Pelaksanaan pembelajaran dilakukan setelah tahap perencanaan pembelajaran. Tahap perencanaan yang dimaksud adalah penyususnan RPP serta penyiapan alat/media pembelajaran yang dbutuhkan. Tahap pelaksanaan pembelajaran meliputi:
a. Kegiatan Pendahuluan
Dalam kegiatan pendahuluan, guru:
mengondisikan suasana belajar yang menyenangkan;
mendiskusikan kompetensi yang sudah dipelajari dan dikembangkan sebelumnya berkaitan dengan kompetensi yang akan dipelajari dan dikembangkan;
menyampaikan kompetensi yang akan dicapai dan manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari;
menyampaikan garis besar cakupan materi dan kegiatan yang akan dilakukan; dan
menyampaikan lingkup dan teknik penilaian yang akan digunakan.
b. Kegiatan Inti
Kegiatan inti merupakan proses pembelajaran untuk mencapai kompetensi, yang dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.
Kegiatan inti menggunakan pendekatan saintifik yang disesuaikan dengan karakteristik mata pelajaran dan peserta didik. Guru memfasilitasi peserta didik untuk melakukan proses mengamati, menanya, mengumpulkan informasi/mencoba, menalar/mengasosiasi, dan mengomunikasikan.
Dalam setiap kegiatan guru harus memperhatikan perkembangan sikap peserta didik pada kompetensi dasar dari KI-1 dan KI-2 antara lain mensyukuri karunia Tuhan, jujur, teliti, kerja sama, toleransi, disiplin, taat aturan, menghargai pendapat orang lain yang tercantum dalam silabus dan RPP.
c. Kegiatan Penutup
Kegiatan penutup terdiri atas:
Kegiatan guru bersama peserta didik yaitu: (a) membuat rangkuman/simpulan pelajaran; (b) melakukan refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan; dan (c) memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran; dan
Kegiatan guru yaitu: (a) melakukan penilaian; (b) merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk
Metode pembelajaran diskusi seringkali dipilih oleh guru terutama untuk materi yang terkait dengan kasus yang sedang hangat di bicarakan atau isu yang menimbulkan pro kontra. Misalnya pada pelajaran IPA, bahasan mengenai kelainan dan penyakit pada berbagai system tubuh akan sangat menarik jika dilakukan dengan metode diskusi. Contoh materi lainnya yang cocok menggunakan metode diskusi adalah materi yang terkait dengan kerusakan alam.
Metode diskusi disamping dapat mempermudah guru dalam menyampaikan materi pelajaran, juga dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengemukakan ide, belajar berkomunikasi, melatih percaya diri serta menghargai dan menerima pendapat orang lain. Namun tak jarang diskusi tidak berjalan optimal ketika tidak semua siswa aktif dalam diskusi. Yang biasanya terjadi adalah siswa yang PD semakin PD dan yang pendiam hanya pasrah saja dan menjadi pendengar yang baik, atau bahkan ada siswa yang sibuk dan asik ngobrol sendiri.
Berikut ini cara untuk mensiasatinya, berdasarkan pengalaman yang saya lakukan:
1.Siapkan gambar yang menarik terkait tema yang akan dibahas. Misalnya kalau temanya kelainan dan penyakit maka pilihlah gambar organ tubuh yang rusak. Kalau temanya tentang lingkungan pilihlah gambar bencana alam, pencemaran, pembantaian binatang yang dilindungi dll. Gambar sebaiknya disiapkan oleh guru. Banyaknya gambar yang disiapkan disesuaikan dengan banyaknya jumlah kelompok yang ada di kelas. Jika jumlah siswa di kelas ada 30 orang maka bisa dibagi menjadi 6 kelompok yang masing-masing beranggotakan 5 orang.
2.Siapkan kertas buram berukuran besar, gunting, kertas warna warni, spidol warna, lem, dan gunting. Alat dan bahan tersebut bisa disediakan oleh guru, atau oleh siswa dengan memberi informasi pada pertemuan sebelumnya.
3.Pada kegiatan awal pembelajaran, guru memperlihatkan gambar untuk menarik perhatian siswa dan memotivasi siswa. Lalu guru menjelaskan kegiatan yang akan dilakukan yaitu bahwa setiap anggota kelompok harus memberi komentar pada gambar yang nantinya akan ditempel di tengah-tengah kertas buram. Komentar dapat ditulis di kertas warna warni untuk kemudian ditempel, atau langsung pada kertas buram. Disini guru harus memberi instruksi dan aturan yang jelas termasuk kategori penilaiannya. misalnya: setiap orang wajib menulis komentar, penilaian dilihat dari segi keaktifan dan variasi komentar dan tulisan. Harus ada penekanan disini bahwa keindahan tulisan tidak menjadi kriteria utama dalam penilaian. Ini untuk menghindari siswa yang jelek tulisannya menjadi minder dan tidak mau mengemukakan pendapatnya. Kemudian harus ditekankan bahwa komentar itu tidak ada benar dan salah, karena yang salah adalah yang tidak berkomentar.
4.Pada kegiatan inti siswa mulai menuangkan idenya pada kertas. Biasanya siswa bersemangat untuk menuangkan idenya. Pada kegiatan ini macam-macam tipe kecerdasan anak bisa terlihat. Anak yang memiliki kecerdasan interpersonal akan giat membantu temannya, yang memiliki kecerdasan visual dan auditori akan sibuk menuangkan ide begitu langkah kerja selesai dijelaskan oleh guru. Dan anak yang cerdas kinestetiknya akan bergerak dan semangat sekali menyiapkan pernak-pernik peralatan seperti gunting, lem, kertas, bahkan biasanya sibuk meminjam dari kelompok lain. Disini proses diskusi dan kerjasama pasti akan terjadi. Ide-ide yang tidak terduga biasanya akan kita lihat dari hasil karya siswa. Terkadang kita tidak menyangka sebelumnya. Ada yang mengomentari dari segi pengetahuan ilmiah, dari segi social, ekonomi bahkan politik. Tak jarang ada komentar kritik pedas terhadap pemerintah.
5.Pada kegiatan akhir setiap kelompok memperesentasikan dengan singkat tentang karyanya. Produk ini bisa dipajang di kelas, dan anak akan bangga ketika karyanya dipajang.
Berikut contoh foto produk siswa. Walau terkesan dadakan, tapi idenya yang tertuang di dalamnya cukup bagus.
Gambar di atas ini berbeda dengan majalah dinding. Majalah dinding biayanya mahal, proses membuatnya lama, dan biasanya tidak semua siswa terlibat dalam pembuatannya. Majalah dinding mementingkan unsur keindahan. Gambar di atas lebih menilai ide dan komentar dari siswa.
RPP merupakan perencanaan pembelajaran yang harus disusun guru sebelum kegiatan pembelajaran berlangsung. Penyusunan RPP biasanya dilakukan guru di awal semester, baik secara pribadi maupun bersama-sama dengan guru yang lain. Dalam menyusun RPP ada 8 langkah penyusunan sebagai berikut:
Pertama, pengkajian silabus meliputi: (1) KI dan KD; (2) materi pembelajaran; (3) proses pembelajaran; (4) penilaian pembelajaran; (5) alokasi waktu; dan (6) sumber belajar;
Kedua, Perumusan indikator pencapaian KD pada KI-1, KI-2, KI-3, dan KI-4;
Ketiga, Materi Pembelajaran dapat berasal dari buku teks pelajaran dan buku panduan guru, sumber belajar lain berupa muatan lokal, materi kekinian, konteks pembelajaran dari lingkungan sekitar yang dikelompokkan menjadi materi untuk pembelajaran reguler, pengayaan, dan remedial;
Keempat, Penjabaran Kegiatan Pembelajaran yang ada pada silabus dalam bentuk yang lebih operasional berupa pendekatan saintifik disesuaikan dengan kondisi peserta didik dan satuan pendidikan termasuk penggunaan media, alat, bahan, dan sumber belajar;
Kelima, Penentuan alokasi waktu untuk setiap pertemuan berdasarkan alokasi waktu pada silabus, selanjutnya dibagi ke dalam kegiatan pendahuluan, inti, dan penutup;
Keenam, Pengembangan penilaian pembelajaran dengan cara menentukan lingkup, teknik, dan instrumen penilaian, serta membuat pedoman penskoran;
Ketujuh, Menentukan strategi pembelajaran remedial segera setelah dilakukan penilaian; dan
Kedelapan, Menentukan Media, Alat, Bahan dan Sumber Belajar disesuaikan dengan yang telah ditetapkan dalam langkah penjabaran proses pembelajaran.
Kabar baik datang Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Ilmu Pengetahuan Alam (PPPPTK IPA). Lembaga teknis yang salah satu fungsi dan tugasnya adalah meningkatkan kompetensi, kemampuan, keterampilan, wawasan, dan profesionalisme pendidik dan tenaga kependidikan IPA itu akan menggelar Festival Kreativitas dan Karya Inovasi Guru IPA SD/MI, SMP/MTs dan SMA/MA/SMK.
Kegiatan ini mengangkat tema “Kreativitas Guru untuk Pembelajaran IPA yang Lebih Baik”, diperuntukkan kepada Guru IPA jenjang SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, SMK se-Indonesia. Ruang lingkup kegiatan adalah menampilkan kreatifitas guru IPA dalam beberapa karya berikut ini :
Media pembelajaran/bahan ajar interaktif berbasis komputer untuk setiap standar kompetensi atau beberapa kompetensi dasar.
Alat peraga yang bermanfaat untuk pendidikan
Alat praktikum yang bermanfaat untuk pendidikan
Hasil pengembangan metodologi/evaluasi pembelajaran.
Bagi anda yang berminat, segera saja mendaftar. Info selengkapnya klik di sini.Pendaftaran peserta di batasi sampai tanggal 30 Juni 2012 ini. Ayo...tunjukkan karyamu !!!
Perkembangan dunia ICT begitu mendukung dunia pendidikan. Salah satunya dengan adanya software Crossword Forge yang bisa digunakan untuk membuat teka-teki silang/puzzle. Kita bisa memanfaatkan software ini untuk membuat puzzle sebagai media pembelajaran bagi siswa. Sebagai contoh puzzle di bawah ini untuk siswa kelas IX SMP. Silahkan dikerjakan ya !
Apa kabar sahabat?, Kembali saya posting di blog Catatan Sang Pengajar ini. Kali ini saya tuliskan sebuah catatan dari sosialisasi dan pengarahan pengawas mengenai penilaian, SKB 5 Menteri, dan Penilaian Kinerja Guru. Catatan ini merupakan rangkuman dari apa yang disampaikan bapak pengawas (Drs Setyawan, M.Pd) di SMP Negeri 2 Paranggupito hari Kamis, 9 Februari 2011. Beberapa hal yang disampaikan tentu saja dalam konteks khusus SMP Negeri 2 Paranggupito.
Berikut rangkumannya :
Seputar Penilaian
Program Penilaian dibuat matrik seperti Promes
Tugas Terstruktur : menguatkan satu KD, waktu maksimal 50% dari alokasi waktu tatap muka
Kegiatan Mandiri Tidak Terstruktur, kegiatan mandiri tanpa bimbingan guru, menguatkan banyak KD, waktu lama
Remidi = Remidial teaching diakhiri remedial tes
Bentuk remidi = tes
Jika ketuntasan dibawah 75% maka pembelajaran harus diulang
Soal remidi tes disesuaikan dengan masing-masing siswa, tiap siswa bisa jadi berbeda
Analisis hasil UH tidak menganalisis soal, hanya memuat analisis hasil UH+tuntas/tidaknya+remidi/pengayaan
Remidiasi di luar jam pelajaran, bisa menggabungkan beberapa kelas maupun lintas kelas
Nilai yang dimasukkan ke dalam rapor adalah nilai yang sudah tuntas
Pengayaan tidak wajib
Dokumen penilaian kepribadian dan akhlak mulia setiap guru dalam nilai kuantitatif. Nilai kepribadian diserahkan ke guru PKn, nilai akhlak mulia diserahkan ke guru Agama untuk kemudian di rata-rata dan dikualitatifkan
Nilai kepribadian bisa diolah bersama nilai harian dan tugas menjadi nilai UH
Penilaian Kinerja Guru
Berdasarkan Permennegpan & RB No 16 Tahun 2009
Empat jabatan fungsional guru (PErtama, Muda, Madya, Utama)
Guru akan dinilai kinerjanya dan wajib mengikuti Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) setiap tahun
Beban mengajar guru 24 – 40 jam tatap muka per minggu atau membimbing 150 konseli per tahun
Jumlah angka kredit yang diperoleh guru tergantung pada hasil penilaian kinerjanya dan PKB (system paket)
PKB harus dilaksanakan sejak golongan III/a melaluipengembangan diri. Sejak golongan III/b dilakukan bersama dengan publikasi ilmiah dan/atau karya inovatif
Penilaian Kinerja Guru dilakukan setiap tahun
2014 tidak ada sertifikasi guru jalur PLPG dan portofolio, adanya PPG
SKB 5 Menteri
Diharapkan ada pemerataan guru
Di Wonogiri khususnya guru PKn dan Bahasa Indonesia
Di era kecanggihan teknologi ini guru dan siswa semakin dimudahkan dalam kegiatan belajar mengajar. Bagaimana tidak....berbagai media pembelajaran berbasis ICT, animasi pembelajaran sampai dengan simulasi pembelajaran kini bisa kita dapatkan dengan mudah. Salah satunya adalah berbagai simulasi yang disediakan cuma-cuma oleh phET yang bisa diakses di http://phet.colorado.edu . Semua simulasi yang disediakan berbasis java dan flash bisa digunakan untuk kegiatan belaja mengajar di kelas maupun untuk pembelajaran mandiri. Berbagai simulasi ini bisa dijalankan secara online dan bisa juga kita download.
Untuk memudahkan pencarian, berikut link download beberapa simulasi tersebut :
Sejalan dengan pesatnya perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dewasa ini maka pembelajaran dengan pendekatan berbasis TIK (ICT Based Learning) sungguh tidak terelakkan implementasinya. Pendekatan ini terbukti telah menjadikan proses pembelajaran lebih efektif, dan sejalan dengan itu pendekatan ini jugamemacu kreativitas, menghapus kejenuhan dan menciptakan berbagai bentuk inovasi pihak-pihak yang terlibat dalam proses pembelajaran itu sendiri.
Inovasi-inovasi yang muncul dalamICT Based Learning diantaranya berupa implementasi Multimedia Pembelajaran Inovatif(MPI) yang lebih modern dari sekedar media pembelajaran konvensional dan membawa nafas kehidupan baru dalam penyelenggaraan pendidikan. MPI yang sering disebut dengan CD Interaktif tersebut merupakan sumber belajar yang dapat dimanfaatkan oleh siswa dalam proses pembelajaran mandiri yang berisi satu topik sajian yang utuh dari standar kompetensi dan kompetensi dasar tertentu yang dikembangkan dengan menggunakan berbagai software aplikasi. Berbagai penelitian hampir selalu menyebutkan bahwa kegiatan ini berdampak postif pada proses pembelajaran dengan adanya kemudahan bagi guru dalam menyampaikan materi pembelajaran dan kemudahan bagi siswa menyerap materi pelajaran.
Dalam mensikapi kondisi yang demikian dan untuk lebih memantapkan perannya dalam mendukung kemajuan pendidikan nasional maka Microsoft Indonesia bermaksud menyelenggarakan kompetisi guru inovatif Indoneisa dalam pengembangan MPI dan implementasinya dalam bentukPenelitian Tindakan Kelas (PTK)dengan tajuk"National Inovative Teacher Competition 2011 "dengan sasaran peserta guru di seluruh Indonesia.
Dasar
Undang-undang No. 20 tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional Program CSR Microsoft Partners in Learning Peserta
Peserta adalah Guru Indonesia yang masih aktif mengajar di TK/RA/PAUD, SD/MI/SDLB, SMP/MTs/SMPLB, SMA/MA/SMALB dan SMK/MAK atau sederajat.
Tujuan
Meningkatkan kreativitas guru-guru Indonesia dalam mendesain, mengembangkan, dan mengimplementasikan Multimedia Pembelajaran Inetraktif (MPI) sebagai alternatif pembelajaran berbasis ICT(ICT Based Learning) yang dibuktikan kebermanfaatannya dalam sebuah Penelitian Tindakan Kelas.
Hasil yang diharapkan
Terciptanya karya-karya original MPI yang inovatif dan diimplementasikan dalam PTK serta terbukti efektif meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia.
Dokumen Terkait
Silahkan download dokumen-dokumen yang terkait pada website resmi NITC 2011 [klik di sini]
Guru adalah pendidik profesional yang mempunyai tugas, fungsi, dan peran penting dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Guru yang profesional diharapkan mampu berpartisipasi dalam pembangunan nasional untuk mewujudkan insan Indonesia yang bertakwa kepada Tuhan YME, unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, memiliki jiwa estetis, etis, berbudi pekerti luhur, dan berkepribadian. Tidaklah berlebihan kalau dikatakan bahwa masa depan masyarakat, bangsa dan negara, sebagian besar ditentukan oleh guru. Oleh sebab itu, profesi guru perlu dikembangkan secara terus menerus dan proporsional menurut jabatan fungsional guru. Selain itu, agar fungsi dan tugas yang melekat pada jabatan fungsional guru dilaksanakan sesuai dengan aturan yang berlaku, maka diperlukan Penilaian Kinerja Guru (PK GURU) yang menjamin terjadinya proses pembelajaran yang berkualitas di semua jenjang pendidikan.
Pelaksanaan PK GURU dimaksudkan bukan untuk menyulitkan guru, tetapi sebaliknya PK GURU dilaksanakan untuk mewujudkan guru yang profesional, karena harkat dan martabat suatu profesi ditentukan oleh kualitas layanan profesi yang bermutu. Menemukan secara tepat tentang kegiatan guru di dalam kelas, dan membantu mereka untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya, akan memberikan kontribusi secara langsung pada peningkatan kualitas pembelajaran yang dilakukan, sekaligus membantu pengembangan karir guru sebagai tenaga profesional. Oleh karena itu, untuk meyakinkan bahwa setiap guru adalah seorang profesional di bidangnya dan sebagai penghargaan atas prestasi kerjanya, maka PK GURU harus dilakukan terhadap guru di semua satuan pendidikan formal yang diselenggarakan oleh pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat. Guru yang dimaksud tidak terbatas pada guru yang bekerja di satuan pendidikan di bawah kewenangan Kementerian Pendidikan Nasional, tetapi juga mencakup guru yang bekerja di satuan pendidikan di lingkungan Kementerian Agama.
Hasil PK GURU dapat dimanfaatkan untuk menyusun profil kinerja guru sebagai input dalam penyusunan program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB). Hasil PK GURU juga merupakan dasar penetapan perolehan angka kredit guru dalam rangka pengembangan karir guru sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya. Jika semua ini dapat dilaksanakan dengan baik dan obyektif, maka cita-cita pemerintah untuk menghasilkan ”insan yang cerdas komprehensif dan berdaya saing tinggi” lebih cepat direalisasikan.
Untuk memperoleh gambaran yang jelas mengenai Penilaian Kinerja Guru (PK Guru) silahkan download file presentasi PK Guru yang saya susun. Untuk download [klik di sini].
oleh : Depdiknas A. Apa itu PAKEM? PAKEM adalah singkatan dari Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. Aktif dimaksudkan bahwa dalam proses pembelajaran guru harus menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga siswa aktif bertanya, mempertanyakan, dan mengemukakan gagasan. Belajar memang merupakan suatu proses aktif dari si pembelajar dalam membangun pengetahuannya, bukan proses pasif yang hanya menerima kucuran ceramah guru tentang pengetahuan. Sehingga, jika pembelajaran tidak memberikan kesempatan kepada siswa untuk berperan aktif, maka pembelajaran tersebut bertentangan dengan hakikat belajar. Peran aktif dari siswa sangat penting dalam rangka pembentukan generasi yang kreatif, yang mampu menghasilkan sesuatu untuk kepentingan dirinya dan orang lain. Kreatif juga dimaksudkan agar guru menciptakan kegiatan belajar yang beragam sehingga memenuhi berbagai tingkat kemampuan siswa. Menyenangkan adalah suasana belajar-mengajar yang menyenangkan sehingga siswa memusatkan perhatiannya secara penuh pada belajar sehingga waktu curah perhatiannya tinggi. Menurut hasil penelitian, tingginya waktu curah terbukti meningkatkan hasil belajar. Keadaan aktif dan menyenangkan tidaklah cukup jika proses pembelajaran tidak efektif, yaitu tidak menghasilkan apa yang harus dikuasai siswa setelah proses pembelajaran berlangsung, sebab pembelajaran memiliki sejumlah tujuan pembelajaran yang harus dicapai. Jika pembelajaran hanya aktif dan menyenangkan tetapi tidak efektif, maka pembelajaran tersebut tak ubahnya seperti bermain biasa. Secara garis besar, gambaran PAKEM adalah sebagai berikut: • Siswa terlibat dalam berbagai kegiatan yang mengembangkan pemahaman dan kemampuan mereka dengan penekanan pada belajar melalui berbuat. • Guru menggunakan berbagai alat bantu dan cara membangkitkan semangat, termasuk menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar untuk menjadikan pembelajaran menarik, menyenangkan, dan cocok bagi siswa. • Guru mengatur kelas dengan memajang buku-buku dan bahan belajar yang lebih menarik dan menyediakan ‘pojok baca’ Guru menerapkan cara mengajar yang lebih kooperatif dan interaktif, termasuk cara belajar kelompok. • Guru mendorong siswa untuk menemukan caranya sendiri dalam pemecahan suatu masalah, untuk mengungkapkan gagasannya, dan melibatkam siswa dalam menciptakan lingkungan sekolahnya. B. Apa yang harus diperhatikan dalam melaksanakan PAKEM? 1. Memahami sifat yang dimiliki anak Pada dasarnya anak memiliki sifat: rasa ingin tahu dan berimajinasi. Anak desa, anak kota, anak orang kaya, anak orang miskin, anak Indonesia, atau anak bukan Indonesia – selama mereka normal – terlahir memiliki kedua sifat itu. Kedua sifat tersebut merupakan modal dasar bagi berkembangnya sikap/berpikir kritis dan kreatif. Kegiatan pembelajaran merupakan salah satu lahan yang harus kita olah sehingga subur bagi berkembangnya kedua sifat, anugerah Tuhan, tersebut. Suasana pembelajaran dimana guru memuji anak karena hasil karyanya, guru mengajukan pertanyaan yang menantang, dan guru yang mendorong anak untuk melakukan percobaan, misalnya, merupakan pembelajaran yang subur seperti yang dimaksud. 2. Mengenal anak secara perorangan Para siswa berasal dari lingkungan keluarga yang bervariasi dan memiliki kemampuan yang berbeda. Dalam PAKEM (Pembelajaran Aktif, Menyenangkan, dan Efektif) perbedaan individual perlu diperhatikan dan harus tercermin dalam kegiatan pembelajaran. Semua anak dalam kelas tidak selalu mengerjakan kegiatan yang sama, melainkan berbeda sesuai dengan kecepatan belajarnya. Anak-anak yang memiliki kemampuan lebih dapat dimanfaatkan untuk membantu temannya yang lemah (tutor sebaya). Dengan mengenal kemampuan anak, kita dapat membantunya bila mendapat kesulitan sehingga belajar anak tersebut menjadi optimal. 3. Memanfaatkan perilaku anak dalam pengorganisasian belajar Sebagai makhluk sosial, anak sejak kecil secara alami bermain berpasangan atau berkelompok dalam bermain. Perilaku ini dapat dimanfaatkan dalam pengorganisasian belajar. Dalam melakukan tugas atau membahas sesuatu, anak dapat bekerja berpasangan atau dalam kelompok. Berdasarkan pengalaman, anak akan menyelesaikan tugas dengan baik bila mereka duduk berkelompok. Duduk seperti ini memudahkan mereka untuk berinteraksi dan bertukar pikiran. Namun demikian, anak perlu juga menyelesaikan tugas secara perorangan agar bakat individunya berkembang. 4. Mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan kemampuan memecahkan masalah Pada dasarnya hidup ini adalah memecahkan masalah. Hal ini memerlukan kemampuan berpikir kritis dan kreatif. Kritis untuk menganalisis masalah; dan kreatif untuk melahirkan alternatif pemecahan masalah. Kedua jenis berpikir tersebut, kritis dan kreatif, berasal dari rasa ingin tahu dan imajinasi yang keduanya ada pada diri anak sejak lahir. Oleh karena itu, tugas guru adalah mengembangkannya, antara lain dengan sering-sering memberikan tugas atau mengajukan pertanyaan yang terbuka. Pertanyaan yang dimulai dengan kata-kata “Apa yang terjadi jika …” lebih baik daripada yang dimulai dengan kata-kata “Apa, berapa, kapan”, yang umumnya tertutup (jawaban betul hanya satu). 5. Mengembangkan ruang kelas sebagai lingkungan belajar yang menarik Ruang kelas yang menarik merupakan hal yang sangat disarankan dalam PAKEM. Hasil pekerjaan siswa sebaiknya dipajangkan untuk memenuhi ruang kelas seperti itu. Selain itu, hasil pekerjaan yang dipajangkan diharapkan memotivasi siswa untuk bekerja lebih baik dan menimbulkan inspirasi bagi siswa lain. Yang dipajangkan dapat berupa hasil kerja perorangan, berpasangan, atau kelompok. Pajangan dapat berupa gambar, peta, diagram, model, benda asli, puisi, karangan, dan sebagainya. Ruang kelas yang penuh dengan pajangan hasil pekerjaan siswa, dan ditata dengan baik, dapat membantu guru dalam PEMBELAJARAN karena dapat dijadikan rujukan ketika membahas suatu masalah. 6. Memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar Lingkungan (fisik, sosial, atau budaya) merupakan sumber yang sangat kaya untuk bahan belajar anak. Lingkungan dapat berperan sebagai media belajar, tetapi juga sebagai objek kajian (sumber belajar). Penggunaan lingkungan sebagai sumber belajar sering membuat anak merasa senang dalam belajar. Belajar dengan menggunakan lingkungan tidak selalu harus keluar kelas. Bahan dari lingkungan dapat dibawa ke ruang kelas untuk menghemat biaya dan waktu. Pemanfaatan lingkungan dapat men-gembangkan sejumlah keterampilan seperti mengamati (dengan seluruh indera), mencatat, merumuskan pertanyaan, berhipotesis, mengklasifikasi, membuat tulisan, dan membuat gambar/diagram. 7. Memberikan umpan balik yang baik untuk meningkatkan kegiatan belajar Mutu hasil belajar akan meningkat bila terjadi interaksi dalam belajar. Pemberian umpan balik dari guru kepada siswa merupakan salah satu bentuk interaksi antara guru dan siswa. Umpan balik hendaknya lebih mengungkap kekuatan daripada kelemahan siswa. Selain itu, cara memberikan umpan balik pun harus secara santun. Hal ini dimaksudkan agar siswa lebih percaya diri dalam menghadapi tugas-tugas belajar selanjutnya. Guru harus konsisten memeriksa hasil pekerjaan siswa dan memberikan komentar dan catatan. Catatan guru berkaitan dengan pekerjaan siswa lebih bermakna bagi pengembangan diri siswa daripada hanya sekedar angka. 8. Membedakan antara aktif fisik dan aktif mental Banyak guru yang sudah merasa puas bila menyaksikan para siswa kelihatan sibuk bekerja dan bergerak. Apalagi jika bangku dan meja diatur berkelompok serta siswa duduk saling berhadapan. Keadaan tersebut bukanlah ciri yang sebenarnya dari PAKEM. Aktif mental lebih diinginkan daripada aktif fisik. Sering bertanya, mempertanyakan gagasan orang lain, dan mengungkapkan gagasan merupakan tanda-tanda aktif mental. Syarat berkembangnya aktif mental adalah tumbuhnya perasaan tidak takut: takut ditertawakan, takut disepelekan, atau takut dimarahi jika salah. Oleh karena itu, guru hendaknya menghilangkan penyebab rasa takut tersebut, baik yang datang dari guru itu sendiri maupun dari temannya. Berkembangnya rasa takut sangat bertentangan dengan ‘PAKEMenyenangkan.’
============= Dikutip dari http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/22/konsep-pakem/
Dalam bacaan ini dipaparkan pengertian, kegunaan, dan bentuk jurnal belajar.
Kompetensi dan indikator keberhasilan pembelajaran dari topik ini adalah guru dan guru pemandu dapat memahami dan menerapkan pengembangan jurnal belajar baik untuk peserta didik dan guru apabila disediakan dokumen kurikulum, SK-KD mata pelajaran serta BBM kompetensi pedagogik dan profesional sehingga dapat merencanakan, melaksanakan, mengevaluasi dan melakukan kegiatan pengembangan jurnal belajar yang akan berdampak positif terhadap peningkatan mutu peserta didik, kompetensi guru dan mutu pendidikan.
Tabel.Kompetensi dan Indikator
No
Kompetensi
Indikator
1
Penyusunan jurnal belajar
Jurnal belajar peserta didik
Jurnal belajar guru, kepala sekolah dan pengawas sekolah
2
Pengisian jurnal belajar
Pengisian jurnal belajar peserta didik
Pengisian jurnal belajar guru, kepala sekolah dan pengeas sekolah
3
Evaluasi dan Program Tindak lanjur hasil pengisian jurnal belajar
Evaluasi dan program tindak lanjut bagi peserta didik
Evaluasi dan program tindak lanjut bagi guru, kepala sekolah dan pengawas sekolah
4
PenyusunanKTI berupa jurnal
jurnal peserta didik
jurnal guru, kepala sekolah , pengawas sekolah.
5
Tugas tersruktur dan mandiri
Keterangan:
Kompetensi yang dipelajari
B.Bahan Belajar
Program BERMUTU diarahkan kepada peningkatan hasil belajar peserta didik. Untuk mencapai peningkatan hasil belajar peserta didik, guru diminta menerapkan pembelajaranPAIKEM (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan). Salah satu yang belum banyak disinggung adalah pemanfaatan Jurnal Belajar (dokumen yang secara terus-menerus bertambah dan berkembang,sebagai rekaman terhadap perkembangan materi yang sedang dipelajari). Bahan Belajar Mandiri (BBM) yang disiapkan bagi guru di KKG dan MGMP belum ada tentang jurnal belajar. Pada hal jurnal belajar sangat bermanfaat untuk meningkatkan kebiasaan peserta didik dalam menulis. Selain itu, jurnal belajar bermanfaat untuk merefleksikan hasil belajar, menyusun suatu alur pikir secara tertulis, yang bagi guru dapat menjadi acuan dalam menilai berhasil tidaknya peserta didik mempelajari materi yang disampaikan.
Jurnalbelajar diprediksi memberikan kontribusi positif dalam pengembangan disiplin akademik di bidang ilmu pengetahuan, teknologi dan seni. Pentingnya jurnal belajar sudah disadari oleh perguruan tinggi. Hanya saja, masalah-masalah klasikyang dihadapi seperti pendanaan, pengelolaan (manajemen penerbitan) serta sustainibilitasnya. Pengelolaan atau penggunaan jurnal belajar peserta didik pada pendidikan dasarmenghadapi problematika tersendiri. Akan tetapi, jika diberdayakan dan dimanfaatkan dengan baik niscaya akan memberikan hasil yang luar biasa terutama dalam pembiasaan menulis secara efektif. Guru-guru di sekolah dasar dan sekolah menengah pertama harus berpengalaman dalam menggunakan jurnal belajar sebagai sarana dalam membelajarkan peserta didik.
Jurnal belajarmenjadi penting dalam sudut pandang seperti tersebut di atas, maka semboyan ilmuwan-ilmuwan Amerika “Publish or Perish” (menulis atau lenyab) diharapkan dapat dijadikan pemicu agar para pendidik di negeri tercinta inimemiliki kesadaran untuk menulis. Penggunaan jurnal belajardiharapkan tidak bisa lepas dari membangun budaya, kebiasaan-kebiasaan menulis untuk mengisi secara terus-menerus khazanah keilmuan dalam bidang pembelajaran. Ironisnya kebiasaan membaca untuk memperkaya khazanah keilmuan pembelajaran (pendidikan) masih rendah di kalangan pendidik dan tenaga kependidikan kita. Tidak jarang guru di sekolah kita yang hanya mengajar dari ilmu yang didapat semasa kuliah (yang biasanya sudah kadaluarsa). Jika ditanya, mengapa tidak membaca sumber-sumber yang lebih up to date (terkini, mutakhir), guru tersebut menjawab tidak ada dana untuk membeli buku sumber atau bahasa Inggris tidak dikuasai atau berbagai alasan lain. Pada hal guru sebagai agen pembaharuan, dituntut untuk membaca artikel-artikel keilmuan bermutu , terampil mengakses sumber informasi lewat internet secara berkesinambungan serta mengkaji atau mengujinya untuk menjawab permasalahan-permasalahan pembelajaran di sekolah. Lewat artikel-artikel pada Jurnal belajaryang akan diterbitkan ini sebagian permasalahan yang dihadapi guru tersebut dapat diatasi.
Bagi pendidik dan tenaga kependidikan, yang telah memiliki kecintaan dan kebiasaan menulis atau membaca, mereka tidak mungkin akan terus menerus dapat menulis tanpamembaca dan tanpa didukung dengan sarana-prasarana atau wadah yang tepat. Paling tidak, kepala sekolah dan pengawas sekolah menghargai karya tulis ilmiah, artikel atau buku yang mereka dihasilkan. Kebiasaan membaca, kecintaan menulis artikel adalah bagian daripengembangan profesionalitas dan pengembangan intelektualitas yang sangat perlu ditumbuhkan dalam diri pendidik dan tenaga kependidikan di sekolah kita. Membaca dan menulis bagi pendidik dan tenaga kependidikan dapat diilustrasikan sebagai aktivitas harian seperti halnya bernafas.
Jurnal belajaradalah wadah yang memuat hasil refleksi dalam bidang pembelajaran yang diperuntukan bagi peserta didik. Guru, kepala sekolah dan pengawas sekolah dapat membacanya sebagai bahan masukan untuk melihat kemampuan peserta didik dalam bidang yang dipelajarinya. Peserta didik mengisinya dengan hasil bacaan, hasil diskusi, refleksi terhadap temuan dalam pembelajaran, hasil pengamatan, hasil abstraksi atau apa saja yang berkaitan dengan pembelajaran di sekolah. Bila perlu bukan hanya peserta didik yang mempunyai karya yang berkualitas dapat mengisinya. Akan tetapi kesempatan diberikan kepada semua peserta didik, walaupun menurut guru apa yang dituliskan peserta didik itu pada awalnya hanya cerita yang kelihatannya kurang bermakna bagi guru. Jurnal belajar tidak hanya berorientasi pada pengembangan kemampuan akademis semata akan tetapi diharapkan melalui kebiasaan menuliskan pengalaman belajar, peserta didik tersebut terbiasa mengekspresikan perasaan, pemikiran ataupun harapannya tentang pembelajaran yang diberikan guru. Jadi lebih dekat sebagai alat untuk komunikasi dan diseminasi informasi, temuan, pemikiran, hasil pengamatan tentang pembelajaran. Setiap peserta didik dapat mengisi jurnal belajar, meskipun belum mampu menulis dengan kriteria ilmiah. Isi dari Jurnal belajartidak harus dalam bentukartikel hasil penelitian, hasil telaahan yang memenuhi kriteria ilmiah. Akan tetapi dapat berupa kalimat-kalimat sederhana, entah itu penyelesaian soal mata pelajaran tertentu atau bahkan hanya ungkapan bahwa peserta didik itu senang belajar hari itu karena guru memberi kesempatan ke luar kelas untuk mengamati tanaman di sekitar sekolah pada pelajaran IPA.
Untuk menggunakan Jurnal Belajardibutuhkan keberanian. Untuk memulai dan mendorong guru diperlukan inisiatif kepala sekolah atau dan pengawas sekolah. Kebersamaandi antara pendidik dan tenaga kependidikan yang menjadi anggota kelompok kerja masing-masing merupakan modal utama dan kunci untuk menerbitkan jurnal belajar. Pendekatan-pendekatan personal kepada anggota kelompok kerja diperkirakan akan mampu membangkitkan semangat untukmenerbitkan jurnal belajar. Kebersamaan dalam memecahkan masalah, diskusi dari hati ke hati, mengajak anggota kelompok kerja untuk merancang,membuat nama jurnal dan memilih pengelola dan menulis isi jurnal.
Kebiasaan menulis artikel di media masa atau menulis di jurnal ilmiah, menyusun karya tulis ilmiah oleh guru dan lain sebagainya dapat ditumbuhkembangkan melalui pembiasan peserta didik untuk mengisi jurnal belajar. Diperkirakan jurnal tersebut memberi sumbangan yang besar dan positif untuk membangun tradisi berpikir ilmiah dan menuliskannya dalam bentuk artikel di jurnal. Kehadiran jurnal belajar di pendidikan dasar diharapkan dapat memberikan kontribusi positif terhadap pengembangan disiplin akademik para peserta didiknya. Oleh sebab itu pendidik dan tenaga kependidikan dalam kegiatan kelompok kerja KKG, MGMP, KKKS dan MKKS seyogianya mempelajari manfaat jurnal belajar dan memanfaatkan seoptimal mungkin. Kebiasaan menulis junal belajar sangat bermanfaat bagi peserta didik kelak di perguruan tinggi dalam menulis pada jurnal ilmiah sebagai wadah komunikasi hasil penelitian dan telaah ilmiah.
Jurnal belajar diharapkan menjadi wadah dalam pengembangan kualitas pendidikan, khususnya di bidang pembelajaran. Pendidik dan tenaga kependididkan diharapkan berpartisipasi untuk mengisi dan memperbarui materi keilmuan yang diajarkan dan cara-cara mengajarkannya. Bahkan guru pemula dapat menjadikan jurnal tersebut sebagai rujukan pemutakhiran metode pembelajaran dan materi yang diajarkan. Peserta didik yang berada di kota besar, sekarang ini sudahdengan mudah dapat mengakses pengetahuan melalui internet, yang kemungkinan membuat pendidik dan tenaga kependidikan semakin tertinggal, apabila gurunya hanya mengandalkan sumber belajar yang konvensional. Selain itu, meningkatkan minat baca dan menulis bukan hanya kewajiban bagi peserta didik, akan tetapi merupakan kewajiban bagi pendidik dan tenaga kependidikan. Proses pembelajaran di sekolah tidak akan dapat mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kalau guru-gurunya tidakterbiasa membaca. Pendidik dan tenaga kependidikan tidak mungkin dapat menulis karya tulis ilmiah atau artikel populer yang baik tanpa banyak membaca. Menulis dan membaca adalah pintu gerbang utama mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Tawaran menulis jurnal belajar sering menjadi beban bagi sebagian besar peserta didik. Belum dapat dijelaskan apakah hal ini terjadi karena banyaknya tenaga pengajar yang kurang mampu memotivasi peserta didik dan kurang memahami makna jurnal belajar atau kemungkinan sang guru sendiri belum pernah mengisi jurnal belajar. Meskipun gurunya sudah berkualifikasi S1 bahkan yang sudah S2 tidak ada jaminan bahwa mereka sudah terbiasa memanfaatkan jurnal belajar, tetapi kalau hal tersebut merupakan alasan, pada hal seharusnya pendidik membiasakan diri untuk memanfaatkan jurnal belajar. Pada umumnya guru masihbelum tahu makna jurnal belajar dan tidak terbiasa memanfaatkan sebagai sarana pembelajaran yang efektif. Sebagian guru mengalami kesulitan membuat karya tulis ilmiah diperkirakan karena sejak dulu belum pernah mengisi jurnal belajar.
Jurnal belajar, sebagai istilah yang diterjemahkan dari learning journal yakni merupakan dokumen yang secara terus-menerus bertambah dan berkembang. Biasanya ditulis oleh pembelajar, sebagai rekaman terhadap perkembangan materi yang sedang dipelajari. Sebenarnya, bisa saja terdapat beberapa jurnal sesuai dengan mata pelajaran yang diikuti atau bahkan ada jurnal yang berkaitan dengan pekerjaan sehari-hari. Sekarang ini yang banyak berkembang adalah jurnal belajar secara online, di mana peserta dididk dapat melakukan dialog (seperti dalam bentuk forum), bahkan peserta dididik dari sekolah lain pun boleh ikut bergabung.
Jurnal belajarbukan:
§Ringkasan materi pembelajaran, tetapi lebih fokus pada refleksi peserta didik terhadap apa yang telah dibaca atau yang sedangdipelajari
§Katalog belajar, karena dalam katalog belajar biasanya ditulis waktu dantanggal mengajar atau dipelajari. Suatu katalog merupakan rekaman peristiwa, akan tetapi jurnal belajar merupakan rekaman refleksi dan hasil pengamatan dan pemikiran peserta didik.
Apa Keuntungan dari Jurnal belajar?
Siapa yang paling diuntungkan kalau Jurnal belajarditerbitkan? Tentu peserta didik. Kenyataan menunjukkan, bahwa jika peserta didik memelihara rekaman tentang apa yang diajarkan dan bagaimana materi itu diajarkan, ini merupakan penunjang untuk tetap mengingatnya di dalam kepala, ada pepatah orang tua yang mengatakan ”sebenarnya peserta didik belum tahu apa-apa sampai peserta didik tersebut dapat menuliskannya” dan beberapa hasil penelitian telah membukti bahwa ungkapan tersebut benar. Mengatakan apa yang telah diajarkan, peserta didik dapat menelusuri apa saja kemajuan yang telah didapatkan atau dilakukan. Ini juga berarti peserta didik mulai mencatat perbedaan di antara pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki tentang mengajar.
Siapa Penulis Jurnal belajar?
Seratus tahun yang lalu, pendidikan jarak jauh belum ada dan buku teks masih sangat mahal harganya. Ketika itu, mahapeserta didik harus menuliskan apa yang telah dipelajari pada buku catatan. Isi catatan kuliah tersebut adalah ringkasan darimateri yang telah dipelajari. Yang menjadi fokus peserta adalah mereka harus menulis dan memutuskan sendiri apa yang akan ditulis. Pada saat ini tidak dibutuhkan catatan kuliah karena materi kuliah dapat diakses secara online, karena bahan kuliah, yang lebih lengkap dari catatan itu sudah ada di website. Harga buku teks pun sudah relatif murah dan karena kuliah dilaksanakan secara online berartipeserta didiknya harus mampu mengupload bahannya ke internet (web). Jadi dalam arti seperti pengganticatatan kuliah, peserta didik hendaknya menggunakan Jurnal belajar. Penekanannya memang berbeda tetapi tujuannya sama, yaitu membantu memaknai apa yang telah dipelajari peserta didik pada saat peserta didik mengajar.
Isi Jurnal belajar dapat meliputi:
§Butir-butiryang ditemukan, khususnya materi yang menarik dari yang dibaca peserta didik dan tertarik untuk ditindaklanjuti lebih detail;
§Pertanyaan yang muncul di benak peserta didik yang berkaitan dengan materi yang dibaca pada topik tertentu (bahan ajar);
§Setelah pembelajaran di kelas berlangsung (segera setelahnya, jika memungkinkan) adalah merupakan waktu yang paling tepat untuk membuat catatan untuk me-reinforce (mendorong dengan sekuat tenaga) hasil belajarpeserta didik dengan mencoba mengingat apa inti yang telah diajarkan. Berpikir apa yang menjadi poin utama yang baru bagi peserta didik dari materi yang diajarkan hari ini. Peserta didik diminta oleh kepala sekolah atau pengawas sekolah untukmenuliskan hal tersebut tanpa melihat RPP, kemudian membandingkan dengan RPP, sekadar untuk menyakinkan apakah poin yang kita buat tersebut akurat;
§Catatan tersebut dapat diambil dari materi lain yang dibaca, yang dikutip dari buku atau materiyang berkaitan, seperti artikel dalam surat kabar;
§Catatan apa saja yang berkaitan dengan pokok bahasan, komentar peserta didik dalam bentuk satu atau dua kalimat terhadap pokok bahasan artikel yang ditemukan/dibaca yang berkaitan dengan materi pengajaran;
§Refleksi peserta didik terhadap materi dan kaitannya dengan kebutuhan peserta didik tersebut pada saat mengajar;
§Bagaimana guru mengajarkan materi tersebut dan dikaitkan dengan apa yang diajarkan dengan cara yang berbeda;
§Pemikiran peserta didik yang belum sepenuhnya terwujud tetapi peserta didik harus merumuskan kembali. Ini bisa meliputi perasaan peserta didik tentang materi dan perkembangan dan teori yang dikembangkan dalam pikiran peserta didik tersebut.
Setiap gurudiwajibkanmengirimkan bahan (naskah) untuk Jurnal belajar, hendaknyamemikirkan kembali apa saja yang telah dilakukan pada saat mengajar, dimulai dari kegiatan awal hingga kegiatan akhir. Sumber belajar apa saja yang paling banyak diakses oleh guru? Mana yang yang paling sedikit diajarkan? Dan mengapa demikian? Apakah materi tersebut sudah diketahui peserta didik-peserta didik sebelumnya? Hal-hal seperti itulah yang hendaknya dituliskan oleh peserta didikwalaupun hanya satu atau dua paragrap satu minggu, kemudian dikumpulkan dan dirangkum untuk dikirimkan atau dimuat di Jurnal belajar.
Bagaimana Bentuk Jurnal belajar?
Bagaimana bentuk Jurnal belajar? Kalau kepala sekolah atau pengawas sekolah bertanya kepada peserta didik, kemungkinan ada peserta didik yang menyarankan, sebaiknya diketik menggunakan komputer akan tetapi ada juga yang menyarankan ditulis tangan saja. Tentu saja tergantung kebutuhan dan fasilitas pendukung yang tersedia. Jurnal belajar dapat diterbitkan dalam beberapa bentuk alternatif pilihan:
§Jurnal belajar bisa dalam ukuran yang kecil, sebesarblock notes atau setengah ukuran kertas A4, atau sebesar kertas A4. Halini tergantung pada ketersediaan naskah. Kalau semua guruanggota KKG atau MGMP, begitu ada pemikiran tentang materi langsung ditulis dalam lembar kertas yang terpisah, kemudian kertas tersebut disusun dan diurutkan berdasarkan poin yang telah diajarkan, apa yang masih perlu diajarkan, pertanyaan peserta didik kepada pengajar dan lain sebagainya ditulis untuk dimuat di jurnal, maka tidak akan kekurangan naskah;
§Kemudian berdasarkan catatan kecil tadi oleh guru tersebut diuraikan kedalam tulisan (diketik atau ditulis tangan) dan ini akan menjadi catatan penting bagi penulis sebagai buku referensi setelah pembelajaran itu selesai;
§Jika lebih suka langsung menulis di laptop atau komputer, kemudian dicetak, setiap halaman dibundel/dijilid, sebagai rekaman permanen perkembangan pembelajaran dan hasil belajar peserta didik;
§Jika lebih suka membaca dari layar komputer, akan tetapi disarankan tetap membuat print outnya untuk menjaga pengelola jurnal mengalami kesulitan untuk membuka file yang dibuat oleh peserta didik pengirim naskah tersebut (terjadi gangguan sehingga tidak dapat dibaca).
Bentuk yang mana pun yang akan dipilih, yang penting bahwa hasil tulisan peserta didik tersebut setiap bulan harus dikirim lewat email ke redaksi Jurnal belajar (diharapkan).
Pemikiran Pribadi
Peserta didik bisa memasukkan hasil pemikiran pribadi ke dalam Jurnal belajar, meskipun hal itu tidak ingin kepala sekolah melihatnya, akan tetapi hal tersebut dinilai perlu untuk diketahui orang lain (di kemudian hari) atau bisa juga tidak dikirim ke redaksi jurnal, akan tetapi disimpan atau didokumentasikan sendiri.
Apakah ada Waktu untuk Menulis?
Waktu yang diperlukan untuk menulis naskah untuk Jurnal belajar tersebut, jika dilakukan oleh peserta didik atau kepala sekolah dan pengawas sekolah secara rutin, mungkin hanya satu jam per minggu. Pada awalnya mungkin bisa lebih dari satu jam (karena belum terbiasa), tetapi lama-kelamaan, asalkan dilakukan secara rutin setiap orang hanya menghabiskan waktu 1 jam per minggu untuk menulis materi yang akan dikirim ke Jurnal belajar. Jika setiap minggu menghasilkan satu halaman, maka satu bulan telah ada empat halaman yang menjadi materi Jurnal belajar.
Format 1:
Komponen Jurnal Belajar
No.
Komponen
Aspek
Indikator
1
Isi
2
Tujuan
3
Bentuk/Ukuran
4
Pemanfaatan
5
Pengelolaan
6
Sustainibilitas
Berikut ini adalah contoh format jurnal belajar bagi peserta didik, guru, kepala sekolah dan pengawas sekolah.
Form 2.Contoh jurnal belajar peserta didik
Form 3.Contoh jurnal belajar guru, kepala sekolah, dan pengawas sekolah
Komponen
Keterangan/ Diskripsi
Pengalaman belajar
SK-KD-Indikator-Materi yang telah dipahami
SK-KD-Indikator-Materi yang belum dipahami dengan menyebutkan alasan dan kendalanya