Minggu, 24 Februari 2013

SANDARAN HATI OLEH Muhammad Chadafi

GURU : SMP.N 221 Jakarta



Dalam al-Qur'an surat al-Baqarah ayat 30, jelas diterangkan bahwasanya

Allah menciptakan manusia sebagai pengelola bumi beserta seluruh

isinya (khalifah fil ard). Untuk mengelola dan melestarikan bumi ini,

bukan berarti cukup berpangku tangan saja yang kemudian bumi jadi baik

adanya melainkan dibutuhkan ilmu, untuk memeliharanya dan tidak

membuat kerusakan.

Ditegaskan kembali oleh Allah dalam surat ar-Rahman ayat 33, "Hai

jama'ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi)

penjuru langit dan bumi, Maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya

kecuali dengan kekuatan."

Khalifah fil Ard akan terus berganti dari generasi ke generasi dari

masa ke masa. Siapakah yang akan menggantikan? Siapa lagi kalau bukan

anak cucu kita.

Bergantinya generasi, bergantinya masa juga otomatis bergantipula

zaman yang akan dialaminya. Lalu apa yang harus dipersiapkan itu

semua? yaitu, dengan mendidik mereka untuk menjadi pemimpin yang

berilmu, bertaqwa cerdas juga mandiri.

Pendidikan yang bagaimana yang bisa mencakup seluruhnya akan sampai

kepada anak-anak kita yang sesuai dengan apa yang diharapkan.

Pendidikan Islam, pendidikan dalam perspektif Islam dibagi menjadi

tiga, yang pertama; pendidikan Islam adalah pendidikan yang

berorientasikan pada masa depan (education for the future). Umar bin

Khatab pernah menyatakan "didiklah anakmu karena dia akan hidup pada

zaman yang berbeda dengan zamanmu".

Ketika seorang anak bertanya kepada ibunya, "Ibu, tadi Zainab cerita

kalau ibunya membiarkan tangannya sendiri digigit nyamuk sampai nyamuk

itu kenyang sehingga tidak menggigit Zainab". Apakah ibu juga akan

melakukan hal yang sama terhadapku?". Sang ibupun menjawab sambil

tertawa "tidak, tapi ibu akan mengejar setiap nyamuk sepanjang malam

sehingga dia tidak sempat menggigit kamu maupun keluarga kita". "tapi,

ibunya Zainab juga rela tidak makan hanya untuk keluarganya tidak

kelaparan apakah ibu juga akan begitu", tanya anak itu kembali. Dengan

tegas sang ibu menjawab "tidak wahai anakku, ibu akan bekerja keras

agar kita bisa makan sampai kenyang, sehingga kamu tidak sulit menelan

karena melihat ibumu menahan lapar". Dengan perasaan bahagia dan penuh

syukur sang anak berkata "trimakasih bu, aku bisa selalu bersandar

pada ibu". Sang ibupun menjawab dengan penuh cinta "tidak wahai anaku,

tapi ibu akan mendidikmu supaya berdiri kokoh diatas kakimu sendiri,

agar kamu nantinya tidak sampai tersungkur jika ibumu sudah tidak bisa

berada disisimu karena ibu tidak akan selamanya berada disampingmu".

Sedangkan dikisahkan di sebuah hutan yang lebat terdapat sebatang kayu

tampak memperhatikan sekuntum bunga yang sedang menangis terisak-isak,

hingga mencuri perhatian tumbuhan yang lain. Sebatang kayupun

memberanikan diri untuk bertanya "Masalah apakah gerangan yang membuat

kamu menangis terisak seperti ini wahai bunga", tanya sebatang kayu.

"Wahai batang kayu, ketahuilah pohon pinus yang selalu melindungiku

telah ditebang dan meninggalkanku sendirian disini", jawab sang bunga.

"Lalu kenapa bukankah kami juga, pinus yang lain akan ditebang sama

dengan pinus yang disampingmu, lalu apakah kau juga akan menangis

seperti ini", tambah sang pinus. "Wahai pinus pahamilah, kalau dia

yang slalu melindungiku dari angin kencang sehingga aku tidak ikut

terbang bersamanya karena dia slalu melindungiku dan juga melindungiku

dari hujanyang lebat sehingga aku tidak hanyut karenanya karena

saudaramu melindungiku, dan sekarang dia sudah tidak ada, padahal aku

begitu bersyukur hidup dibawah pohon pinus yang slalu melindungiku

dari marabahaya" jawab sang bunga.

"Seharusnya kamu bahagia, karena kamu bisa menikmati sinar matahari

langsung tidak ada pinus yang menghalangi kamu dan hutan akan

memberikanmu kelembapan, apalagi orang-orang akan tau bahawa ada

sekuntum bunga yang begitu cantiknya tumbuh dihutan ini yang mungkin

slama ini tertutupi oleh pinus", jawab batang kayu dengan bijak.

Sebagian besar anak akan merasa tidak bisa hidup tanpa orang tua

begitu juga sebaliknya, banyak orang tua yang meragukan kemampuan

anaknya bisa mandiri sama halnya dengan cerita dia atas. Bukankah

orang tua tidak akan selamanya berada di sisi anak-anaknya begitu pula

sebaliknya.

Yang kedua; pendidikan Islam adalah pendidikan seumur hidup (long life

education) yaitu bukan berarti harus terus sekolah sepanjang hidup

kita. Sekolah yang dalama masyarakat kita sebagai tugas belajar yang

berada didalam kelas, melainkan belajar disemua tempat, semua situasi

dan semua hal.

ketiga pendidikan Islam adalah pendidikan untuk semua (education for

all), yaitu untuk seluruhnya tidak dibedakan menurut kasta maupun ras.

Semuanya itu mencapai kesuksesan di dunia dan akhirat.

Sukses kemaren bukan berarti sukses hari ini, butuh perjuangan dan

kesadaran bahwa zaman terus berubah, sehingga kewaspadaan ekstra

dihari inilah, yang akan membuat usaha maju salamanya.

[by. Muhammad Chadafi]
IKLAN 3

0 komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog