Kamis, 11 Juli 2013

Mengupas Tuntas Blog Pak Dosen


Waduh, pasang judul seperti ini rasa-rasanya seperti kurang ajar deh ya? Tapi ini kan sebuah tantangan untuk mengkritisi blog seorang dosen. Kapan lagi coba bisa mendapat kesempatan seperti ini? Langka sekali.
Eits... sebelum saya mengubek-ubek blog beliau, saya sudah mempersiapkan pantun nih.
Pergi ke pasar membeli cabe
Cabe dibeli masukkan keranjang
Hei, mbak-mas-nyak-dan babe
Saya perkenalkan seseorang
Nah, pantunnya sudah, sekarang saatnya mengucapkan “SELAMAT ULANG TAHUN yang ke-6 bulan buat www.darto.net”.


Sudah? Sesuai janji, saya perkenalkan seseorang. Siapakah dia?

Profil singkat Pak Darto
Beliau adalah sang empunya blog www.darto.netyang pada postingan ini akan saya kritisi atau yang lebih beken adalah mereviewnya. Namun, review ini bukan bertujuan untuk menggurui karena pada dasarnya saya juga blogger pemula. Yang saya harapkan dan pastinya diharapkan pula oleh pemilik blog, review ini akan bermanfaat untuk www.darto.net ke depan agar menjadi lebih baik lagi.
Review suatu blog dapat dipastikan tidak jauh dari subyektifitas si reviewer. Namun, saya akan berusaha untuk se-obyektif mungkin. Review ini akan memuat beberapa hal yang intinya mengulas mengenai kelebihan, kekurangan dan saran yang dapat saya tawarkan. Diantaranya review ini akan mengulas pagespeed-nya, kesan pertama memandang, unsur halaman blog (header, jenis font, ukuran font, dan footer), kontennya dan www.darto.com di mata Mbah Google.
Yuk! Langsung saja review-nya dimulai.

PAGESPEED www.darto.net



Penampakan di iwebtool.com
Ada dua aplikasi yang saya gunakan untuk menguji kecepatan blog Pak Darto, yaitu iwebtool.com dan google page 
Berdasarkan iwebtool.com hasilnya menunjukkan kalau blog Pak Darto memiliki kecepatan loading 0,53 detik. Cukup bagus. Bagaimana dengan google page speed?
Apabila menggunakan google page speed, blog Pak Darto mendapatkan skor 94 dari 100. Padahal skor di atas 80 itu sudah bagus. Apalagi untuk blog Pak Darto?

google page speed
KESAN PERTAMA MEMANDANG www.darto.net


Tampilan "Home"

Putih, dominan putih, lampu teplok, ada 2 tagline, font-nya kecil untuk saya yang berkacamata ini sangat tidak nyaman (berusaha tidak subyektif). Lama-kelamaan akan menimbulkan kepala pusing.

Kekurangan
1.  Sidebar-nya yang terdiri dari blog archieve, label, share it, teman-teman yang suka nge-blog, alamat blog rekan, kiriman artikel gratis via email, penulis blog, jejaring sosial, alexa ranx, dan page ranx itu tatanannya kurang rapi.
2.  Sisa halaman yang kosong antara sebelah kanan dan kiri tidak sama. Hal ini terasa ganjil dan kurang nyaman.

Kelebihan
1.    Simpel, pemilihan warna putih akan memudah pembaca dalam hal memfokuskan pada konten blog.
2.   Adanya “Tampilkan Posting Lengkap ...” ini memudahkan pembaca dalam memilah artikel yang disukai dan mengundang rasa penasaran pembaca.
3.  Sidebar diletakkan sebelah kanan, ini merupakan langkah tepat. Karena kecenderungan orang akan melihat dari sudut atas sebelah kanan.

Saran
1.     Sidebar bisa dirapikan lagi, misalnya mau dibuat 3 kolom maka sidebar-nya bisa dibuat 2 kolom, 1 kolomnya untuk postingan. Karena pada sidebar yang ada, untuk gadget penulis blog dan jejaring sosial dapat dijadikan 2 kolom. Kenapa yang lain tidak? Justru akan tampak lebih rapi.
2.  Ditambah untuk warna templatenya agar tampak lebih menarik. Untuk laki-laki biasanya identik dengan warna biru, hitam, dan lainnya. Banyak juga template gratis yang ditawarkan oleh pihak blogger jadi tidak ada salahnya kalau Pak Darto mencari lagi template yang cocok untuk karakter Pak Darto. Mengenai cara mengubah template pasti Pak Darto ahlinya, atau searching di Mbah Google juga banyak sekali.

UNSUR HALAMAN BLOG www.darto.net
Kalau membicarakan tentang unsur halaman blog Pak Darto, saya akan mengkaji dari aspek header, jenis font, ukuran font dan footernya saja.
Kekurangan
1.  Header pada blog www.darto.net ini terdapat 2 tagline yaitu “Pemikiran penulis blog yang sayang kalau dibuang...” dan “Kumpulan catatan kecil, semoga bermanfaat”. Dengan adanya 2 tagline ini justru akan menimbulkan makna ambigu bagi pembaca berkaitan dengan blog ini. Kalau ditelaah lebih dalam 2 tagline ini memiliki arti yang sama. Sebuah kebermanfaatan suatu artikel bagi para pembaca bagaimanapun bentuk artikelnya.
2.   Karena pada header tidak ada menu-nya (sama dengan milik saya), saya kurang tahu alasannya apa (milik saya templatenya itu bisa diberi menu namun akan muncul di sidebar sebelah kanan seperti gadget), karena pada label dan blog archivenya tampak masih sangat umum. Hal ini akan menyulitkan pembaca untuk mencari artikel yang ingin dibaca.
3. Ukuran font yang dipilih telalu kecil (11pt), ini akan menyulitkan pembaca dan justru mengakibatkan mata pembaca lama-kelamaan akan terasa sakit.

Kelebihan
1.  Penggunaan lampu teplok sebagai ikon sangatlah unik dan syarat akan makna. Kalau saya artikan makna dari lampu teplok tersebut adalah sebuah alat penerangan yang kita ketahui cahaya yang dihasilkan itu tak seberapa terangnya. Namun, kalau pas mati lampu tetap saja lampu teplok ini akan terlihat terang dan berguna bagi penggunanya. Betul begitukah Pak Darto? Sama halnya tagline yang dipasang oleh Pak Daro di header blog tersebut.

Lampu teplok ala Pak Darto
2. Jenis font yang digunakan adalah Trebuchet MS. Ini merupakan jenis font default yang banyak digunakan pada template pada umumnya.
3.    Footer pada blognya tidak ada yang spesial, namun footer pada setiap postingan sudah terdapat tombol atau menu share di beberapa sosmed, diantaranya G+, Facebook, twitter, blog ataupun melalui email. Hal ini akan memudahkan Pak Darto ataupun pembaca untuk men-share artikel yang sekiranya berguna juga untuk pembaca yang lainnya.


footer di akhir postingan
Saran
1.  Taglinenya lebih baik salah satu saja, lampu teplok sudah syarat makna jadi kalau masih ada kedua tagline tersebut seakan boros kalimat dan boros tempat. Alangkah lebih baiknya lagi kalau tagline tersebut diganti sesuai dengan isi konten blog saja.
2.   Font dapat diganti dengan jenis font yang lain agar lebih menarik pembaca. Ada banyak font yang bisa digunakan, misalnya Century Gothic, Comic Sans MS, dan sebagainya.
3.  Mengenai ukuran font yang terlalu kecil, dapat diubah menjadi 15-18pt agar pembaca lebih nyaman untuk membacanya.

Saya sebagai pembaca mengira bahwa blog ini berisi atau bertemakan IT, namun ternyata ada juga artikel-artikel lain yang ditandai dengan adanya label Umum.

Kekurangan
1.  Terlalu banyak label (18 label) pada blog ini. Hal tersebut justru memakan badan sidebar yang sebenarnya bisa digunakan untuk gadget yang lainnya.
2.  Dari blog archieve tampak ketidak-konsistensian penulis dalam memosting artikel. Selama 6 bulan berkibar baru ada 67 postingan. Dan itupun dominan pada tahun 2013. Karena pada tahun 2012 hanya ada 9 postingan.
3.    Pemilihan judul suatu artikel perlu diperhatikan agar lebih menarik pembaca.

Kelebihan
1. Untuk postingan berbau IT, Pak Darto menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh pembaca seawam saya. Karena kebanyakan postingan semacam itu menggunakan bahasa IT yang hanya bisa dipahami oleh orang yang memang bernaung di dunia IT. Jadi, postingan pada blog ini mudah diaplikasikan. Seperti contohnya artikel dengan judul Open Source? Should be?, jujur saja saya pernah melihat ada pengumuman di mading kampus ada seminar open source yang diadakan oleh mahasiswa fakultas tetangga, nggak paham apa itu, tapi setelah saya baca pada postingan Pak Darto saya tahu kalau open source itu ternyata berhubungan dengan software. Kalimat yang digunakan juga tidak kaku, contohnya "...Pakai saja SOFTWARE OPEN SOURCE, grraaaaaattiiiissss. Gak harus beli kok. Gampang lagi."

Saran
1.    Apabila tidak ada menu pada header, penulis bisa menggunakan label untuk mengelompokkan postingan sesuai dengan jenisnya. Namun labelnya pun jangan terlalu banyak. Paling banyak 10 label. Agar terlihat rapi dan lebih memudahkan pembaca dalam memilih artikel.
2.   Diharapkan Pak Darto bisa lebih aktif dalam memosting tulisan agar taglinenya bisa benar-benar terealisasi. Paling tidak satu minggu bisa memosting 3-5 postingan.

www.darto.com DI MATA MBAH GOOGLE.
Nah, itu review saya pada blog milik Pak Darto www.darto.net. Yang terakhir bagaimana posisi blog Pak Darto di mata Mbah Google?
Suatu kebanggaan ketika memasukkan keyword pada kotak search kemudian yang muncul pada barisan pertama adalah blog milik kita. Bagaimana untuk blog Pak Darto ini?
Saya mencoba memilih salah satu label yang ada di www.darto.net, Tentang Apache, bagaimana posisinya?

Posisi myjavalamp.blogspot.com

Ternyata blog yang muncul bukan www.darto.net melainkan myjavalamp.blogspot.com. Itupun berada pada halaman 1 urutan yang ke 8.
Melihat hasil yang di atas, saran yang bisa saya berikan dari segi jumlah pengunjung dan follower pada blog, Pak Darto bisa lebih meningkatkannya lagi dengan cara BW (blog walking) dan juga promosi di berbagai komunitas. Karena saat ini sudah banyak sekali komunitas blogger yang dapat mewadahi blogger untuk saling berinteraksi. Atau cara jitu yang bisa dipilih Pak Darto yang berprofesi sebagai dosen ini adalah memberikan tugas kepada dosen yang berkaitan dengan blog. Misalnya ujian semester harus mengunduh tugas di blog Pak Darto, atau bisa juga menyampaikan pendapatnya di dalam kotak komentar. Sebenarnya sudah banyak dosen yang menggunakan teknik ini dan justru membawa manfaat. Diantaranya adalah menumbuhkan dunia menulis di kalangan mahasiswa dan tentunya menyelamatakan bumi dari gundulnya hutan, karena penggunaan kertas mulai diminimalisir.






IKLAN 3

0 komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog