Tampilkan postingan dengan label inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label inspirasi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 April 2015

Limbah Kreatif

Assalamualaikum,
Sampah bagian dari permasalahan yang ada di sekitar lingkungan kita. Mengelola sampah menjadi benda yang lebih bermanfaat merupakan sikap yang bijak dalam mengurangi limbah.  Berkat tangan-tangan kreatif berbagai benda yang ada di sekitar sekolah sudah tidak terpakai seperti kertas, koran, kardus yang menumpuk ternyata dapat mnejadi benda-benda yang unik dan menarik. ini adalah hasil karya siswa SMA IT As-Syifa Boarding School.  Mendekor kelas tidak harus dari bahan yang baru seperti kertas karton, tapi gunakanlah barang bekas, dekorasi kelas akan lebih menarik dan tentunya mengurangi kas kelas...
Semoga bisa terinsfirasi setelah melihat hasil karya kreatif ini.



















Selasa, 31 Maret 2015

Inspirator Generasi Negeri

Tanah nirmala Indonesia telah Allah anugerahkan untuk bangsa ini. Bangsa yang mewarisi berbagai nilai-nilai kearifan, kebijaksanaan, tata krama, dan tentunya penuh dengan cinta. Tercermin dari wajah rupawan yang selalu menyapa di sudut negeri ini pertanda keramahan yang bersahaja, luhur budi pekerti, penuh kasih dan cinta. Alangkah Indahnya negeri ini mewarisi sejuta pesona, senyum saat menyapa dan menjaga etika. Hingga tak heran bangsa ini terkenal dengan bangsa yang “ramah penduduknya”. 

Ramah merupakan sikap yang tercermin pada masyarakat Indonesia. Seolah menyebar cinta kepada siapa saja yang ditemui dengan cara tersenyum dan menyapa. Ramah  adalah nilai yang harus terus diwariskan kepada generasi  negeri ini melalui keteladanan dan pendidikan. Peran penting dari keteladanan dan  pendidikan akan hadir jika guru menjadi pemeran utama dalam mentransfer dan menanamkan  nilai-nilai luhur ini.

Kenyataannya saat ini, aku temui sebuah fenomena para generasi muda yang duduk santai di trotoar jalanan, merokok dan menyanyikan lagu-lagu cinta yang tak sesuai dengan usianya di sekitar lampu merah saat jam-jam sekolah. Usia belia dihabiskan dengan hal yang sia-sia, bukan diisi dengan sejuta prestasi namun dihadapkan pada masalah yang berbenturan dengan moral, hukum dan etika hingga tak jarang  aku dengar pemberitaan anak muda masuk penjara karena masalah narkoba. Disatu sudut kota ku temukan anak muda yang berkata kasar, berani memaki dan menghujat orang tua. Sungguh hal tersebut sangat jauh dari nilai ramah seharusnya. Dimanakah peran pendidikan dalam membentuk generasi yang ramah? generasi yang kental dengan etika sopan dan santun yang mencerminkan budi pekerti yang luhur bangsa ini.

Aku seorang guru. Guru yang akan selalu digugu dan ditiru. Seperti kata Ki Hajar Dewantara “ingarso sun tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani”. Maka setiap perkataan dan perilaku akan menjadi teladan, harus bisa memberikan inspirasi, motivasi, dan membangun semangat generasai penerus bangsa ini. Luar biasa cita-cita yang luhur. Namun, terasa perlu menghela nafas yang berat saat membayangkan aku menjadi sosok guru seperti itu. 

Aku seorang guru. Usia ku menjadi guru masih terbilang muda. Belum genap lima tahun. Tahun pertama menjadi guru aku langsung jatuh cinta. Cinta tumbuh saat ku sapa seluruh siswa tentang cita-citanya sungguh luar biasa. Bagi ku diusia mereka tak terbersit untuk menjadi seorang dokter, chef, peternak ikan, ketua MPR, presiden  bahkan ada yang ingin menjadi pembisnis tempe di Arab dengan alasan harga tempe di sana mahal. Akupun tersenyum bahagia, itulah kesan pertama hingga membuat aku jatuh cinta. Namun di satu sisi aku sedih, mengapa tak satupun diantara mereka ada yang bercita-cita menjadi guru. Waktu  aku duduk di bangku SMP saat usia ku seperti mereka, dengan percaya diri aku ingin menjadi “guru”. Cita-cita itu tak pernah berubah sampai aku duduk di bangku SMA. Hingga Allah menggoreskan takdir terbaik “saat ini aku menjadi guru”.

Sebagian orang memandang sebelah mata sebuah profesi guru. Mungkin karena masalah finansial yang tidak seberapa, atau kesejahteraan yang tak jelas akhirnya. Sungguh itu hanya presefsi orang bermental kerdil saja. Padahal guru bisa hidup lebih sejahtera, bahagia dan kaya raya masalahnya hanya pada mindset saja. Jika guru hanya berfikir  finansial maka rusaklah bangsa ini, yang akan terwariskan adalah generasi dengan pemikiran  hanya mengenyangkan perutnya saja, tak peduli dengan sesama, jauh dari nilai luhur etika yang seharusnya. 

Lumpuhnya bangsa ini dapat dilihat saat guru mulai merasa lelah saat menyapa generasi muda dengan ilmu, tak mampu menorehkan sejuta inspirasi, bahkan tak kuat untuk mambangun pondasi kokoh cita-cita para generasi bangsa ini. “Dimanakah engkau wahai guru ku? guru yang seharusnya tersenyum, ramah, santun, cerdas, dan terus memotivasi dan menyemangati kami. Berikanlah keteladanan kepada kami, sampaikanlah cerita yang menginspirasi kami, bangunlah mimpi kami hingga melambung tinggi, hingga kami tersadar betapa pentingya kami untuk membangun negeri ini” (lirih hati seorang anak negeri). 

Aku adalah guru. Dengan perkataan ku, aku bisa mengubah pandangan generasi muda. Dengan pena ku, akau bisa menggoreskan cita-cita generasi muda. Dengan sikap ku, aku bisa menularkan semangat pada generasi muda. Maka berbahagialah seperti aku, karena aku seorang guru. 

Bukan hanya sekedar guru, namun seorang inspirator dan motivator. Itulah fungsi guru yang terbersit dalam benak ku. Saat memasuki ruang-ruang kelas tak hanya mentranser ilmu, namun ada nilai yang tersampaikan, ada pesan yang tersirat dalam setiap ilmu yang diberikan. Aku guru geografi. Ilmu ini merupakan bagian strstegis dalam mengenalkan generasi bangsa kepada negerinya, Indonesia. Negeri yang Allah anugerahkan dengan sejuta pesona alamnya, etika sopan santun penduduknya, kaya akan budayanya, dan beranekaragam flora dan faunanya. Tak heran negeri ini menyandang gelar “Zamrud Khatuistiwa”. Negeri yang selalu menjadi incaran negara asing dari dulu hingga kini. Negeri ini dulu dijajah hanya karena rempah-rempahnya, saat inipun masih terjajah karena potensi alam dan penduduknya. Penguasaan asset kekayaan alam strategis yang harus dikuasai oleh negara sebagai sumber untuk kesejahteraan rakyat sebagian besar dikuasai bangsa asing, etika dan moral yang mengalami transisi jauh dari nilai luhur budi pekerti negeri ini. 

Dimanakah para generasi negeri saat ini berada?, apakah yang ada dalam benaknya?,  apa yang mereka lakukan?, bagaimana dengan mimpi besarnya?. Datangilah mereka wahai guru dan sampaikanlah dengan penuh cinta agar sampai pada hati dan pikirannya, katakanlah kepada generasi muda “bangsa ini akan lemah, jika engkau tak menjadi generasi yang hebat”. 

Aku guru geografi yang selalu bercerita tentang negeri ini, Indonesia. Menginspirasi dari satu kelas ke kelas lain, dari satu generasi ke genarasi, begitu seterusnya. Aku guru geografi yang bercerita tentang  kehidupan jauh dipelosok negeri, mengajak untuk bersyukur atas kekayaan alam negeri ini, dan  memberikan semangat untuk mengisi kemerdekaan negeri dengan sejuta prestasi. Dari sini, aku bisa memulainya dari profesi ku sebagai “guru”.  Aku bahagia dan aku bangga menjadi “guru geografi” yang mengenalkan generasi pada negeri ini.  
 ..........



Artikel ini di ikut sertakan dalam lomba lomba menulis guru dan orang tua yang diselenggarakan www.sekolah-akhlak.com dan https://motivatorkreatif.wordpress.com serta Komunitas Guru Inspiratif. 




Kamis, 02 Oktober 2014

Learning To Teach

Assalamu'alaikum
Diberlakukannya kurikulum 2013 telah memberikan sebuah intruksi baru kepada setiap satuan pendidikan untuk mengimplementasikan berbagai hal yang erat kaitanya dengan aturan dalam proses pelaksanaan kurikulum 2013. Karakteristik  khas dalam kurikulum 2013 yakni adanya perubahan pada standar kompetensi lulusan, isi, proses dan penilaian yang dikemas melalui pembelajaran saintifik dan penilaian autentik. Tentunya jika mengamati keempat standar tersebut merupakan bagian yang sangat dekat  dengan  proses pembelajaran. Sehingga sudah menjadi sebuah keharusan bagi setiap satuan pendidikan untuk memfasilitasi setiap guru untuk belajar memahami, mau mencoba, dan siap mengimplementasikan proses  pembelajaran yang sesuai dalam kurikulum 2013. Pendekatan saintifik dapat dikemas dalam berbagai model pembelajaran diantaranya discovery learning, inquiry learning, problem based learning, projec based learning atau kolaboratif learning yakni perpaduan antara berbagi teknik-teknik pembelajaran seperti jigsaw, TGT (Team Games Tournaments), STAD (Student Team Achiecement Division), NHT (Numbered Head Together) dan lain-lain. Hal yang terpenting dalam pendekatan saintifik apapun model, metode dan teknik pembelajaran yang digunakan penekanannya pada proses-proses ilmiah didalamnya seperti mengamati, bertanya, mencoba, mengkorelasi dan mengkomunikasikan. 

Bagian dari komitmen SMA IT As-Asyifa dalam mempersiapkan guru yang profesional, maka dalam rangka mengimplementasikan kurikulum 2013 diadakan kegiatan peer teaching. Peer teaching merupakan metode dalam mengajar sesama teman sebaya. Dimana peer teaching ini diadakan pada tanggal 30 september-2 oktober di Aula Umar dan lab kimia SMA IT As-Syifa . Mengajar adalah hal yang biasa bagi seorang guru, namun ketika mengajar siswanya adalah rekan sesama guru maka suasana pembelajaran akan terasa berbeda. Bisa seru, tegang atau bahkan sangat menyenangkan.  Seperti yang sudah di lakukan di SMA IT As Syifa beberapa guru tampil sebagai guru model dengan menggunakan berbagai model-model pembelajaran yang sesuai dengan pendekatan saintifik di kurikulum 2013 seperti  PBL, PjBL, discovery, kolaboratif, inquiry, dan lain-lain.

Tujuan dari peer teaching ini memberikan sebuah contoh implementasi dari kegiatan pembelajaran dengan kata lain memberikan sebuah contoh penerapan model tertentu dalam proses pembelajaran. Selanjutnya guru yang berperan sebagai siswa bisa mengambil ilmu dari apa yang sudah dilihat, dirasakan dan dilakukan saat terlibat dalam proses pembelajaran. Model yang sudah ditampilkan dari beberapa guru bisa diterapkan dalam pembelajaran lain. Inilah makna dari belajar untuk mengajar learning to know, learning to do, dan learning to be.
Proses peer teaching tentunya harus terus  dilakukan sebagai upaya pembekalan dan perbaikan proses pembelajaran bagi guru, dalam hal ini bisa berbagi ilmu,wawasan dalam hal pebelajaran. Inilah salah satu komitmen SMA IT As-Syifa dalam membekali kompetensi guru agar profesional sesuai amanat dalam  pendidikan yakni ikut serta dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

Rabu, 06 Agustus 2014

Tahun Pelajaran Baru, Spirit Baru

Assalamu'alaikum,
Salam sukses guru smart. Bagimana kabarnya setelah libur panjang? Tentunya waktu  yang sangat dinanti untuk berkumpul bersama keluarga yang kita cintai. Setelah libur panjang, dan masih tercium sedap aroma opor ayam, dan lezatnya ketupat  tak lupa saya ucapkan mohon maaf lahir batin, semoga amal kita di terima oleh Allah SWT selama menjalankan ibadah di bulan Ramdhan. Libur sekolah sudah berakhir, saatnya bergegas kembali menuju sekolah untuk menyiapkan segalanya, menyiapkan amunisi untuk persiapan mengajar. Memasuki tahun ajaran baru, tidak sedikit guru yang masih kesulitan dalam merancang berbaga perencanaan, terutama perencaan pembelajaran (RPP), hmm...ini masalah teknis saja, hal yang perlu kita bangun adalah mindset kita selama satu tahun ajaran kedepan yang kita rancang melalui visi dan misi kita selama satu tahun. Ini hanya bagaian dari sedikit target-targe kita sebegai seorang guru yang akan kita capai selama satu tahun pelajaran kedepannya. Bagaimana sudahkah anda membuat rancangannya?. Mudah saja, tuliskan sebanyak-banyaknya harapan yang ingin anda capai selama satu tahun pelajaran, lalu buat strategi bagaimana kita mewujudkannya dalam bentuknya lebih teknis.Bagiman? mudahkan.

Tahun pelajaran 2014-2015 saya mencatatkan beberapa target selama menjai guru SMA IT As Syifa Boarding School, semoga selama satu tahun ini bisa saya realsasikan. Bismillah...
1. Membina Siswa untuk lolos menjadi jura 1, 2, dan 3 di Olimpiade Geografi dan Kebumian tingkat Kabupaten Subang dan Provinsi Jawa Barat.
2. Mencetak Buku modul Smart UN Geografi
3. Merancang SMA IT As Syifa sebagai sekolah ADIWIYATA.
4. Menulis Buku Smart Geografi.
5. Mendokumentasikan RRP Geografi Kreatif selama satu tahun.
6. Mendapatkan No NUPTK.
7. Meloloskan siswa untuk meraih nilai UN Geografi Terendah 7 dan tertinggi 100.
8. Memperingati hari Bumi di sekolah. 
9. Megadakan lomba "LOVE EARTH"
10. dll

di atas hanya beberapa target yang saya tuliskan selama satu tahun pelajaran saya menjadi guru geografi di SMA IT As Syifa di luar rutinitas mengajar, semoga bisa terealisasi. Aamiin. 





Senin, 14 Juli 2014

Cara Download di Smart Geografi

Assalamu'alaikum.
Salam smart teacher. Tulisan kali ini saya akan memandu anda untuk mengikuti langkah-langkah mendownload file-file di smart geografi, saya buat panduan ini agar mempermudah anda dalam melakukan download file yang anda butuhkan. Panduan ini berlaku bagi semua jenis file yang akan anda ambil, baik bank soal, power point, flash geo, dokumen kurikulum, modul un, modul osn, dll. Baik kita mulai saja. 

Tahap 1
Tampilan file-file yang bisa di download seperti di bawah pada lingkaran merah. Silahkan untuk di klik. 


Tahap 2
Setelah anda mengklik file yang akan di download maka akan muncul tampilan berikut, tunggu sampai 5 detik saja...sabar ya ^_^


Tahap 3
Selanjutnya akan muncul tulisan "SKIP AD" terus KLIK 



Tahap 4
Selanjutnya akan muncul tampilan seperti di bawah ini. KLIK DOWNLOAD ya.


Tahap 5
Selanjutnya akan muncul kode. terus masukan kodenya ok! 

Tahap 6
Tahap terakhir, setelah di masukan kodenya. KLIK DOWNLOAD. Alhamdulillah selesai... saatnya menikmati hasil downloadnya... Insya Allah gratis. 

semoga filenya bermanfaat untuk mengembangkan pembelajaran geografi agar lebih menarik dan asik.
salam guru smart.

Selasa, 27 Mei 2014

Pembelajaran Kolaboratif

Apa yang dimaksud dengan pembelajaran kolaboratif? Pembelajaran kolaboratif merupakan suatu filsafat personal, lebih dari sekadar sekadar teknik pembelajaran di kelas-kelas sekolah. Kolaborasi esensinya merupakan filsafat interaksi dan gaya hidup manusia yang menempatkan dan memaknaikerjasama sebagai struktur interaksi yang dirancang secara baik dan disengaja rupa untuk memudahkan usaha kolektif dalam rangka mencapai tujuan bersama.

Pada pembelajaran kolaboratif kewenangan guru fungsi guru lebih bersifat direktif atau manajer belajar, sebaliknya, peserta didiklah yang harus lebih aktif. Jika pembelajaran kolaboratif diposisikan sebagai satu falsafah peribadi, maka ia menyentuh tentang identitas peserta didik terutama jika mereka berhubungan atau berinteraksi dengan yang lain atau guru. Dalam situasi kolaboratif itu, peserta didik berinteraksi dengan empati, saling menghormati, dan menerima kekurangan atau kelebihan masing-masing. Dengan cara semacam ini akan tumbuh rasa aman, sehingga memungkin peserta didik menghadapi aneka perubahan dan tntutan belajar secara bersama-sama.

Hasil penelitian Vygotsky membuktikan bahwa ketika peserta didik diberi tugas untuk dirinya sediri, mereka akan bekerja sebaik-baiknya ketika bekerjasama atau berkolaborasi dengan temannya. Vigotsky merupakan salah satu pengagas teori konstruktivisme sosial. Pakar ini sangat terkenal dengan teori “Zone of Proximal Development” atau ZPD. Istilah ”Proximal” yang digunakan di sini bisa bermakna “next“. Menurut Vygotsky, setiap manusia (dalam konteks ini disebut peserta didik) mempunyai potensi tertentu. Potensi tersebut dapat teraktualisasi dengan cara menerapkan ketuntasan belajar (mastery learning). Akan tetapi di antara potensi dan aktualisasi peserta didik itu terdapat terdapat wilayah abu-abu. Guru memiliki berkewajiban menjadikan wilayah “abu-abu”yang ada pada peserta didik itu dapat teraktualisasi dengan cara belajar kelompok.

Vygostsky mengemukakan tiga wilayah yang tergamit dalam ZPD yang disebut dengan “cannot yet do”, “can do with help“, dan “can do alone“. ZPD merupakan wilayah “can do with help”yang sifatnya tidak permanen, jika proses pembelajaran mampu menarik pebelajar dari zona tersebut dengan cara kolaborasi atau pembelajaran kolaboratif.

Ada empat sifat kelas atau pembelajaran kolaboratif. Dua sifat berkenaan dengan perubahan hubungan antara guru dan peserta didik. Sifat ketiga berkaitan dengan pendekatan baru dari penyampaian guru selama proses pembelajaran. Sifat keempat menyatakan isi kelas atau pembelajaran kolaboratif.
§ Guru dan peserta didik saling berbagi informasi. Dengan pembelajaran kolaboratif, peserta didik memiliki ruang gerak untuk menilai dan membina ilmu pengetahuan, pengalaman personal, bahasa komunikasi, strategi dan konsep pembelajaran sesuai dengan teori, serta menautkan kondisi sosiobudaya dengan situasi pembelajaran. Di sini, peran guru lebih banyak sebagai pembimbing dan manajer belajar ketimbang memberi instruksi dan mengawasi secara rijid.
Contoh:
Jika guru mengajarkan topik “hidup bersama secara damai.” Peserta didik yang mempunyai pengalaman yang berkaitan dengan topik tersebut berpeluang menyatakan sesuatu pada sesi pembelajaran, berbagi idea, dan memberi garis-garis besar arus komunikasi antar peserta didik. Jika peserta didikmemahami dan melihat fenomena nyata kehidupan bersama yang damai itu, pengalaman dan pengetahuannya dihargai dan dapat dibagikan dalam jaringan pembelajaran mereka. Mereka pun akan termotivasi untuk melihat dan mendengar. Di sini peserta didik juga dapat merumuskan kaitan antara proses pembelajaran yang sedang dilakukan dengan dunia sebenarnya.

a. Berbagi tugas dan kewenangan. Pada pembelajaran atau kelas kolaboratif, guru berbagi tugas dan kewenangan dengan peserta didik, khususnya untuk hal-hal tertentu. Cara ini memungkinan peserta didik menimba pengalaman mereka sendiri, berbagi strategi dan informasi, menghormati antarsesa, mendoorong tumbuhnya ide-ide cerdas, terlibat dalam pemikiran kreatif dan kritis serta memupuk dan menggalakkan mereka mengambil peran secara terbuka dan bermakna.

b. Guru sebagai mediator.Pada pembelajaran atau kelas kolaboratif, guru berperan sebagai mediator atau perantara. Guru berperan membantu menghubungkan informasi baru dengan pengalaman yang ada serta membantu peserta didik jika mereka mengalami kebutuan dan bersedia menunjukkan cara bagaimana mereka memiliki kesungguhan untuk belajar.

c. Kelompok peserta didik yang heterogen. Sikap, keterampilan, dan pengetahuan peserta didk yang tumbuh dan berkembang sangat penting untuk memperkaya pembelajaran di kelas. Pada kelas kolaboratif peserta didikdapat menunjukkan kemampuan dan keterampilan mereka, berbagi informasi,serta mendengar atau membahas sumbangan informasi dari peserta didik lainnya. Dengan cara seperti ini akan muncul “keseragaman” di dalam heterogenitas peserta didik.

1. Contoh Pembelajaran Kolaboratif
Guru ingin mengajarkan tentang konsep, penggolongan sifat, fakta, atau mengulangi informasi tentang objek. Untuk keperluan pembelajaran ini dia menggunakan media sortir kartu (card sort). Prosedurnya dapat dilakukan seperti berikut ini.

§ Kepada peserta didik diberikan kartu indeks yang memuat informasi atau contoh yang cocok dengan satu atau lebih katagori.
§ Peserta didik diminta untuk mencari temannya dan menemukan orang yang memiliki kartu dengan katagori yang sama.
§ Berikan kepada peserta didik yang kartu katagorinya sama menyajikan sendiri kepada rekanhya.
§ Selama masing-masing katagori dipresentasikan oleh peserta didik, buatlah catatan dengan kata kunci (point) dari pembelajaran tersebut yang dirasakan penting.

a. Macam-macam Pembelajaran Kolaboratif
Banyak merode yang dipakai dalam pembelajaran atau kelas kolaboratif. Beberapa di antaranya dijelaskan berikut ini.
§ JP = Jigsaw Proscedure. Pembelajaran dilakukan dengan cara peserta didik sebagai anggota suatu kelompok diberi tugas yang berbeda-beda mengenai suatu pokok bahasan. Agar masing-masing peserta didik anggota dapat memahami keseluruhan pokok bahasan, tes diberikan dengan materi yang menyeluruh. Penilaian didasari pada rata-rata skor tes kelompok.
§ STAD = Student Team Achievement Divisions.Peserta didik dalam suatu kelas dibagi menjadi beberapa kelompok kecil. Anggota-anggota dalam setiap kelompok bertindak saling membelajarkan. Fokusnya adalah keberhasilan seorang akan berpengaruh terhadap keberhasilan kelompok dan demikian pula keberhasilan kelompok akan berpengaruh terhadap keberhasilan individu peserta didik lainnya. Penilaian didasar­i pada pencapaian hasil belajar individual maupun kelompok peserta didik.
§ CI = Complex Instruction.Titik tekan metode ini adalam pelaksanaan suatu proyek yang berorientasi pada penemuan, khususnya dalam bidang sains, matematika, dan ilmu pengetahuan sosial. Fokusnya adalah menumbuhkembangkan ketertarikan semua peserta didiksebagai anggota kelompok terhadap pokok bahasan. Metode ini umumnya digunakan dalam pembelajaran yang bersifat bilingual (menggunakan dua bahasa) dan di antara para peserta didik yang sangat heterogen. Penilaian didasari pada proses dan hasil kerja kelompok.
§ TAI = Team Accelerated Instruction. Metodeini merupakan kombinasi antara pembelajaran kooperatif/kolaboratif dengan pembelajaran individual. Secara bertahap, setiap peserta didik sebagai anggota kelompok diberi soal-soal yang harus mereka kerjakan sendiri terlebih dulu. Setelah itu dilaksanakan penilaian bersama-sama dalam kelompok. Jika soal tahap pertama telah diselesaikan dengan benar, setiap peserta didik mengerjakan soal-soal berikutnya. Namun jika seorang peserta didik belum dapat menyelesaikan soal tahap pertama dengan benar, ia harus menyelesaikan soal lain pada tahap yang sama. Setiap tahapan soal disusun berdasarkan tingkat kesukaran soal. Penilaian didasari pada hasil belajar individual maupun kelompok.
§ CLS = Cooperative Learning Stuctures. Pada penerapan metode pembelajaran ini setiap kelompok dibentuk dengan anggota dua peserta didik (berpasangan). Seorang peserta didik bertindak sebagai tutor dan yang lain menjadi tutee. Tutor mengajukan pertanyaan yang harus dijawab oleh tutee. Bila jawaban tutee benar, ia memperoleh poin atau skor yang telah ditetapkan terlebih dulu. Dalam selang waktu yang juga telah ditetapkan sebelumnya, kedua peserta didik yang saling berpasangan itu berganti peran.
§ LT = Learning Together. Pada metode ini kelompok-kelompok sekelas beranggotakan peserta didik yang beragam kemampuannya. Tiap kelompok bekerjasama untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru. Satu kelompok hanya menerima dan mengerjakan satu set lembar tugas. Penilaian didasarkan pada hasil kerja kelompok.
§ TGT = Teams-Games-Tournament. Pada metode ini, setelah belajar bersama kelompoknya sendiri, para anggota suatu kelompok akan berlomba dengan anggota kelompok lain sesuai dengan tingkat kemampuan masing-masing. Penilaian didasari pada jumlah nilai yang diperoleh kelompok peserta didik.
§ GI = Group Investigation. Pada metode ini semua anggota kelompok dituntut untuk merencanakan suatu penelitian beserta perencanaan pemecahan masalah yang dihadapi. Kelompok menentukan apa saja yang akan dikerjakan dan siapa saja yang akan melaksanakannya berikut bagaimana perencanaan penyajiannya di depan forum kelas. Penilaian didasari pada proses dan hasil kerja kelompok.
§ AC = Academic-Constructive Controversy. Pada metode ini setiap anggota kelompok dituntut kemampuannya untuk berada dalam situasi konflik intelektual yang dikembangkan berdasarkan hasil belajar masing-masing, baik bersama anggota sekelompok maupun dengan anggota kelompok lain. Kegiatan pembelajaran ini mengutamakan pencapaian dan pengembangan kualitas pemecahan masalah, pemikiran kritis, pertimbangan, hubungan antarpribadi, kesehatan psikis dan keselarasan. Penilaian didasarkan pada kemampuan setiap anggota maupun kelompok mempertahankan posisi yang dipilihnya.
§ CIRC = Cooperative Integrated Reading and Composition. Pada metode pembelajaran ini mirip dengan TAI. Metode pembelajaran ini menekankan pembelajaran membaca, menulis dan tata bahasa. Dalam pembelajaran ini, para peserta didik saling menilai kemampuan membaca, menulis dan tata bahasa, baik secara tertulis maupun lisan di dalam kelompoknya.

Sumber: Konsep Pendekaan Scientifik, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan


Rabu, 09 April 2014

Pembelajaran Geografi

Pembelajaran Geografi
Pernyataan E.James dalam Sumaatmadja (1996:5) “geografi adalah induk dari ilmu” memberikan makna bahwa kedudukan geogarfi dengan objek studi di permukaan bumi dengan relasi keruangan memberikan kedudukan yang kuat kepada setiap orang dalam studi di permukaan bumi. Dengan kata lain pembelajaran geografi dapat dijadikan sarana membina manusia, hal yang sesuai dengan pendapat James Fairgrive (1996) dalam Sumaatmadja bahwa fungsi pendidikan dan pembelajaran geografi membina masyarakat yang akan datang, untuk sadar akan kedudukannnya sebagai insan sosial terhadap kondisi dan masalah kehidupan yang dialaminya. Sehingga geografi dapat dijadikan sarana sebagai memenuhi kewajiban itu.

Pembelajaran yang dilakukan di SMA merupakan proses transformasi pewarisan dan pembiasaan dari apa yang sedang dan akan mereka lakukan menyangkut masalah kehidupannya dalam interaksinya dengan alam. Maka dalam hal ini penting guru memiliki pemahaman serta keterampilan dalam menggunakan pendekatan pembelajaran yang merealisasikan tujuan pembelajaran geografi.
 
Tujuan Pembelajaran Geografi
Tujuan pendidikan Nasional yang direlisasikan melalui pendidikan termasuk di dalamnya tujuan pembelajaran geografi yaitu menciptakan “manusia Indonesia” yang seimbang tingkat kognisi, afektif dan psikomotornya (Sumaatmadja, 1996:50). Dalam tujuan pembelajaran geografi maka siswa tidak hanya dibekali oleh aspek pengetahuan saja melainkan aspek keterampilan, pembinaan emosioanal.

Tujuan pembelajaran geografi mencakup pembelajaranan hasil kognitif yakni mengcakup keterampilan intelektual tentang hal-hal yang berhubungan dengan interaksi manusia dengan lingkungan. Aspek afektif akan sejalan pembentukannya pada diri siswa saat sikap sesuai dengan norma dan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat lokal maupun dunia pada umumnya, sehingga pada muaranya menjadikan sikap siswa dalam melakukan tindakan yang berhubungan dengan keterampilan yang digariskan dalam tujuan pembelajaran geografi. Maka dalam hal ini ada keselarasan antara aspek kognisi dengan aspek afektif melalui proses penerimaan, penolakan yang terungkap dalam minat, sikap dan akhirnya pada perhatian yang muaranya menjadi dasar suatu tindakan atau bentuk aspek psikomotor. 
 
Hasil Pembelajaran Geografi
Proses belajar mengajar dibangun oleh beberapa komponen yaitu tujuan, metode, proses dan hasil belajar. Hasil belajar merupakan bagian muara terakhir dari proses pembelajaran. Hasil belajar adalah kemampuan- kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajar (Sudjana, 2005:22). Horward Kingsley dalam Sudjana (2005: 22) membagi hasil belajar menjadi tiga macam, yakni (a) keterampilan dan kebiasaan, (b) pengetahuan dan pengertian, (c) sikap dan cita-cita. Hasil pembelajaran dalam sistem pendidikan nasional menggunakan klasifikasi Benyamin Bloom yang dibangun menjadi tiga ranah kognitif, afektif dan psikomotorik.

Berdasarkan Bloom dalam Sagala (2003: 33-34) hasil belajar mencakup tiga ranah yaitu sebagai berikut:
a. Kognitif
Berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdir atas aspek pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi.
1) Pengetahuan adalah kemampuan mengingat kembali hal-hal yang telah dipelajari.
2) Pemahaman adalah kemampuan menangkap makna sesuatu hal.
3) Aplikasi adalah kemampuan menggunakan hal-hal yang telah dipelajari untuk menghadapi situasi-situasi nyata.
4) Analisis adalah kemampuan menjabarkan sesuatu menjadi bagian sehingga struktur organisasinya dapat dipahami.
5) Sintesis adalah kemampuan memadukan bagian-bagian menjadi satu keseluruhan yang berarti
6) Evaluasi adalah kemampuan memberikan harga sesuatu hal berdasarkan kriteria intern, kelompok, ekstern, atau yang telah ditetapkan terlebih dahulu.
b. Afektif

Ranah afektif berhubungan dengan sikap dan nilai. Afektif dibangun dari lima hirearki yaitu kesadaran, partisipasi, penghayatan nilai, pengorganisasian nilai dan karakteristik diri.
1) Kesadaran adalah kemampuan memperhatikan sesuatu hal.
2) Partisipasi adalah kemampuan turut serta atau terlibat dalam sesuatu hal.
3) Penghayatan Nilai adalah kemampuan untuk menerima nilai dan terikat kepadanya.
4) Pengorganisasian Nilai adalah kemampuan untuk memiliki sistem niai dalam dirinya.
5) Karakteristik Diri adalah kemampuan untuk memiliki pola hidup diman sistem nilai yang terbentuk dalam dirinya mampu mengawasi tingkah lakunya.
c. Psikomotor
Kemampuan-kemampuan motorik menggiatkan dan mengkoordinasikan gerak yang terdiri dari gerak fefleks, gerak dasar, kemampuan preseptual, kemampuan jasmani, gerak-gerak skill, dan komunikasi nondiskursif.
1) Gerak fefleks adalah kemampuan pada gerak yang tidak sadar.
2) Gerak dasar adalah kemampuan melakukan pola-pola gerakan yang bersifat pembawaan dan terbentuk dari kombinasi gerak-gerak refleks.
3) Kemampuan preseptual adalah kemampuan menterjemahkan perangsangan yang diterima melaluai alat indera menjadi gerak-gerak yang tepat.
4) Kemampuan jasmani adalah kemampuan mengembangkan gerakan-gerakan inti mejadi gerakan terlatih.
5) Gerak-gerak skill, dan adalah kemampuan melakukan gerakan terlatih dengan tingkatan efesiensi.
6) Komunikasi nondiskursif adalah kemampuan melakukan komunikasi dengan isyarat badan.

Berdasarkan teori-teori yang telah diungkapkan mengenai hasil belajar, maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar merupakan muara dari proses pembelajaran dengan berbagai perlakuan agar mencapai tujuan baik secara kognitif, afektif maupun psikomotorik. Hasil belajar akan berdampak terhadap kulitas pendidikan. Menurut Sagala (2003: 34) mengungkapkan bahwa “secara langsung tujuan pendidikan yakni terjadinya perubahan kualitas pendidikan secara kognitif, afektif dan psikomotorik.” 
 
Hasil Pembelajaran Geografi
James Fairgrive (1996) dalam Sumaatmadja bahwa fungsi pendidikan dan pembelajaran geografi membina masyarakat yang akan datang, untuk sadar akan kedudukannnya sebagai insan sosial terhadap kondisi dan masalah kehidupan yang dialaminya. Untuk itu geografi dapat dijadikan sarana sebagai memenuhi kewajiban itu.

Hasil belajar geografi bermula dari tujuan pembelajaran yakni menciptakan “manusia Indonesia” yang seimbang tingkat kognisi, afektif dan psikomotornya (Sumaatmadja, 1996:50). Berdasarkan hasil belajar maka akan menggambarkan sejauh mana sikap dan nilai yang diperlihatkan siswa terhadap berbagai aktivitas dan menujukna sejauhmana minat belajar geografi.

Berdasarkan teori hasil belajar yang telah diungkapkan maka dapat di simpulkan bahwa hasil belajar geografi yakni menjadikan peserta didik yang terbangun aspek kognitif, afektif dan psikomotoriknya sehingga menjadi manusia Indonesia yang sadar akan keberadaan dirinya dan perannya dalam lingkungan.
 
Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi
Sumber Tulisan: Dokumen Pribadi

Senin, 27 Januari 2014

My Galery

Sabtu, 18 Januari 2014

Guru Apa Adanya

Membaca judul "Guru Apa Adanya" menurut anda sosok guru yang terbayang seperti apa ya?  Guru apa adanya, terkesan guru yang pasrah dengan segala kemampuannya atau kompetensinya saat ini, tidak ada keinginan untuk berinovasi mengembangkan kompetensinya, diam dan diam saya...apa adanya. Guru apa adanya tidak tertarik dengan kegiatan-kegiatan yang membuat kemampuannya berkembang, "ah malas"..."mengajar saja sudah sibuk"..." mengurus anak di sekolah juga sibuk"... tentunya banyak alasan guru apa adanya ini untuk beralasan, kerjanya malas-malasan. Ciri utama yang dapat di lihat dari guru apa adanya adalah "tidak menguasai materi", alhasil ASBUN alias ASAL BUNYI. Jika sudah seperti ini fenomenanya maka siap-siaplah akan terlahir siswa yang apa adanya!

Akhirnya Bangsa ini menjadi bangsa yang apa adanya! bagaimanapun kelak yang akan menjadi pemimpin Bangsa ini ke depan adalah siswa yang guru didik saat ini. Berawal dari guru apa adanya melahirkan siswa apa adanya yang akan menjadi pemimpin bangsa apa adanya, jika pemimpin bangsa ini apa adanya, makan sistem pemerintahan yang dijalankanpun apa adanya, berdampak terhadap sistem pendidikan, ekonomi, kesejahteraan, dan lain-lain yang serba apa adanya.

Sederhanya saja, dimulai dari guru, maka yakinlah bangsa ini akan bangkit, menuju Indonsia Emas. Wow! Kerenkan? semua bermula dari sosok GURU KECE "Keren Cekali". Mungkin pernah mendengar cerita setelah terbomnya Hirosima dan Nagasaki... Seorang Kaisar memberikan instruksi "selamatkan para sensei! Wah wah HERBATKAN? inilah ujung tombak bangsa Jepang is SESNSEI! ... maka balik lagi jangan mau jadi guru yang terus apa adanya! tapi jadi guru ada apa-apanya! hehe maksa, terkesan lebih baik kan dibanding guru apa adanya? hehe... Guru ada apa-apanya, artinya selalu mengembangkan kompetensinya, dibuat serba ada, serba bisa sesuai kompetensi seharusnya. Masa ada guru IT tidak memanfaatkan internet sebagai media pembelajaranya? atau ada guru bahasa Indonesia yang tidak bisa buat puisi atau cerpen. wah wah tepuk jidat! Marilah kita hijrah menjadi guru yang KECE "Keren Cekali" yang memiliki karakter ada apa-apanya. 



Senin, 13 Januari 2014

Profil Guru Smart

Mengenal Pemilik Smart Geografi...
Assalamu'alaikum,


Tuti Rina Lestari, S.Pd lahir di Subang pada tanggal 11 Oktober 1987. Menyelesaikan pendidikan S1 di Jurusan Pendidikan Geografi-Universitas Pendidikan Indonesia. Saat ini penulis sedang melanjutkan pendidikan S2 di Prodi Pendidikan Geografi-Universitas Pendidikan Indonesia. Penulis yang asli berdarah sunda dan bertempat tinggal serta lahir di tanah sunda ini, menjadikannya kentalakan karakter diri yang "nyunda ^_^".

Penulis mulai meniti profesi sebagai seorang pendidik di sekolah bernuansa islam yakni As-Syifa Boarding School Subang sebagai guru IPS SMP (Tahun 2010-2012) dan Geografi SMA (Tahun 2012-sekarang), selain mengajar penulispun merupakan pembina OSN Geografi dan Ilmu Kebumian di sekolah. Sekolah yang kini digeluti bervisikan  "Membangun Peradaban" tentunya  menuntut keprofesionalan sebagai seorang pendidik melalui implementasi pembelajaran dan pengajaran yang profesional. Agar selaras dengan visi tersebut, seihingga pemilik smart geografi ini tidak hanya mendidik, mengajar dan mentransfer ilmu saja di sekolah melainkan memberikan inspirasi seputar pendidikan dan aspek Geosfer. Blog merupakan salah satu sarana yang dijadikan sebagai aplikasi transformasi ilmu pendidikan geografi ke publik. Penulis sangat berobsesi suatu saat menjadi seorang penulis yang mengspirasi guru, menjadi seorang motivator guru, dan menjadi pengembang pembelajaran geografi yang SMART (Solutif, Menyenangkan dan Asik) semoga mimpi besar ini dapat terwujud. Aamiin.

Rabu, 20 November 2013

SUKSES UN

Salam Generasi  Muda! Salam Generasi Sukses! Salam UN!

Ujian Nasional, sebuah seremonial yang selalu diadakan di dunia pendidikan Indonesia. Ujian Nasional telah mengalami berbagai pembaharuan kebijakan dari mulai mutlak 100 nilai UN sebagai alat ukur penilaian kelulusan siswa SD, SMP & SMA serta sederajatnya. Namun seiring kebijakan bergulir maka kini tidak mutlak lagi 100% nilai UN sebagai standar kelulusan, melainkan hanya 60% saja sisianya 40% dari nilai Rapot sekolah. Tentunya peraturan tersebut bisa saja berubah, sesuai dengan karakteristik kurikulum yang sifatnya fleksibel dan menyesuaikan dengan kepentingan zaman. 

Hal yang paling esensial dalam mengukur kemampuan siswa, tentunya bukan terukur secara kognitif saja melainkan seluruh aspek perlu diukur. Cerdas IQ tidak memiliki sisi yang penting ketika tidak diimbangn dengan cerdas EQ. Sekolah dengan Visi Besar "Membangun Peradaban" memiliki tujuan utama membentuk generasi yang "AHA" yakni 'Alim, Hafidz dan 'Amil memiliki tujuan UN sebagai "Sukses Ruhiyah, Sukses UN Lulus 100% jujur dan berprestasi dan Sukses Jasadiyah". Jadi dengan adanya UN sekolah berharap siswa sukses Rukhiyah & Jasadiyahnya. Maka dengan kehadiran UN ini siswa diharapkan meningkatkan amalan yaumiahnya serta menjaga fisiknya. Seiring dengan kesiapan ruhiyah dan jasadiyah maka UN bagi siswa bukanlah hal yang menakutkan, namun hal yang sangat dinanti dan cukup menantang. Tentunya untuk membangun sukses Ruhiyah, Jasadiyah agar siap UN maka sekolah As-Syifa Boarding School memiliki beberapa agena sukses UN, adapun agendanya yakni:
1 Bimbingan Belajar Intensif
2 Super Bimbel
3 Try Out UN (internal, jsit, disdik)
4 Tutor Sebaya Bimbel
5 Driling Soal
6 Out Bond Training Motivation
7 Konsultasi Pemilihan Program Studi Kampus
8 Info Beasiswa dan Perguruan Tinggi
9 Super Camp
10 Tauzih Harian
11 Duta Motivasi
12 Mabit
13 Liga 12
14 Pendampingan Ibadah
15 Ushbu Ruhiy
16 Dauroh Kampus
17 Ngeliwet 12
18 Nge Gowes
19 Kampanye Sukses UN
20 Doa Bersama Jelang UN
Di atas merupakan rangkaian penguat Jasadiyah, Fikriyah dan Ruhiyah menjelang UN, semoga siswa SMA IT As-Syifa Sukses UN pada tahun 2014 nanti. sukse UN ini telah di launchingkan pada tanggal 13-14 November 2013.

Salam Sukses!
Kampus Peradaban, 20 November 2013.


Kamis, 14 November 2013

Rekontruksi Pendidikan Islam



ISLAM adalah satu-satunya agama yang sejak awal dirisalahkan, langsung menjadikan PENDIDIKAN sebagai target utama.

Ayat Iqro', adalah bukti dan isyarat nyatanya, sebab membaca adalah unsur utama dan terpenting dalam pendidikan sebagaimana telah diketahui.

Nabi Muhammad S.a.w sendiri bersabda: "Innama bu'itstu mu'alliman". Sesungguhnya aku diutus sebagai seorang pendidik.

Dan di dalam Al-Qur'an serta Assunnah, penuh dan banyak sekali teks-teks yang berbicara atau berhubungan dengan pendidikan. Oleh karenanya, tak sedikit para cendekiawan muslim, sejak dahulu kala, menulis karya yang berbicara khusus tentang pendidikan, yang diambil dari Al-Qur'an dan Hadits. Semisal al-imam Ibnu Abi-d Dun-ya dengan buku pendidikan terkenalnya yang berjudul "Kitabul ilm".

MAKA SESUNGGUHNYA MENDIDIK ADALAH TUGAS KENABIAN. Jika ratusan ribu nabi dan rasul harus diturunkan untuk satu pekerjaan yang sama, yaitu mendidik manusia, maka itu tidak hanya meyakinkan kita betapa pentingnya pengetahuan dalam kehidupan kita, tapi juga menyimpan sebuah pertanyaan mendasar: bagaimana sebenarnya cara Allah mengajar kita?

Kita tentu berangkat dari sebuah aksioma paling mendasar bahwa ALLAH ADALAH SUMBER DARI SEGALA SUMBER PENGETAHUAN. Allah kemudian mengajar manusia dengan dua cara: langsung dan tidak langsung. Pengajaran langsung itu dilakukan dengan dua cara: yang satu melalui wahyu dan lainnya melalui ilham. Selain itu ada pengajaran yang tidak langusng yang dilakukan melalui dua cara: yang satu melalui penalaran dan lainnya melalui penginderaan. Jadi itulah empat sumber pengetahuan kita: wahyu, ilham, nalar, dan indera.

~:: LDK UKDM UPI ::~

Mengajar




Mengajar bukan profesi. Mengajar adalah kegemaran
Aku telah mencapai sebuah kesimpulan yang menakutkan bahwa aku adalah unsur penentu di dalam kelas.
Pendekatan pribadikulah yang menciptakan iklimnya
Suasana hatikulah yang membuat cuacanya.
Sebagai seorang Guru, aku memiliki kekuatan yang sangat besar untuk membuat hidup seseorang menderita atau gembira.
Aku bisa menjadi alat penyiksa atau pemberi ilham, bisa bercanda atau mempermalukan, melukai atau menyembuhkan.
Dalam semua situasi, reaksikulah yang menentukan, apakah sebuah krisis akan memuncak atau mereda dan apakah seseorang akan diperlakukan sebagai manusia atau direndahkan.
( Haim Ginott)

Rabu, 16 Oktober 2013

Nasib Geografi di Kurikulum 2013

Ada yang baru dari nuansa kurikulum pendidikan di Indonesia, yakni kurikulum 2013. Seiring perjalanan pendidikan di Indonesia sudah berbagai kurikulum diimplementasikan, bahkan ada selintingan ganti menteri ganti kurikulum. Namun, saya yakin pemerintah telah merencanakan kurikulum 2013 dengan baik. Sesuai harapan pemerintah dengan adanya kurikulum 2013 ini agar terlahirnya generasi emas, generasi yang akan membawa bangsa Indonesia kearah perubahan yang lebih baik. 

Kurikulum merupakan bagian esensial dalam pendidikan sesuai dengan prinsip kurikulum yang berpusat pada potensi, sesuai karakter peserta didik, relevan, serta tanggap terhadap IPTEK.Tataran implementasi kurikulum 2013 belum diberlakukan secara menyeluruh di setiap satuan pendidikan, hanya beberapa sekolah di Indonesia. (Lihat di Sini)

Sebagai praktisi pendidikan maka sudah seharusnya kita mendalami kurikulum 2013. Sebagai guru geografi di SMA IT As-Syifa sayapun perlu mendalami,  walaupun dalam pelaksanaan tahun ini SMA IT As-Syifa  belum mengimplementasikan kurikulum 2013.

Ada hal yang tidak kalah penting bagi para guru geografi terkait nasib geografi dikurikulum 2013,  bagaimana nasibnya? jika ingin tau mari kita kaji bersama...

Silahkan Download berbagai artikel yang berhubungan dengan Kurikulum 2013.

KURIKULUM 2013


lebih lengkap dapat mengunjungi Kurikulum KEMDIKBUD

Senin, 14 Oktober 2013

OSN Geografi Pertama

Tahun ini, pertama kalinya bidang studi Geografi dikompetisikan dalam Olimpiade Sains Nasional (OSN). Meskipun baru pertama, sebenarnya Geografi tidak kalah pamor dibanding delapan bidang lain yang telah lebih dulu masuk dalam agenda OSN. Sebelum ada dalam OSN pun bidang ini telah mencetak prestasi dunia di Olimpiade Geografi Internasional (IGEO) belum lama ini lewat raihan medali perak dan dinobatkan sebagai Best Paper & Presentasi Poster.

Ke depan, dengan masuknya Geografi dalam OSN diharapkan bisa mendongkrak prestasi lebih luar biasa lagi. Untuk bidang Geografi, pada OSN 2013 ini sebanyak 90 siswa dari 33 propinsi terpilih lewat proses seleksi yang ketat. Lomba hari pertama (4/9/2013) yang terdiri dari tes tertulis serta multimedia dan praktek laboratorium diadakan di SMAN 5 Bandung , Jalan Belitung No. 8. Hari kedua seluruh peserta diuji kemampuannya dalam analisa lapangan, juga di SMAN 5 Bandung, kemudian dilajutkan dengan kunjungan ke Museum Geologi.

Di SMAN 5 peserta dibagi dalam empat kelompok kelas untuk bergantian menghadapi rangkaian tes. Meskipun baru pertama berkompetisi di tingkat nasional, tidak terlihat sedikit juga keraguan dari seluruh peserta. Semua nampak optimis dan penuh semangat, karena lewat OSN inilah mereka berkesempatan untuk unjuk prestasi ke level yang lebih tinggi, internasional.

Kesempatan ini juga yang sangat memotivasi semangat Lydya Chrisnawati dan sahabatnya Genta Chaerunisa, dari SMAN 2 Bekasi dalam OSN 2013 ini. “Semoga OSN ini bisa mewujudkan potensi anak-anak yang punya mental juara. Mereka yang juara tentunya benar-benar memiliki potensi besar untuk nantinya bersaing di pentas internasional,” ujar Lydya. “Semoga pemerintah selalu mendukung anak-anak seperti kita untuk terus maju,” sahut Genta.

Bukan hanya Lydya dan Genta. Puluhan siswa lainnya dalam OSN 2013 ini juga punya harapan yang sama. Bahkan ada jutaan lainnya yang pada OSN berikutnya bakal membuktikan diri bisa menjadi yang terbaik di bidang Geografi, sepanjang dukungan dan kesempatan itu disediakan. OSN inilah salah satu wadahnya.

Geografi Bukan Sebatas Pelajaran Sekolah

“Ya, kita jangan sampai tertinggal dari negara-negara lain. Di luar negeri kompetisi yang dikhususkan untuk Geografi sudah lama ada. Jadi, wadah bagi anak-anak yang memiliki kemampuan di bidang ini sudah ada,” jelas Drs. Joko Wiratmo, M.P. dari Prodi Meteorologi FITB-ITB , salah seorang tim juri.

Maksud Joko, selama ini di Indonesia orang hanya tahu Geografi merupakan salah pelajaran sekolah. OSN menjadi salah satu cara untuk mengubah paradigma tersebut. Sudah saatnya untuk mengembangkan kemampuan siswa di tingkat nasional untuk meningkatkan daya saing di kancah internasional. Bukan sekadar pelajaran di sekolah, bukan juga sebatas studi tentang peta.

Dalam keikutsertaan pertama di OSN 2013 ini tim juri menyeleksi tiga materi uji yang diberikan kepada peserta, yaitu ; tes tertulis, tes multimedia, dan tes lapangan. Karena baru pertama kali, beberapa peserta mengaku cukup kesulitan dalam melalui tahap tes tersebut, terutama untuk tes multimedia dan praktik laboratorium.

“Hambatannya, mungkin karena kami dari IPS kurang mendapat porsi pembelajaran praktek laboratorium, tidak sekompleks yang didapat siswa IPA. Jadi kami kurang terbiasa, dan sebisa mungkin menyelesaikan yang sederhana saja, “ jelas Lydya. Kesulitan menghadapi praktik laboratorium juga diakui peserta lain.

Kendala tersebut sepertinya dimaklumi oleh Ir. Samsul Bachri, M. Eng, Ph. D. dari Prodi Teknik Geodesi dan Geomatika FITB-ITB , koordinator juri bidang studi Geografi OSN 2013. “Sebagai lintas mayor, Geografi memang masuk ke sosial. Tapi sebenarnya kurang tepat juga bila geografi hanya masuk di kategori ilmu sosial. Karena secara mendasar Geografi terbagi menjadi dua ; Fisikal Geografi dan Sosial Geografi. Alangkah lebih baik jika Geografi dikategorikan umum saja seperti Bahasa Indonesia yang bisa masuk di IPS maupun IPA,” katanya.

Preston E. James, seorang ahli geografi, mengemukakan bahwa geografi merupakan induk dari ilmu pengetahuan, karena banyak ilmu pengetahuan yang dikaji selalu dimulai dari keadaan bumi. Nah, jadi memang sudah saatnya geografi muncul ke permukaan sebagai salah satu bidang studi yang tidak kalah pamornya. Lewat OSN 2013 inilah tekad tersebut lebih ditegaskan.

Ir. Samsul Bachri, M. Eng, Ph. D. (Koodinator Juri Geologi)
Gunakan Kesempatan OSN Sebaik Mungkin
Masuknya Geografi mulai OSN 2013 tentunya menambah kesibukan Ir. Samsul bachri, M. Eng, Ph. D. dari Prodi Teknik Geodesi dan Geomatika FITB-ITB. Dalam perhelatan kompetisi sains ini ia dipercaya menjadi koordinator juri. Bagi Samsul tugas ini bisa dikatakan sebagai jawaban atas usaha kerasnya selama ini untuk mengangkat Geografi memiliki gengsi yang sama dengan ilmu pengetahuan lain. Salah satu upaya kerasnya telah membuahkan hasil membanggakan di pentas internasional, di mana kontingen Indonesia bimbingannya berhasil mempersembahkan medali perak bagi bangsa tercinta ini.

“Saya berharap OSN ini akan membuat siswa lebih mencintai lagi Geografi,” kata Samsul.

Lanjutnya, di dunia internasional, kompetisi Geografi telah memasuki tahun ke-19. Dan, apresiasi pada bidang ini sungguh besar. Bila sebelumnya diadakan setiap dua tahun sekali, maka mulai tahun ini akan berlangsung setiap tahun. Untuk itulah maka para siswa terpilih yang ikut dalam OSN harus benar-benar menggunakan kesempatan ini. Karena para juaranya nanti akan diseleksi untuk maju sebagai wakil Indonesia di Olimpiade Geografi Internasional.

Untuk sistem penjurian Samsul mengatakan Geografi memiliki bidang bahasan yang sangat luas sekali yang kemudian berkembang lagi menjadi topik-topik, seperti ; climate & climate change, resources & resources management, geologi, mapping, dan masih banyak lagi. Peserta dituntut untuk menguasai semua topik yang ada dalam Geografi untuk menyelesaikan enam materi soal dari sekian banyak topik.

Di luar tes secara tertulis peserta juga dituntut untuk trampil dalam pengamatan lingkungan baik fisik, sosial, dan binaan. Dan yang tak boleh diabaikan juga adalah kemampuan mencatat data dan informasi yang berkaitan dengan aspek-aspek keruangan, selain juga kemampuan analisa berbagai gejala geografis. Sederhananya itu, karena sebenarnya Geografi itu masih sangat luas sekali. Namun pesan saya buat yang hendak mengikuti OSN diharapkan lebih banyak lagi memperhatikan dan mencintai masalah kebumian. Bukan hanya untuk yang ingin ikut OSN, tapi juga siswa pada umumnya. Karena Geografi akan meningkatkan pemahaman kita akan wawasan kebangsaan,” jabar Samsul lebih lanjut.

"Satu lagi yang ditekankan Samsul, kemampuan Bahasa Inggris sangat penting dalam bidang Geografi. Karena dalam olimpiade, Geografi merupakan satu-satunya bidang studi yang mengharuskan menjalani writing test dalam Bahasa Inggris, yang harus dijawab dengan Bahasa Inggris juga.

“Kemampuan Bahasa Inggris akan membuat peserta lebih cepat reaksinya dalam menjawab soal,” tutup Samsul.

Sumber:www.siswapsma.org

Jumat, 27 September 2013

Sketsa Pendidikan



Jarak yang dituju, kami lewati dengan bahagia di hati. ada kalanya beramai-ramai adakalanya hanya sendiri...menuju sekolah kami datang dengan riang...

Gratis...gratis...gratis...? hmm...PENDIDIKAN TERSISTEMATIS! menjadikan kaya berilmu si miskin bodoh.. 










 

Tak berarti mendidik karakter BANGSA, jika PENDIDIKAN hanya sebuah WACANA...bokbrok BANGSA ini...seperti bokbroknya bangunan sekolah...

Arsip Blog