Selasa, 11 September 2012

Calon Istriku Sudah Tidak Perawan


Pertanyaan:
assalamu’alaikum wr.wb
Pak Ustadz,,Saya insya Allah akan menikah, tetapi saya takjub saat mendengar pengakuan dari calon saya. Dia mengatakan bahwa dia sudah pernah berhubungan intim  dengan mantannya lebih dari 1 kali. Mohon saran dari bpk. Ustadz apa yang harus saya lakukan supaya bisa lebih baik lagi kedepannya??

Jawaban:
Wa alaikumus salam wa rahmatullah…

Bismillah,
Semoga Allah memudahkan langkah anda menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.

Pertama, 

Sebelum masuk ke jenjang pernikahan, anda dan calon anda memiliki kebebasan untuk melanjutkan atau membatalkan hubungan. Tanpa ada ikatan sama sekali. Lebih-lebih, jika masing-masing memiliki alasan untuk tidak melanjutkan ke jenjang pernikahan. Akan tetapi, jika anda masih memiliki ketertarikan dengan calon istri anda, anda bisa tetap melanjutkan hubungan sampai jenjang pernikahan.

Kedua, 

Sebelum masuk ke jenjang pernikahan, anda harus memastikan dua hal
pada calon istri anda:

• Rahimnya harus bersih. Jika hamil maka ditunggu sampai melahirkan, jika tidak sampai hamil maka ditunggu sampai haid sekali. Selama tidak ada kepastian tentang dua hal ini maka anda tidak diperkenankan menikah dengan wanita tersebut. Hati-hati, terkadang ada wanita yang menyembunyikan kehamilannya dengan lelaki lain, agar dinikahi untuk menutupi aibnya.
• Calon istri anda harus betul-betul bertaubat dari perbuatan nista yang pernah dia lakukan dengan kekasihnya yang dulu. Selama belum betul dan serius bertaubat maka status wanita tersebut masih dianggap sebagai wanita pezina, dan status ini baru bisa hilang jika dia bertaubat.

Hal ini perlu kami tegaskan, mengingat kita dilarang menikah dengan wanita pezina, sebagimana Firman Allah dalam Alquran, yang artinya,

“Lelaki pezina tidak boleh menikah kecuali dengan wanita pezina atau wanita musyrik. Wanita pezina tidak boleh dinikahi kecuali oleh lelaki pezina atau lelaki musyrik. Dan hal itu diharamkan untuk orang yang beriman.” (QS. An-Nur: 3).

Untuk bisa mengetahui apakah dia bertaubat ataukah belum, anda bisa melihat perubahan sikapnya, seperti sedih, marah jika diungkit-ungkit, sangat malu jika mengingat perbuatan nistanya, berusaha melupakan kekasihnya yang dulu, dan seterusnya.

Ketiga, 

Jika anda tetap melajutkan hubungan ke jenjang pernikahan, dan calon anda sudah bertaubat, selanjutnya jangan lagi mengungkit-ungkit masa lalunya. Karena orang yang sudah bertaubat itu seperti orang yang tidak pernah melakukan dosa.

Keempat,
Carikan lingkungan yang baik dan teman yang baik untuk istri anda (jika sudah menikah), agar menjadi wanita shalihah. Perintahkan dia untuk berjilbab dan menutup aurat. Semoga ini bisa mengubah kepribadiannya.

Allahu a’lam.




___________________________________________________
Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits, (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)
Artikel www.konsultasisyariah.com




Senin, 10 September 2012

Awalan


29 Agustus 2012
Sesuai perjanjian kemarin,  Maya, keponakanku akan datang ke rumah untuk les. Les yang saya laksanakan ini tanpa bayaran. Semua saya lsayakan atas kesadaran saya ingin memulai mencerdaskan oang di sekitar saya terlebih dahulu sebelum orang di luar sana. Tapi semua itu tak lepas dari bantuan orang – orang di sekitar saya. Terutama Bu Darman yang telah menyumbangkan papan tulis TK yang sudah tidak dipakai untuk urusan les ini.
Sudah hampir pukul 16.00 WIB. Tapi Maya tidak datang juga. Saya berpiki, untuk melsayakan suatu perubahan memang sangatlah sulit. Butuh perjuangan. Dan saya rasa perjuangan saya kali ini dimulai dari menjempur Maya. Ya, saya pergi ke rumahnya yang letaknya tak jauh dari rumah. 10 menit pulang pergi dengan sepeda motor.
Sesampainya di rumah Maya, ternyata ia belum mandi. Saya tunggu dia. Tak berapa lama ia muncul dan kemudian kami berangkat menuju ke rumah saya.
Berdoa. Saya awali les pertama hari ini dengan berdoa. Saya minta Maya untuk memimpin. Sedikit canggung dan ia justru ketawa – ketiwi mendengar suruhan saya. Mungkin karena baru awal seperti itu. Tapi bagi saya berdoa sebelum belajar itu sangatlah penting. Karena apa yang kami terima baik saya atau Maya itu tak lepas dari Ridha-Nya.
Oke. Pelajaran dimulai. Hari ini jadwalnya adalah Matematika dan Bahasa Indonesia. Tapi sayang untuk Bahasa Indonesia tidak terlaksana. Akhirnya hanya Matematika. Saya menerangkan sifat perhitungan, perhitungan campuran, sampai pada FPB dan KPK.
Dari apa yang saya terangkan kepada Maya, saya merasa kalau saya ini memang belum bahkan jauh dari kata profesional sebagai calon guru. Meskipun sebelum ngajar saya telah belajar tapi rasa canggung itu tetap ada.
Selama ini saya selalu membanggakan diri saya sendiri kalau saya ini pintar, kuliah menyandang IPK 3, 78. Tapi ternyata saya tak lain dan tidak beda dengan anak SD yang masih kagok dengan pelajaran yang ada. Saya semakin sadar, kuliah selama dua tahun ini tidak mendapatkan apa – apa. Saya hanya datang, duduk manis, dan pulang begitu saja tanpa makna. Marah, jengkel ketika nilai tidak sesuai dengan harapan. Dan sangat marah ketika ada teman sekelas yang IPK-nya lebih tinggi dari saya.
Semakin ke sini, saya semakin sadar. IPK memang penting tapi ilmu itu jauh lebih penting. Untuk apa saya mendapat IPK 3, 78 tapi saya tidak tahu apa yang telah disampaikan oleh dosen saya.
Saat ini saya telah menginjakkan kaki di semester 5. Saya sendiri berharap saya lebih bisa memaknai ilmu yang diberikan dosen atau lingkungan. Tidak lupa beribadah dan juga selalu berdoa memohon kelancaran segala urusan. Ya, semoga. Dan saya harus bisa mengubah paradigam saya dari nilai menjadi ilmu. Aamiin.

BACK TO SCHOOL

Senin, 27 Agustus 2012.
Hari pertama kembali sekolah lagi. Saya kembali mengajar. Tapi hari ini anak – anak tidak langsung mendapatkan pelajaran. Alasannya yang pertama karena ada ‘selametan’ untuk menaikkan atap gedung TK yang baru. Selain itu, karena tsayatnya anak - anak akan kaget karena sudah 2 minggu libur sekolah. Maka hari ini di kelas hanya bernyanyi dan bercerita pengalaman selama liburan serta pembagian makanan ‘selametan’ tersebut.
Yang pasti, dari saya sendiri merasa kalau hari pertama ini sangat kacau. Karena memang saya sendiri lupa beberapa nama murid saya, dan kadang terlalu lama untuk menyebutkan nama mereka dan lebih parah lagi sering keliru menyebut nama anak A dengan nama anak B.
Dari anak – anak sendiri hari ini banyak yang mogok sekolah. Contohnya saja adalah Akbar. Akbar yang biasanya diantar Ibunya, dan hari ini harus berangkat bersama kakaknya yang sekolah di SD akhirnya ia mogok sekolah. Dia hanya duduk di depan balai desa (karena gedung belum selesai). Saya hampiri dan saya bujuk ia pun tidak bergeming. Sampai Bapaknya datang, ia baru mau masuk kelas. Tapi tak lama setelah membeli es ia pun mogok kembali dan akhirnya dibawa pulang.
Ketika acara puncak pembagian makanan ‘selametan’ itu akan berjalan, saya teringat dengan salah satu murid saya. Ya, Sinta. Dia menghilang. Anak yang selama ini paling tidak tanggap dan paling susah diatur. Saya cari. Ternyata ia membeli jajan ke kantin SD. Saya tunggu. Akhirnya dia muncul juga. Akhirnya kubariskan ia di barisan bersama teman – temannya. Yang sangat saya sayangkan, selama ini orang termasuk guru yang selama ini mengajarnya sering memandang dari kekurangan Sinta. Secara psikologis ia memang bermasalah. Meskipun ini hanya praduga saya saja. Tapi ketika saya analisa berdasarkan ilmu yang saya dapatkan selama kuliah, dia memang butuh perlsayaan tersendiri. Tapi orang yang ada di sekitarnya terlalu cepat menge-judge ia dengan sebutan anak IDIOT. Bukan. Ia tak idiot karena ia bisa menghasilkan karya, mewarnai gambar dengan gradasi warna yang luar biasa. Dia ISTIMEWA.
Saya hanya berharap ia bisa bertemu dengan orang yang tepat. Bahkan harapan besar berada di tangan orangtuanya. Saya ingin sekali meyakinkan kepada orangtuanya kalau dia istimewa. Secepatnya.

Minggu, 09 September 2012

Teman Tapi Mesra

Islam sangat menginginkan maslahat bagi umatnya. Sehingga segala jalan yang mengantar pada yang haram ingin ditutup. Artinya, jalan tersebut pun terlarang dilalui. Hal ini berlaku dalam masalah zina. Segala jalan menuju perbuatan zina pun terlarang. Karena kenyataan yang terjadi, zina berawal dari perbuatan-perbuatan kecil yang mengantar pada zina.

Hubungan yang satu ini pun perlu diwaspadai. Berawal dari menanyakan nomor HP. Kemudian melangkah pada sms-an setiap waktu. Sehingga pingin lagi lebih dekat. Kemudian menjadi teman tetapi selalu mesra. Sebagian pasangan tersebut boleh jadi tidak pernah ketemu. Dan beritikad kuat tidak mau berpacaran seperti yang lainnya, yang mesti jalan berdua dan kencan. Tetapi yang namanya teman tapi mesra seperti ini pun tetap bermasalah walau hanya lewat handphone.

Sekali-kali Islam telah mewanti-wanti hal ini karena khawatir akan terjerumus dalam perkara haram yang lebih besar. Dalam ayat Al Qur’an, Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al Isro’: 32).

Imam Al Qurthubi berkata, "Para ulama mengatakan mengenai firman Allah (yang artinya) 'janganlah mendekati zina' bahwa larangan dalam ayat ini lebih dari perkataan 'janganlah melakukan zina'. Makna ayat tersebut adalah 'jangan mendekati zina'.

Asy Syaukani dalam Fathul Qodir mengatakan, ”Apabila perantara kepada sesuatu saja dilarang, tentu saja tujuannya juga haram dilihat dari maksud pembicaraan.”
Maksudnya sekali lagi, mendekati zina saja tidak boleh apalagi sampai melakukannya.

Mendekati di sini adalah tidak melakukan berbagai hal yang dapat menjerumuskan dalam zina. Zina tentu saja ada muqoddimah, ada perantara menuju perbuatan tersebut. Pertemanan tetapi mesra terus, ini salah satunya. Sehingga jelas pertemanan seperti ini perlu dibatasi.

Jadinya, untuk pemuda-pemudi, bergaullah dengan memperhatikan aturan Islam. Karena aturan dalam agama kita ini selalu mendatangkan maslahat dan mencegah mudhorot. Puteri bergaullah dengan sesama jenisnya, demikian dengan putera. Jika demikian maka akan terjaga diri dan kehormatan.

Jangan sampai akhirnya terjerumus kepada PACARAN, ingatlah syair berikut :

PACARAN
Jalan Menuju Perzinaan
Yang Merupakan Tipu Daya Syaitan
Sehingga Banyak Insan 
Yang Terjebak Dalam Jurang Kehinaan

PACARAN
Berawal Dari Perkenalan
Kirim SMS Atau Telpon-Telponan
Isinya Kata-kata Sayang Yang Sok Perhatian
Hakekatnya Adalah Perangkap Syaitan
Kemudian Di Lanjutkan Dengan “Jadian”
Pertama Malu Untuk Saling Berpandangan
Lama Kelamaan Mulai Berani Pegangan Tangan

PACARAN
Karenanya Banyak Terjadi Perzinaan
Banyak Anak Bayi Di Buang DI Selokan
Dari Hasil Hubungan Perzinaan
Sungguh Miris Melihat Semua Kejadian
Yang Di Pamerkan Oleh Pelaku Pacaran

PACARAN
Fenomena Di Jalanan
Sudah Tidak Malu Bermesraan
Bergandengan Tangan, Berpelukan Ketika Berboncengan
Seolah-olah Mata Ini Di Paksa Melihat Yang Demikian
Sungguh Mengerikan…..

PACARAN
Suatu Yang Di Haramkan
Namun Tetap Saja Ada Pembelaan
Yang Mengatakan Tidak Apa-apa Berpacaran
Merekalah Yang Gemar Dengan Kemaksiatan
Yang Di Hiasi Oleh Syaitan


Hanya Allah yang memberi petunjuk dan hidayah



_______________________
www.remajaislam.com.
Syair dari Kajian Ahlussunnah Gratis 

Sabtu, 08 September 2012

Rpp Silabus IPA SMP Berkarakter Lengkap 2012



  • Rpp Ipa EEK Kelas 7 Semester 1 [Download]
  • Rpp Ipa EEK Kelas 7 Semester 2 [Download]
  • Rpp Ipa EEK Kelas 8 Semester 1 [Download]
  • Rpp Ipa EEK Kelas 8 Semester 2 [Download]
  • Rpp Ipa EEK Kelas 9 Semester 1 [Download]
  • Rpp Ipa EEK Kelas 9 Semester 2 [Download]
Silabus Terbaru IPA SMP [Download]
Kkm Terbaru IPA SMP [Download]
Prota Terbaru IPA SMP [Download]
Promes Terbaru IPA SMP [Download]
SK dan KD Terbaru IPA SMP [Download]
Pemetaan Terbaru IPA SMP [Download]


Kerangka Dasar Kurikulum Nasional Berlaku 2013

JAKARTA, KOMPAS.com – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah melahirkan draf kerangka dasar kurikulum pendidikan nasional. Ditargetkan, pada tahun ajaran 2013 kerangka dasar kurikulum itu sudah mulai diberlakukan.
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kemdikbud Chairil Anwar Notodiputro mengatakan, pihaknya terus mematangkan draf tersebut. Pematangan draf kurikulum tak hanya melibatkan Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kemdikbud, tetapi juga merekrut anggota tim evaluasi dari perguruan tinggi, dan tim independen yang konsen pada beberapa bidang mata pelajaran.
“Kita targetkan 2013 kerangka dasar kurikulum ini sudah bisa digunakan,” katya Chairil saat ditemui Kompas.com, di Gedung Kemdikbud, Jakarta, Selasa (28/8/2012).
Ia menjelaskan, proses evaluasi hingga implementasinya memerlukan waktu yang cukup lama karena ada hal besar di dalamnya. Tak hanya mengubah subtansi, tetapi juga mengubah cara penyampaian termasuk penyiapan dan penyediaan buku ajarnya.
“Itulah pekerjaan besarnya, karena proses pembelajarannya juga harus diubah didukung dengan buku-buku mata pelajarannya,” ujar Chairil.
Seperti diberitakan, naskah kerangka dasar kurikulum pendidikan nasional telah selesai dievaluasi. Saat ini, hasil dari evaluasi itu berupa draf naskah yang terus dikaji dan dipertajam subtansinya.
Kemdikbud sendiri memberi perhatian lebih kepada empat mata pelajaran dalam naskah tersebut. Yakni Bahasa Indonesia, Pendidikan Pancasila, Pendidikan Agama, dan Matematika. Alasannya, keempat mata pelajaran itu dinilai mampu menjadi perekat bangsa.
Sebelumnya, kurikulum pendidikan nasional mendapat sorotan keras dari beberapa pihak. Pasalnya, kurikulum pendidikan yang dimiliki Indonesia dinilai kuno dan tidak mengikuti perkembangan jaman. Di luar itu, kurikulum nasional juga dituntut dapat meningkatkan rasa nasionalisme sekaligus membentuk karakter generasi muda.

Jumat, 07 September 2012

Kisah Seorang Yang Meninggalkan Rokok

Dikisahkan oleh Syaikh Dr. Muhammad al-‘Arifi
Aku pernah diundang di malam Ramadhan dua tahun yang lalu untuk menjadi pembicara dalam satu siaran
live di salah satu siaran televisi. Siaran kala itu berkisar tentang ibadah pada bulan Ramadhan. Siaran itu dilakukan di Makkah al-Mukarramah pada satu kamar di salah satu hotel yang bisa melongok di atas Masjidil al-Haram.

Kala itu, kami berbicara tentang Ramadhan. Para pemirsa televisi bisa melihat dari sela-sela jendela kamar di belakang kami pemandangan orang-orang yang umrah dan thawaf secara langsung.

Kala itu pemandangannya sungguh mengagumkan dan mengharukan, membuat pembicaraan pun semakin berkesan. Hingga pembawa acara menjadi lembut hatinya, dan menangis di tengah halaqah itu. Sungguh suasana itu adalah suasana keimanan, dan tidak merusak suasana itu kecuali salah satu kameramen.

Dia memegang kamera dengan satu tangan, dan tangan yang kedua memegang “Tuhan Sembilan Senti” -menurut istilah Penyair Taufik Ismail-, yaitu rokok. Seakan-akan tidak ada satu waktu yang tersia-siakan dari malam bulan Ramadhan kecuali dia kenyangkan paru-parunya dengan asap rokok.

Hal ini banyak menggangguku. Penghisap rokok itu benar-benar mencekikku, tetapi harus bersabar, karena itu adalah siaran langsung, dan tidak ada alasan, kecuali terpaksa melaluinya. Berlalulah satu jam penuh, dan berakhirlah kajian itu dengan salam.

Kameramen itu pun mendatangiku –sementara rokok masih ada di tangannya- sembari dia mengucapkan terima kasih dan memuji. Maka kukeraskan genggaman tanganku dan kukatakan,
‘Anda juga, saya berterima kasih atas keikutsertaan Anda dalam menyuting acara keagamaan ini. Saya memiliki satu kalimat, barangkali Anda mau menerimanya.’

Dia pun menjawab,
‘Silahkan… silahkan.”

Kukatakan,
‘Rokok dan siga…” (maksudku sigaret),

namun dia memutus pembicaraanku seraya berkata,
‘Jangan menasihatiku… demi Allah, tidak ada faidahnya wahai syaikh.’

Kukatakan,
‘Baik, dengarkan saya… Anda tahu bahwa rokok haram, dan Allah berfirman…’

Dia pun memotong pembicaraanku sekali lagi,
‘Wahai Syaikh, janganlah menyia-nyiakan waktu Anda… saya telah merokok selama 40 tahun… rokok telah mengalir dalam urat nadi saya… tidak ada faidah… selain Anda lebih pandai lagi..!!

Kukatakan,
‘Apa yang ada faidahnya?’

Dia pun merasa tidak enak dariku lalu berkata,
‘Do’akanlah saya… do’akanlah saya.’

Maka akupun memegang tangannya seraya berkata, ‘Mari bersama saya..’
Kukatakan, ‘Mari kita melihat kepada Ka’bah.’

Maka kamipun berdiri di sisi jendela yang bisa melongok di atas al-Haram. Dan ternyata setiap jengkal dipenuhi dengan manusia. Antara yang ruku’, sujud, yang sedang umrah, dan sedang menangis. Sungguh pemandangan yang sangat mengesankan.

Kukatakan,
‘Apakah Anda melihat mereka?’
Dia menjawab,
‘Ya.’
Kukatakan,
‘Mereka datang dari setiap tempat, yang putih, yang hitam… orang Arab dan ‘ajam… yang kaya dan miskin… semuanya berdo’a kepada Allah agar menerima ibadah mereka dan mengampuni mereka…’

Dia menjawab,
‘Benar… benar…’

Kukatakan,
‘Tidakkah Anda menginginkan Allah memberikan kepada Anda apa yang Dia berikan kepada mereka?’

Dia menjawab,
‘Ya… tentu saja.’

Kukatakan,
‘Angkatlah tangan Anda, saya akan berdo’a untuk Anda…
dan aminilah do’a saya.’ Akupun mengangkat kedua tanganku lalu kukatakan, ‘Ya Allah, ampunilah dia…’

Dia berkata,
‘Aamiin.’

Aku berdo’a,
‘Ya Allah, angkatlah derajatnya, dan kumpulkanlah dia bersama dengan orang-orang yang dikasihinya di dalam sorga… ya Allah…’

Dan tidak henti-hentinya aku berdo’a hingga hatinya lembut dan menangis… seraya mengulang-ulang,

‘Aamiin… aamiin…’

Tatkala aku ingin menutup do’a kukatakan,
‘Ya Allah, jika dia meninggalkan rokok, maka kabulkanlah do’a ini, jika tidak, maka haramkan dia atas terkabulnya do’a ini.’

Maka pecahlah tangisan laki-laki tersebut, sembari menutupi wajahnya dengan kedua tangannya dan keluar dari kamar tersebut.

Berbulan-bulan telah berlalu, akupun diundang lagi di studio televisi tersebut untuk melakukan siaran langsung.

Saat aku masuk ke bangunan tersebut, tiba-tiba ada seorang laki-laki yang tampak taat beragama menemuiku, kemudian dia mengucapkan salam dengan hangat, lalu mencium kepalaku, dan merendah meraih kedua tanganku untuk menciumnya, dan sungguh dia sangat terkesan.
Kukatakan kepadanya,

‘Mudah-mudahan Allah mensyukuri kelembutan dan adab Anda… saya sungguh menghargai kecintaan Anda… akan tetapi maaf, saya belum mengenal Anda…’

Maka dia berkata,
‘Apakah Anda masih ingat dengan kameramen yang telah Anda nasihati untuk meninggalkan rokok dua tahun yang lalu.’

Kujawab,
‘Ya…’

Dia berkata,
‘Sayalah dia… demi Allah wahai syaikh… sesungguhnya aku tidak pernah meletakkan rokok di mulutku sejak saat itu.’

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin



__________________________________________

Arsip Blog