Jumat, 10 Mei 2013

Pengaruh Profesionalitas Guru terhadap Kemampuan Mendesain Posisi Duduk dan Peningakatan Prestasi Siswa


Pendahuluan

Prestasi belajar adalah hasil belajar yang dicapai siswa ketika mengikuti dan mengerjakan tugas serta kegiatan pembelajaran di sekolah (Tu’u, 2004: 75).

Sedangkan menurut Bloom dalam Arikunto merumuskan prestasi belajar sebagai perubahan tingakah laku, meliputi tiga ranah yaitu ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Ranah kognitif adalah perilaku yang menyangkut masalah pengetahuan, informasi, dan masalah kecakapan intelektual. Ranah afektif adalah perilaku yang berupa sikap, nilai-nilai dan prestasi. Sedangkan ranah psikomitorik adalah perilaku yang terutama berkaitan dengan ketrampilan atau kelincahan dan kondisinya. (Arikunto, 2002:117).

Guru adalah sutradara dalam membantu siswa meraih prestasi belajar yang optimal. Dengan keempat kompetensi yang dikuasainya, guru dipercaya mampu menciptakan proses pembelajaran yang bermakna untuk siswa. Namun, untuk mencapai prestasi belajar yang maksimal ada banyak faktor yang harus diperhatikan oleh guru. Salah satunya adalah bentuk atau desain tempat duduk siswa ketika proses pembelajaran berlangsung.

Berdasarkan hasil observasi Renaningtyas, dkk (2013: 61) di SD 1 Bae, Kudus, mengungkapkan bahwa siswa yang duduk di belakang memiliki tingkat konsentrasi belajar, keaktifan dalam tanya jawab yang rendah.

Berkaitan dengan temuan tersebut, tulisan ini akan mengangkat mengenai pengaruh desain kelas, metode pembelajaran, dan pembentukan kelompok yang heterogen terhadap prestasi belajar siswa dari sudut pandang kompetensi yang dimiliki oleh guru.

Polemik Sertifikasi [4 Kompetensi Guru]

Dulu, bagi orang miskin, memiliki menantu dari kalangan guru merupakan sebuah musibah. Hal itu dikarenakan gaji guru yang tak seberapa. Makan seorang diri saja pas-pas-an. Hingga akhirnya keadaan guru saat itu menggugah Iwan Fals untuk menciptakan sebuah lagu dengan judul Umar Bakrie.

Angin segar mulai datang. Berdasarkan analisa Zulaekha (2011:9) sejak kabinet Gus Dur, reformasi kebijakan mengenai guru mulai tampak. Kini hal tersebut juga dikokohkan oleh keputusan-keputusan pemerintahan SBY dalam Undang-Undang Guru dan Dosen serta peraturan lainnya.

Salah satu kebijakan tersebut adalah berkaitan dengan sertifikasi guru. Di dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pasal 8 dan 11 memberikan arti bahwa sertifikasi guru memiliki arti suatu proses pemberin sertifikat pendidik kepada guru. Dalam buku Panduan dari Diknas, salah satu tujuan diadakannya sertifikasi guru adalah untuk meningkatkan proses dan mutu hasil pendidikan. Sayangnya, upaya sertifikasi ini sering dimaknai guru hanya sebagai peningkatan kesejahteraan sang guru semata tanpa meningkatkan kualitas pengajarannya di dalam kelas. Seharusnya guru lebih kompeten, dan mampu membaca perkembangan IPTEK untuk  menunjang materi pembelajaran yang akan disampaikan kepada siswa.

Profesionalitas Guru Menghapus Kelas yang Monoton

Salah satu cara untuk mengukur profesionalitas seorang guru melalui dari kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan seorang guru. Zulaekha (2011:12) menyebutkan salah satunya adalah berkaitan pada kegiatan mengajar yang harus menggunakan pengetahuan yang mendalam, akurat, mutakhir, dan metode yang partisipatif serta menguasai cara belajar efektif pada muridnya.

Rosmawati (2004:274) menyebutkan terjadinya proses pembelajaran itu ditandai dengan dua hal yaitu : (1) siswa menunjukkan keaktifan, seperti tampak dalam jumlah curahan waktunya untuk melaksanakan tugas ajar, (2) terjadi perubahan perilaku yang selaras dengan tujuan pengajaran yang diharapkan.

Dan untuk mencapai hal tersebut guru harus mampu menciptakan suasana kelas yang tidak monoton. Dengan catatan guru diberikan kekuasaan untuk mengubah kelasnya sesuai dengan karakteristik siswa, mata pelajaran, dan metode dalam pembelajaran tersebut. Hal ini dipercaya dapat menghapus kebosanan dan kejenuhan siswa dalam proses pembelajaran. Suparman (2010:98) menyebutkan bahwa kebosanan dan kejenuhan menyebabkan anak didik tidak antusias dalam belajar, suasana menjadi kaku dan tidak monoton, dan hilangnya kehangatan emosional.

Inovasi Guru dalam Mendesain Tempat Duduk

Desain tempat duduk di dalam kelas yang konvensional menjadi salah satu penyebab terwujudnya kelas yang monoton. Siswa yang duduk di barisan pertama adalah anak yang pintar karena selalu memperhatikan guru. Sedangkan yang duduk di belakang adalah siswa yang kurang pintar karena tidak pernah memperhatikan guru ketika sedang menerangkan. Paradigma yang seperti ini harusnya dihapus oleh guru sebagai creator kelas. Guru hendaknya mengubah tradisinya dalam mendesain tempat duduk agar mampu men-coverseluruh siswa tanpa membedakan kemampuan siswa itu unggul ataupun kurang unggul.

Sebagai guru yang profesional, memahami karakteristik siswa yang berbeda-beda baik itu dari segi kemampuan maupun tingkah laku di dalam kelas merupakan sebuah kewajiban. Kewajiban tersebut dapat diimpementasikan melalui cara memfasilitasi siswa dengan adanya perubahan posisi duduk dalam proses pembelajaran.

Adanya perubahan posisi duduk atau desain tempat duduk ini diharapkan mampu meningkatkan konsentrasi dan daya serap siswa terhadap materi pembelajaran dengan baik. Mengenai penerapan desain tempat duduk dapat dilakukan secara fleksibel. Maksudnya adalah dapat disesuaikan dengan metode dan materi pembelajaran yang akan digunakan dalam proses pembelajaran.

Djamarah (2005: 176) menawarkan beberapa desain posisi duduk dalam proses pembelajaran sebagai berikut:
1.    Berbaris berjajar
2.    Pengelompokan yang terdiri atas 8 sampai 10 orang
3.    Setengah lingkaran seperti dalam teater, dimana disamping guru bisa langsung bertatap muka dengan peserta didik juga mudah bergerak untuk segera memberi bantuan kepada peserta didik
4.    Berbentuk lingkaran
5.    Individual yang biasanya terlihat di ruang baca, di perpustakaan atau di ruang praktek laboratorium.
6.    Adanya dan tersedianya ruang yang bersifat bebas dikelas di sampaing bangku tempat duduk yang diatur

Sedangkan Hamid (2011:127-140) menawarkan 11 desain posisi duduk dalam proses pembelajaran yang diyakini mampu menciptakan konsep edutainment bagi siswa.
1.        Formasi tradisional
Merupakan formasi yang biasa kita temui dalam kelas-kelas tradisional yang memungkinkan para siswa duduk berpasangan dalam satu meja dengan dua kursi.
Formasi tradisional

2.        Formasi auditorium
Merupakan salah satu formasi yang sering digunakan di Barat. Formasi ini menyediakan lingkungan yang sangat terbatas untuk belajar aktif, namun hal ini dapat dicoba untuk mengurangi kebosanan siswa yang terbiasa dalam penataan kelas yang konvensional.

Formasi auditorium
3.        Formasi chevron
Merupakan formasi yang mampu membantu usaha dalam mengurangi jarak diantara siswa dengan siswa, guru dengan siswa sehingga siswa dan guru mempunyai pandangan yang lebih baik terhadap lingkungan kelas dan mampu aktif dalam pembelajaran di kelas. 
formasi chevron
4.        Formasi kelas bentuk huruf U
Formasi kelas bentuk huruf U
Merupakan formasi yang sangat menarik dan mampu mengaktifkan para siswa, sehingga mampu membuat mereka antusias untuk mengikuti pelajaran.

5. Formasi meja pertemuan
Merupakan formasi yang sangat baik digunakan untuk kerja kelompok di dalam kelas, di mana guru memberikan tugas kelompok untuk diselesaikan secara bersama-sama.

Formasi meja pertemuan
6. Formasi konferensi

Merupakan formasi yang dapat membuat siswa menjadi lebih aktif  dalam kelas, karena mereka akan menguasai jalannya pembelajaran. Sedangkan, peran guru hanya melontarkan tema yang harus dibahas dan sesekali mengarahkan mereka untuk bisa menjalankan proses pembelajaran.

Formasi konferensi
7. Formasi pengelompokan terpisah
Jika ruangan kelas memungkinkan atau cukup besar, guru dapat meletakkan meja-meja dan kursi di mana
kelompok kecil dapat melakukan aktifitas belajar yang dipecah menjadi beberapa tim.
Guru dapat menempatkan susunan pecahan, pecahan kelompok tersebut berjauhan, sehingga tidak saling
mengganggu. Tetapi, hendaknya dihindari penempatan ruangan kelompok-kelompok kecil yang terlalu jauh
dari ruang kelas supaya mudah diawasi.

Formasi pengelompokan terpisah


8.      Formasi tempat kerja
Formasi ini tepat jika dilakukan dalam lingkungan tipe laboratorium, setiap siswa duduk pada satu tempat untuk mengerjakan tugas, tepat setelah didemonstrasikan.



9.      Formasi kelompok untuk kelompok
Merupakan formasi di mana terdapat beberapa kelompok yang duduk dalam satu meja persegi berukuran
besar (bisa juga dengan membuat beberapa meja dijadikan satu menjadi meja besar), sehingga setiap
kelompok duduk saling berhadapan. Susunan ini memungkinkan guru untuk melakukan diskusi atau
menyusun permainan peran, berdebat atau observasi pada aktivitas kelompok.


Formasi kelompok untuk kelompok

10.  Formasi lingkaran
Merupakan formasi yang disusun melingkar tanpa menggunakan meja dan kursi. Formasi ini digunakan untuk
melakukan pembelajaran dalam satu kelompok, dimana guru memiliki peran untuk membimbing dan
mengarahkan jalannya pembelajaran tersebut.


Formasi lingkaran

11.   Formasi peripheral
Jika guru menginginkan siswa memiliki tempat untuk menulis, hendaknya digunakan susunan peripheral, yakni
meja ditempatkan di belakang siswa. Guru dapat menyuruh siswa memutar kursi-kursinya secara melingkar
ketika guru menginginkan diskusi kelompok


Formasi Peripheral

Desain–desain posisi duduk di atas merupakan sebuah tawaran bagi guru untuk meningkatkan keaktifan siswa di dalam proses pembelajaran. Banyak memang sekolah-sekolah (dibaca: guru) yang belum menerapkan desain di atas dikarenakan beberapa hal, diantaranya seperti yang disampaikan Conny dalam Sudrajat (2008:3) berikut sangat mempengaruhi pelaksanaan desain kelas, diantaranya adalah:
1.        Ukuran bentuk kelas
2.        Bentuk serta ukuran bangku dan meja
3.        Jumlah siswa dalam kelas
4.        Jumlah siswa dalam setiap kelompok
5.        Jumlah kelompok dalam kelas
6.        Komposisi siswa dalam kelompok (seperti siswa yang pandai dan kurang pandai, pria dan wanita).

Namun, hal tersebut tentunya dapat disiasati guru agar pembelajaran dengan desain posisi duduk ini dapat terlaksana untuk meningkatkan partisipasi siswa dalam proses pembelajaran. Karena semakin siswa aktif dalam proses pembelajaran dapat dipastikan bahwa siswa tersebut antusias dengan pembelajaran yang berlangsung. Dan ketika siswa tersebut antusias, maka materi pembelajaran pun akan lebih mudah diterima oleh siswa. Hal itu akan berimbas pada hasil belajar siswa yang baik.

Cerdas Memilih Metode

Pada proses belajar mengajar hendaknya guru dapat mengarahkan dan membimbing siswa untuk aktif dalam kegiatan belajar mengajar sehingga tercipta suatu interaksi yang baik antara guru dengan siswa maupun siswa dengan siswa. Keaktifan tersebut akan muncul ketika guru secara tepat memilih metode belajar yang sesuai dengan materi pembelajaran dan karakteristik siswa.

Metode di dalam bahasa Inggris sering dikenal dengan kata method yang berarti cara. Sedangkan Joni dalam W. Anitah (2009:1.24) mengartikan bahwa metode kaitannya dengan metode mengajar adalah berbagai cara kerja yang bersifat relatif umum untuk mencapai tujuan tertentu.

Selanjutnya dalam situs AnneAhira.com disinggung mengenai metode pembelajaran yang menjadi langkah efektif yang diterapkan oleh guru dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran agar didapatkan hasil yang maksimal.

Berkaitan dengan tawaran desain posisi duduk di atas, metode yang dapat dipilih oleh guru untuk mendapatkan hasil yang maksimal adalah metode diskusi. Baik itu diskusi kelompok kecil maupun kelompok besar. Metode diskusi adalah cara mengajar yang dalam pembahasan dan penyajian materinya melalui suatu problem atau pertanyaan yang harus diselesaikan berdasarkan pendapat atau keputusan bersama (W. Anitah, 2009: 5.20)

Metode diskusi ini dipilih sebagai salah satu metode yang efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa dikarenakan mampu:
1.   Mengembangakna kemampuan siswa dalam bertanya, berdialog, berkomunikasi dan mengambil kesimpulan.
2.   Membentuk sosio-emosional siswa.
3. Mengajari siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir sendiri dalam memecahkan masalah.
4.   Mengajari siswa untuk saling menghargai pendapat
5.   Mengajari siswa untuk berani mengeluarkan pendapat.
6.   Mengecek sejauh mana kemampuan siswa menguasai materi pelajaran
7.  Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengajukan pertanyaan materi yang dipelajarinya.
8.  Menumbuhkan kompetisi belajar siswa
9.  Melatih siswa untuk bisa berpikir dan berbicara dengan sistematis (AnneAhira.com)

Namun, di sisi lain tentunya metode diskusi ini juga memiliki kelemahan. Salah satunya adalah siswa yang aktif hanya itu-itu saja. Kelemahan ini seharusnya telah diantisipasi oleh guru agar metode diskusi dapat berjalan dengan lancar, diantaranya dengan cara:
1.   Pembagian kelompok yang heterogen
     Di dalam satu kelompok dibagi rata antara siswa yang unggul dengan kurang unggul. Kemudian berkaitan dengan jenis kelamin juga harus dibagi rata, misalnya dalam 1 kelompok ada 3 laki-laki maka semua kelompok dalam kelompoknya ada 3 laki-laki, begitu juga dengan perempuan.
2.   Penggunaan materi yang kontekstual
   Siswa akan lebih tertarik dengan pembelajaran yang materinya dekat dengan mereka. Karena apabila diberikan materi yang siswa tersebut tidak memahaminya, maka siswa akan malas mengikuti proses pembelajaran.
3.   Media yang digunakan menarik
     Banyak media yang dapat digunakan guru dalam proses pembelajaran. Tidak harus yang mahal. Media bisa didapat dari lingkungan sekitar. Dalam pembuatan media ini dituntut kreativitas seorang guru. Alangkah lebih baiknya apabila guru mengikutsertakan siswa dalam pengadaan media.
4.   Pemberian reward berupa pujian
    Kata-kata seperti ”pintar”, ”baik”, ”cerdas”, yang diucapkan guru kepada siswa apabila melakukan tugas dengan baik akan meningkatkan motivasi bagi siswa tersebut dan akan berimbas pada motivasi siswa yang lainnya

Penutup

Sertifikasi guru adalah suatu proses yang akan dinikmati oleh semua guru dengan catatan memenuhi ketentuan-ketentuan sebagai seorang pendidik yang profesional. Namun, yang dipermasalahkan sekarang ini adalah tanggungjawab seorang guru terhadap tujuan pendidikan pada umumnya. Kesejaterannya kini telah dijamin oleh negara, adakah timbal baliknya terhadap pendidikan di Indonesia?

Banyak cara yang dapat dilakukan guru untuk mengubah pendidikan Indonesia. Salah satunya adalah membekali diri dengan IPTEK. Selalu meng-updatepengetahuannya untuk ditularkan kepada siswa melalui metode-metode pembelajaran yang menimbulkan antusiasme pada siswa. Lengkap dengan berbagai inovasi dalam pengelolaan kelas agar tidak muncul kata jenuh dan bosan dalam relung hati para siswa. Ini adalah tugas guru. Guru yang bukan lagi Pahlawan Tanpa Tanda Jasa melainkan Insan Cendekiawan.


DAFTAR PUSTAKA

AnneAhira.com. Pengaruh Metode Pembelajaran Terhadap Prestasi Belajar. Terdapat di http://www.anneahira.com/pengaruh-metode-pembelajaran-terhadap-prestasi-belajar.html. Diunduh pada 1 Mei 2013.
Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.
Djamarah, Syaiful Bahri. 2005. Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif. Jakarta: PT Rineka Cipta
Hamid, Moh. Sholeh. 2011. Metode Edutainment (Menjadikan Siswa Kreatif dan Nyaman di Kelas). Yogyakarta: Diva Press.
Tim Redaksi Nuansa Aulia. 2006. Himpunan Perundang-Undangan Republik Indonesia tentang Guru dan Dosen. Bandung: CV. Nuansa Aulia.
Tu’u, Tulus. 2004. Peran Disiplin pada Perilaku dan Prestasi Siswa . Jakarta: Gramedia Widiasarana.
Renaningtyas, Himmah, dkk. 2013. Laporan Hasil Observasi dan Wawancara Penerapan Metode Pembelajaran Ceramah Bervariasi dan Diskusi pada Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Materi Lingkungan Sehat Kelas 1 SD N 1 Bae Kudus. Tidak dipublikasikan.
Rosmawati, dan Madri M. 2004. Pemahaman Guru Tentang Strategi Pembelajaran Pendidikan Jasmani Di Sekolah Dasar. ( Jurnal Pembelajaran, Desember 2004 ), Vol. 27, No. 03, h. 274.
Sudrajat, Akhmad. 2008. Penataan Tempat Duduk Siswa Sebagai Bentuk Pengelolaan Kelas. Terdapat di http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/07/28/penataan-tempat-duduk-siswa-sebagai-bentuk-pengelolaan-kelas/. Diunduh pada 1 Mei 2013.
Suparman S.2010. Gaya Mengajar yang Menyenangkan Siswa. Yogyakarta: Pinus Book Publisher.
W. Anitah, Sri. 2009. Strategi Pembelajaran di SD. Jakarta: Universitas Terbuka.
Zulaekha, Nur. 2011. Panduan Sukses Lulus Sertifikasi Guru. Yogyakarta: Pinus Book Publisher.

IKLAN 3

0 komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog