Tampilkan postingan dengan label Siswa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Siswa. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 April 2015

Limbah Kreatif

Assalamualaikum,
Sampah bagian dari permasalahan yang ada di sekitar lingkungan kita. Mengelola sampah menjadi benda yang lebih bermanfaat merupakan sikap yang bijak dalam mengurangi limbah.  Berkat tangan-tangan kreatif berbagai benda yang ada di sekitar sekolah sudah tidak terpakai seperti kertas, koran, kardus yang menumpuk ternyata dapat mnejadi benda-benda yang unik dan menarik. ini adalah hasil karya siswa SMA IT As-Syifa Boarding School.  Mendekor kelas tidak harus dari bahan yang baru seperti kertas karton, tapi gunakanlah barang bekas, dekorasi kelas akan lebih menarik dan tentunya mengurangi kas kelas...
Semoga bisa terinsfirasi setelah melihat hasil karya kreatif ini.



















Selasa, 23 Desember 2014

Ah, Bu Guru ZONK

"Ah, Bu guru Zonk!”
Begitulah teriak Fatta, siswa saya yang terkenal kritis di kelas.
Saya terperanjat. Diam seketika kemudian tertawa lepas yang diikuti suara tawa semua anak di kelas.
Ah, Bu guru Zonk

Kejadian tersebut terjadi saat pelajaran Bahasa Jawa tentang tokoh Werkudara. Di saat saya bercerita tentang tokoh wayang tersebut, tiba-tiba Fatta melemparkan pertanyaan.

“Bu, kalau yang di Mahabharata itu..itu yang Drupadi istrinya siapa, Bu?”
Jleb! Karena saya tidak hobi nonton Mahabharata alhasil tak tahu lah jawabannya. Apalagi saya termasuk lemah kalau harus berkutat dengan materi sejarah.

“Bu guru tidak tahu Ta, nanti Bu Ika cari dulu ya?” dan jawaban dia?
“Ah, Bu guru Zonk!”

Hahahaha. Kalau ingat kejadian hari itu saya hanya cengengesan.

Tak ada sakit hati. Yang ada adalah rasa malu. Saya seorang guru, panutan mereka, yang dianggap mereka serba bisa, pertanyaan segampang itu saya tidak bisa.

Ah, Bu guru ZONK!

Karena Fatta, kini saya sering menonton acara Mahabharata. Kali-kali kalau ada anak yang tanya lagi jadinya tidak mengecewakan mereka lagi. Akan tetapi, kejadian tersebut memberikan pelajaran penting untuk saya. Lebih baik saya mengatakan tidak tahu dan kemudian mencarikan jawabannya di lain waktu dibandingkan saya harus mengarang jawaban dan ternyata jawaban itu tidak tepat. Pembodohan masal namanya. Dan parahnya ini semua akan diingat mereka sampai nanti dewasa.

Manusia. Ingin rasanya tidak ada lagi kata-kata, “Ah, Bu guru Zonk!” Jalan satu-satunya adalah saya juga harus selalu belajar. Update selalu. Jangan sampai saya hanya meminta anak-anak untuk rajin belajar sedangkan saya hanya berleha-leha. Kapan anak-anak jadi penerus bangsa yang berkualitas? 

Good bye Bu Guru Zonk!

Kamis, 06 November 2014

Guru: Digugu lan Ditiru

Benar saja ungkapan ini, gurunya kencing berdiri, murid kencing berlari. Duh..duh...duh...Gurunya tidak pakai sepatu, muridnya juga. Gurunya membuang sampah sembarangan siswanya apalagi. Hehehe...

Anak-anak zaman sekarang itu cerdas, bahkan kelewat cerdas. Sangat kritis. Meninggalkan apa faktor penyebabnya, sebagai guru saya harus bisa mensiasatinya dong ya. Jangan sampai gelagapan di depan anak-anak.

Guru itu pekerjaan yang paling mulia tur banyak yang memburu (saat ini). Terhitung, fakultas KIP tak pernah sepi apalagi kekurangan mahasiswa. Mungkin, diantara mereka ada yang memandang jadi guru itu enak, pulang cepat, gajinya sekarung. Hahaha. Jadinya pada ‘terpaksa’ masuk FKIP. Semoga saja hanya sebagian ya, yang lainnya niat banget jadi guru.

Seandainya saja mereka tahu. Guru itu...

Kata teman, tak hanya siswa yang belajar, guru juga seperti itu. Pun saya merasa seperti itu. Semenjak jadi guru banyak hal yang berubah dalam diri saya. Paling menonjol adalah dalam hal bersikap.

Berbahasa, kini saya lebih terbiasa berbicara dengan menggunakan bahasa krama alus kalau terpaksa nggak tahu bahasa krama suatu kata saya menggunakan bahasa Indonesia. Hehehe. Ketahuan ya nilai bahasa Jawa saya dulu berapa.

Pernah, ketika saya marah kepada salah satu siswa menggunakan bahasa ngoko dengan menyebut kata “kowe” rasanya kok ya tidak pantas. Sakitnya lagi saat ada anak-anak yang berbicara dengan saya, “Bu, kowe....” sedih banget. Tapi kan saya mengajari mereka seperti itu. Memberi contoh mereka demikian. Semenjak kejadian tersebut saya lebih berhati-hati, menjaga lisan dan mengingat siapa saya, GURU.

Kuku, semenjak saya TK, selalu diajarkan oleh guru saya untuk menjaga kebersihan. Salah satunya kebersihan kuku. Setiap hari Senin pasti ada periksa kuku. Guru saya membawa senjata berupa penggaris jadi kalau ada anak yang kukunya belum dipotongi pasti kena ‘senggol’ penggaris bu guru. Karena terbiasa, sampai sekarang pun saya tak pernah memanjangkan kuku saya. Jijik kalau melihat kuku yang hitam-hitam.

Ilmu kuku tersebut saya tularkan kepada anak-anak. Tapi tanpa senjata penggaris lho ya. Nah, namanya juga manusia, kadang saya lupa periksa kuku anak-anak. Senin kemarin, saya hendak periksa kuku. Hati saya gelisah. Karena kuku saya sendiri belum saya potongi. Periksa kuku tetap saya laksanakan dengan catatan jangan sampai ada anak yang tahu kalau kuku saya agak panjang. Kegelisahan saya lewaaattt. Periksa kuku kelar. Banyak siswa yang kukunya hitam-hitam seperti macan. Hiks...harus selalu diingatkan.

Eittss, tunggu dulu. Waktu pulang sekolah tiba.
“Bu Guru curang, masak anak-anak nggak boleh kukunya panjang, tapi Bu Guru kukunya panjang.” teriak Fatta, siswa paling kritis di kelas saya.
Akhirnya, saya meminta maaf dan berjanji esok hari kuku saya akan bersih, begitu juga anak-anak. Ingat, saya ini GURU.

Satu lagi cerita konyol yang nendang saya sebagai GURU. Ini memang bukan cerita di kelas saya, akan tetapi rasanya kok ya gimana gitu.

Sekolah tempat saya mengajar ini lapangannya masih bentuk tanah, jadi kalau musim hujan bisa dibayangin lah ya? Lantai kelas yang berkeramik putih pasti akan ternoda. Alhasil sekolah membuatkan rak sepatu di depan kelas untuk meletakkan sepatu anak-anak. Itu kalau musim hujan. Kalau musim kemarau? Sepatu bisa masuk kelas kan?

“Pagi-pagi kok sudah nyeker (tak mengenakan sepatu), kenapa?” tanya saya pada segerombolan anak kelas sebelah. “Kalau kalian pernah lihat berita, banyak lho anak-anak yang tak seberuntung kalian. Sekolah nyeker karena tidak punya uang untuk membeli sepatu. Nah, kalian?”

Anak-anak nyeker
“Alaaah, Bu. Bu A kalau di kelas juga nyeker.” Langsung makjleb deh ya. No komen lagi. Benar saja, ketika jam istirahat saya melihat guru yang dimaksud riwa-riwi nyeker. Bahkan pimpinan sekolah mengenakan sandala kalau di sekolah. Tepok jidat.

Ah, saya tak bermaksud menghakimi. Tapi inilah kesinambungan antara siswa dan guru. Mereka butuh contoh, bukan perintah. Semua orang bisa nuntut, tapi sedikit yang bisa memberi contoh. Kalau sudah seperti ini, ingat saja siapa saya ini? Ya, GURU. Digugu lan ditiru.

Kalau kata ibu, "Iling tujuan, Nduk."

Rabu, 29 Oktober 2014

Jengkol

Pas semua anak sudah mengenakan tas masing-masing, tiba-tiba ada yang teriak.

“Bu Rizki kentuuuttt.” kompak anak-anak sekelompoknya menutup hidung.

“Uh...baunya, Bu. Nggak enak!!”

“Uh...sampai sini, Bu baunya!!” teriak anak yang duduk di sudut lain. Benar saja kipas angin di ruang kelas kami berputar sangat kencang. Bisa dibayangkan dong polusi udara yang diciptakan Rizki bergerak secepat kilat memenuhi ruangan. Sampai ke arah saya. Cadar dadakan pun terpasang.

Uhhh, hadiah yang ngangenin nih. Hahaha.

Berlarilah saya menuju pintu, membukanya leba-lebar. “Riski, tadi makan apa sayang? Kentutnya kok muantaabbb sekali.”

“Hehehhe, jengkol, Bu!!” jawabnya sangat percaya diri.

“Laahh???” saya dan siswa lainnya menjawab kompak. Kemudian hanya tawa yang terdengar.

“Sudah...sudah. Rizki, kemarin kita sudah belajar tentang norma ya? (Rizki manggut-manggut). Kalau kentut sebaiknya bagaimana, Rizki?”

“Ijin keluar dulu, Bu. Tapi kebelet, Buuuu.”

Anak-anak malah tertawa.

“Iya, iya, besok lagi kalau kentut ijin keluar dulu ya sayang, kasihan teman-teman yang lainnya.”

“Hehehehe...” Rizki garuk-garuk kepala. Anak yang lain malah tertawa, Rizki tak kalah ikut tertawa.

Senin, 27 Oktober 2014

Bentuk Lain Perhatian Orang Tua Siswa

Bentuk perhatian orang tua kepada anaknya tidak harus selalu setuju dengan apa yang saya lakukan, katakan, bahkan saya pikirkan. Jelas saja, selain saya mendapat dukungan dari orang tua siswa seperti yang saya ceritakan di Akibat Adanya Raport Bulanan, pun saya juga pernah lho di”LABRAK” oleh orang tua siswa.

Labrak di sini bukan berarti saya dimarah-marahi, dimaki, bahkan diancam untuk diminta tidak lagi mengajar anaknya. Akan tetapi adalah sebuah bentuk ketidak setujuan bahkan terkesan menyalahkan saya sebagai guru baru yang belum tahu bagaimana anaknya. Hal itu terlihat dari kata beliau, “Bu Guru yang dulu juga tidak pernah berkata kalau anak saya sering mengganggu temannya, mungkin Anda yang belum mengenal anak saya!” 

Saya bersama anak-anak
Saya menjawab sekenanya, “Mohon maaf, Bu. Saya hanya menuliskan apa yang saya temukan di kelas.”

“Tapi anak saya kalau di rumah juga tidak pernah aneh-aneh.” Ibu itu masih ngotot.

“Iya, Bu. Saya mohon maaf apabila ibu tidak berkenan.”

Selepas kepergiannya, saya tetap teguh dengan temuan saya. Hanya saja saya tidak perlu memaksakan pendapat saya. Inilah tugas seorang guru, tidak hanya bertugas memfasilitasi siswa dalam proses pembelajaran akan tetapi berperan sebagai seorang psikolog pula, apa yang salah? Segera menyelidikinya.

Inilah yang tidak saya dapatkan selama hampir 4 tahun kuliah. Dunia kerja itu amazing sekali. Satu masalah kelar masalah lain datang. Pun seorang guru meskipun banyak masalah harus tetap prima di depan anak-anak. Kalau secara teori namanya profesional gitu. Hehehe.

Tidak semua masalah harus diselesaikan saat itu juga. Bisa-bisa gila deh. Saya nikmati saja perjalan hidup saya bersama anak-anak. Terselip doa semoga diberikan jalan keluar atas masalah yang sedang saya hadapi.

Eh eh eh, alhamdulillah. Tak menunggu lama, Allah memberikan jawaban atas masalah di atas. Caranya tak terduga pula.

Begini ceritanya, saat itu ada seorang anak sedang mengintip kelas kami. Dia anak kelas 2. Saya bertanya padanya, “Cari siapa, Dik?” Kemudian salah satu siswa saya ada yang menjawab, “Itu adiknya A, Bu.”

“Oh, ini adik kamu A. Makanya kok mirip sekali. Saudara kamu ada berapa A?” kata saya tanpa menaruh curiga apapun. Karena malu anak yang di pintu tadi kemudian berlari meninggalkan kelas saya.

“Dua, Bu.” Jawab A senyum-senyum bahagia.

“Itu to Bu, A kalau di rumah sering dimarahin ibunya. Kan yang disayang adiknya tadi, Bu.” Ada siswa yang nyeletuk seperti itu. Tetangga rumahnya. Wah, seru nih, pikir saya.

“Wah, A di rumah nakal ya? Kok dimarahin ibu terus?”

A malah diam. Saya tak meneruskannya. Ketika istirahat, kebetulan A sering sekali berdiri di depan meja saya, memperhatikan apa yang saya lalukan. Dia juga sering mewawancarai saya, bahkan menggoda saya, “Bu Ika kok cantik sekali sih?” hehe dengan guyonan khas anak-anak, tapi saya tetap tersipu malu. “Terima kasih A.”

Dengan suasana santai, saya menggunakan kesempatan tersebut untuk mewawancarai A juga. Tentunya tentang marah-dimarahin ibunya tadi.

“A sering bantu ibu tidak kalau di rumah?”
“Bantu apa, Bu?”
“Ya, bantu nyuci piring, membersihkan tempat tidur, mungkin nyapu.”
“Ya, pernah, Bu.”
“Kalau pernah berarti jarang bantu ibu ya?? Hayooo...”
“Lha ibuku galak kok, Bu. Pasti adikku terus yang dibela. Aku dimarahin terus kok, Bu.”

Sampai sini saya sedikit ada gambaran. Inikah bentuk pelampiasan kurang perhatian anak di rumah sehingga di sekolah dengan caranya sendiri -mengganggu temannya- agar bisa saya perhatikan? Saya tak berhenti di sini. Tak kurang akal dong ya. Bertanyalah saya pada guru lainnya. Karena di desa, inilah keuntungannya, hampir semua guru kenal dengan orang tua siswa, kan tetanggaan. Dan ternyata, dugaan saya itu benar. Selama di rumah ibunya memang berat sebelah dalam hal memberikan perhatian kepada anak-anaknya.

Baiklah. Masalah ini saya anggap selesai. Saya tak harus ngotot menunjukkan kalau pendapat saya lah yang paling benar. Pelajaran baru nih untuk saya. Tugas saya selanjutnya adalah meluruskan A agar ia tak sering mengganggu teman lainnya. Karena saya memiliki catatan penting, A ini sebenarnya memiliki bakat bernyanyi yang OK, dia pun suka sekali dipuji, kalau dipuji dia pasti langsung minta ijin kepada saya untuk maju dan bernyanyi di depan kelas. Saya pun sesekali mempersilahkan, dan raut wajahnya akan berubah sangat lucu saat mendapat tepuk tangan dari temannya karena suaranya yang bagus.

Oh A.... semoga suatu hari cita-citamu dapat tercapai. Penyanyi profesional.

Sabtu, 25 Oktober 2014

Akibat Adanya Raport Bulanan

Raport bulanan adalah salah satu strategi yang saya gunakan untuk menarik perhatian orang tua terhadap prestasi siswa di sekolah. Bukan hanya perkara prestasi secara akademik pun non akademik. Jadi, setiap satu bulan sekali saya akan membagikan lembaran kertas yang berisi nilai-nilai siswa satu kelas lengkap dengan urutannya. Tak lupa catatan penting berkaitan dengan prestasi non akademik untuk masing-masing siswa.

Raport Bulanan

***

Setelah saya posting foto di instagram, ada teman yang BBM saya.
“Bu, kok ada raport bulanan segala?”
“Iya, ortu siswa di tempatku agak kurang perhatian nih. Mau nyoba dulu bagaimana respon mereka.”
“Wah, kalau di tempatku orang tuanya malah hiperaktif, Bu. Apa-apa ditanyain. Saya pakai buku apa, ini dan itu. Bingung malah.”

Itulah isi BBM dari teman yang kebetulan ngajar di sekolah swasta yang terletak di kota pula.

***

Sebenarnya perhatian orang tua itu tidak tergantung sekolah itu swasta atau negeri, di kota atau di desa. Karena sebenarnya di desa juga ada orang tua yang sangat perhatian kepada anak-anaknya (dalam hal ini proses belajar di sekolahnya seperti apa). Apa mungkin karena di desa itu daya saing prestasinya tidak sekuat di kota? Kalau di kota (sebut saja di tingkat kecamatan), banyak siswa yang les ini dan itu di luar sekolah, beda kalau di daerah pinggiran kecamatan. Yang penting anak sekolah. Bahkan ada orang tua yang berangkat kerja pukul 05.00 pulang saat matahari terbenam. Jadi, tidak tahu apakah anaknya sekolah atau tidak.

Mensiasati keadaan tersebut, mencuatlah ide untuk membuat raport bulanan untuk siswa. Akhirnya setelah satu bulan tepat saya mengajar, raport bulanan pun saya bagikan tepat di hari Sabtu.

“Bu, masak raport hanya selembar, Bu.” tanya salah satu siswa yang sudah berdiri di tempat saya.
“Iya ini raport khusus dari bu guru. Kalau raport yang buku itu kan dari sekolah.”
Mereka manggut-manggut.
“Raportnya nanti diberikan kepada bapak atau ibu kalian, kemudian di tanda tangani. Besok Senin dikumpulkan lagi pada Bu Ika.”
“Iyaaaaa, Bu.” jawab mereka serentak.

Setelah beberapa hari pengumpulan raport bulanan, tepatnya saat kelas sudah sepi dan maahari sangat terik di luar sana, saya menemukan ada tulisan tangan di bawah CATATAN dari saya. Ternyata, saya mendapat surat balasan dari salah satu orang tua siswa. Senyum-senyum. YES! Saya mendapat dukungan dari orang tua siswa untuk melanjutkan program ini.

Respon Orang Tua Siswa

Tapi apakah semua orang tua siswa seperti itu? Saya akan ceritakan di postingan selanjutnya ya.

Arsip Blog