Rabu, 05 Februari 2014

Dokter Muda Peduli Sampah

Adakah diantara kita yang suka berkutat dengan sampah? Sepertinya hanya pemulunglah yang mau berjibaku dengan sampah. Itupun berembel-embel dengan kalimat, “Mau bagaimana lagi? Demi sesuap nasi.” Ada juga yang lainnya lho, pengrajin sampah kan juga berjibaku dengan sampah. Ah, jumlahnya juga tak seberapa dibandingkan jumlah penduduk negeri Indonesia tercinta ini.

Warga yang membawa samaph untuk mendapatkan
pelayanan kesehatan di klinik Indonesia Medika
Bagaimana dengan dokter muda ini ya? Perkenalkan beliau adalah laki-laki berusia 25 tahun, namanya dr Gamal Albinsaid. Jebolan dari SMAN 3 Kota Malang dan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (UB). Sudah ganteng, dokter lagi. Tambah satu lagi, beliau juga berhasil menggagas Klinik Asuransi Sampah (KAS).

dr Gamal
simomot.com
Apa itu KAS? KAS disebut juga dengan asuransi kesehatan berbasis sampah. Yaitu konsep berobat dengan sistem asuransi sampah. Dengan kliniknya yang bernama Indonesia Medika yang tersebar di 5 lokasi di Malang, masyarakat ‘miskin’ dapat menikmati layanan kesehatan hanya dengan menggunakan sampah sebagai alat pembayarannya. Sampah yang dapat ditukar dengan layanan kesehatan dari dr Gamal ini adalah tipe sampah non organik seperti plastik, kaleng hingga kardus bekas yang dihargai Rp 10 ribu oleh klinik dr Gamal. Sampai sekarang telah lebih dari 500 masyarakat ‘miskin’ yang telah menikmati layanan ini. Lumayan banyak ya?

Ide kemunculan KAS ini berawal dari kisah seorang pemulung bernama Triyono dengan putrinya berusia 3 tahun yang saat itu sedang sakit diare. Penghasilannya yang hanya Rp 10.000 memaksa Triyono mengurungkan niatnya untuk mengajak sang buah hati berobat. Tak berhenti begitu saja, ia terus berusaha mencari uang. Akibatnya, anaknya tidak bisa berobat. Setiap hari hanya diajak mulung, lalu meninggal dunia. Innalillahi....

Kembali ke Indonesia Medika, mulai dibentuk pada tahun 2010, bersama dengan empat teman dokter yang saat ini magang di RS Dr Saiful Anwar ini. Ide tersebut juga dikuatkan dengan adanya dukungan dari salah satu dosen dr Gamal, yaitu Rita Rosita.

Tak butuh waktu lama, setelah sempat mandeg selama enam bulan. Maret 2013, proyek ini kembali diaktifkan dengan sasaran utamanya warga tidak mampu. Sesuatu yang baik pasti akan banyak orang yang membantu, hal ini dibuktikan dengan adanya 47 anak muda dari seluruh Indonesia yang sudah bergabung untuk ikut berbagi dalam Indonesia Medika. Dari jumlah tersebut, 17 orang diantaranya sudah berstatus tenaga tetap. Mereka ini mendapat bayaran dari Indonesia Medika dengan sistem bagi hasil, sedangkan yang lainnya merupakan tenaga sukarelawan.

Untuk biaya operasionalnya sendiri, dr Gamal mengaku mendapat dukungan dari beberapa perusahaan dan organisasi internasional, seperti AusAID (Australian Agency for International Development), Ashoka, Socentix, hingga LGT Venture Philanthropy. Selain dari itu, Indonesia Medika juga mencari dana dari penjualan merchandise.

Pucuk dicinta ulam pun tiba, dengan niat hati yang tulus untuk mengabdi pada masyarakat, angin segar pun datang kepada dr Gamal. Pada 30 Januari 2014, dr Gamal diundang ke London, Inggris, untuk menghadiri jamuan makan malam dengan Prince of Wales sekaligus mendapatkan penghargaan “The Prince of Wales Young Sustainability Entrepreneur” yang diberikan langsung oleh Pangeran Charles sang pewaris tahta kerajaan Inggris.

dr Gamal dan Pangeran Charles
simomot.com
Penghargaan tersebut diberikan sebagai apresiasi untuk peran pemuda usia dibawah 30 tahun dalam mengatasi isu lingkungan, sosial dan kesehatan. Dalam kesempatan tersebut, dr Gamal berhasil menyisihkan 511 wirausaha peserta dari 90 negara. Dengan prestasinya tersebut, dr Gamal mendapatkan hadiah 50.000 euro atau sekitar Rp 800 juta sebagai dukungan finansial dan paket mentoring dari Universitas Cambridge yang dirancang secara individu.

Siapapun akan berdecak kagum atas prestasi dr Gamal. Muda, berprestasi, cinta akan lingkungan, dan pastinya ikut mengubah wajah Indonesia. Sekarang balik bertanya pada diri sendiri, "Aku sudah memberikan apa ya untuk Indonesia? Terlalu seringkah diri ini ngedumel dan mempermasalahkan Indonesia yang terlalu banyak ini dan itu tanpa adanya action? Ya, apa yang sudah diri ini berikan pada Indonesia?"

Katanya pemuda itu penerus bangsa? Kalau hanya ngedumel saja semua orang pasti bisa. Ini sedang menggurui diri sendiri ya? Ayolah lakukan sesuatu agar ada sedikit perubahan dalam diri Indonesia. Semangat belajar, semangat kuliah, semangat berorganisasi, semangat menulis, dan satu lagi langkah mudah yang bisa kita lakukan. Mau tahu apa?

Jangan golput di pemilu, April 2014 nanti! Hahaha. Langkah kecilmu tapi nyata untuk perubahan. Yuk jangan mau kalah dengan dr Gamal! Aku tunggu di TPS terdekat ya?


*Tulisan ini tak didukung oleh partai tertentu.

Sumber referensi:
GURU KREATIF

0 komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog