lupa periksa kuku anak-anak. Senin kemarin, saya hendak periksa kuku. Hati saya gelisah. Karena kuku saya sendiri belum saya potongi. Periksa kuku tetap saya laksanakan dengan catatan jangan sampai ada anak yang tahu kalau kuku saya agak panjang. Kegelisahan saya lewaaattt. Periksa kuku kelar. Banyak siswa yang kukunya hitam-hitam seperti macan. Hiks...harus selalu diingatkan.

Eittss, tunggu dulu. Waktu pulang sekolah tiba.
“Bu Guru curang, masak anak-anak nggak boleh kukunya panjang, tapi Bu Guru kukunya panjang.” teriak Fatta, siswa paling kritis di kelas saya.
Akhirnya, saya meminta maaf dan berjanji esok hari kuku saya akan bersih, begitu juga anak-anak. Ingat, saya ini GURU.

Satu lagi cerita konyol yang nendang saya sebagai GURU. Ini memang bukan cerita di kelas saya, akan tetapi rasanya kok ya gimana gitu.

Sekolah tempat saya mengajar ini lapangannya masih bentuk tanah, jadi kalau musim hujan bisa dibayangin lah ya? Lantai kelas yang berkeramik putih pasti akan ternoda. Alhasil sekolah membuatkan rak sepatu di depan kelas untuk meletakkan sepatu anak-anak. Itu kalau musim hujan. Kalau musim kemarau? Sepatu bisa masuk kelas kan?

“Pagi-pagi kok sudah nyeker (tak mengenakan sepatu), kenapa?” tanya saya pada segerombolan anak kelas sebelah. “Kalau kalian pernah lihat berita, banyak lho anak-anak yang tak seberuntung kalian. Sekolah nyeker karena tidak punya uang untuk membeli sepatu. Nah, kalian?”

Anak-anak nyeker
“Alaaah, Bu. Bu A kalau di kelas juga nyeker.” Langsung makjleb deh ya. No komen lagi. Benar saja, ketika jam istirahat saya melihat guru yang dimaksud riwa-riwi nyeker. Bahkan pimpinan sekolah mengenakan sandala kalau di sekolah. Tepok jidat.

Ah, saya tak bermaksud menghakimi. Tapi inilah kesinambungan antara siswa dan guru. Mereka butuh contoh, bukan perintah. Semua orang bisa nuntut, tapi sedikit yang bisa memberi contoh. Kalau sudah seperti ini, ingat saja siapa saya ini? Ya, GURU. Digugu lan ditiru.

Kalau kata ibu, "Iling tujuan, Nduk."

Senin, 27 Oktober 2014

Bentuk Lain Perhatian Orang Tua Siswa

Bentuk perhatian orang tua kepada anaknya tidak harus selalu setuju dengan apa yang saya lakukan, katakan, bahkan saya pikirkan. Jelas saja, selain saya mendapat dukungan dari orang tua siswa seperti yang saya ceritakan di Akibat Adanya Raport Bulanan, pun saya juga pernah lho di”LABRAK” oleh orang tua siswa.

Labrak di sini bukan berarti saya dimarah-marahi, dimaki, bahkan diancam untuk diminta tidak lagi mengajar anaknya. Akan tetapi adalah sebuah bentuk ketidak setujuan bahkan terkesan menyalahkan saya sebagai guru baru yang belum tahu bagaimana anaknya. Hal itu terlihat dari kata beliau, “Bu Guru yang dulu juga tidak pernah berkata kalau anak saya sering mengganggu temannya, mungkin Anda yang belum mengenal anak saya!” 

Saya bersama anak-anak
Saya menjawab sekenanya, “Mohon maaf, Bu. Saya hanya menuliskan apa yang saya temukan di kelas.”

“Tapi anak saya kalau di rumah juga tidak pernah aneh-aneh.” Ibu itu masih ngotot.

“Iya, Bu. Saya mohon maaf apabila ibu tidak berkenan.”

Selepas kepergiannya, saya tetap teguh dengan temuan saya. Hanya saja saya tidak perlu memaksakan pendapat saya. Inilah tugas seorang guru, tidak hanya bertugas memfasilitasi siswa dalam proses pembelajaran akan tetapi berperan sebagai seorang psikolog pula, apa yang salah? Segera menyelidikinya.

Inilah yang tidak saya dapatkan selama hampir 4 tahun kuliah. Dunia kerja itu amazing sekali. Satu masalah kelar masalah lain datang. Pun seorang guru meskipun banyak masalah harus tetap prima di depan anak-anak. Kalau secara teori namanya profesional gitu. Hehehe.

Tidak semua masalah harus diselesaikan saat itu juga. Bisa-bisa gila deh. Saya nikmati saja perjalan hidup saya bersama anak-anak. Terselip doa semoga diberikan jalan keluar atas masalah yang sedang saya hadapi.

Eh eh eh, alhamdulillah. Tak menunggu lama, Allah memberikan jawaban atas masalah di atas. Caranya tak terduga pula.

Begini ceritanya, saat itu ada seorang anak sedang mengintip kelas kami. Dia anak kelas 2. Saya bertanya padanya, “Cari siapa, Dik?” Kemudian salah satu siswa saya ada yang menjawab, “Itu adiknya A, Bu.”

“Oh, ini adik kamu A. Makanya kok mirip sekali. Saudara kamu ada berapa A?” kata saya tanpa menaruh curiga apapun. Karena malu anak yang di pintu tadi kemudian berlari meninggalkan kelas saya.

“Dua, Bu.” Jawab A senyum-senyum bahagia.

“Itu to Bu, A kalau di rumah sering dimarahin ibunya. Kan yang disayang adiknya tadi, Bu.” Ada siswa yang nyeletuk seperti itu. Tetangga rumahnya. Wah, seru nih, pikir saya.

“Wah, A di rumah nakal ya? Kok dimarahin ibu terus?”

A malah diam. Saya tak meneruskannya. Ketika istirahat, kebetulan A sering sekali berdiri di depan meja saya, memperhatikan apa yang saya lalukan. Dia juga sering mewawancarai saya, bahkan menggoda saya, “Bu Ika kok cantik sekali sih?” hehe dengan guyonan khas anak-anak, tapi saya tetap tersipu malu. “Terima kasih A.”

Dengan suasana santai, saya menggunakan kesempatan tersebut untuk mewawancarai A juga. Tentunya tentang marah-dimarahin ibunya tadi.

“A sering bantu ibu tidak kalau di rumah?”
“Bantu apa, Bu?”
“Ya, bantu nyuci piring, membersihkan tempat tidur, mungkin nyapu.”
“Ya, pernah, Bu.”
“Kalau pernah berarti jarang bantu ibu ya?? Hayooo...”
“Lha ibuku galak kok, Bu. Pasti adikku terus yang dibela. Aku dimarahin terus kok, Bu.”

Sampai sini saya sedikit ada gambaran. Inikah bentuk pelampiasan kurang perhatian anak di rumah sehingga di sekolah dengan caranya sendiri -mengganggu temannya- agar bisa saya perhatikan? Saya tak berhenti di sini. Tak kurang akal dong ya. Bertanyalah saya pada guru lainnya. Karena di desa, inilah keuntungannya, hampir semua guru kenal dengan orang tua siswa, kan tetanggaan. Dan ternyata, dugaan saya itu benar. Selama di rumah ibunya memang berat sebelah dalam hal memberikan perhatian kepada anak-anaknya.

Baiklah. Masalah ini saya anggap selesai. Saya tak harus ngotot menunjukkan kalau pendapat saya lah yang paling benar. Pelajaran baru nih untuk saya. Tugas saya selanjutnya adalah meluruskan A agar ia tak sering mengganggu teman lainnya. Karena saya memiliki catatan penting, A ini sebenarnya memiliki bakat bernyanyi yang OK, dia pun suka sekali dipuji, kalau dipuji dia pasti langsung minta ijin kepada saya untuk maju dan bernyanyi di depan kelas. Saya pun sesekali mempersilahkan, dan raut wajahnya akan berubah sangat lucu saat mendapat tepuk tangan dari temannya karena suaranya yang bagus.

Oh A.... semoga suatu hari cita-citamu dapat tercapai. Penyanyi profesional.

Sabtu, 25 Oktober 2014

Akibat Adanya Raport Bulanan

Raport bulanan adalah salah satu strategi yang saya gunakan untuk menarik perhatian orang tua terhadap prestasi siswa di sekolah. Bukan hanya perkara prestasi secara akademik pun non akademik. Jadi, setiap satu bulan sekali saya akan membagikan lembaran kertas yang berisi nilai-nilai siswa satu kelas lengkap dengan urutannya. Tak lupa catatan penting berkaitan dengan prestasi non akademik untuk masing-masing siswa.

Raport Bulanan

***

Setelah saya posting foto di instagram, ada teman yang BBM saya.
“Bu, kok ada raport bulanan segala?”
“Iya, ortu siswa di tempatku agak kurang perhatian nih. Mau nyoba dulu bagaimana respon mereka.”
“Wah, kalau di tempatku orang tuanya malah hiperaktif, Bu. Apa-apa ditanyain. Saya pakai buku apa, ini dan itu. Bingung malah.”

Itulah isi BBM dari teman yang kebetulan ngajar di sekolah swasta yang terletak di kota pula.

***

Sebenarnya perhatian orang tua itu tidak tergantung sekolah itu swasta atau negeri, di kota atau di desa. Karena sebenarnya di desa juga ada orang tua yang sangat perhatian kepada anak-anaknya (dalam hal ini proses belajar di sekolahnya seperti apa). Apa mungkin karena di desa itu daya saing prestasinya tidak sekuat di kota? Kalau di kota (sebut saja di tingkat kecamatan), banyak siswa yang les ini dan itu di luar sekolah, beda kalau di daerah pinggiran kecamatan. Yang penting anak sekolah. Bahkan ada orang tua yang berangkat kerja pukul 05.00 pulang saat matahari terbenam. Jadi, tidak tahu apakah anaknya sekolah atau tidak.

Mensiasati keadaan tersebut, mencuatlah ide untuk membuat raport bulanan untuk siswa. Akhirnya setelah satu bulan tepat saya mengajar, raport bulanan pun saya bagikan tepat di hari Sabtu.

“Bu, masak raport hanya selembar, Bu.” tanya salah satu siswa yang sudah berdiri di tempat saya.
“Iya ini raport khusus dari bu guru. Kalau raport yang buku itu kan dari sekolah.”
Mereka manggut-manggut.
“Raportnya nanti diberikan kepada bapak atau ibu kalian, kemudian di tanda tangani. Besok Senin dikumpulkan lagi pada Bu Ika.”
“Iyaaaaa, Bu.” jawab mereka serentak.

Setelah beberapa hari pengumpulan raport bulanan, tepatnya saat kelas sudah sepi dan maahari sangat terik di luar sana, saya menemukan ada tulisan tangan di bawah CATATAN dari saya. Ternyata, saya mendapat surat balasan dari salah satu orang tua siswa. Senyum-senyum. YES! Saya mendapat dukungan dari orang tua siswa untuk melanjutkan program ini.

Respon Orang Tua Siswa

Tapi apakah semua orang tua siswa seperti itu? Saya akan ceritakan di postingan selanjutnya ya.

Rabu, 01 Oktober 2014

PR, lagi-lagi PR

Anak-anak itu tidak bisa ditebak ya? Semenit tertawa, semenit kemudian nangis, sepuluh menit kemudian ada yang ngambek. Olala. Kepala saya bisa-bisa pecah kalau tiap hari seperti ini. Eits, bukankah ini sudah jadi konsekuensi saya sebagai guru ya?

Anak-anak kelas 3 SD
***

Pagi itu, setelah kami mengingat materi pembelajaran sebelumnya dan diikuti menyanyikan lagu Sayang Semuanya anak-anak terlihat sangat antusias mengikuti pembelajaran. Lalu saya pun mengingatkan anak-anak tentang PR Matematika.

“Yuk, coba dikeluakan dulu PR Matematikanya.”

Anak-anak pun mengeluarkan bukunya dari dalam tas. “Ada yang tidak mengerjakan?” Tersebutlah 3 (yang ketahuan) anak tidak mengerjakan PR.

“Ayo yang belum mengerjakan PR maju ke depan!” kata saya sambil berkeliling menge-cek satu per satu di meja siswa. Setelah berkeliling, 3 anak yang tidak mengerjakan PR sudah berada di depan kelas untuk mengerjakan PR-nya. Tunggu! Tadinya kursi penuh, kenapa sekarang ada yang kosong selain anak yang maju ke depan.

Ternyata, setelah saya tanyakan ada si ganteng yang pulang ke rumah mengambil buku PR-nya yang ketinggalan tanpa izin dengan saya. Duh Gusti, segitu takutnya kah dia kepada saya sampai-sampai pulang ke rumah (maafkan-untung saja ini di desa jadi letak rumahnya tak terlalu jauh dari sekolah)? Padahal ada anak yang tidak membawa PR kemudian maju ke depan mengerjakan. Kenapa ini anak malah pulang? Kalau di jalan ada apa-apa bagaimana? Saya kecolongan.

Mau tidak mau saya pun melanjutkan pelajaran dengan mencocokkan PR yang sudah mereka kerjakan. Sampai di nomor 2, anak yang pulang tadi sudah sampai di kelas lagi sambil menunjukkan bukunya. Saking takutnya saya kalau terjadi apa-apa ke anak tersebut, nada bicaa saya agak tinggi, “Mas, tadi kan bu guru tidak menyuruh kamu pulang. Itu Mas A, B, dan C mengerjakan di depan. Kalau di jalan ada apa-apa bagaimana?”

Tanpa ba-bi-bu, dia menangis. Ya Allah, saya semakin bersalah. Bermaksud mendisiplinkan mereka tapi mereka tidak siap. Tak ada salahnya anak-anak lupa, tapi kalau terus-terusan apakah harus dibiarkan? Saya pun mendatangi anak tersebut, meminta maaf padanya dan memohon kepadanya agar izin apabila hendak keluar kelas.

Sudahkah sampai di sini? Tidak. Tiba-tiba salah satu anak yang mengerjakan PR di depan kelas ada yang menangis karena diejek temannya. Duh, duh, duh. Saya merasa semakin gagal mengatasi pembelajaran hari itu. Saya pun meminta mereka (yang tidak mengerjakan PR) untuk kembali di tempat duduknya.

“Anak-anak, apakah kalian tidak senang kalau diberi PR?”
Beberapa dari mereka diam. Ada selentingan ucapan “senanggg”.
“Kalau ada PR itu dikerjakan di sekolah atau di rumah?”
“Rumaaah..” jawab mereka serempak.
“Terus, kalau bu guru mau keluar kelas, apakah bu guru pernah tidak izin dengan kalian? (mereka geleng-geleng) Kalau bu guru tidak berangkat ngajar pernahkah bu guru tidak memberi kabar kepada kalian?”
Mereka geleng-geleng.

Semenjak kejadian itu saya sempat galau mau memberikan PR atau tidak ke mereka. Saya pernah ceritakan di Perlukah PR untuk Siswa. Di hari berikutnya, saya pun memutuskan untuk tetap memberikan PR, paling tidak 3 x seminggu. Akan tetapi tiap kali ada PR saya pun tidak lagi mengecek ke meja mereka satu per satu. Tapi apa yang terjadi?

Mereka justru menyepelekan saya. Mereka semakin tidak disiplin, tidak bertanggung jawab. Saya cukup geram. Sampai-sampai pernah suatu hari saat ada PR hanya ada ¼ dari jumlah siswa yang mengerjakan PR. Entah inisiatif dari mana lagi ini, saya meminta siswa yang tidak mengerjakan PR untuk keluar kelas (Duh, kejamnya). Mereka tidak boleh masuk kelas kalau PR-nya belum selesai dikerjakan. Jahatkah saya? Berhasilkah cara ini?

Tidak! Tetap saja ada anak yang tidak mengerjakan PR. Lebih dari 5 jumlahnya. Sampai-sampai saya menggunakan ‘ancaman’.

“Kalau sampai ada anak yang tidak mengerjakan PR sebanyak 3x, ibu akan mengirim surat kepada orang tua kalian.”

Ya Allah, jahat sekali saya ya? Tapi ini salah satu cara yang bisa saya lakukan agar mereka punya disiplin, tanggung jawab, dan mau belajar. Tak banyak PR yang saya berikan, cukup 5 kadang juga 4, 3. Itu semua juga sudah dipelajari di sekolah. PR pun tidak setiap hari. Sampai-sampai saya juga mengingatkan anak-anak, “Kertas yang ada PR-nya itu dilipat agar tidak lupa, Anak-anak!”

Sudah hampir dua minggu berlalu semenjak ‘ancaman’ itu saya layangkan. Alhamdulillah, tanggung jawab anak-anak semakin meningkat. Tidak ada lagi anak-anak yang tidak mengerjakan PR. Sayangnya, sampai sekarang hati saya masih bertanya-tanya, salahkah saya mengancam anak-anak seperti ini? Adakah cara lain? Bagaimana tanggapan Anda?

Rabu, 24 September 2014

Mengenal Warna dengan Bernyanyi

Memiliki anak yang cerdas memang idaman setiap orang tua. Tapi yang perlu diingat, itu semua tidak bisa dipukul rata untuk setiap anak. Mereka memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri. Seperti halnya keponakan saya, Rena.

Oktober nanti Rena berusia 5 tahun. Saat ini sudah masuk TK (tanpa masuk PAUD). Sudah bisa apa dia? Alhamdulillah, dia sudah bisa memegang pensil dengan benar dan pandai meniru. Meniru baik dalam hal menulis, menari, menyanyi, bahkan membuat sesuatu. Satu kekurangannya, dia belum bisa membedakan warna. Kalau hanya menirukan ucapan merah, kuning, hijau, dia handal, tapi kalau menghafalkan?

Rena mengantuk tapi masih ingin belajar

Ya, selama ini dia menyebutkan warna merah dengan warna stoberi, warna oranye dengan warna jeruk, warna hijau dengan warna daun, dll. Inilah PR penting bagi saya. Dia mewarnai OK, bahkan menggambar hooo~ jangan ditanya, dia sudah bisa menggambar “kakak laki-laki dengan mengenakan topi” lho.

Setiap ada kesempatan, setelah pulang mengaji, kira-kira pukul 19.00 WIB, Rena selalu datang ke rumah saya lengkap dengan tasnya. Mengambil meja dan kursi kemudian masuk kamar dan “Ayo De Ka, belajar!”

Kala itu saya berpikir dia harus belajar membedakan warna. Kapan lagi? Tahukah Anda cara apa yang saya gunakan?

Cara pertama, secara konvensional saya menggunakan krayon yang dia miliki sebagai media. Mengambil satu per satu krayon saya tunjukkan kemudian menyebutkan warnanya dan dia menirukan. Awalnya saya menyebutkan 6 warna, tak satupun dia hafal. GAGAL.

Cara kedua, dengan cara pertama saya modifikasi dengan hukuman. Apa hukumannya? Tenang, hukumannya dijamin aman. Bedak. Ya, jadi kalau Rena salah menyebutkan warna maka wajahnya akan saya coret. Sebaliknya, kalau dia benar maka wajah saya yang akan dicoret olehnya. Berhasilkah cara saya ini? Lumayan, tapi saat istirahat sebentar kemudian saya ulang, eh eh eh Rena lupa lagi. Ini anak memang cara belajarnya lemah pada mengahafal. GAGAL.

Wajah Rena yang cemong
Cara ketiga, Gara-gara meja belajarnya ada gambarnya, saya jadi mengaitkan warnya yang ada dengan warna krayon yang dia miliki. Pas saya menyebutkan warna merah, kuning, dan hijau, tahu-tahu Rena bilang, “Itu tho kayak werno pelangi, aku ngerti (Itu seperti warna pelangi, aku tahu)”. Terbesitlah, kenapa tidak dengan bernyanyi saja?

Tahu lah ya, lagu apa yang saya maksud. Yups! Pelangi-pelangi! Menyanyilah kami, saat sampai pada lirik “merah, kuning, hijau, di langit yang biru”, saya sambil menunjukkan krayon dengan warna tersebut. Apa yang terjadi? Cara ini BERHASIL lho. Ya sih hanya 4 warna, tapi yang penting sudah ada kemajuan lah ya.

Namanya juga anak-anak, otaknya akan lebih mudah menerima sesuatu yang konkret. Hehehe. Kenapa nggak kepikiran dari kemarin-kemarin ya? Tapi apa yang Rena alami bisa jadi terjadi juga pada anak atau saudara Anda, bisa jadi juga tidak. Selain itu, kita juga tidak bisa menyamakan cara berpikir kita kepada mereka. Jangan sering mengagungkan kata “kamu harus bisa”. Lebih baik pahami kelebihan apa yang mereka miliki, dan poles pelan-pelan kekurangan mereka. Ingat! Anak itu bukan robot yang baterainya bisa kita ganti setelah ngambek.

Sabtu, 20 September 2014

Ingat! Setiap Anak Itu Unik

Sudah hampir 2 bulan ini saya menjadi guru privat Cantik. Saya hanya bisa berkata, Cantik itu benar-benar beda dengan Nicho. Nicho kalem, pendiam, dan sangat cerdas itu mudah saya taklukkan, lah Cantik?

Cantik saat ini duduk di kelas 3 SD. Anaknya sangat aktif, baik secara tindakan maupun ucapan. Dan satu yang membuat saya surprise sekali, dia bercita-cita ingin menjadi artis. Sungguh sangat berbeda dengan Nicho yang bercita-cita ingin menjadi Romo.

Kalau dilihat dari tingkat kognitifnya, Nicho lebih dibandingkan adiknya ini. Tapi Cantik tak kalah memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh Nicho, yaitu kemampuan verbalnya sangat bagus. Cantik sangat kritis, Nicho? Mungkin kritis tapi tak pernah ditampakkan.

Tahukah Anda sampai sekarang Cantik sering bertanya kepada saya, “Mbak Ika, kenapa sih kok diberi nama kangkung? Kenapa diberi nama meja? Kenapa diberi nama pulpen?.......” masih banyak lagi pertanyaan dia yang awalnya membuat saya gelagapan untuk menjawabnya. Tapi sekarang sih saya sudah terbiasa. Bahkan kalau dia keseringan bertanya, saya jawab, “Wah Mbak Ika belum tahu jawabannya. Buat PR Mbak Ika ya?” Atau “Wah, kita tanya Tuhan, yuk!”

Saya tidak bisa menyalahkan keingintahuannya, karena itu adalah hal yang wajar bahkan menjadi suatu kelebihan yang dimilikinya. Hanya saja saya sering memutar otak, jawab apa ya biar ini anak nggak penasaran? Sampai suatu hari ketika saya mati kutu atas pertanyaan dia, dia malah cerita.

“Dulu pas kelas dua, aku pernah tanya sama bu guru.” kata Cantik.
“Tanya apa sayang?”
“Kan ...kan pas itu bu guru sedang nerangin tentang rumput. Terus aku tanya. Bu, kenapa kok diberi nama rumput?”
“Terus bu guru jawab apa?”
Cantik malah tertawa.
“Loh, kok malah ketawa?”
“Bu guru jawab gini, namanya ya rumput masak namanya Cantik???”
Kami berdua tertawa.
“Terus dek Cantik bagaimana?”
“Ya, aku diam saja. Habis itu nggak tanya-tanya lagi.”

Namanya juga anak-anak ya? Tingkah polahnya bermacam-macam. Tak bisa ditebak. Seperti sore tadi, Cantik agak males belajar. Saya menyadari betul karena tak seperti biasa. Ketika saya tanya, dia menjawab, “Lauknya nggak enak. Aku nggak suka.”

Oalah....anak-anak.  Mau diapakan itulah uniknya anak-anak. Satu sama lainnya berbeda. Kalau Nicho sangat bijak, kalem, dan diam-diam menghanyutkan, adiknya, Cantik, wow banget pokoknya. PR besar saya nih, bagaimana caranya menaklukkan nih anak.

Kamis, 04 September 2014

Perlukah PR untuk Siswa?

Sudah lama saya ingin mencicipi bakso yang ada di dekat sekolah tempat saya mengajar. Alhamdulillah, kesampaian juga. Sebenarnya ada modus lain sih, apalagi kalau bukan mengobrol dengan salah satu orang tua siswa di kelas saya. Penjualnya itu adalah orang tua salah satu siswa saya. Mau tahu lah bagaimana tanggapan orang ta atas kehadiran saya di skeolah tersebut. Guru baru bahkan masih hangat-hangat tai kucing. Hahahahaha.

Biasa ya kalau guru di desa itu harus SKSD (sok kenal sok dekat) plus ramah tamah dengan warga sekitar. Kalau tidak? Wah, gawat ini. Berikut bentuk SKSD saya pada salah satu orang tua siswa saya.

“Bu, mas X kalau di sekolah cukup cerdas, tapi mohon selalu diperhatikan lagi jam belajarnya. Eman-eman kalau sudah cerdas seperti itu tidak dikembangkan lagi.” kata saya.

“Oh, ya Bu. Matur suwun. X itu jarang belajar kalau tidak ada PR. Jadi, tiap hari mbok ya diberi PR, Bu. Biar setiap hari belajar.” Katanya sambil membungkus bakso pesenan saya.

***

Percakapan singkat tersebut membuat saya (guru baru) berpikir, benarkah dengan pemberian PR setiap hari membuat siswa rajin belajar? Memang, saya ketahui guru di kelas sebelumnya, setiap hari memberikan PR kepada siswa. Tapi, selama ini saya memiliki cara mengajar tersendiri, saya selalu berusaha memaksimalkan belajar siswa di kelas dengan cara diskusi, games dan berpendapat sampai dengan penilaian yang hampir setiap hari saya pantau. Pun saya berpikir, anak memiliki hak untuk bermain, kalau seandainya pulang sekolah, istirahat sebentar kemudian sekolah madrasah, kemudian malamnya mengaji, kapan waktu mereka istirahat dan bermain? Rasanya kok kasihan sekali masa kecil mereka.


Selain itu, saya juga berpikir, dengan pemberian PR, PR itu sendiri belum tentu juga hasil murni dari siswa. Bisa jadi karena campur tangan atau bahkan hasil kinerja dari orang lain. Saya kurang srek dengan hal tersebut. Maka dari itu, saya tidak pernah memasukkan nilai PR pada buku daftar nilai siswa. PR pun biasanya saya seminggu sekali itupun kalau materinya memang benar-benar butuh pendalaman dan waktunya di sekolah kurang untuk membahasnya. Kalau memang ternyata di sekolah sudah cukup, ya buat apa PR. Itu bagi saya.

Nah, kalau Anda sendiri, sebagai orang tua, kakak, saudara dari mereka yang masih sekolah, dalam hal ini siswa masih duduk di kelas rendah (kelas 3-kelas saya), perlukah PR untuk siswa? Mohon masukkannya. Terima kasih^^

Arsip Blog