Rabu, 03 Juli 2013

Masih Ada Orang Baik di Negeriku Ini

Pojok kiri itu Hotel Griptha Kudus

Di tengah menanti nilai semester 6 ini keluar, masih ada ujian Toefl yang harus saya laksanakan sebagai syarat wajib mengikuti ujian skripsi nantinya. Pukul 09.00 WIB, ujian itu akan diadakan. Karena perjalanan dari rumah sampai kampus membutuhkan waktu 1 jam, saya pun berangkat pukul 07.30 WIB. Sisa waktu yang ada bisa saya gunakan untuk istirahat sebelum mengikuti ujian.
Meminta restu orangtua sebelum berangkat tak lupa saya lakukan. Saya pun berangkat. Selip sana selip sini. Akhirnya masuk juga di kota Kudus. Kota di mana selama 3 tahun ini saya menuntut ilmu. Semua masih lancar, sampai ketika saya melewati Hotel Griptha.
Breemmm.....Brr....Brrr....
Ada yang aneh pada kuda besiku.
“Waduh, kenapa lagi ini?” batin saya.
Saya pun berhenti sebelum lampu merah dekat hotel tersebut. Saya priksa motor saya itu. Terlihat oli keluar dari bawah mesin. Panik sudah saya. Tahu apa sih dengan hal per-mesinan. Yang bisa saya lakukan saat itu hanya celingukan.
“Adakah bengkel terdekat dari sini?”
Aha!
Ada bengkel tambal ban tak jauh dari tempat saya berdiri. Saya putar balik dan menuntun si merah. Tak jauhlah hanya 10 meter-an saja. Setelah sampai, Alamak, tukang bengkelnya malah molor.
“Assalamualiakum Pak...Pak...”
Tidak ada sahutan hingga tiga kali saya menyapanya. Dalam hati saya, ‘Jangan sampai bapak ini nolak saya karena merasa istirahatnya telah saya ganggu.’
Ketika bapak itu membuka mata, saya biarkan sebentar beliau mengumpulkan nyawanya.
“Pak, tiba-tiba motor saya macet, bisa bantu memperbaiki Pak?” saya bicara sambil meraba-raba karakter bapak itu. Serem juga, rambutnya kriting, gondrong sebahu, dan kumisnya nggak jauh lebat seperti kumisnya Mas Adam-Mbak Inul.
Bapak itu tidak menjawab, tapi langsung menghampiri motor saya.
“Itu Pak, tutup olinya kayaknya hilang.”
“Kok bisa?”
Lha, pertanyaan bapak ini aneh juga, kalau saya tahu, nggak perlu mampir dan ganggu tidur bapak.
“Nggak tahu Pak. Tahu-tahu sudah mogok begitu saja. Tapi tadi malam olinya habis diganti.”
“Ooo, mungkin kurang rapat masangnya.” jawab Bapak itu.
“Trus bagaimana, Pak?” tanya saya bloon.
“Ya, harus beli tutup dan olinya.”
“Ya. Di mana Pak?” tanya saya sambil menghitung uang di dompet saya. Waduh, tinggal Rp 40.000.
“Tapi uang saya tinggal Rp 40.000 Pak, cukup tidak ya Pak? Harus ambil di ATM dulu.” srobot saya sebelum Bapak itu menjawab pertanyaantadi.
Bapak itu tampak berpikir.
“Ini nanti saya pukul 09.00 WIB ada ujian Pak. Bisa cepat tidak ya Pak jadinya?” saya mensrobot lagi.
Bapak itu lagi-lagi berpikir sambil memandangi motor saya.
“Sudah begini saja Mbak, saya antarkan saja ke bengkel nanti Mbak yang beli butuh apa saja tadi.”
“Beneran Pak?” jawab saya kegirangan. Batin saya, ‘Baik sekali Bapak ini.’
Saat itu juga saya diantar ke bengkel yang letaknya kira-kira 300 meter-an dari bengkel Bapak baik hati. Di sana saya membeli oli (Rp 27.000), tutup tempat oli (Rp 3.000) dan selotip (Rp 1.000). Jadi, jumlahnya Rp 31.000. Ahh....masih ada uang sisa Rp 9.000 di dompet. Tapi mana cukup buat bayar nanti?
Setelah membeli tetek bengek itu, kami kembali ke bengkel Bapak baik hati tadi. Setibanya, Bapak baik hati itu langsung menggarap motor saya. Tak langsung tenang, saya tetap saja panik, jam di HP saya menunjukkan pukul 08.45 WIB, alamat telat ujian saya ini. Saya mencoba menghubungi teman yang satu arah dengan saya, tapi ternyata dia baru saja sampai di kampus. Saya SMS teman yang lain untuk memintakan ijin kepada dosen yang menjaga ujian hari itu. Dan, OK. Tapi tetap saja, saya harus ujian hari ini.
“Pak, mohon maaf, kalau seandainya saya pinjam motornya bapak buat ke kampus bagaimana Pak? Nanti pukul 11.00 WIB saya balik lagi Pak.” ide itu tiba-tiba muncul.
“Ini sebentar lagi juga bisa Mbak.” jawab bapak baik hati tadi dengan santai.
“O, baik pak,”
Saya telepon ibu.
“Ibu, motornya mogok . . .” belum juga selesai cerita aku  malah nangis. Ho, manjanya kumat deh. Sedikit pembelaan dari saya, memang si kuda besi ini jarang banget rewel, baru kali ini. bisa dibilang ini shok terapi bagi saya.
Saya perhatikan lagi jam di HP. Astagfirullah...sudah pukul 09.00 WIB. Sepertinya Bapak baik hati itu memerhatikan saya yang dari tadi gusar.
“Mbak, pakai saja motor saya ini.” kata Bapak baik hati itu meninggalkan motor saya dan segera mengeluarkan motornya yang di parkir agak di dalam bengkelnya.
“Beneran Pak??” mata saya berkaca-kaca. Ini orang baik banget. Padahal tidak kenal saya.
“Tapi sekalian STNK ya Pak? Soalnya kalau keluar kampus harus nunjukkin STNK.” saya lihat raut muka Bapak baik hati itu sedikit bingung.
“Ini STNK motor saya Pak sebagai jaminan.” tambah saya untuk meyakinkan bapak baik hati itu.
“Tidak perlu Mbak, saya percaya.”
“Tidak apa-apa Pak. Ini sebagai jaminan dari saya. Kalau Bapak tidak mau terima malah saya yang ewuh.”
Agak terpaksa bapak itu menerima STNK yang saya berikan. Kemudian saya pun tancapa gas. Dari spion motor, saya melihat Bapak baik hati tadi memandangi kepergian saya. Ah, jadi ingat bapak ibu di rumah.
Sesampainya di kampus, saya berlari. Menuju gedung tempat saya ujian. “Huh! Lantai 3.”
Pas tiba di lantai 3, “Mbak telat ya? Balik saja nanti pukul 11.00 WIB untuk susulan atau berangkat besok pagi lagi. Ini sudah listening jadi tidak bisa masuk.”
“Astagfirullah......” langsung balik kanan grak saya meninggalkan admin sekretariat bahasa itu.
Saya pun kembali ke bengkel. Ketika saya mau menyebrang, Bapak baik hati itu melihat saya. Wajahnya yang sangar itu menunjukkan semburat kebingungan melihat saya sudah nongol lagi.
“Tidak boleh masuk Pak, padahal hanya telat 10 menit. Nanti pukul 11.00 WIB diminta datang lagi.”
Bapak baik hati itu tak berkomentar. Beliau sedang memperbaiki ban serep truk yang parkir di sisi kiri hotel mewah itu. Motor saya?
Selang 10 menit, bapak baik hati itu menggarap lagi motor saya. Menarik sekuat tenaga, tapi masih los. Lagi dan menyumpalnya dengan selotip. Mengganti dengan bahan yang lain, menambahkan dengan selotip dan YA! Bisa!

Pak Baik hati ngintip motor saya

Pak Baik hati sedang menambahkan selotip

“Ini bisa nyala Mbak, bejo nggak turun mesin.”
Hati saya sangat lega. Bapak baik hati itu menjajal motor saya, lari sana balik lagi. Lari lagi, balik lagi.
“Sudah mbak.”
Sampun, Pak?”
Saya pun membayar jasa bapak baik hati itu. Dan segera saya berpamitan hendak balik ke kampus. Namun, sebelum saya pergi, bapak baik hati yang mengaku namanya Ahmad Pardjan itu melontarkan kalimat yang membuat saya terenyuh.
“Saya juga orang Demak Mbak, tapi meskipun Mbak-nya bukan orang Demak, saya percaya kalau motor saya tidak akan dibawa lari Mbak-nya. Kalaupun dibawa lari, itu juga karena ijin Allah Mbak. Sudah jalan hidup saya seperti itu.”
Masyaallah, entahlah apakah saya terlalu berlebihan, tapi saya langsung mewek dan mengucapkan terimakasih berkali-kali kepada Bapak Ahmad. Di tengah kejamnya, kerasnya, acuhnya, sikut-menyikutnya penghuni negeri ini, masih ada Pak Ahmad yang dengan tampangnya yang ‘nggak banget’ ini, saya mengenal ketulusan, dan keikhlasan.
‘Masih ada orang baik di negeri ini.’ batin saya meninggalkan Bapak Ahmad.
Di akhir tulisan ini, saya hanya berdoa, semoga Anda semua yang selalu baik dengan orang sekitar bisa selalu dirahmati Allah S.W.T. Apalagi yang sudah baca postingan ini, semoga kebaikan Pak Ahmad ini menular kepada kita semua. Aamiin.

IKLAN 3

0 komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog