Rabu, 31 Juli 2013

Ibuk, Omigott.... 3x


Mbak Fardelyn Hacky, akhirnya setelah pulang dari rumah embah (nenek) aku justru ingat mau ikutan GA pertama Mbak. Itu juga karena lihat yuvoria teman-teman blogger yang lainnya. Aku nggak mau kalah juga ah~
Ngomongin tentang ibuku (biasanya aku memanggil ibu+k) yang aku ingat adalah cerewetnya. Ya, ibukku memang sangat cerewet, dan itu keturunan dari si mbah. He, tapi ngangenin juga. Sehari nggak ketemu saja sudah pengen pulang.
Nah, kalau diminta mengingat kisah yang lucu, norak, malu-maluin, atau apalah itu sebutannya, aku nemu 3 kisah nih setelah semedi dan dicolek Mbak di facebook. Dua kejadian pertama yang aku ceritakan ini terjadi saat SMP, dan yang terakhir terjadi di ramadan tahun kemarin.

Handphone Jadul
Ini kejadian terjadi pada tahun 2006-an, aku baru kelas 8 (kelas 2 SMP). Dulu aku sekolah di SMP yang kebanyakan latar belakang ekonomi keluarganya dari kalangan berada. Nah, dari teman-temanku itulah aku selalu mendapat info terbaru lebih cepat dibandingkan keluargaku atau anak-anak di kampungku. Maklum, aku kan memang orang kampung, asal nggak kampungan.
Suatu ketika ibuk bercerita padaku, “Dik, ibuk tadi ditawarin HP, ibuk mau beli HP ah,  bagus lho. Ada tutupnya, ada antenanya juga.” kata ibukku menggebu-gebu.
Ku bayangkan HP yang dimaksud ibuk. Penasaran juga saya. Karena ada teman di sekolah yang HP-nya memiliki ciri-ciri yang sama seperti yang diceritakan ibuk dan bagus sekali. Masih ku ingat mereknya Motorolla.
Keesokan harinya, saking penasarannya aku pulang sekolah langsung mencari ibuk. Seperti apa HP yang dibeli ibuk.
“Buk, mana HP barunya?” tagihku pada ibuk.
“Bentar dik...apik (bagus) kok.”
Tak berapa lama ibuk keluar dari kamar dan menggenggam HP yang diceritakan. “Ini dik...”
Ibuk menunjukkan HP itu padaku. Aku diam. Terlalu tinggikah aku membayangkan cerita ibuk? Kalau ini mah jauh dengan HP yang beredar pada saat itu.

HP ibuk modelnya sama persis dengan gambar di atas, namun mereknya berbeda (Samsung) dan berwarna hitam. Maaf, HP yang asli aku cari tidak ada. Mungkin hilang waktu renovasi rumah kemarin itu. Jadi saya ambil dari mbah google.com


Itu adalah cerita awal mula ibuk mengenal HP, dan itu pun HP pertama yang keluargaku miliki. “Walaupn jadul, yang penting bisa buat SMS dan telepon”, aku ibu sekarang setelah mengenal HP.

Celana Bolong
Masih berhubungan dengan HP baru tapi second milik ibuk. Lagi-lagi karena ibuk baru mengenal dunia per-HP-an, waktu itu ketika aku baru tiba di rumah ibuk sudah menyambutku dengan cerewetnya.
“Dik, gawat, ndang tumbas (buruan beli) pulsa, ini masa aktife habis. Nanti nak kartune hangus lho.”
Kekhawatiran ibuk memang wajar kala itu, karena dulu kartu perdana harganya mulai 20 ribu-50 ribu.
“Adik kesel (capek) kok buk.” elak ku karena baru pulang sekolah.
Tumbas (beli) tempatnya Mbak Yung itu kan dekat tho (kan). Ayo tho cepet!” ibuk mulai cerewet lagi.
Akhirnya aku pun memenuhi perintah ibuk. Tapi sebelumnya aku harus ganti baju terlebih daulu.
“Buk, celanaku yang semalem sudah dijahit?”
“Sudah. Tapi masih di mesin jahit. Ambilo...(Ambil sana)!” jawab ibuk sambil menyalakan TV.
Aku mengambil celana tersebut dan memakainya di kamar sambil melihat layar TV (acara Korea).
“Adik....cepetan kok suwemen tho (lama sekali)!” ibuk cerewet lagi.
Aku pun berlari meninggalkan rumah dan pergi ke konter untuk membeli pulsa. Di sana, karena mejanya tinggi aku pun hanya berdiri. Selesai mengisi pulsa, aku pun hendak pulang. Namun, aku merasa ada yang aneh. Ada bapak-bapak yang duduk di toko depan konter itu senyum-senyum ke arahku. Tak ku hiraukan, aku pun berlalu.
Sesampainya di rumah, aku pun ikut nimbrung bersama ibuk menonton TV. Tak lama aku merasa lapar, aku pun berdiri dan hendak ke dapur.
“Adiiikkk....” teriak ibuk.
“Apa?”
“Celanamu bolong.”
Spontan aku meraba celanaku.
“Ibukkkk.....”
Aku pun marah sama ibuk. Tapi ibuk berdalih dikiranya celana yang aku tanyakan tadi bukan celana yang robek itu. Bapak-bapak di depan konter itu ternyata...

Pembalut

Menstruasi itu adalah kodratnya perempuan. Seperti halnya aku dan ibuk. Biasanya jadwal menstruasiku dan ibuk bersamaan namun ada kalanya juga tidak. Ramadan kala itu.
“Buk......ceguk....ceguk (suara muncul ketika aku sedang minum)....Ah....” godaku pada ibuk.
“Lah.....Adik mens?” nada suara ibuk heran dan agak jengkel.
Aku manggut-manggut. “Buk, minta pembalut, pembalutku habis kok.”
“Masih ada satu di rak kamar.”
Semua kembali ke aktifitas masing-masing. Ketika sore menjelang, aku merasa haus dan ingin minum. Pergilah aku ke dapur. Sampai dapur aku melihat ibu sedang ada di depan dispenser.
“Ibu ngapain?”
“Eh, Dik, ......ceguk....ceguk (suara muncul ketika ibu sedang minum)....Ah....” ibu melakukan hal yang sama sepertiku tadi. Aku hanya tersenyum. Aku tahu ibu hanya membalas godaanku tadi.
“Ih...ibuk nggak kreatif!”
Ben (biarin), sini kembaliin pembalut ibuk!” teriak ibu membuatku melongo.





Selasa, 30 Juli 2013

Belajar Setia dari Induk Ayam


Anda pasti tahu, bahwa manusia adalah sebaik-baiknya makhluk Allah. Manusia diciptakan lengkap dengan akal dan nafsu. Sedangkan makhluk lain? Tak sesempurna manusia. Tapi adakalanya pelajaran penting  justru datang dari makhluk lain meskipun mereka tak berakal ataupun bernafsu.
induk ayam menjaga anaknya yang sudah mati
Saya ambil foto ini di depan rumah pada Selasa, 16 Juli 2013 pukul 15:18 WIB. Begitu cintanya sang induk sampai-sampai menunggu anaknya yang sudah mati karena terlindas sepeda si mbah (nggak sengaja). Ini adalah hewan, betapa dahsyat Allah menciptakan segala sesuatu di dunia ini untuk mengingatkan kita.
Bagaimana untuk manusia sendiri? Setiakah wahai induk-induk manusia, ibu dari anak-anak manusia?
Setia, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berartikan patuh, taat, dan berpegang teguh. Setia ibu lebih dari segalanya, melebihi artian pada sebuah kamus. Setia untuk memilih hamil, mengandung, melahirkan, sampai menemani untuk mengurus cucunya nanti. Namun apakah semuanya?

Irfan dan ibu
Apakah kenal Irfan peserta Hafidz Indonesia? Saya hanya mengetahuinya sekilas. Dia adalah salah satu kontestan Hafidz Indonesia tapi saya kurang paham kontestan pada minggu yang ke berapa. Yang saya tahu, dia adalah hafidz yang tak beribu. Tidak meninggal, melainkan sejak kecil dia ditinggalkan ibunya dan kini dibesarkan di sebuah pondok pesantren. Tapi tak tahu juga sekarang bagaimana keadaannya.
Ini penampilan Irfan ketika di Dahsyat

 
Kelu rasanya, ketika semua kontestan ditemani dan dibanggakan oleh banyak keluarganya, Irfan tak begitu. Bahkan ia tak mengenal siapa ibunya. Ya Allah, kuatkah saya jika berada di posisi Irfan?
Ini adalah kali pertama saya menangis lebay ketika menonton Hafidz Indonesia saat detik-detik eliminasi. Betapa tidak, bocah semacam Irfan ini mampu berdiri setegak itu tanpa belaian ibunya. Mampukah saya? Astagfirullah... Apakah Anda juga akan sekuat Irfan? Melihat ibu sakit saja rasanya ingin menangis memohon sama Allah semoga sakitnya ibu segera diangkat, kalaupun bisa saya bersedia menggantikan posisi ibu. Irfan, walaupun tidak menjadi juara Hafidz Indonesia, saya rasa Irfan sudah banyak menginspirasi banyak orang.
Banyak sekali dukungan dari pemirsa Hafidz Indonesia untuk Irfan, baik di Twitter maupun di Facebook. Hal itu menunjukkan bahwa Irfan memang anak yang hebat.
Dukungan untuk Irfan di twitter

Rena dan ibu
Beda cerita dengan yang satu ini. Rena Aulia Saputri, dia adalah keponakan saya. Rena memang tak semalang Irfan, tapi semenjak dia mulai belajar berjalan dia ditinggal ibunya untuk mengadu nasib di negeri orang. Dibesarkanlah dia oleh tangan orang banyak, termasuk keluarga saya.
Kini usianya hampir 4 tahun, dan apa yang terjadi ketika ibunya pulang? Dia begitu asing pada ibunya. Tak mau disentuh, tak mau bermain bersama, apalagi tidur bersama. Yang dia mau hanya uangnya. Wajarkah ini? Apakah semua anak korban ibu yang jadi TKI seperti Rena?
Rena awal masuk TK Kecil
Ada sebongkah rasa rindu di mata Rena. Tapi rasa dendam dalam dirinya lebih membara. Rasa di mana dia mulai bisa menghakimi ibunya karena selama ini meninggalkannya. Terlebih neneknya selama ini memiliki gaya mengasuh yang sedikit kasar. Ya, rasa dendamnya hingga kini masih jelas meskipun ibunya sudah dua bulan di rumah.
Rena, semoga dengan bertambahnya usiamu nanti kamu bisa berubah. Kasihan ibumu. Senaif-naifnya, se-childish-nya ibumu, dia tetap perempuan yang melahirkanmu.
Usut punya usut ternyata anak tetangga dulunya juga punya konflik yang sama dengan sang buah hati. Karena ditinggal selama bertahun-tahun, ketika ibunya pulang sikapnya sama persis seperti Rena. Tapi kini sudah kembali layaknya hubungan anak dan ibu. Semoga itu juga akan berlaku untuk Rena. Aamiin.
Saya selaku perempuan, bakal jadi ibu juga, tidak banyak yang bisa saya katakan. Yang saya tahu dari ibu saya selama mengasuh saya  21 tahun ini bahwa menjadi ibu tak mudah. Dan yang menjadi catatan penting ibu untuk saya adalah “jadilah perempuan yang tidak boros”, hem...ya saya memang boros. Ini pasti berkaitan dengan finansial. Ah~ perempuan selalu berurusan dengan duit.
Dan di akhir postingan ini saya berdoaa untuk Irfan, semoga segera bertemu dengan ibunya. Untuk Rena? Peluklah ibumu dik... Untuk semua perempuan di dunia, mari belajar setia!

Senin, 29 Juli 2013

Ramadhan Giveaway with Kucinta Handmade


Ramadan itu memang penuh berkah ya? Bagaimana tidak giveaway disebar  di mana-mana. Salah satunya ini nih! Hayano dan Kucinta Handmade sedang ngadain giveaway. Dengan  kamu menyebutkan 1 lagu pilihan kamu, salah satu pouch cantik di bawa ini bisa kamu dapetin.



Yuk, buruan cek langsung blognya DI SINI. Karena DL 1 Agustus 2013.

Minggu, 28 Juli 2013

cara edit data rinci Verval Data NUPTK bintang 3

Assalamu'alaikum... semoga para bloger sehat selalu.. 


Beberapa hari yang lalu saya sempat bingung mengenai cara edit kembali data rinci PTK setelah satus kita sebagai PTK sudah memperoleh verval bintang 3. saya sempat takut juga data nya gak bisa di edit kembali.. karena kebetulan saat itu ada PTK yang masih salah datanya..tapi setelah cari dan browsing2 akhirnya ketemu carannya hehe alhamdulillah.. untuk para admin atau operator sekolah yang mengalami hal seperti saya mungkin posting ini bisa sedikit membantu untuk menyelesaikan masalah tersebut.
Berikut ini cara mengedit kembali data rinci setelah kita memperoleh bintang 3 :
  1. Buka situs/web padamu negeri  (http://padamu.siap.web.id/)
  2. pilih login di sebelah kanan atas, lalu pilih login sekolah (ingat yang wajib merubah data hanya admin / operator) jadi jika bapak ibu guru menemukan data yg salah bisa langsung bilang ke admin masing-masing.
  3. Setelah terbuka pilih verivikasi dan validasi dan pada dasbor pilih Verval NUPTK Level 2 dan klik Daftar Status Pemeriksaan Berkas, setelah itu akan  muncul daftar nama PTK dengan status verval NUPTK Level 2
  4. Pilih PTK yang akan diedit data rincinya, lalu klik tanda dropdown list di sebelah kanan tanda bintang 3, lalu pilih Batal Pemeriksaan
  5. Setelah memilih tanda tersebut berarti berkas pemeriksaan verval level 2 sementara ditangguhkan
  6. Setelah langkah tersebut dilakukan PTK dapat melakukan perbaikan data rinci dengan cara seperti verval 2 (kalau lupa mungkin bisa dilihat di postingan saya sebelumnya mengenai Verval Lvl 2)
Itulah sedikit cara yang bisa saya tuliskan disini .. semoga bisa membantu..
Salam Berbagi Ilmu (Saling berbagi Saling Mengerti)

Bintik Putih pada Kuku

Kuku adalah salah satu bagian terpenting pada tubuh kita. Bahkan ada yang bilang kalau kepribadian seseorang bisa dibaca dari kerapian kukunya. Apakah benar? Ah, itu hanya mitos. Sama halnya dengan mitos yang berkembang pada masyarakat kita bahwa bintik putih yang ada pada kuku kita menandakan adanya orang yang benci dan naksir pada kita. Apabila bintiknya pada kuku tangan sebelah kanan maka menunjukkan bahwa ada orang yang naksir pada kita, sedangkan bintik pada kuku tangan sebelah kiri menandakan bahwa ada orang yang benci kepada kita. Banyaknya bintik pada kuku juga jadi pertanda jumlah orang yang naksir atau benci pada kita. Mulai dari sekarang buang jauh-jauh mitos tersebut.
Bintik putih pada kuku sering disebut juga leukonychia. Apakah Anda tahu sebenarnya apa yang menyebabkan munculnya bintik putih pada kuku kita? Bintik putih tersebut muncul karena adanya luka ringan pada lapisan bawah kuku. Luka ringan itu bisa dikarenakan alergi dengan cat kuku, terlalu sering menggunakan cat kuku, atau terbentur benda keras.
Kuku kita tersusun dari protein kuat yang sering disebut dengan keratin. Selain kuku, anggota tubuh kita lainnya ada juga yang mengandung keratin, yaitu rambut kita.
Bintik putih tersebut akan hilang bersamaan dengan semakin panjangnya kuku. Namun, untuk mencegah timbulnya bintik-bintik putih itu kita bisa mulai dengan menerapkan pola hidup sehat, mengkonsumsi makanan yang mengandung vitamin A, B, C, kalsium, protein, dan zat besi bisa jadi pilihan.
Setelah saran dilakukan namun bintik putih semakin sering dan banyak muncul di kuku, maka segeralah pergi ke dokter.

Sabtu, 27 Juli 2013

Doa Di Malam Lailatul Qodar

Pada dasarnya, lailatul qadar termasuk waktu yang mustajab untuk berdoa. Karenanya setiap muslim bisaradhialluhu ‘anha berikut ini  adalah doa yang terbaik, karena doa ini diajarkan langsung oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada istri tercintanya. Oleh karena itu, doa ini dianjurkan untuk dibaca berulang-ulang.
membaca doa apapun untuk kebaikan dunia dan akhiratnya. Namun doa Aisyah

Adapun doa yang dimaksud , terdapat pada riwayat dari Aisyah, bahwa doa yang dianjurkan untuk dibaca ketika lailatul qadar adalah :

اللَّـهُـمَّ إنَّكَ عَفُوٌّ تُـحِبُّ العَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

ALLAHUMMA INNAKA ‘AFUWWUN TUHIBBUL ‘AFWA FA’FU ‘ANNII

Ya Allah, sesungguhnya Engkau Dzat Yang Maha Pemaaf dan Pemurah maka maafkanlah diriku.
Hadis selengkapnya:

Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, beliau bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَيُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ القَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا؟ قَالَ: قُولِي: اللَّهُمَّ إِنَّكَ عُفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي “

Wahai Rasulullah, jika aku menjumpai satu malam merupakan lailatul qadar, apa yang harus aku ucapkan di malam itu? Beliau menjawab: Ucapkanlah:ALLAHUMMA INNAKA ‘AFUWWUN…
(HR. Ahmad 25384, At-Turmudzi 3513, Ibn Majah 3850, An-Nasai dalam Amal Al-yaum wa lailah, dan Al-Baihaqi dalam Syua’bul Iman 3426. Hadis ini dinilai shahih oleh Al-Albani).

Adakah tambahan “kariimun”?

Kita sering mendengar orang membaca doa yang mirip dengan ini, namun dengan tambahan:

اللَّـهُـمَّ إنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيْــمٌ تُـحِبُّ …

ALLAHUMMA INNAKA ‘AFUWWUN KARIIMUN TUHIBBU…

Benarkah tambahan ini?

Disebutkan dalam Silsilah Ahadits as-Shahihah:
Dalam Sunan Turmudzi, setelah ‘afuwun, terdapat tambahan “kariimun”! Tambahan ini sama sekali tidak terdapat dalam referensi cetakan lama, tidak juga dalam cetakan lain yang menukil darinya. Kelihatannya, ini adalah tambahan dari sebagian pentranskrip atau penerbit. Tambahan ini tidak ada dalam cetakan al-Hindiyah untuk Sunan Turmudzi yang ada syarahnya TuhfatulAhwadzi karya Mubarokfuri dan tidak pula dalam cetakan lainnya. Diantara yang menguatkan hal itu, bahwa Imam an-Nasai meriwayatkan doa ini dengan jalur sanad sebagaimana yang ada dalam sunan Turmudzi, keduanya berasal dari gurunya: Quthaibah bin Said dengan sanadnya dan tidak ada tambahan tersebut (Silsilah Ahadits as-Shahihah, catatan untuk hadis no. 3337)

Kesimpulannya bahwa tambahan “kariim” tidak ada dalam hadis. Kemungkinan, itu adalah tambahan proses transkrip atau dari penerbit. Allahu a’lam.

Doa yang lain?

Disebutkan dalam riwayat lain, diantara doa yang dianjurkan untuk diucapkan adalah

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ

ALLAHUMMA INNII AS-ALUKAL ‘AFWA WAL ‘AAFIYAH

Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ampunan dan terbebas dari masalah

Dalilnya:
Dari Abdullah bin Buraidah, bahwa Aisyah radhiallahu ‘anha, pernah mengatakan :

لَوْ عَلِمْتُ أَيُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ كَانَ أَكْثَرُ دُعَائِي فِيهَا أَسْأَلُ اللَّهَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ

“Jika saya tahu bahwa suatu malam itu adalah lailatul qadar, tentu doa yang paling banyak kuucapkan di malam itu, aku meminta kepada Allah ampunan dan terbebas dari masalah.” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf 29189. Al-Albani menilai riwayat ini shahih, dan  beliau berkomentar, “Nampaknya, Aisyah mengatakan demikian karena pendapat pribadinya.” (Simak Silsilah as-Shahihah,7:1011).

Catatan:

Cara membaca doa lailatul qadar:

1. Doa lailatul qadar hanya dibaca di malam hari, ketika seorang muslim memiliki dugaan kuat bahwa malam itu adalah lailatul qadar. Seseorang bisa memperkirakan apakah malam itu lailatul qadar ataukah bukan melalui ciri malam tersebut.

2. Tidak ada bilangan tertentu untuk doa ini, karena itu bisa dibaca berapa pun jumlahnya. Semakin banyak, semakin bagus.

3. Bisa juga diselingi dengan kegiatan yang lain. Misalnya: membaca doa ini 3 kali, kemudian shalat, setelah itu membaca lagi dan membaca doa yang lain.

______________________________
oleh Ustadz Ammi Nur Baits
(Dewan Pembinawww.KonsultasiSyariah.com)

Resep Urap Daun Petai Cina


Orang kampung datang lagi. Hai! Kali ini saya akan membagikan info resep yang mungkin agak asing bagi Anda. Apa itu? Urap dengan daun petai cina. Apa?? Petai cina? Tanaman apakah itu?
Petai cina/lamtoro/kemlanding adalah salah satu tanaman perdu yang sering digunakan sebagai pakan ternak. Namun, berbeda dengan keadaan di tempat saya. Petai cina ini ditanam untuk dikonsumsi manusia. Tanaman yang dipilih juga termasuk yang terawat dan tumbuhnya tidak terlalu tinggi (biasanya 2-3 m). 
Daun petai cina yang muda sangat bagus untuk pertumbuhan, karena banyak mengandung protein. Jadi, kalau selama ini yang diambil dari petai cina hanya bijinya, daun mudanya juga bisa kan? Itu menandakan bahwa Allah menciptakan segala sesuatu di dunia ini pasti ada gunanya.
Oke, yuk tanpa banyak cingcong kita coba resep urap dengan daun petai cinanya.
Bahan:
1.     Daun petai cina muda       (secukupnya)
2.   Kecambah                          (secukupnya)
3.    Kelapa muda                      (secukupnya)

Bahan sambal urap
1.     Cabe                                   (pedas sesuai selera)
2.   Bawang putih                     (2 siung)
3.    Bawang merah                   (3 siung)
4.   Daun jeruk                         (2 lembar)
5.    Kencur                               (secukupnya)
6.    Garam                                (secukupnya)
7.    Penyedap rasa                    (secukupnya)
8.   Gula pasir                           (secukupnya)
9.    Terasi                                  (secukupnya)

Cara membuat:
1.     Daun petai cina yang sudah dicuci masak dengan air mendidih sampai empuk. Tiriskan.
2.   Masak pula kecambah tapi jangan lama-lama karena kecambah cepat sekali empuk. Tiriskan.
3.    Campurkan semua bumbu sambal urap dan haluskan.
4.   Parutlah kelapa muda, setelah itu campurkan semuanya. Jangan lupa dicicipi ya?

Begini nih jadinya, he, mantap pakai cobek deh penyajiannya J

dokumen pribadi
Oya, urap ini sangat cocok kalau disandingin sama tahu goreng, tempe goreng, ikan asin atau juga rempeyek teri. Hem~
NB: Bagi yang belum pernah mencoba rasanya akan terasa aneh, tapi enak kok. Hihihihi. Kecambah bisa diganti dengan kol atau sayur yang lainnya. Selamat mencoba J

Jumat, 26 Juli 2013

Fasilitasi Model Pembelajaran Terintegrasi TIK Pustekkom Kemdikbud Tahun 2013

Seiring perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi yang begitu pesat di abad ke-21 ini munculah tantangan-tantangan baru dalam proses pembelajaran. Permasalahan yang makin komplek menuntut kesiapan dunia pendidikan untuk mengantisipasinya.

Menanggapi tuntutan tersebut, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengembangakan berbagai e-layanan pendidikan yang berbasiskan TIK. Salah satunya adalah pengembangan portal Rumah Belajar yang dapat diakses di http://belajar.kemdikbud.go.id .

Dalam rangka melakukan sosialisasi Rumah Belajar serta memberikan pelatihan pemanfaatan fitur kelas maya Rumah Belajar maka Pustekkom Kemdikbud menggelar kegiatan Fasilitasi Model Pembelajaran Terintegrasi TIK Angkatan Ke-3 Tahun 2013. Kegiatan ini digelar di Hotel Sahid Jaya Solo pada tanggal 25-27 Juli 2013.

image

Kegiatan ini digelar dengan tujuan :

  1. Sosialisasi kebijakan Kemdikbud dalam pemanfaatan TIK untuk pembelajaran
  2. Publikasi dan Sosialisasi Rumah Belajar
  3. Melaksanakan pelatihan kelas maya pada portal Rumah Belajar untuk Guru SD, SMP, SMA/SMK.

 

Kegiatan ini diikuti 38 Peserta yang merupakan guru SD/SMP/SMA/SMK dan yang sederajat di kabupaten Jepara, Surakarta, Karanganyar, Sragen, Wonogiri, Sukoharjo, Klaten, dan Boyolali, serta utusan BPMP Semarang, BPMRP Yogyakarta, BPMTP Surabaya, dan Pustekkom Kemdikbud.

Sahur: Emak Kos ala si Anak Manja



Dilahirkan jadi anak tunggal. Alhamdulillah. Tapi pandangan orang pasti langsung mengarah pada kata “MANJA”. Apakah semuanya?
Enak memang jadi anak tunggal, tapi nggak selamanya enak kali L. Kecuali yang orangtuanya kaya tujuh turunan. Ah, nggak juga sih. Nggak jamin!
“Kan enak, minta ini itu diturutin, kasih sayangnya cuma buat kamu, apa-apa kamu yang didahulukan, ini kamu, itu kamu, bla bla bla.” kata orang.
“Oya?? Bagaimana kalau pas orangtua berantem, ada masalah enak nggak? Orangtua sakit (naudzubillah)? Mau cerita sama siapa? Saudara lain? Ya kalau peduli, kalau tidak? Siapa yang mau diajak berbagi? Nggak ada!”
***
Di atas hanya sebuah celoteh amburadul dari anak tunggal semacam saya ini. Pandangan sebagai “anak manja” akan melekat bagi anak tunggal di manapun mereka berada. Sekalipun telah membuktikan dengan tindakan nyata, tapi label “anak manja” tidak akan luntur begitu saja. Setidaknya kalau memang tidak diakui masyarakat, akui saja sendiri. Hihihihi.
Ini adalah cerita saya, kejadian di awal mula saya menyandang status sebagai mahasiswa baru pada tahun 2010. Ada yang masih ingat ramadan pada tahun 2010 jatuh pada tanggal berapa? Tepatnya 11 Agustus.
Kala itu saya sedang mengikuti SAPAMABA di kampus. Acara ini semacam OSPEK gitu. Selama 3 hari (10, 11, dan 12 Agustus 2010) acara ini berlangsung, tidak sampai ada ‘pembantaian’ yang bisa buat mahasiswa kelaperan apalagi dehidrasi kok, karena mahasiswa hanya duduk mendengarkan ceramah dan berada di ruang (Aula Majid, adem~) yang cukup nyaman, tapi boring L.
Saya memang tak pernah membayangkan menikmati sepenggal ramadan jauh dari orangtua. Semua harus sendiri, memang selama ini ibu selalu mengajarkan hidup mandiri pada saya, tetap saja ramadan kali itu ada yang beda. Mau anak sulung, anak tengah, anak mami, ataupun anak bontot pasti juga merasakan hal yang sama seperti saya ketika ramadan di rantau. Saya ini sudah mahasiswa, seperti itulah ketika rasa rindu mendera. Harus dewasa!
Helo! It’s show time. Nggak mungkin juga gara-gara jauh dari orangtua terus nggak puasa, lagian saya juga tidak sendiri. Ya, saya bersama teman-teman kos saya. Hoaaamm...semua serba baru, teman baru, kamar baru, dan pastinya lingkungan baru.
Kala itu, sebagai mahasiswa baru saya memutuskan untuk kos, meskipun jarak rumah sampai kampus sebenarnya tak terlalu jauh, hanya 1 jam tempuh. Kos yang saya tempati ini juga termasuk gedung baru. Jadi masih sangat ‘perawan’, dan kelompotan saya ini termasuk angkatan pertama juga.

Kali Pertama Sahur
Yuvoria malam pertama tarawih bersama teman-teman (Ber-10 orang) sungguh menghibur hati saya. Setidaknya dapat melupakan sejenak rasa tak ingin jauh dari orangtua. Berbincang-bincang di teras kamar salah satu teman, berbagi cerita kegiatan siang itu sampai akhirnya membahas tentang menu sahur nanti.

Dari kiri (Saya, Lensa, Nia, Mitha, dan Ulya)
Jalan-jalan pagi setelah jamaah sholat subuh.
Yang lain? Molor di kos :D
“Mas, ini nanti sahurnya bagaimana?” tanya saya kepada Mas David (penjaga kos ter-care yang pernah saya temui) yang ikut nimbrung dalam obrolan saya dan teman-teman.
“Pokoknya gampang lah.” jawab Mas David.
Perbincangan mengenai menu sahur mulai ramai, ada yang usul lauk ini, ingin itu, akhirnya bisa juga mengerucut sampai pada siapa yang mau keluar kos pukul 03.00 WIB untuk membeli menu sahur.
“Ichaaaa.....”
Nama saya yang disebut. Mau bagaimana lagi, kala itu yang membawa motor hanya saya dan Mitha (teman sekamar saya). Akhirnya saya dan Mitha meminta teman-teman untuk iuran saat itu juga, namun sebelumnya kami memutuskan menu apa yang akan kita pilih. Karena di awal masih terjadi perdebatan. Masalah nasinya? Ada salah satu teman yang menyumbang beras dan magic com mini. Okelah sip. Akhirnya per kepala iuran Rp 3.000 untuk urusan sayur dan lauknya.
Tepat pukul 03.00 WIB saya membuka gerbang kos dan siap berburu menu sahur bersama Mitha dan Mas David. Alamak, brbrbrbrrrr..... dingin sekali. Tapi demi misi perburuan menu sahur bersama, dinginnya pagi buta tak terhiraukan. Perjalanan 10 menit ternyata cukup untuk sampai di warung. Padahal kalau pagi nggak mungkin deh, bisa 2 x lipatnya malah. 
Sesampainya di kos, teman-teman yang lain sudah siap dengan piringnya masing-masing. Bagai anak panti (*ups). Berkumpul jadi satu di kamar no 2 (Kamar Nia dan Lensa). Acara makan sahur pun segera dimulai. Tapi apa yang terjadi? Nasi yang saya masak kurang air alias belum tanak. Maafkan, jujur saja itu kali pertama saya masak pakai magic com. Jadi maklum ya teman-teman. Batin saya. Salah siapa juga yang nyuruh milih saya? (Jahatnya saya)
Kekecewaan tidak berhenti sampai di situ, ternyata sayur yang saya beli (sayur pindang) rasanya juga kurang mak nyuss. Tampang teman-teman sungguh tak berselera untuk makan sahur, terlebih saya. Sudah tidak selera, malah ditambah sudah mengecewakan teman-teman. Sahur pertama GATOT (Gagal Total)
Selesai sahur, kami menunggu waktu sholat subuh terlebih dahulu. Kami berencana untuk jamaah di masjid Darul Ilmi yang berada di dalam kampus. Kos kami berada tak jauh dari kampus, hanya di depannya.
Adzan subuh pun berkumandang. Kami bergegas menuju masjid. Sampai di depan kampus ternyata gerbangnya digembok. Ada rantai yang terkait di sana. Tak kurang akal, kami pun meloncat untuk melewati gerbang kampus. Baru juga turun sebagian rombongan kami, suara ikomah pertanda sholat akan dimulai pun terdengar. Tergopoh-gopoh kami berlari. Ah~ justru bising karena semua pada teriak saling berebut untuk sampai masjid terlebih dahulu.
Saling bersalaman, senyum sana senyum sini seperti orang gila. Ya begitulah kami. Tangga masjidpun kami turuni, saatnya kembali ke kos. Namun, ketika sampai di depan gerbang dan siap dengan antrian bagaikan peloncat indah dengan media gerbang kampus, pak satpam berjalan ke arah kami dan berkata, “Mbak, nggak usah loncat, gerbangnya tidak digembok ko. Coba saja dibuka.” kata pak satpam.
Mendengar ucapannya kami hanya saling memandang. Malu juga, karena tadi pas meloncat gerbang pak satpam kan lihat. Kenapa tidak diberitahu? Ah, rese.

Sahur Indah
Tepat di hari terakhir kami berada di kos kala pagi itu (12 Agustus), tepatnya sahur ke dua, saya tidak ingin mengecewakan teman-teman lagi. Seperti biasa malam setelah tarawih saya keliling kamar bagaikan rentenir narik uang iuran. Ah~demi mereka.
Seperti sahur pertama, dengan berkalung sarungnya Mas David mengantar kami untuk membeli menu sahur. Saya pilih tumis kangkung, sayur bening, dan tempe goreng. Kok kayaknya enak benar pas baru diangkat dari kompor si mbak penjualnya. Ya pastinya dengan harapan kalau teman-teman nggak manyun lagi dengan menu sahur yang pertama. Dan harus berhasil!
Sesampainya di kos, menu yang saya beli pun ditata dalam mangkuk dan piring. Setelah berdoa bersama, kami pun makan sahur sambil berbincang-bincang.
“Lah kok, entek kabeh (habis semua)?” teriak Mas David yang hendak nambah lauk.
“Hahahahahaha....”
Dasar wong ndeso, wingi ditukoke sayur daging ra dimaem, iki jangane wong ndeso kok yo langsung entek. (Dasar orang desa, kemarin dibelikan sayur daging tidak dimakan, sekarang sayur ala orang desa langsung habis)”
“Hahahahaha...” sahut kami berbarengan.
Inilah sepenggal cerita saya kala itu, selalu ngangenin. Apalagi teman-teman selalu bilang, “Kapan bisa sahur bareng Mak Icha?”. Sayangnya sekarang saya sudah tidak kos lagi di sana. Dan semenjak saya dan Mitha keluar dari kos tersebut, saya kehiangan kabar Mas David. Beliau sudah saya anggap sebagai kakak sendiri. Terakhir dengar kabar tentangnya sudah bekerja di tempat orang pintar. Semoga semuanya baik-baik saja dan selalu dalam lindungan-Nya.
Yang pasti, saya bisa tertawa sambil berkata, “Woy...saya juga bisa kok tidak manja!”
Buat anak tunggal di manapun Anda berada, Anda pasti bisa keluar dari zona manja, ya secepatnya! Tunjukkan kalau Anda bisa. Bisa mandiri tanpa embel-embel 'anak manja.' Kalau anak mami? Ya bolehlah, masak anak tetangga?

Kamis, 25 Juli 2013

Mau Boneka Gratis dari Wina Adam?

Hari gini siapa coba yang tidak mau dapat yang gratis-gratis? Mau? Yuk ikutan seperti saya. Saya juga mau lho dapat hadiah boneka, walaupun tidak untuk saya sendiri, untuk si Rena kan bisa! Yeay!
Akan ada 2 paket (boneka & key chain) yang akan dibagikan kepada 2 ‘tukang share’ yang beruntung. Tapi dalam rangka apa sih kok Mbak Wina Adam membagi-bagikan boneka ini? Ternyata paket boneka ini ibarat syukuran atas launching buku Boneka dan Aksesoris Rajut Anak. Begitu kan Mbak? *hihihihiMau tahu juga bukunya? Ini nih.

Bagaimana caranya agar mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan paket boneka itu? Caranya mudah saja, cukup share informasi bagi-bagi hadiah dari Mbak Wina ini diberbagai sosial media. Agar lebih jelas klik saja di sini.
Selamat mencoba dan buruan, karena pengumumannya 4 Agustus 2013 lho! Jadi buruan ya!


Judul Terlalu Sederhana

Di tengah rasa kehampaan yang menyelusup dalam hati saya, akhirnya masa ini datang juga. Ya, kini saya sudah semester 7 dan saya akan merasakan skripsi. Entahlah apa namanya ini, semuanya terasa campur aduk. Rasa takut, khawatir, bisakah saya? Mampukan saya menghadapi semua ini? Bertanya, bertanya dan bertanya.
Dulu rasanya begitu menggebu ingin sekali merasakan masa ini, tapi kenapa kini justru berbalik semuanya? Akankah saya jenuh? Atau memang ini lumrah? Hati ini terasa kosong. Rasa ini membuat saya begitu ogah ke kampus untuk bertemu dengan dosen pembimbing saya. Sebenarnya ada alasan lain, saya mengajar di TK, jadi kalau sudah siang mau ke kampus sudah terlalu siang. Ya, tahu sebenarnya puasa tidak bisa dijadikan alasan. Hanya sedikit pembelaan.
Berkaitan dengan skripsi, awalnya saya mengajukan 3 judul yang akhirnya diputuskan satu judul, yaitu “Penggunaan Boneka Tangan Tema Diri Sendiri untuk Meningkatkan Keterampilan Berbicara Siswa Kelas 1 Semester 1”. Judul ini sebenarnya tidak sesuai dengan harapan saya, meskipun di dalamnya ada unsur mendongeng, tapi 2 judul yang lainnya menjadikan mendongeng sebagai variabel utamanya. Saya pikir ini adalah takdir-Nya. Maka saya mencoba untuk menerima. Ya sudahlah.
Siang ini (24 Juli 2013), akhirnya saya bertemu dengan dosen pembimbing pilihan saya. Saya sodorkan lembar kertas bertuliskan judul skripsi saya tadi. Seksama beliau memandanginya.
“Lho, saya kira Mbak Ika ambil skripsi tentang mendongeng?” tanya beliau.
“2 yang lainnya semua mendongeng bu, tapi yang diterima ini.” jelas saya.
“Padahal saya suka kalau Mbak Ika ambil dongeng saja. Tapi ya sudahlah kalau memang yang disetujui oleh pimpinan yang ini.” terang dosen saya yang selalu tampak cantik.
“Boleh diceritakan dulu ini nati seperti apa gambarannya.” Pinta beliau kepada saya.
Saya pun menceritakan perencanaan pelaksanaan skripsi saya nanti. Panjang lebar ke sana-ke sini. Ada pencerahan yang saya dapatkan. Bu dosen cantik ini memang gudangnya ilmu, selalu ada yang bisa saya dapatkan dari apa yang beliau ucapkan. Namun, di akhir pembicaraan, beliau masih menampakkan sedikit keraguannya terhadap judul saya.
“Kalau menurut saya, judul Mbak Ika ini terlalu sederhana.”
Mak jleb, agak down. Bukan, tambah down malah.
“Terus bagaimana Bu?” tampang saya sepertinya melas banget pas sesi ini.
“Begini saja, yang sederhana ini kalau Mbak Ika kerjakan dengan maksimal saya yakin bisa maksimal juga hasilnya.”
Saya manggut-manggut. Ada yang menelusup dalam hati saya. Rasa apa lagi ini ya Allah? Saya pun berpamitan, tak lupa saya mencium punggung tangan beliau. Tak banyak yang saya harapkan, hanya memohon doa agar semuanya lancar.
Ah~ketika menulis postingan ini pun, ada sesuatu yang menggenang di kantung mata. Tertahan.
Rasa apa inikah ya Allah? Bimbing hamba ya Allah. Mudahkanlah jalan hamba. Begitu takutkah hamba menghadapi skripsi ini? Tidak, hamba harusnya takut pada-Mu, hanya pada-Mu. Tapi kenapa ketika dosen cantik itu telah menguatkan saya justru masih ada keraguan dalam diri saya. Bisakah saya?
Layaknya sebuah lagu dangdut,
Mau makan terinagt padamu
Mau minum teringat padamu
Mau tidur pun teringat padamu
Oh..skripsiku...
Mohon doa ya teman-teman J Terimakasih. Ini cerita saya. Ada yang mau curhat juga? Atau punya kasus seperti saya? Monggo nanti saya mampir.


Selasa, 23 Juli 2013

Verval Data NUPTK (Cara mendapatkan bintang 3)

Alhamdulillah udah berhasil memperoleh bintang 3, sekarang saatnya berbagi ke bapak ibu guru dan operator sekolah mengenai cara memperoleh bintang 3.




Berikut ini langkah - langkahnya :
  1. Setelah kita mengisi data rinci jika memang sudah yakin benar maka tekan tombol simpan dan lanjut dibagian kanan bawah.
  2. Setelah anda Klik tanda tersebut maka akan keluar SO3a (SURAT PENGAJUAN VERVAL Lv.2 – NUPTK)
  3.  cetak SO3a dan segera tanda tangani dan serahkan kepada Operator sertakan berkas yang diminta dalam SO3a tersebut.
  4. Berkas yang harus dilampirkan adalah sbb : 1 Copy Ijazah (selain SD dan ijazah terakhir)
    1 Copy SK CPNS/PNS
    1 Copy SK Golongan Terakhir
    1 Copy SK Penempatan Tugas
    1 Copy SK Penugasan Mengajar dalam 5 tahun terakhir
    1 Copy Sertifikat Profesi Pendidik
  5. Setelah operator menerima Surat SO3 dan berkas dari PTK maka langkah yang harus dilakukan operator adalah masuk web padamu negeri,  login sekolah dan buka Verifikasi & Validasi. Kemudian Klik Entri Pemeriksaan Berkas PTK.
  6. Setelah Operatormenekan tombol Entri Pemeriksaan Berkas maka terbuka Verifikasi Level 2 Pendidik & Tenaga Kependidikan ( Pilih PTK ), PTK yang keluar adalah PTK yang sudah keluar SO3a.
  7. Kemudian Klik PTK yang tertera di situ maka akan terbuka Biodata PTK, cek ulang kembali. Setelah biodatanya sudah benar  tekan tombol lanjut (bawah sebelah kanan)
  8. Setelah anda tekan tombol lanjut, maka keluar data rinci PTK
  9. Setelah Data Rinci PTK sudah benar maka tekan tombol lanjut, yang terbuka adalah Kelengkapan Berkas centang berkas-berkas yang telah dikumpulkan PTK.
  10. Apabila berkas sudah terpenuhi maka klik tombol simpan, kemudian Cetak Tanda Bukti dan tekan tombol Cetak
  11. Setelah  menekan tombol cetak maka akan terbuka format PDF Surat Pakta Integritas PTK (SO7a) dan Surat Tanda Bukti Pemeriksaan Berkas PTK (SO4a)
  12. Dengan keluarnya surat SO4a dan SO7a maka PTK tersebut sudah mendapatkan bintang 3.

Demikian cara mendapat bintang 3 di verval NUPTK selamta mencoba semoga berhasil..

Rp 20.000? Dapat Apa Ya?


Hidup di desa itu ada nikmat dan nggak nikmatnya. Sama halnya hidup di kota deh ya? Kalau hidup di desa seperti aku ini salah satu kenikmatannya adalah kemudahan dalam menemukan pasar tradisional. Karena yang ada di sana bisa dikatakn fresh banget lah ya. Selain itu juga lumayan murah. Tapi apa jadinya kalau aku yang notabene boros banget ini diminta ibu untuk menyiapkan menu buka dan sahur hanya dengan uang di tangan hanya sebesar Rp 20.000.
“Ha? Kok uang belanjanya sama uang sakuku kuliah, Bu? Dapet apa nanti?” rengekku pada ibu.
“Dapet menu buka dan sahur. Ibu biasanya juga segitu. Udah pokoknya ibu percayakan padamu menu hari ini (22/7/2013).” kata ibu sambil berlalu pergi bersama bapak.
Buat beli separuh menu makan di restoran fast food aja nggak dapet. Lah ini? Ibarat tertegun, saat itu mungkin aku seperti sapi ompong yang plompang-plompong. Ini harus kuhadapi.
Otakku mulai berpikir keras, pokoknya cukup nggak cukup uang ini harus bisa buat belanja, kalau tidak nanti juga kasihan bapak ibu, pulang dari ladang nggak ada makanan.
Langkah utama yang ku lakukan adalah mengecek bumbu dapur yang ada. Oh, ternyata masih lengkap, alhamdulillah. Ada juga buncis dan wortel yang masih tersisa. Setelah itu mikir lagi, menu apa ya yang mau aku masak nanti?
Aha! Sayuran yang masih ada itu harus aku gunakan biar jatah uangnya nggak kurang. Akhirnya aku mengeksekusi sayur bobor (paham nggak ya sayur ini? sayur daun kacang panjang yang muda lengkap dengan santan bening) sebagai menu buka puasa nanti sore. Terus sahurnya? Aku buat tumis buncis aja.

Belanjaan
Senang rasanya kalau bisa ke pasar sendiri. Eits! Kali ini jangan deh. Ke pasar hanya megang uang Rp 20.000, bisa-bisa aku kalap dan bahan-bahan untuk membuat menu buka dan sahur jadi tak terpenuhi. Pengalaman, seringkali kalau ke pasar belanjaan yang ku beli lebih banyak yang tidak sesuai list. Hihihi. Jadi, kali ini aku nitip sama tante aja deh. Melasnya diriku nggak bisa ngecengin penjual-penjual di pasar.
Dengan sigap aku untuk membuat list belanjaanku, dan hasilnya ini nih!
1.     Mbayung (daun kacang panjang yang muda) 1 ikat
2.   Labu (waluh) 1 potong
3.    Kelapa tua Rp 1.000
4.   Ikan pindang Rp 5.000 (3 ekor)
5.    Bakso Rp 2.500
6.    Tahu kuning Rp 2.000
Jumlah uang yang aku keluarkan untuk belanjaan di atas adalah Rp 12.500. Tenang. Uang masih ada sisa, jadi bisa masuk kantongku deh. Hehe lumayan J

Ikan pindang

Tapi, tak layaknya cerita sinetron yang selalu berakhir happy ending, di penghujung acara masak-memasak ku buka tempat penyimpanan beras. Ya, bisa ditebak, ternyata berasnya habis. Alamak, masih cukupkah uang Rp 7.500 untuk membeli beras. Apakah harus mengambil uangku? Ah, tidak profesional kali aku ini.
“Dik, beras yang kualitas sedang sekilo berapa yah?” tanyaku pada adik keponakan.
“Terakhir beli kemarin ada yang Rp 7.000 mbak, tapi mending beli yang Rp 7.500.”
“Hahahahaha...Oke oke.” hatiku bersorak gembira. Ini kebetulan atau apa ya, nge-pas banget uangnya. Moga aja gasnya nggak sampai habis di jalan. Bisa-bisa mati kutu deh.
“Kenapa mbak?”
“Uangku ini tinggal Rp 7.500, aku kira nggak dapet beras.”
“Ho? Dapet kok.”
Meluncurlah segera aku membeli beras. Tak apalah cuma sekilo, yang penting bisa makan. Fiuh, beginikah jadi ibu rumah tangga? Puyeng euy.... inikah kegiatan ibuku setiap hari. Ah~ perempuan itu memang diciptakan sangat cerdas. Angkat 4 jempol!

Arsip Blog