Kamis, 22 Agustus 2013

Pesan Diam



Semakin ke sini, saya sadar kalau saya jauh dari kata dewasa. Belum tahu apa-apa dengan dunia ini. Apa sih yang saya kenal? Hanya jalanan sepanjang Demak-Kudus. Itupun benda mati. Sedangkan yang hidup saya pun tak memahaminya. Jauh.

Setidaknya itulah yang saya pikirkan saat ibuk tahu ada teman satu tempat kerja (dulu) menyapa saya lewat benda berjulukan "HP". Saya hanya merasa diri saya ini bodoh karena baru tahu setelah ibuk menghardik saya, “Diam, jawab iya, iya, masak? Aku kok baru tahu? Kamu ikut bicara keburukannya, bisa-bisa kamu dijadikan kambing hitam.”

Ya, saya kategorikan diri saya sebagai manusia ‘polos’. Tak tahu kejamnya dunia di luar sana. Atau memang saya yang bloon? Atau yang sering terhanyut dalam derasnya buaian setan? Yang saya ingat dari ucapan ibuk adalah, “Kalau ada teman yang menjelek-jelekkan orang lain, membicarakan orang lain yang entah kamu tahu dia itu baik atau tidak sama kamu, diamlah. Jawab secukupnya, dan kamu tak berhak menambah pembicaraan.”

Tersentil. Betapa saya selama ini justru terhanyut dalam setiap pembicaraan yang teman awali. Bahkan saya juga pernah mengawali pembicaraan ‘setan’ itu. Ah~ kalau saja dari dulu saya tahu kalau semakin banyak musuh dalam selimut yang benar-benar tak tampak. Woi, kemana saja diri saya ini? Saya proklamirkan diri saya sebelum ini adalah “tumbak cucukan”. Maaf~

Koreksi-koreksi diri. Apa yang telah saya lakukan selama ini? Harusnya saya tak memakan daging saudara saya sendiri. Toh, jika memang orang lain pernah menato hati saya, tak berhak rasanya saya mengumbar aibnya. Bukankah begitu? Menjaga hati mereka, ya jaga hatinya sekalipun hati saya pernah terluka.


“Diam lah, diam saja. Dunia luar sungguh kejam dik.” pesan ibuk melihat anaknya ini melongo.

IKLAN 3

0 komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog