Jumat, 11 Januari 2013

Kucing Berbeda dengan Manusia, atau Sebaliknya?


Kalau sudah di hadapan netbook yang ada modemnya nancap gini, ibu atau bapak  marah pun rasanya aku tidak peduli. Tapi jagan ditiru yaa? Karena seakan-akan aku takut kalau-kalau ide yang ada di otakku ini akan segera sirna.

Seperti barusan ibu berteriak untuk menyuruhku makan bersama, he.....agak telat aku baru nongol. Sibuk dengan ini blog deh! Akhirnya makan tuh. Tapi tidak makan nasi kok, makan mie ayam. Ada sih lauk di rumah tapi lauk tadi siang, bapak kan susah kalau urusan makan-memakan. Aku juga. Tapi kadang.


Kucing malang
Lagi asyik makan, tiba-tiba ada sesuatu yang nangkring di kakiku, halus, geli. Haha. Kucing. Aku risih sekali. Tapi kasihan masih kecil. Ini kucing pasti yang bawa pulang si Bambang keponakanku. Bukan suudzon, tapi ini anak memang gila banget dengan kucing. Kalau main sama kucing kayak main sama manusia.

Akhirnya aku biarin aja tuh kucing. Masih kecil. Tidak ada ibunya. Aku jadi berpikir. Kucing yang umurnya baru hitungan hari ini harus cari makan sendiri?

Aku perhatikan. Rasa kasihanku muncul. Aku lempari kucing itu dengan tulang cakar ayam. Dia hanya mengendus-ngendus. Belum menemukan tulang itu. Kemudian aku lempari lagi dekat mulutnya, mengendus lagi tapi tidak ketemu juga. Kemudian ibu melempar tulang cakar ayamnya ke punggung kucing itu, ternyata dia merasa ada sesuatu yang nangkring di punggungnya. Makanya dia mengibaskan tubuhnya dan tulang itu jatuh dari punggungnya. Diendusnya, kemudian dimakan. Alhamdulillah.

Aku makan sambil berpikir. Tidak menikmati makananku. Andaikan saja manusia itu bisa seperti kucing yang bisa mencari makan sendiri meskipun usianya baru hitungan hari. Tapi aku kembalikan lagi. Manusia itu makhluk yang spesial di mata Allah, makanya manusia diciptakan dengan bertahap agar menjadi manusia yang seutuhnya. Tapi yang pasti aku belajar dari kucing ini bahwa tidak selamanya kita akan selalu bersama dengan bapak, ibu dan keluarga kita. Karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya.  Yang pasti, kita harus saling menyayangi keluarga kita dan harus siap melakukan yang terbaik bagi lingkungan. #pelukciumuntukbapakibu

GURU KREATIF

0 komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog